BERSEPEDA LINTAS ANTAR NEGARA ANTAR BENUA
(BELGIUM –
FRANCE –
SPAIN –
PORTUGAL –
MOROCCO )
.....................oleh : Paimo
Awal Perjalanan,
Sesaat
setelah pesawat yang membawaku dari Abu Dhabi mendarat dengan selamat
di Brussels International Airport (Minggu, 13 Juni 2010),
tubuh segera disergap dinginnya udara setempat.
Untungnya, di luar airport saya telah ditunggu Tantyo Bangun beserta
istrinya, Anita Iskandar. Dan juga seorang pesepeda Belgia, yang pernah bertemu
saat aku berkelana di New Zealand pada tahun 2007 bernama Christopher Delclerk.
Sebelum
memulai kegiatan bersepeda, saya bermalam selama beberapa hari di rumah Tantyo
Bangun sambil menunggu kedatangan sebagian peralatan yang dikirim via kargo.
Dan Christopher berjanji akan berkunjung ke rumah Tantyo Bangun untuk membantu.
Selama menunggu hari keberangkatan yang tertunda selama dua hari saya sempat
juga pergi ke Belanda, mengunjungi teman-teman SMA yang sudah 34 tahun tidak
bertemu. Dan juga ke rumah orang tua Christopher Delerck untuk mengambil kompor
dan gas. Sementara itu Christo (panggilan Christopher), membawa beberapa
kebutuhan saya seperti boncengan depan (front rack), makanan berkalori tinggi
dll.; ke rumah Tantyo Bangun.
Jum’at,
18 Juni 2010. Saya memulai perjalanan dalam Suhu udara di pagi hari sangat rendah
mencapai 14 derajat Celcius. Tidak ada sinar matahari dan cuaca mendung berangin. Kayuhan pertama saya awali pada
pukul 10.05 waktu setempat, dari depan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Boulevard
de la Woluwe, di lepas oleh ibu S. Hartanti Kustiningsih selaku Minister
Counselor beserta seluruh staf KBRI.
Memerlukan waktu sekitar tiga jam lamanya untuk bisa menemukan jalan
keluar dari kota Brussels . Karena saya harus
menggunakan jalur N-6 (rute nasional yang bisa dilalui sepeda) agar bisa mencapai
kota Mons di bagian selatan Belgia.
Suhu udara merangkak naik sampai 23 derajat, saat saya mencapai kota Halle . Namun sang mentari pun
belum juga muncul dari balik awan, suasana tetap redup, berangin dan kurang
nyaman buat saya beresepeda. Jalur
khusus bagi pesepeda berada di sisi jalan raya, berwarna merah. Dan tak satu
pun kendaraan bermotor yang melintas di atas jalur sepeda. Walaupun lalu lintas
ramai, mereka tetap berkendara pada jalurnya dan tak terlihat melindas garis
marka pemisah jalur.
Hari
pertama tersebut, saya sudahi setelah bersepeda sejauh 54,56 kilometer. Waktu
baru menunjukkan pk.17.00 tapi suhu udara sudah turun lagi pada kisaran 16
derajat Celcius. Saya menyelinap dan berkemah di sebuah hutan kecil di pinggir
jalan raya, 20 kilometer sebelum kota Mons . Rute di Belgia (Belgium ) adalah: Brussels – Mons – Perbatasan Belgia &
Prancis.
Keesokan
harinya, saya dibangunkan oleh suara riuh kicauan burung di dalam hutan
tersebut. Pagi yang dingin membuat saya enggan keluar dari sleeping bag, rasanya ingin sekali berlama-lama meringkuk di
dalamnya. Sebelum meninggalkan tempat tersebut, saya sarapan muesli dan sebutir telor rebus.
Kemudian
saya meluncur di atas jalanan yang basah, dan masih sepi dari lalu lintas
kendaraan. Kabut tipis masih menyelimuti kawasan tersebut. Di sebuah
persimpangan, saya keluar dari N-6, mengikuti jalur D-55 mengarah ke La
Loviere. Hujan rintik dan gerimis turun silih berganti pada pagi itu.
Celakanya, jaket saya ternyata tembus air. Tapi saya terus saja bersepeda
dengan perasaan masgul. Sewaktu melewati sebuah super market saya membeli
paprika, roti dan salami seharga 7.80 euro.
Pada pk.13.05 saya melewati perbatasan Belgia - Prancis. Ketika memasuki lota kecil Binche, terpaksa saya harus mencari jalan putar. Karena jalan utamanya ditutup untuk weekend market. Begitu pula pada lintasan berikutnya, saat lewat kota-kota kecil lainnya jalan uatama di pusat kota selalu ditutup. Sementara saya kebingungan mencari arah jalan, ada
seseorang pengendara mobil yang memberi tanda supaya saya mengikutinya, sampai
menemukan jalan yang benar. Sebelum berpisah, sebagai ucapan terima kasih, saya
beri padanya sticker dan cinderamata dari Indonesia secara gratis. Malah dia
ganti memberi uang saya 10 euro.
Sepanjang hari saya bersepeda dalam cuaca yang kurang bersahabat.
Membuat kondisi tubuh merosot karena kedinginan. Kaos yang saya pakai di dalam
jaket pun sudah basah kena keringat bercampur air hujan. Saat itu saya sudah
mengayuh sejauh 76 kilometer.
| over loaded, france |
| rental bike |
Udara pagi yang dingin dan basah, serta beberapa kali hujan gerimis menemani
perjalanan. Dalam udara dingin, cepat sekali perut terasa lapar. Saya memilih
jalan alternatif yang sepi dan bisa dilalui sepeda. Lalu lintas kendaraan
jarang melalui rute ini. Medannya naik turun landai melalui daerah pertanian
yang luas. Bentangan warna hijau bagai sebuah hamparan permadani.
Tidak
jarang pula jalan raya tersebut, melintasi daerah pemukiman penduduk. Tapi
semua pintu dan jendela rumah tertutup rapat. Di jalanan lengang dan sunyi
senyap. Jarang sekali ada orang berada di luar rumah saat cuaca jelek.
Saya
sulit mencari penjual makanan pada hari Minggu, karena semua toko tutup. Suatu
saat, senang sekali rasanya mendapati penjual kebab di sudut sebuah komplek pertokoan
yang tutup. Dalam ruangan tukang kebab tersebut saya menemukan kehangatan. Dan
rupanya saya salah memesan jenis kebab, karena tanpa irisan daging. Isinya hanya
berupa sayuran dan mayones. Walupun demikian kulahap habis kebab tersebut tanpa
sisa, demi mengganjal perut yang keroncongan.
Memasuki La Fere, sekitar pk 15.30. Tubuh terasa letih, lemas dan lapar
sekali. Karena sebelumnya beberapa kali kehujanan dalam perjalanan. Lalu saya
mengikuti arah dari rambu sebuah camping ground. Lokasinya terletak di pusat
komplek olah raga, milik pemerintah daerah. Dengan membayar 5 euro, saya
mendirikan tenda pada lahan yang tersedia, tak jauh dari kamar kecil. Sayangnya
tidak ada fasilitas dapur sehingga saya harus merebus air dengan kompor sendiri.
| Eiffel, Paris |
Rute perjalanan di Prancis adalah sebagai berikut: Perbatasan Belgia &
Prancis – Maubeuge – Laon – Paris – Nogent – Le Mans – Nantes – Montaigu –
Niort – Saintes – Bordeaux – Facture – Mimizan – Hossegor – Birritz –
Perbatasan Prancis & Spanyol
Spanyol,
Rute bersepeda di Spanyol adalah sebagai berikut:
Perbatasan Prancis & Spanyol – Irun – Donostia –
Vitoria – Miranda de Ebro – Burgos – Valladolid – Salamanca – Ciudad Rodrigo –
Perbatasan Spanyol & Portugal.
| bike line, Burgos - Spain |
Cuaca
yang kurang bersahabat, mendung dan dingin membuat saya cepat lapar. Memaksa
saya untuk istirahat di sebuah tanjakan. Mengganjal perut sambil menikmati
pemandangan yang indah, kota Irun terlihat dari sebuah
ketinggian. Sesudah itu adrenalin terpacu kembali saat saya harus bersepeda di
bahu jalan highway yang ramai dengan
kendaraan bermotor. Akhirnya, sampai di kota wisata Donostia San Sebastian . Kota yang berada di pinggir
pantai tersebut ramai sekali dengan wisatawan. Pergerakan saya menjadi lamban
karena banyak sekali traffic light di
sepanjang jalan, demikian juga pada jalur khusus sepeda. Walaupun jalur kosong
tapi saya malu menerobos karena kaos ada tulisan Indonesia .
Terlihat
banyak orang menggunakan pakaian serba putih dengan ikatan kain merah di leher.
Dikarenakan pada hari itu merupakan hari pertama dari tujuh hari kegiatan
tradisional yang diadakan atau berpusat di kota Pamplona . Setiap tahunnya, ribuan
orang termasuk wisatawan mancanegara selalu datang ke Pamplona, yang berjarak
76 kilometer sebelah tenggara Donostia San Sebastian . Sebuah kegiatan tradisi
yang dilakukan sejak lama dan menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa ekor sapi
jantan yang diliarkan, serupa banteng, dilepas di jalanan. Mereka akan
mengikuti gerak dari beberapa ekor sapi peliharaan yang diberi lonceng pada
lehernya. Sapi dan banteng ini, dibuatkan jalur khusus pada ruas jalan yang
mengarah ke stadion utama Pamplona . Sedangkan para pemberani
berada di jalanan tersebut, lalu berlarian dikejar sapi dan banteng yang lari
melabrak apa saja yang menghalangi di depannya. Setibanya di stadion
hewan-hewan tersebut tidak dibunuh. Berbeda dengan kegiatan matador yang
membunuh banteng di akhir acara.
Betapa susahnya ke luar dari kota Donostia San Sebastian . Cukup rumit mencari
jalan keluar kota yang bisa dilalui sepeda.
Jalan alternative saya ikuti sampai akhirnya membawa saya ke kota kecil Tolosa,
yang juga merupakan interest point
dalam jalur Camino Santiago de Compostella. Saya
mencari keterangan dari tourist
information kota wisata tersebut. Dan dari
tempat tersebut saya memesan sebuah kamar untuk bermalam di kota lain yang berjarak
sekitar 34 kilometer dan masih dalam lintasan Camino Santiago de Compostella.
Keluar Tolosa, saya bersepeda mengikuti jalur khusus sepeda sampai
Ordizia. Sempat pula saya membuntuti 2 orang pesepeda, seorang bapak dengan
putrinya yang baru berumur 9 tahun. Jalur sepeda yang aman. Bahkan ketika harus
parallel dengan highway, ada dinding
kaca sebagai dinding penyekat sepanjang puluhan meter. Sehingga pesepeda merasa
benar-benar aman walaupun di sampingnya melaju kendaraan dengan kecepatan
tinggi.
Penginapan yang saya tuju terletak di Zerain, yang ternyata berada di
atas sebuah bukit. Pencapainnya tidak dengan mudah karena harus bersepeda
melintas daerah pedesaan yang sepi dan lengang. Lintasannya menanjak
berliku-liku, cukup menguras tenaga. Seiring dengan terbenamnya matahari, udara
setempat semakin dingin. Terasa menusuk karena tubuh bersimbah peluh saat
bersepeda mendaki bukit tersebut.
Setibanya di Zerain, saya cukup beruntung. Walaupun
penjaga penginapan sudah pulang, kunci pintu dititipkan di sebuah café yang ada
di seberangnya. Letak penginapan tersebut bersebelahan dengan sebuah gereja
yang dibangun pada abad XIII. Dan menjadi salah satu gereja penting dalam
perkembangan agama Kristen masa itu.
Seorang diri saya berada di penginapan tersebut, sungguh menyenangkan
apalagi saat itu bulan purnama. Sambil menghirup secangkir cokelat hangat,
sampai datang rasa kantuk. Dari jendela kamar saya bisa melihat hamparan
keindahan alam berhias kelap-kelip lampu dari kejauhan.
Rute
berikutnya adalah Zerain – Vitoria . Mulanya saya harus
bersepeda menuruni bukit sampai pada sebuah persimpangan jalan. Lalu menanjak
lagi melintas daerah pedesaan. Bentuk bangunan rumah pedesaannya khas. Bunga-bunga
di halaman maupun yang diagantung dengan pot sedang bermekaran indah. Terlihat
kepulan asap dari cerobong di atap rumah-rumah. Menarik karena berlatar belakang
langit biru. Setelah daerah pemukiman berlalu, lintasan berganti memasuki
daerah hutan di lereng pegunungan.
Jajaran
pegunungan yang sebelumnya tampak dari kejauhan lambat laun dekat dan
terlintasi juga. Sendirian dalam hutan sungguh menyenangkan karena sepanjang
perjalanan ditemani suara kicauan berbagai jenis burung. Puncak dari lintasan yang
saya lalui adalah ketinggian +652 meter di atas permukaan air laut. Otzourte,
nama puncaknya dan ada sebuah café yang dipenuhi pengunjung. Beberapa pesepeda
yang duduk santai menikmati hidangan, melambaikan tangannya saat melihat saya
lewat.
Setelah
itu sepeda melaju kencang menuruni jalanan yang lengang membelah hutan. Terasa
nyaman sekali saat udara segar membasuh wajah. Di pancuran dari sebuah mata air
saya menambah persediaan air. Lalu tiduran buat melepas penat di bawah rindangnya
pepohonan. Dua jam kemudian melanjutkan perjalanan menuju Alsasua. Cuaca cerah
dan cenderung terik sekali. Suhu udara 29 derajat Celcius dan terus merangkak
naik.
Mendekati
kota, lalu lintas kendaraan semakin ramai. Harus cermat membaca rambu lalu
lintas agar tidak tersesat masuk ke jalur non sepeda. Suasana lengang saya
dapatkan setibanya di pusat kota Alsasua. Karena hari
Sabtu semua tutup. Padahal sebelumnya, berharap mendapat asupan makanan yang
cukup dari kota ini. Saya berkeliling sambil sesekali bertanya kepada
seseorang yang ditemui. Sampai akhirnya saya mendapati sebuah café yang
merangkap rumah makan. Makan sepuasnya walaupun agak mahal untuk makan siang
tersebut. Sedikit menggelikan sewaktu memesan menu makanan, saya harus dibantu
pengunjung lain yang bisa berbahasa Inggris.
Perjalanan
dilanjutkan setelah rehat, namun suhu udara sudah mencapai 39 derajat Celcius.
Tubuh serasa dipanggang. Apalagi lintasan melewati bentangan ladang gandum yang
luas. Tanpa ada pepohonan yang bisa digunakan untuk bernaung. Jalan yang saya
lalui merupakan jalan lama, letaknya hampir sejajar dengan highway. Kadang kala
keluar masuk daerah pedesaan. Dari tempat saya berada, di sebuah ketinggian.
Semua kendaraan yang melaju kencang di lintasan highway, tampak seperti mainan.
Suhu maksimum mencapai 44 derajat Celcius, rekor terpanas selama ini.
Memasuki kota Vitoria, matahari sudah condong ke barat. Secepatnya saya
menuju pusat kota untuk mencari keterangan
tempat bermalam dari Tourist Information. Nyatanya kantor tersebut sudah tutup
beberapa menit sebelum saya datang. Dengan panduan sebuah peta saya mencari
penginapan murah, dan yang termurah ada 40 Euro semalam. Waktu itu sudah waktu
sudah menunjukkan pukul 20.30 (matahari belum terbenam). Kemahalan buat saya, karena besoknya saya
harus meninggalkan penginapan pagi-pagi. Lalu, saya meninggalkan kota tersebut ke arah Burgos . Setelah sebelumnya
belanja bahan makanan dari sebuah kedai.
Sulit
mencari jalan keluar kota yang bisa dilalui sepeda.
Adanya rambhu larangan bersepeda memaksa saya beberapa kali berbalik arah saat
menyusuri bahu jalan highway. Sementara itu, bersamaan sang surya menuju
peraduannya udara dingin sekali. Sedangkan tempat ideal buat bermalam belum
juga didapat. Begitu melihat hutan lindung di perbatasan kota, saya menyelinap
masuk (lebih dari pk 21.00). Lalu mencari tempat yang terlindung. Saya menunda
membangun tenda, karena masih banyak orang yang jogging. Bahkan sekali waktu
ada seekor anjing mereka yang mendekat. Saya cuma bisa berdoa, supaya anjing
tidak menyalak atau membuat gaduh sehingga menarik perhatian pemiliknya. Doa
terkabul, anjing tersebut berlalu, menjauh kembali ke pemiliknya.
Tenda
saya dirikan dekat sebuah cekungan tanah yang ada genangan air mirip sebuah
kolam kecil. Dalam naungan pohon-pohon wiping
willow yang daunnya menjurai ke bawah. Lalu merebus air buat menyeduh kopi
dan mengganjal perut yang kelaparan dengan roti. Semakin malam suasana alam
sangat mengasyikkan, beberapa kodok terdengar bersuara bersahutan. Tidur pun
sangat nyenyak. Letih sekali dan tubuh terasa lunglai setelah seharian
terpanggang panasnya terik matahari.
Keesokan harinya, saat bangun waktu sudah menunjukkan pukul 06.47. Di
luar tenda suasana terasa mencekam. Kabut tebal menyelimuti kawasan tersebut,
suhu udara 17 derajat Celcius. Males rasanya keluar tenda, maunya tetap bergelung
dalam sleeping bag. Namun dengan
berat hati, saya akhirnya berkemas juga dan meninggalkan tempat tersebut, tanpa
sarapan.
Di
pinggir taman, saya mempelajari sebuah peta yang terpampang besar. Ternyata
jalur Camino ada, letaknya sejajar atau berimpit dengan National Highway #1. Jadinya, saya kembali
menyusuri jalan yang kemarin lagi. Tapi kenyataannya, saya menjadi kebingungan
karena jalan yang susuri terhenti begitu saja berubah menjadi jalan setapak
yang mengarah ke bukit. Dan tanda jejak Camino memang ada. Tapi saya ragu kalau
harus memanggul sepeda dengan beban berat menyusuri jalan setapak tersebut.
Kami berdua sempat di tegur polisi. Ceritanya, sewaktu di Arminon tanya
arah jalan kepada penduduk, disarankan untuk masuk jalur highway. Mana mungkin? Tapi karena tidak ada lintasan lain, maka
kami coba. Beberapa ratus meter kami menyusuri bahu jalan highway, malah jadi ragu sendiri dan kembali.
Di bawah sebuah jalan layang kami berhenti di pinggir
bahu jalan untuk melakukan orientasi peta lagi. Sementara itu polisi yang
melihat kami di Arminon, rupanya mengikuti kami. Mereka menyarankan melalui
jalan tanah pedesaan yang ada di balik pemukiman Arminon sampai Rivabellosa.
Dan polisi mengingatkan saya supaya selalu memakai helm sepeda. Untuk pertama
kalinya saya memakainya, setelah 29 hari bersepeda tanpa helm.
Sebelum
berpisah, di Rivabellosa kami berdua makan siang bersama di sebuah café. Setelah
ditinggal Samuel kembalil ke Vitoria, saya mencari tempat teduh buat istirahat.
Tiduran menggantung dengan hammock di
antara dua batang pohon.
Berikutnya, sekitar pukul 14.45 saya melanjutkan perjalanan dan harus
menyusuri bahu jalan NH #1. Naik turun landai menguras tenaga, ditambah suhu
udara kisaran 40-41 derajat Celcius. Beberapa kali masuk tunnel (terowongan) yang pekak telinga akibat suara deru kendaraan
yang melaju kencang. Sampai pukul 19.00 saya berhenti dan memutsukan untuk
mendirikan tepat di belakang sebuah rumah rusak. Seharian saya bersepeda selama
4 jam 55 menit 22 detik dan menempuh jarak sejauh 66,81 Km. Justru besoknya
saya mampu bersepeda lebih dari 100 kilometer. Setelah melewati Burgos saya
mulai menyimpang dari jalur Camino
Santiago de Compostella, mengarah ke Salamanca . Malamnya berkemah di
sebuah camping ground Caztrojeriz. Sebuah
pedesaan yang sangat tua dan terdapat beberapa situs peninggalan penyebaran
agama Kristen yang penting.
Dari Caztrojeriz hingga Salamanca membutuhkan dua hari
bersepeda. Menyusuri jalan alternative, melewati daerah pertanian dan bentangan
ladang gandum yang luas-luas. Selama bersepeda diterpa angin yang bertiup
kencang secara terus menerus. Rupanya angin ini dimanfaatkan menjadi sumber
daya listrik. Di beberapa bukit terdapat puluhan kincir angin.
Lepas dari jalur Camino Santiago de
Compostella, saya kemudian mengikuti sebagian jalur Ruta de Castillo. Jalur
yang mengunjungi kastil dan benteng-benteng kuno, terutama yang ada di pelosok
desa. Lintasan naik turun dan puncaknya ada di Montealegro, dimana ada bangunan
benteng yang besar sekali. Dari sana jalan menukik, karena saya selalu
memandang benteng mencari sudut pandang yang baik untuk motret. Lupa, kalau
sedang meluncur kencang. Jadinya sepeda keluar jalan dan saya jatuh terpental
dari sepeda. Untungnya, hanya tiang kaca spion yang patah dan sdikit lecet di
kaki. Sejak itu, saya tidak berani sembrono lagi.
| Camino Santiago de Compostela |
Malam harinya, suhu udara turun
hingga 17 derajat Celcius. Sewaktu makan dodol duren yang dibeli dari Den Haag,
Belanda. Tanpa terduga ada sesuatu benda keras terkunyah gigi. Ternyata logam
tambalan gigi terlepas ikut menempel dodol tersebut. Sedih sekali mengingat
proses penambalan gigi sangat lama sebagai salah satu bentuk persiapan sebelum
berangkat bertualang.
Rupanya, kebiasaan orang Spanyol lain lagi. Tengah
malam, mereka berkumpul di ruang restoran, makan malam dan mengobrol diselingi
tawa keras sampai larut. Suara bising
mereka membuat saya sulit memejamkan mata.
| Plaza de Salamanca, Spain |
Ramai
sekali suasana Salamanca karena Spanyol sedang
merayakan kemenangan tim sepak bolanya menjadi Juara Dunia. Sementara itu, dari
Konggres Komite Sepeda Indonesia di Jakarta, dapat kabar. Bahwa saya menerima
sebuah penghargaan Life Achievement, di antara penerima penghargaan lain.
Terima Kasih! Dan menurut saya memang suatu bangsa yang besar adalah bangsa
yang bisa menghargai para pesepedanya.
| Hooorreeeeeeeee! |
Saya beli minuman di sebuah petrol station, lalu tiduran di bawah cemara.
Setelah sejam perjalanan dilanjutkan lagi. Ada sebuah rest area yang rimbun,
banyak pepohonan dan ada wc serta air kran. Suasananya asyik, membuat saya
tertarik untuk berkemah di situ. Tapi menjadi ragu karena hari masih ada sisa
waktu panjang buat mengejar jarak tempuh.
Tidak disangka di La Fuente de S Estaban, terdapat sebuah camping
ground. Mungkin dulunya sebelum highway dibangun. Tempat ini menjadi tempat
persinggahan karena berada di tengah perlintasan menuju Portugal . Sekarang kondisinya
cukup memperihatinkan. Saya hanya bisa membeli makanan seadanya dari toko
pengelola. Sedangkan roti saya harus beli di sebuah café hotel yang letaknya
berseberangan. Selain roti, di hotel tersebut sempat saya membeli pisau lipat
buatan tangan khas Spanyol untuk melengkapi koleksi di rumah.
Setelah mandi dan cuci pakaian saya tiduran menunggu proses matahari
terbenam sambil mendengarkan radio. Ada sepasang pengendara motor besar datang,
lalu mendirikan tenda. Mereka menyapa saat saya melongokkan kepala dari balik
kelambu tenda.
Besoknya, saya mencapai Ciudad Rodrigo setelah bersepeda sejauh 33
kilometer dari tempat saya berkemah. Ciudad Rodrigo, kota terakhir di Spanyol
sebelum memasuki wilayah Portugal . Sebuah kota yang ramai
dikunjungi wisatwan, karena banyak peninggalan sejarahnya. Ada sebuah benteng kuno yang
mengelilingi kota tua.
Tengah hari, saya melanjutkan perjalanan dengan menyusuri N.620 ke arah
perbatasan yang berjarak 25 kilometer. Cuaca cerah dan cenderung terik sekali.
Suhu udara 44 derajat Celcius, memaksa saya sering minum. Dan tidak jarang pula
berteduh di bawah gorong-gorong jalan E.80. Dan mendekati perbatasan jalur
N.620 dan E.80 bersatu, membuat saya was-was. Karena bersepeda di sisi jalan
dengan kendaraan melaju kencang. Deru mesinnya mendesing memekakkan telinga.
Di
perbatasan sudah tidak ada pos imigrasi lagi karena Portugal dan Spanyol sudah masuk
kelompok Negara Schengen. Yang tersisa hanya bangunan douane yang megah serta
sisa-sisa bangunan pengamanan perbatasan. Perbatasan tersebut menjadi kota ramai. Senang sekali saat
melihat bendera Portugal berkibar, berarti saya sudah memasuki wilayah Portugal .
Saat melihat jalur N.332 saya sudah merasa yakin benar. Suatu saat,
ketika perasaan mengatakan ini salah. Saya mencoba menanyakan arah tujuan
kepada seseorang. Benar dugaan saya! Saya bukannya mengarah ke selatan tetapi
malah ke utara. Jadi saya harus kembali lagi sampai menemukan jalan di belakang
bangunan douane tadi.
Ternyata, kondisi jalannya sangat kurang mutunya dibandingkan jalanan di
Spanyol. Karena konsentrasi mencari arah jalan yang benar akhirnya saya lupa
kalau belum makan. Teringat sewaktu sudah berada jauh keluar dari keramaian kota perbatasan tadi.
Rute
perjalanan di Portugal adalah sebagai berikut: Perbatasan Spanyol &
Portugal – Guarda – Coimbra – Leiria – Caldas Reinha – Lisbon – Alcacer do Sal
- Beja – Serpa – Perbatasan Portugal
& Spanyol.
Malam pertama di Portugal saya berkemah di bawah
pepohonan pinus di pinggir jalan (Km 79 Sabugal). Saya mendapatkan lahan ini
setelah berlama-lama gagal mencari lahan berkemah yang ideal. Bahkan pernah ditolak
penduduk ketika mnita izin ke penduduk untuk ikut berkemah di samping halaman
rumahnya yang berupa hutan pinus. Saya harus ekstra hati-hati karena belum
terbiasa dengan masalah keamanan dari Portugal .
Hari kedua, bangun saat suhu udara 12 derajat Celcius. Lintasan naik
turun landai, 7 kilometer setelah bersepeda saya masuk Aldea de Fonte. Namun
pagi itu jam 8, rupanya belum ada yang bangun. Jalanan sangat sepi. Saya sempat
menambah cadangan air dari kran yang ada di taman kota .
Di
sebuah desa kecil berikutnya, saya mampir ke sebuah toko yang merangkap café.
Membeli apel dan pisau lipat khas Portugal . Sementara saya bersiap
untuk melanjutkan perjalanan, ada seseorang menyapa dan mengajak ngobrol.
Sampai akhirnya saya diajak masuk lagi, ditraktir minum kopi exprreso yang
dicampur aqualente (arak lokal).
Berikutnya, orang-orang yang ada di café secara bergantian mengajak minum lagi
dan bersulang. Tentu saja, saya berusaha menyudahi dengan halus. Kalau tidak,
salah-salah nantinya saya bersepeda
sambil teler. Sebagai ucapan terima, saya bagikan cinderamata khas Indonesia .
Alam Portugal yang saya lewati mengingatkan alam daerah Nusa Tenggara
Timur, Indonesia . Tanahnya kering
kerontang dan berbatu-batu. Di sela- bebatuan tersebut mereka berkebun atau
berladang. Di pedesaan, umumnya mereka menggunakan kendaraan bermotor keluaran
tahun baheula.
Jalanan menurun sampai titik terendahnya pada sebuah jembatan di kota Sabugal lalu naik lagi.
Di Sabugal saya berpapasan dengan serombongan pesepeda yang sepertinya ikut program kegiatan dari
sebuah tour operator. Lintasan tetap saja berkelok-kelok menanjak tiada
habisnya. Di sebuah simpang tiga, saya ragu-ragu karena rambu penunjuk jalan
tidak jelas. Sebenarnya saya mencari jalan pintas menuju Maemao, sebuah tempat
wisata dekat danau. Dari sebuah gardu pandang, saya berhenti buat istirahat
sekalian orientasi medan . Di kejauhan danau sudah terlihat
dan pemandangan alamnya memang sangat indah. Tapi jalan yang harus saya ikuti
turunan menukik 12%.
Selewat Maemao, jalan bergabung lagi dengan jalan N.332 arah Penamacor. Matahari
sudah berada di ubun-ubun dan lapar pun sudah mengganggu. Namun karena
keberulan hari Minggu sulit sekali mencari toko atau restoran yang buka.
Satu-satunya restoran yang ada penuh pengunjung, tampak mobil para pengunjung
memenuhi lahan parkir.
Saya masuk restoran, ternyata harus menunggu lama di ruang café karena semua
harus antri. Begitu mendapat meja masih juga harus menunggu lagi, apalagi
banyak pelayan yang tidak bisa berbahasa Jawa atau Inggris. Tak lama kemudian
ada seorang pelayan yang datang menghampiri. Dengan ramah menyapa dan membantu.
Butuh kesabaran lebih untuk bisa menikmati hidangan yang disajikan karena
banyaknya pengunjung.
Menu makan siang saya sebenarnya sederhana dibandingkan orang lain.
Berupa: pembuka, salad, beefsteak, anggur. Itupun masih bersisa walaupun makan
sampai kenyang. Tadinya saya perkirakan akan membayar lebih dari 20 Euro. Tidak
mau rugi, buah zaitun, anggur (vino tinto) dan sisa makanan saya bungkus buat
bekal. Di luar dugaan, sewaktu harus membayar ternyata hanya 6.5 Euro.
Terbukti, bahwa Portugal adalah termurah di antara
negara lain yang tergabung dalam kelompok Uni Eropa maupun Schengen.
Di
bawah keteduhan pohon eukaliptus, saya tiduran bergantung dengan hammock lebih dari 3 jam lamanya. Cuaca
cerah, panas dan kering. Walaupun suhu udara mencapai 44 derajat Celcius, namun
di bawah bayang pohon-pohon sangat sejuk. Hembusan angin semilir di keteduhan
terasa nyaman sekali. Sebuah kemewahan dan kenikmatan luar biasa tiada tara .
Pukul
17.00 waktu Portugal, melanjutkan perjalanan lagi. Pada ruasa jalan berikutnya
mampir di sebuah petrol station beli minuman ringan dan minta air untuk
memenuhi seluruh bidon. Untung hal ini saya lakukan, karena berikutnya saya
tidak menemukan pemukiman lagi sampai jangka waktu yang lama.
Seperti keterangan yang diberikan, katanya ada camping ground di
Castello Blanca lebih kurang 27 kilometer lagi. Tapi kondisi tubuh sudah letih
sekali. Tenaga terkuras dan dikuras menghadapi kondisi alam yang ekstrem
panasnya. Lalu di sebuah persimpangan jalan ada tanda rambu camping ground,
saya ikuti dan ternyata jaraknya masih kurang 60 kilometer arah pegunungan
tempat sebuah objek wisata. Kecewa, saya putar haluan mencari lahan seadanya
buat bermalam.
Matahari sudah terbenam di peraduannya
menyisakan sinarnya di langit. Dalam keremangan saya melihat sebuah lahan
kosong di pinggir jalan jauh dari mana-mana. Sebuah lahan yang dibatasi
tumpukan batu sebagai pagarnya. Saya lalu menyelinap. Dan tenda tidak berani
dibangun karena bisa terlihat dari jalan.
Saya
tidur beralaskan matras dan beratapkan langit. Dengan suhu udara mencapai 15
derajat Celcius. Makan seadanya dari apa yang ada di panniers. Agak sulit untuk
memejamkan mata. Dalam sleeping bag kegerahan!
Setelah seharian dipanggang terika matahari. Keluar dari sleeping bag malah digigit nyamuk atau dikerubuti semut. Di tengah malam
dikagetkan dengan bunyi lonceng kalung ternak. Saya pikir hanya ada seekor
ternyata ada puluhan ekor kambing berjalan berkeliling lahan sebelah.
Sebenarnya saya was-was juga kalau ternyata rombongan ternak tersebut ada
gembalanya. Tapi untungnya tidak ada!
Paginya, dengan masih menahan kantuk saya meninggalkan tempat tersebut.
Sebuah pengalaman yang lain lagi telah saya dapatkan. Setelah jalan yang ikuti
bergabung dengan jalan utama, lalu lintas kendaraan semakin ramai. 22 kilometer
sebelum kota Castillo Blanco. Di kota tersebut saya baru
sarapan di sebuah retoran cepat saji. Dengan menu yang sama di negara sebelumnya,
di Portugal lumayan murah, hanya 5.30 Euro.
Kesulitan berikutnya adalah mencari jalur keluar kota . Hampir tersesat lagi
masuk jalur E.85, karena arah Nisa (32 Km) tanpa rambu yang jelas. Jalan yang
saya ikuti sepi sekali dan cuaca panas. Cenderung kering korantang, suhu
kisaran 36-41 derajat. Lalu jalan tutun terus sampai VV Ridao yang ada waduk
dan pabrik pengolahan kayu. Setelah melewati jembatan panjang ada pancuran air.
Lumayan, selain membasuh wajah saya juga mencuci pakaian yang kotor. Semua air
dalam bidon pun saya ganti yang lebih segar.
Medan berikutnya, menanjak sejauh 4 kilometer melipir lereng waduk yang
luas tersebut. Bersambung naik turun tiada habisnya hingga Nisa. Setibanya di
Nisa ada restoran, tapi baru buka pukul 18.30 padahal sekarang sudah pukul
18.00. Lucu sekali mereka taat jadwal. Karena tidak ada camping ground, terpaksa saya melanjutkan perjalanan setelah
memberli bahan makan terlebih dulu. Jalanan masih saja naik turun di kawasan
yang tandus berbatu-batu. Menyulitkan saya mendapatkan lahan ideal buat
berkemah.
Dekat sebuah persimpangan jalan (10 Km setelah Arez), ada sebuah rumah
dengan halaman luas. Saya nekad masuk untuk minta izin berkemah. Ada beberapa orang bapak tua
sedang bercengkerama di beranda rumah. Kuhampiri mereka tapi serentak beberapa
anjing yang ada menyalak mendekati saya. Namun kemudian gerak gerik
anjing-anjing tersebut menandakan persahabatan, tidak lagi beringas. Ah, aman
dan diterima pikir saya sederhana. Benar saja, Antonio sang pemilik lahan
mengizinkan. Malah menyuruh saya memilih tempat yang nyaman.
Mereka memperhatikan tingkah laku saya. Sementara saya membangun tenda
dekat sebuah traktor agar terlindung dari hembusan angin. Selesai tenda berdiri,
saya diajak ke beranda. Mereka menjamu saya dengan roti, makan daging asap dan
minum anggur asli Portugal . Pantas saja setiap pria
selalu membawa pisau lipat. Ternyata pisau lipat tersebut berguna buat menyayat
bongkahan daging asap dan mengiris kecil-kecil untuk disuapkan ke mulut.
Cara berkomunikasi yang unik. Saya tetap saja berbicara dalam bahasa
Jawa dan mereka dengan bahasa Portugis. Dari pengalaman mengatakan, bahasa
verbal bukan hal hakiki. Bahasa universal adalah bahasa gambar dan jauh lebih
penting lagi adalah bahasa hati. Tapi aneh, walaupun demikian ada keakraban di
antara kami.
Dalam
kamar mandi, saya tidak melanjutkan mandi karena airnya sangat dingin. Lari ke
dalam tenda dan bergelung sleeping bag
buat menghangatkan tubuh yang menggigil. Tertidur lama dan terjaga saat hari
sudah gelap. Keluar tenda sebentar buat buang air kecil, sembari memandangi
langit kelam yang berhiaskan kelap kelip taburan jutaan bintang. Binatang malam
bersuara saling bersahutan. Malam yang mengasyikkan! Saya tidur lagi sampai
pagi dengan nyenyak. Letih karena tenaga terkuras saat bersepeda naik turun
bukit curam. Seharian bersepeda sejauh 82.24 Km selama 6 jam 34 menit 18 detik.
Hari
keempat di Portugal, saya menuju Alpiarqa. Setelah sarapan dua telor rebus dan
muesli, saya bersepeda menyusuri jalan datar sehingga bisa memacu sepeda dengan
kecepatan rata-rata di atas 20 kilometer/jam. Melawan angin kencang yang
menerpa dari depan. Membuat goyang sepeda memaksa saya lebih berkonsentrasi.
Karena lalu lintas kendaraan makin lama semakin ramai. Jalan yang saya lewati
adalah satu satu jalan utama menuju Lisbon, ibukota Portugal .
Cuaca cerah tapi suasananya agak lumayan karena banyak pepohonan. Suhu
udara kisaran 29-34 derajat Celcius. Berikutnya, jalan menyusuri tepian Rio Tejo. Sungai lebar
tersebut akan bermuara dekat Lisbon . Saya menjadi sering
beristirahat karena tenggorokan perih, gejala dehidrasi. Tanpa terasa dengan
cepat saya meraih jarak di atas 70 kilometer karena sepeda melaju didorong
angin.
Menjelang sore saya tiba di Alpiarqa Camping Parque Municipal, milik
pemerintah daerah setempat. Semalam berkemah dikenakan beaya 7.5 Euro. Sesaat
setelah tenda berdiri, terdengar raungan sirene dari arah pusat kota . Tak lama kemudian
melintas iring-iringan mobil pemadam kebakaran (Bomberos). Disusul kemudian
sebuah helikopter membawa tandon air serta sebuah pesawat kecil. Menurut
keterangan ada kebakaran hutan tidak jauh dari tempat saya berkemah. Helikopter
pulang balik beberapa kali mengambil air dan sejam kemudian terdengar bunyi
sirene meraung lagi dari arah pusat kota, pertanda semuanya sudah diatasi. Hari itu saya bersepeda hampir 7 jam dan
mengayuh sejauh 102,4 kilometer.
Pada hari Rabu, 21 Juli 2010 hari ke 33
dari 38 hari masa pengembaraan, saya mencapai kota Lisbon. Udara pagi cukup
dingin 17 derajat dan merangkak naik terus hingga 29 derajat Celcius, maksimum
sampai 34 derajat Celcius. Sebelumnya, meninggalkan Alpiarqa dengan semangat
sekali. Walaupun harus berpacu dengan truk, bis atau kendaraan lain di jalan
raya saya tidak peduli lagi. Target saya mencapai Lisabon ketika masih siang
hari, karena kalau sudah sore atau malam saya akan kesulitan mencari alamat
yang dituju.
Makan siang saya lakukan di belakang gedung sebuah super market di Porto
Alto, setelah sebelumnya belanja bahan makanan. Dari Porto Alto menyeberangi
sungai lebar (Rio Tejo) sampai Villa Franca . Berikutnya sempat
kehilangan arah N.10 yang saya ikuti. Karena jalan bersambung dengan jalan
layang bertumpuk. Mau bertanya pada seseorang tidaklah mungkin karena semua
kendaraan melaju kencang. Saya ikuti saja kata hati, sampai akhirnya saya
terbawa arus jalan yang mengarah ke pusat kota Lisbon .
Ternyata alamat yang saya cari berada 10 kilometer sebelah selatan kota Lisbon (berada di suburb).
Sewaktu tanya arah yang saya tuju pada penduduk lokal, malah mereka meragukan
saya. Kata mereka jauh sekali kalau bersepeda. Saya bilang, sudah bersepeda ribuan
kilometer dari Brussels, Belgia. Jadi sepuluh kilometer bukan masalah, yang
penting arahnya benar. Mereka bisa maklum dan mulailah menjelaskan dengan
seksama.
Memang
sengaja saya tidak membeli peta khusus kota Lisbon . Supaya sesering mungkin
berkomunikasi dengan penduduk lokal. Dengan begitu menjadi lebih sering pula
menyebut Indonesia sebagai negara asal. Kenyataannya,
memang saya sedang tidak mewakili Indonesia atau apapun itu. Tapi
sesungguhnya saya bangga sebagai warga biasa bisa mengenalkan Indonesia di negara lain.
Akhirnya, alamat Wisma Indonesia bisa saya temukan. Dan
tanpa diduga saya disambut Duta Besar RI, Bapak Albert Matondang beserta
seluruh staff KBRI untuk Portugal di Lisbon. Setelah mandi
dan ganti pakaian, saya diajak makan malam bersama. Terima kasih! Selama tiga
hari saya berada di kota Lisbon guna pemulihan tubuh
(recovery). Sejak berangkat dai kota Brussels baru kali ini saya
istirahat total. Setelah bersepeda sejauh 2509,2 kilometer.
Sementara itu, saya diantar ibu Novi dan bapak Doni
mengunjungi situs dan objek wisata bersejarah. Seperti Torres de Belem, makam
Vasco da Gama dll. Bahkan sempat diantar ke Cabo da Roca, sebuah titik
semenanjung yang konon diklaim oleh Vasco da Gama menjadi titik terbarat dari
daratan Eropa.
| Torres del Belem, Lisbon - Portugal |
Saya harus menyeberangi muara sungai (Rio Tejo) dari terminal ferry
Cais do Sodre menuju Saixal. Setibanya di dermaga Saixal disambut teriknya
matahari dengan temperatur 41 derajat Celcius. Sepeda tetap saja saya genjot
mengarah ke tenggara. Menjelang sore suhu turun hingga 38 derajat, membuat
tubuh lemas dan letih.
Sesudah bersepeda sejauh 45 kilometer, sekitar pukul 20.30 saya
menemukan lahan berkemah yang nyaman di daerah Palmela. Sebuah lahan yang
terlindung dari pandangan orang maupun dari pemukiman penduduk. Meskipun letaknya
tidak jauh dari jalan raya. Terhalang oleh jajaran pohon eukaliptus. Terdengar
suara kicauan burung yang kembali ke sarangnya dan kelinci liar berloncatan di
seputar tenda. Malam hari tidak terlampau dingin, bulan purnama melengkapi
suasana alam yang indah. Suhu udara paling rendah, menjelang pagi 22 derajat
Celcius.
Paginya, saya dibangunkan oleh kicauan burung. Bulan masih menyisakan
sinar terangnya. Setelah sarapan dan berkemas saya melanjutkan petualangan.
Mulanya jalanan menurun tapi bersambung naik turun landai. Semakin ke arah tenggara
alam Portugal semakin tandus dan
kering.
Setibanya
di Alcacer belanja bahan makanan. Tidak terlihat penduduk berjalan-jalan di
luar rumah. Pemukiman lengang sekali semua orang berada di dalam rumah.
Pasalnya suhu udara pada paparan 44 – 47 derajat Celcius dan rekor terpanas
yang saya alami selama ini. Bahkan ketika saya berteduh di bawah bayang pohon
temperatur menunjukkan 38-39 derajat. Udara yang dihembuskan angin pun masih
terasa panas. Air minum dalam bidon pun panas. Mata nanar jika terlampau
memandang lama ke depan. Kulit pun perih setelah terpanggang, seakan krim
dengan SPF 50 tak mempan lagi.
Supaya
tidak kelengar, begitu ada peluang untuk berteduh. Sekali lagi saya berhenti
dan tiduran lagi di bawah pohon agar mendapatkan kesegaran. Beruntung pula
lintasan berikutnya berada di tengah kawasan hutan pinus (Torrao kurang 30
kilometer). Setibanya di Torrao, mampir ke sebuah toko membeli buah-buahan buat
bekal makan malam.
Saat sudah melintas perbatasan Portugal-Spanyol, kota kecil Rosal de La
Frontera. Tiba-tiba ban belakang meletus, rupanya ban luar aus tanpa saya
sadari. Itu terjadi pada Km 2700-an. Secepatnya saya ganti dengan ban luar
cadangan. Sialnya ukurannya tidak sesuai. Tidak kehabisan akal dengan dibantu
oleh Jose Emanuel yang kebutulan lewat dengan mobilnya, saya kerat ban cadangan
tersebut menjadi pelapis dalam dari ban luar yang rusak. Dan ban luar dari roda
depan yang relatif masih bagus saya tukar dengan roda belakang. Hasilnya
lumayan hari itu saya masih mampu bersepeda lebih dari 20 km sampai saat
istirahat berkemah. Rute di Spanyol setelah dari Portugal adalah sebagai berikut:
Perbatasan Portugal & Spanyol – Cortegana – Sevilla – Puerto Real – Algeciras – Menyeberang dengan
ferry menuju Ceuta (Spanyol, Afrika Utara).
Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya adalah upaya mencari ban luar
dengan ukuran yang sesuai. Tapi kenyataannya ukuran ban saya memang tidak lazim
dan belum banyak digunakan orang kecuali di kota besar. Puncak kejadian yang
cukup melelahkan adalah sehari sebelum mencapai kota Sevilla, Spain.
Sesaat setelah istirahat siang saya bermaksud melanjutkan perjalanan. Terlihat ban roda depan menggembung tidak wajar. Saya langsung berpiki keras untuk mengatasinya. Satu-satunya cara adalah menjahit ban tersebut dengan kawat. Pertama hanya kuat untuk 12 Km, kedua jahitan dengan cara lain dan dilapis dengan aluminium. Berikutnya sistem jahitan tidak ada yang keluar ban. Dan kali keempat saya jahit dengan rapi.
Padahal saat itu, cucaca sangat panas sekali tiada tempat berteduh yang layak. Tapi saya berusaha untuk bertahan. Keringat pun bukan lagi menetes tapi sudah mengucur deras yang terkadang membuat perih mata. Hari itu takluk saat saya belum mencapai kota Sevilla. Tenda berhasil saya dirikan saat matahari sudah tenggelam menyisakan sinarnya (sekitar pukul 21.30).
Adalah kebahagiaan yang tak terkira sewaktu saya mendapatkan ban baru yang sesuai ukurannya. Dan rasa kegirangan tersebut berlanjut saat disambut keindahaan
Suatu saat, situsasi memaksa saya
harus berkemah di tengah hutan. Tenda saya dirikan dekat tempat pembuangan
barang-barang tidak berguna. Menjelang malam terdengar suara langkah kaki
binatang menginjak dedaunan kering. Terlihat seekor anjing berwarna hitam. Dari
tampilannya saya duga termasuk jenis anjing piaraan. Mungkin bersama pemiliknya
juga sedang berjalan ke arah saya berkemah, mungkin untuk buang air besar atau
yang lainnya.
Satu dua jam berlalu tapi masih terdengar suara angjing tersebut bekeliaran,
artinya tidak ada orang datang atau saya menduga di sekitar tempat berkemah
memang ada orang yang menetap. Jadi saya harus waspada.
Tengah malam anjing tersebut tiba-tiba menyalak keras tidak jauh dari tenda.
Rupanya ada yang datang, dari suaranya saya duga ada rusa mendekat. Begitulah
ketika rusa pergi anjing tersebut diam lagi. Ah lumayan ada yang menjagaku,
pikirku sederhana.
| si temanku |
Saya
harus melanjutkan perjalanan, tampaknya anjing yang tidak mengerti bahasa Jawa
atau bahasa Inggris ini mengikutiku. Aduh, saya takut kalau dia tertabrak
kendaraan. Sebentar dia menjauh, saat saya mulai mengayuh,
dia mulai lari mengikuti. Begitulah terus berlari jika
ada kendaraan lewat melintas hutan tersebut dia beringsut ke sisi jalan
sebentar. Tak tega meninggalkan, saya mulai berusaha menggendong dan meletakkan
di atas barang. Tiga kali sudah saya coba, tapi begitu sepeda bergerak dia
meloncat kembali. Sedih kalau saat ada jalan turun dia mencoba mengejar sekuat
tenaga. Terlihat kecapean, lihahnya terjulur dan terengah-engah. Lalu saya buat
tempat minum dari bekas botol kemasan air Setiap menemukan air dari botol
kemasan, saya usahakan dia untuk istirahat dan minum. Karena saya sendiri
kekurangan air akhirnya kami berbagi air minum.
Labih dari 9km dia berlari di jalanan mengikuti saya sampai akhirnya
tiba di sebuah pemukiman. Saya berharap dan yakin ada seseorang yang mau
menerimanya, karena dia termasuk jenis anjing bagus dan pintar. Kami berdua
istirahat dan berbagi kue di pinggir jalan. Terlihat dia mulai tidak
menghabiskan air, rupanya dia juga sudah mulai nyaman dengan situasi baru.
Apalagi dari seberang jalan beberapa ekor anjing sudah menyalak melihat
kedatangan kami.
Terbukti saat saya mulai bergerak untuk melanjutkan
perjalanan dia memandang acuh tak acuh. Kecapaian? Mungkin saja! Tapi itu lebih
baik daripada dia harus mengikuti terus sampai tak tahu dimana batasnya.
Bersyukur dia tinggal dan semoga mendapatkan majikan yang baru. Saya masih
ingat bagaimana cara dia berlari, bagaimana dia mulai beringsut ketakutan dan
bagaimana dia kegirangan saat diberi air minum. Sebuah ke’merdeka’an tiada
berbatas.
Shalawat
Badr dan Marhaban yang terdengar dikumandangkan serta iringan tabuhan rebana
bertalu-talu dari halaman KBRI oleh para warga Indonesia dan
Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di
Maroko, menandai berakhirnya perjalanan saya yang bertajuk TRANS ANDALUCIA
CYCLING TRIP 2010. Sebuah perjalanan bersepeda jarak jauh, melintas Belgia –
Prancis – Spanyol – Portugal dan
Maroko (Belgium – France – Spain – Portugal – Morocco ).
Saya tiba di Rabat pada hari Sabtu, 7 Agustus 2010 setelah menempuh jarak
3538,5 kilometer dari kota Brussels dalam waktu 48 hari dari 55 hari masa
pengembaraan. (meninggalkan Brussels, Belgia pada tanggal 18 Juni 2010). Sebuah
perjalanan yang cukup panjang, berliku dan melelahkan. Tidak sekedar
mengandalkan kekuatan otot tapi juga melilbatkan seluruh eksistensi tubuh,
keseimbangan dan sinergi antara fisik, rasio, rasa dan naluri.
Prosesi penyambutan, sudah diawali jauh sebelum mencapai kota Rabat
ini. Tiga hari sebelumnya (Kamis, 5
Agustus 2010) saat saya sudah memasuki kawasan Maroko, dekat kota Tanger. Saya
disambut/dijemput oleh Bapak Hadi Syarifuddin dan ibu. Diberitahu
bahwa warga Indonesia akan berkumpul di KBRI, untuk merayakan HUT RI ke 65. Oleh sebab itu
alangkah baiknya jika saya bisa memasuki kota Rabat pada saat itu. Padahal
jarak yang masih harus saya tempuh adalah lebih dari 350 Km.
Tantangan tersebut di atas
membuat saya jadi terpacu. Walaupun dengan beban berat, pada hari terakhir
tersebut saya mampu menempuh jarak lebih dari 125 kilometer dalam waktu kurang
dari 6 jam. Dan hal ini menjadi jarak terjauh dan tercepat yang pernah saya
lakukan dalam perjalanan ini. Berat memang, tapi saya puas !
Di batas kota Rabat, saya sudah
di tunggu oleh 10 orang pembalap sepeda
nasional Maroko dan Ketua Federasi Sepeda Kerajaan Maroko. Kemudian bergabung
pula Bapak Tosari Wijaya selaku Duta Besar dan juga para Staf KBRI. Akhir
perjalanan yang indah dan sangat mengharukan, setelah apa yang saya alami
selama dalam perjalanan sebelumnya.
JBEL TOUBKAL.
Gunung tertinggi di kawasan Pegunungan Atlas, Morocco bernama Jbel
Toubkal 4167 meter di atas permukaan laut, dan menjadi bagian dari perencanaan
perjalanan saya sebelum berangkat. Dan sebagai gunung tertinggi di Haut Atlas
(High Atlas) juga di Utara Afrika (Northern Africa ). Tetapi karena beberapa
kendala, saya menjadi pesimis untuk melakukan pendakian gunung ini. Antara lain
waktu yang tinggal beberapa hari lagi sebelum saya kembali ke Indonesia, ransel
yang tidak bisa diambil dari Kantor Pos Ceuta, Spanyol dll. Dan saya sudah
pasrah apabila ternyata akhirnya tidak jadi melakukan pendakian gunung
tersebut.
| wild flowers, Jbel Toubkal, Morocco |
Setibanya di Marrakech kami bertiga makan malam di sebuah café di
kawasan lapangan Jemaa el Fna (Jemaa el Fna Square ) lalu mencari warung
internet buat melengkapi data yang kami perlukan. Setelah itu kami bermalam di
salah satu kamar kontrakan para mahasiswa yang menuntut ilmu di kota tersebut. Sebelum
memejamkan mata, pikiran saya masih dipenuhi rencana dan apa yang harus
dilakukan. Semua peralatan ada di Rabat . Dan peluang ini ada di
depan pelupuk mata. Bukannya sekedar
bonek (bondo nekad) tapi semua sudah saya perhitungkan. Dengan pemikiran kalau pun tidak punya tenda setidaknya bisa bermalam di
hut (pondok pendaki)
| Jbel Toubkal +4167 m ASL |
Dan baru keesokan harinya kami bertiga melanjutkan pendakian ke puncak
Jbel Toubkal. Walaupun tertatih tatih akhirnya kami sampai juga di puncak gunung
tersebut. Pemandangan alam yang menakjubkan dari puncak, menggantikan seluruh
jerih payah dalam upaya pencapaiannya. Dan bagi saya, Gunung Jbel toubkal
merupakan gunung ke 57 yang pernah saya daki. Gunung ketiga di Afrika yang
pernah saya daki setelah Gunung Kilimanjaro (+5896 meter dpl). Mt Kenya (Point Lenana +4985 meter
dpl) dan Gunungt Jbel Toubkal (+4167 meter dpl).
Kalau dulu saya mendaki Gunung Kilimanjaro, sebagai gunung tertinggi di
Benua Afrika dengan mengendarai/membawa sepeda hingga puncaknya (Uhuru Peak ). Kali ini tidak
dilakukan, karena sadar bahwa saya sudah tidak muda dan tidak setangguh dulu
lagi. Namun, tetap saja mempunyai nilai tersendiri bagi saya karena untuk bisa
sampai ke Maroko (Morocco ) ini saya harus mengayuh sepeda
sejauh 3538,5 kilometer. Tentunya bukan pekerjaan remeh temeh, yang sekedar
mengandalkan kekuatan dengkul semata. Melainkan perlu determinasi yang tinggi
untuk bisa melakukannya. Senang sekali bisa mengakhiri perjalanan ini dengan
manis. Sebuah semangat yang tak pernah tercabik, tak
pernah kandas dan tak pernah berakhir.
EVERLASTING SPIRIT !!!
PAIMO
Bandung, Mei 2011
Disarikan dari catatan perjalanan PAIMO:
EVERLASTING SPIRIT!
(TRANS ANDALUCIA CYCLING TRIP 2010)
Sebuah perjalanan bersepeda jarak jauh sendirian
melintasi Belgium-France-Spain-Portugal-Morocco sejauh 3538,5 kilometer dan
mendaki Gunung Jbel Toubkal +4167 meter dpl di Morocco. Yang dilakukan dari
tanggal 12 Juni 2010 sampai dengan 15 Agustus 2010.

slm kenal om paimo..prjalanan om paimo membwt hati saya brhasrat untuk mencumbui alam raya ini...mantab...mantab...mantab....!!!!!!!
BalasHapushihihi aku lagi belajar menuliskan apa yang pernah kurasakan, kualalli saat berinteraksi dengan bentang alam yang luas tak berbatas ini. Terima kasih atas apresiasimu kawan!
Hapus