Rabu, 04 Januari 2012

'....EVERLASTING SPIRIT.....!"



BERSEPEDA LINTAS ANTAR NEGARA  ANTAR BENUA
(BELGIUMFRANCESPAINPORTUGALMOROCCO)
.....................oleh : Paimo

Awal Perjalanan,
              Sesaat setelah pesawat yang membawaku dari Abu Dhabi mendarat dengan selamat di Brussels International Airport (Minggu, 13 Juni 2010), tubuh segera disergap dinginnya udara setempat.  Untungnya, di luar airport saya telah ditunggu Tantyo Bangun beserta istrinya, Anita Iskandar. Dan juga seorang pesepeda Belgia, yang pernah bertemu saat aku berkelana di New Zealand pada tahun 2007 bernama Christopher Delclerk.

              Sebelum memulai kegiatan bersepeda, saya bermalam selama beberapa hari di rumah Tantyo Bangun sambil menunggu kedatangan sebagian peralatan yang dikirim via kargo. Dan Christopher berjanji akan berkunjung ke rumah Tantyo Bangun untuk membantu. Selama menunggu hari keberangkatan yang tertunda selama dua hari saya sempat juga pergi ke Belanda, mengunjungi teman-teman SMA yang sudah 34 tahun tidak bertemu. Dan juga ke rumah orang tua Christopher Delerck untuk mengambil kompor dan gas. Sementara itu Christo (panggilan Christopher), membawa beberapa kebutuhan saya seperti boncengan depan (front rack), makanan berkalori tinggi dll.; ke rumah Tantyo Bangun.

PETA & RUTE PERJALANAN
              Jum’at, 18 Juni 2010. Saya memulai perjalanan dalam Suhu udara di pagi hari sangat rendah mencapai 14 derajat Celcius. Tidak ada sinar matahari dan cuaca  mendung berangin. Kayuhan pertama saya awali pada pukul 10.05 waktu setempat, dari depan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Boulevard de la Woluwe, di lepas oleh ibu S. Hartanti Kustiningsih selaku Minister Counselor beserta seluruh staf KBRI.

              Memerlukan waktu sekitar tiga jam lamanya untuk bisa menemukan jalan keluar dari kota Brussels. Karena saya harus menggunakan jalur N-6 (rute nasional yang bisa dilalui sepeda) agar bisa mencapai kota Mons di bagian selatan Belgia. Suhu udara merangkak naik sampai 23 derajat, saat saya mencapai kota Halle. Namun sang mentari pun belum juga muncul dari balik awan, suasana tetap redup, berangin dan kurang nyaman buat saya beresepeda.  Jalur khusus bagi pesepeda berada di sisi jalan raya, berwarna merah. Dan tak satu pun kendaraan bermotor yang melintas di atas jalur sepeda. Walaupun lalu lintas ramai, mereka tetap berkendara pada jalurnya dan tak terlihat melindas garis marka pemisah jalur.             

              Hari pertama tersebut, saya sudahi setelah bersepeda sejauh 54,56 kilometer. Waktu baru menunjukkan pk.17.00 tapi suhu udara sudah turun lagi pada kisaran 16 derajat Celcius. Saya menyelinap dan berkemah di sebuah hutan kecil di pinggir jalan raya, 20 kilometer sebelum kota Mons. Rute di Belgia (Belgium) adalah: BrusselsMons – Perbatasan Belgia & Prancis.

              Keesokan harinya, saya dibangunkan oleh suara riuh kicauan burung di dalam hutan tersebut. Pagi yang dingin membuat saya enggan keluar dari sleeping bag, rasanya ingin sekali berlama-lama meringkuk di dalamnya. Sebelum meninggalkan tempat tersebut, saya sarapan muesli dan sebutir telor rebus.

              Kemudian saya meluncur di atas jalanan yang basah, dan masih sepi dari lalu lintas kendaraan. Kabut tipis masih menyelimuti kawasan tersebut. Di sebuah persimpangan, saya keluar dari N-6, mengikuti jalur D-55 mengarah ke La Loviere. Hujan rintik dan gerimis turun silih berganti pada pagi itu. Celakanya, jaket saya ternyata tembus air. Tapi saya terus saja bersepeda dengan perasaan masgul. Sewaktu melewati sebuah super market saya membeli paprika, roti dan salami seharga 7.80 euro.

cantiknya sepeda di Den Haag
Pada pk.13.05 saya melewati perbatasan Belgia - Prancis. Ketika memasuki lota kecil Binche, terpaksa saya harus mencari jalan putar. Karena jalan utamanya ditutup untuk weekend market. Begitu pula pada lintasan berikutnya, saat lewat kota-kota kecil lainnya jalan uatama  di pusat kota selalu ditutup. Sementara saya kebingungan mencari arah jalan, ada seseorang pengendara mobil yang memberi tanda supaya saya mengikutinya, sampai menemukan jalan yang benar. Sebelum berpisah, sebagai ucapan terima kasih, saya beri padanya sticker dan cinderamata dari Indonesia secara gratis. Malah dia ganti memberi uang saya 10 euro.

              Sepanjang hari saya bersepeda dalam cuaca yang kurang bersahabat. Membuat kondisi tubuh merosot karena kedinginan. Kaos yang saya pakai di dalam jaket pun sudah basah kena keringat bercampur air hujan. Saat itu saya sudah mengayuh sejauh 76 kilometer.

over loaded, france
Menjelang sore, saya beranikan diri minta izin kepada seorang petani untuk bisa berkemah di halaman rumahnya. Setelah mendapat izin, tenda saya dirikan di bawah teritis sebuah bangunan tak terpakai, tidak jauh dari kandang ayam. Saat hari mulai gelap, angin bertiup sangat kencang menebarkan aroma bau kotoran ayam! Dan tak lama kemudian turun hujan lebat disertai angin kencang. Suhu udara turun hingga 15 derajat Celcius. Untuk mengusir dingin saya nyalakan lilin dan merebus air di dalam tenda. Menyeduh kopi dan membuat sup campur muesli.  Berikutnya, bergelung dalam sleeping bag sampai keesokan harinya.

rental bike
Semalaman turun hujan sampai paginya. Dinginnya udara menusuk tulang, membuat saya tidak bisa tidur pulas. Paginya suhu udara 11 derajat Celcius. Keinginan untuk buang air besar saya tunda, karena beberapa anjing penjaga menggonggong terus menerus. Dan sekitar pk 08.00, setelah sarapan saya meninggalkan rumah petani tersebut.

              Udara pagi yang dingin dan basah, serta beberapa kali hujan gerimis menemani perjalanan. Dalam udara dingin, cepat sekali perut terasa lapar. Saya memilih jalan alternatif yang sepi dan bisa dilalui sepeda. Lalu lintas kendaraan jarang melalui rute ini. Medannya naik turun landai melalui daerah pertanian yang luas. Bentangan warna hijau bagai sebuah hamparan permadani.

              Tidak jarang pula jalan raya tersebut, melintasi daerah pemukiman penduduk. Tapi semua pintu dan jendela rumah tertutup rapat. Di jalanan lengang dan sunyi senyap. Jarang sekali ada orang berada di luar rumah saat cuaca jelek.

              Saya sulit mencari penjual makanan pada hari Minggu, karena semua toko tutup. Suatu saat, senang sekali rasanya mendapati penjual kebab di sudut sebuah komplek pertokoan yang tutup. Dalam ruangan tukang kebab tersebut saya menemukan kehangatan. Dan rupanya saya salah memesan jenis kebab, karena tanpa irisan daging. Isinya hanya berupa sayuran dan mayones. Walupun demikian kulahap habis kebab tersebut tanpa sisa, demi mengganjal perut yang keroncongan.

              Memasuki La Fere, sekitar pk 15.30. Tubuh terasa letih, lemas dan lapar sekali. Karena sebelumnya beberapa kali kehujanan dalam perjalanan. Lalu saya mengikuti arah dari rambu sebuah camping ground. Lokasinya terletak di pusat komplek olah raga, milik pemerintah daerah. Dengan membayar 5 euro, saya mendirikan tenda pada lahan yang tersedia, tak jauh dari kamar kecil. Sayangnya tidak ada fasilitas dapur sehingga saya harus merebus air dengan kompor sendiri.

Eiffel, Paris
Wajah terasa sembab setelah cuci muka.  Untuk sekedar menghangatkan suasana dari suhu udara yang 17 derajat, saya menyalakan lilin di dalam tenda. Keesokan harinya, dari dalam lubang hidung kudapati jelaga hitam dari asap pembakaran lilin yang terhirup. Udara di pagi hari sangat dingin. Dan tenda saya lipat dalam keadaan basah. Setelah sarapan saya meninggalkan area berkemah tersebut.
Rute perjalanan di Prancis adalah sebagai berikut: Perbatasan Belgia & Prancis – Maubeuge – Laon – Paris – Nogent – Le Mans – Nantes – Montaigu – Niort – Saintes – Bordeaux – Facture – Mimizan – Hossegor – Birritz – Perbatasan Prancis & Spanyol


Spanyol,
Rute bersepeda di Spanyol adalah sebagai berikut:
Perbatasan Prancis & Spanyol – Irun – Donostia – Vitoria – Miranda de Ebro – Burgos – Valladolid – Salamanca – Ciudad Rodrigo – Perbatasan   Spanyol & Portugal.

bike line, Burgos - Spain
Memasuki Irun, sebuah kota di perbatasan Prancis-Spanyol, saya tidak merasakan perbedaan ataupun sedang melintas Negara lain lagi. Sebagai penanda perbatasan adalah jembatan yang memisahkan kedua Negara tersebut. Di Irun saya sempat mampir ke kantor pos untuk mengirimkan beberapa peta perjalanan yang sudah terpakai, ke Indonesia. Kantor posnya terletak tidak menyolok dan pintunya selalu tertutup dan terkunci dari dalam. Jika kita berdiri di depan pintu, maka akan terlihat dari kamera pemindai. Lalu petugas dari dalam membuka kunci otomatis. Ternyata di dalam ruangannya sangat rapi dan teratur. Pelayanannya sangat cepat, walaupun saya tidak bias berbahasa Spanyol, petugasnya melayani dengan sopan dan sabar.

              Cuaca yang kurang bersahabat, mendung dan dingin membuat saya cepat lapar. Memaksa saya untuk istirahat di sebuah tanjakan. Mengganjal perut sambil menikmati pemandangan yang indah, kota Irun terlihat dari sebuah ketinggian. Sesudah itu adrenalin terpacu kembali saat saya harus bersepeda di bahu jalan highway yang ramai dengan kendaraan bermotor. Akhirnya, sampai di kota wisata Donostia San Sebastian. Kota yang berada di pinggir pantai tersebut ramai sekali dengan wisatawan. Pergerakan saya menjadi lamban karena banyak sekali traffic light di sepanjang jalan, demikian juga pada jalur khusus sepeda. Walaupun jalur kosong tapi saya malu menerobos karena kaos ada tulisan Indonesia.

              Terlihat banyak orang menggunakan pakaian serba putih dengan ikatan kain merah di leher. Dikarenakan pada hari itu merupakan hari pertama dari tujuh hari kegiatan tradisional yang diadakan atau berpusat di kota Pamplona. Setiap tahunnya, ribuan orang termasuk wisatawan mancanegara selalu datang ke Pamplona, yang berjarak 76 kilometer sebelah tenggara Donostia San Sebastian. Sebuah kegiatan tradisi yang dilakukan sejak lama dan menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa ekor sapi jantan yang diliarkan, serupa banteng, dilepas di jalanan. Mereka akan mengikuti gerak dari beberapa ekor sapi peliharaan yang diberi lonceng pada lehernya. Sapi dan banteng ini, dibuatkan jalur khusus pada ruas jalan yang mengarah ke stadion utama Pamplona. Sedangkan para pemberani berada di jalanan tersebut, lalu berlarian dikejar sapi dan banteng yang lari melabrak apa saja yang menghalangi di depannya. Setibanya di stadion hewan-hewan tersebut tidak dibunuh. Berbeda dengan kegiatan matador yang membunuh banteng di akhir acara.

              Betapa susahnya ke luar dari kota Donostia San Sebastian. Cukup rumit mencari jalan keluar kota yang bisa dilalui sepeda. Jalan alternative saya ikuti sampai akhirnya membawa saya ke kota kecil Tolosa, yang juga merupakan interest point dalam jalur Camino Santiago de Compostella. Saya mencari keterangan dari tourist information kota wisata tersebut. Dan dari tempat tersebut saya memesan sebuah kamar untuk bermalam di kota lain yang berjarak sekitar 34 kilometer dan masih dalam lintasan Camino Santiago de Compostella.

              Keluar Tolosa, saya bersepeda mengikuti jalur khusus sepeda sampai Ordizia. Sempat pula saya membuntuti 2 orang pesepeda, seorang bapak dengan putrinya yang baru berumur 9 tahun. Jalur sepeda yang aman. Bahkan ketika harus parallel dengan highway, ada dinding kaca sebagai dinding penyekat sepanjang puluhan meter. Sehingga pesepeda merasa benar-benar aman walaupun di sampingnya melaju kendaraan dengan kecepatan tinggi.

              Penginapan yang saya tuju terletak di Zerain, yang ternyata berada di atas sebuah bukit. Pencapainnya tidak dengan mudah karena harus bersepeda melintas daerah pedesaan yang sepi dan lengang. Lintasannya menanjak berliku-liku, cukup menguras tenaga. Seiring dengan terbenamnya matahari, udara setempat semakin dingin. Terasa menusuk karena tubuh bersimbah peluh saat bersepeda mendaki bukit tersebut.
Setibanya di Zerain, saya cukup beruntung. Walaupun penjaga penginapan sudah pulang, kunci pintu dititipkan di sebuah café yang ada di seberangnya. Letak penginapan tersebut bersebelahan dengan sebuah gereja yang dibangun pada abad XIII. Dan menjadi salah satu gereja penting dalam perkembangan agama Kristen masa itu.

              Seorang diri saya berada di penginapan tersebut, sungguh menyenangkan apalagi saat itu bulan purnama. Sambil menghirup secangkir cokelat hangat, sampai datang rasa kantuk. Dari jendela kamar saya bisa melihat hamparan keindahan alam berhias kelap-kelip lampu dari kejauhan.

              Rute berikutnya adalah Zerain – Vitoria. Mulanya saya harus bersepeda menuruni bukit sampai pada sebuah persimpangan jalan. Lalu menanjak lagi melintas daerah pedesaan. Bentuk bangunan rumah pedesaannya khas. Bunga-bunga di halaman maupun yang diagantung dengan pot sedang bermekaran indah. Terlihat kepulan asap dari cerobong di atap rumah-rumah. Menarik karena berlatar belakang langit biru. Setelah daerah pemukiman berlalu, lintasan berganti memasuki daerah hutan di lereng pegunungan.

Jajaran pegunungan yang sebelumnya tampak dari kejauhan lambat laun dekat dan terlintasi juga. Sendirian dalam hutan sungguh menyenangkan karena sepanjang perjalanan ditemani suara kicauan berbagai jenis burung. Puncak dari lintasan yang saya lalui adalah ketinggian +652 meter di atas permukaan air laut. Otzourte, nama puncaknya dan ada sebuah café yang dipenuhi pengunjung. Beberapa pesepeda yang duduk santai menikmati hidangan, melambaikan tangannya saat melihat saya lewat.
Setelah itu sepeda melaju kencang menuruni jalanan yang lengang membelah hutan. Terasa nyaman sekali saat udara segar membasuh wajah. Di pancuran dari sebuah mata air saya menambah persediaan air. Lalu tiduran buat melepas penat di bawah rindangnya pepohonan. Dua jam kemudian melanjutkan perjalanan menuju Alsasua. Cuaca cerah dan cenderung terik sekali. Suhu udara 29 derajat Celcius dan terus merangkak naik.

              Mendekati kota, lalu lintas kendaraan semakin ramai. Harus cermat membaca rambu lalu lintas agar tidak tersesat masuk ke jalur non sepeda. Suasana lengang saya dapatkan setibanya di pusat kota Alsasua. Karena hari Sabtu semua tutup. Padahal sebelumnya, berharap mendapat asupan makanan yang cukup dari kota ini. Saya berkeliling sambil sesekali bertanya kepada seseorang yang ditemui. Sampai akhirnya saya mendapati sebuah café yang merangkap rumah makan. Makan sepuasnya walaupun agak mahal untuk makan siang tersebut. Sedikit menggelikan sewaktu memesan menu makanan, saya harus dibantu pengunjung lain yang bisa berbahasa Inggris.

              Perjalanan dilanjutkan setelah rehat, namun suhu udara sudah mencapai 39 derajat Celcius. Tubuh serasa dipanggang. Apalagi lintasan melewati bentangan ladang gandum yang luas. Tanpa ada pepohonan yang bisa digunakan untuk bernaung. Jalan yang saya lalui merupakan jalan lama, letaknya hampir sejajar dengan highway. Kadang kala keluar masuk daerah pedesaan. Dari tempat saya berada, di sebuah ketinggian. Semua kendaraan yang melaju kencang di lintasan highway, tampak seperti mainan. Suhu maksimum mencapai 44 derajat Celcius, rekor terpanas selama ini.

              Memasuki kota Vitoria, matahari sudah condong ke barat. Secepatnya saya menuju pusat kota untuk mencari keterangan tempat bermalam dari Tourist Information. Nyatanya kantor tersebut sudah tutup beberapa menit sebelum saya datang. Dengan panduan sebuah peta saya mencari penginapan murah, dan yang termurah ada 40 Euro semalam. Waktu itu sudah waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 (matahari belum terbenam).  Kemahalan buat saya, karena besoknya saya harus meninggalkan penginapan pagi-pagi. Lalu, saya meninggalkan kota tersebut ke arah Burgos. Setelah sebelumnya belanja bahan makanan dari sebuah kedai.

              Sulit mencari jalan keluar kota yang bisa dilalui sepeda. Adanya rambhu larangan bersepeda memaksa saya beberapa kali berbalik arah saat menyusuri bahu jalan highway. Sementara itu, bersamaan sang surya menuju peraduannya udara dingin sekali. Sedangkan tempat ideal buat bermalam belum juga didapat. Begitu melihat hutan lindung di perbatasan kota, saya menyelinap masuk (lebih dari pk 21.00). Lalu mencari tempat yang terlindung. Saya menunda membangun tenda, karena masih banyak orang yang jogging. Bahkan sekali waktu ada seekor anjing mereka yang mendekat. Saya cuma bisa berdoa, supaya anjing tidak menyalak atau membuat gaduh sehingga menarik perhatian pemiliknya. Doa terkabul, anjing tersebut berlalu, menjauh kembali ke pemiliknya.

              Tenda saya dirikan dekat sebuah cekungan tanah yang ada genangan air mirip sebuah kolam kecil. Dalam naungan pohon-pohon wiping willow yang daunnya menjurai ke bawah. Lalu merebus air buat menyeduh kopi dan mengganjal perut yang kelaparan dengan roti. Semakin malam suasana alam sangat mengasyikkan, beberapa kodok terdengar bersuara bersahutan. Tidur pun sangat nyenyak. Letih sekali dan tubuh terasa lunglai setelah seharian terpanggang panasnya terik matahari.

              Keesokan harinya, saat bangun waktu sudah menunjukkan pukul 06.47. Di luar tenda suasana terasa mencekam. Kabut tebal menyelimuti kawasan tersebut, suhu udara 17 derajat Celcius. Males rasanya keluar tenda, maunya tetap bergelung dalam sleeping bag. Namun dengan berat hati, saya akhirnya berkemas juga dan meninggalkan tempat tersebut, tanpa sarapan.

              Di pinggir taman, saya mempelajari sebuah peta yang terpampang besar. Ternyata jalur Camino ada, letaknya sejajar atau berimpit dengan National Highway #1. Jadinya, saya kembali menyusuri jalan yang kemarin lagi. Tapi kenyataannya, saya menjadi kebingungan karena jalan yang susuri terhenti begitu saja berubah menjadi jalan setapak yang mengarah ke bukit. Dan tanda jejak Camino memang ada. Tapi saya ragu kalau harus memanggul sepeda dengan beban berat menyusuri jalan setapak tersebut.

Dalam keraguan tersebut, tiba-tiba datang seorang pesepeda menghampiri. Bahkan dia fasih berbahasa Inggris. Selanjutnya bisa ditebak, dia menjadi pemandu saya. Pesepeda tersebut seorang mahasiswa dan bernama Samuel Merino. Kami berdua menyusuri jalan-jalan pintas, terkadang jalan lama yang sudah tidak dilalui kendaraan atau jalur Camino. Kami saling berbagi makanan. Saat istirahat, kami berdua memetik buah-buah Chery Red dari pohon di pinggir jalan. Kecepatan bersepeda kami cuma 15-18 kilometer perjam, sangat lamban. Tak apalah demi sebuah persahabatan antar dua pesepeda beda bangsa. Kami berdua bersepeda sejauh 32 kilometer sebelum akhirnya berpisah kembali. Dia kembali ke Vitoria dan saya melanjutkan perjalanan.

              Kami berdua sempat di tegur polisi. Ceritanya, sewaktu di Arminon tanya arah jalan kepada penduduk, disarankan untuk masuk jalur highway. Mana mungkin? Tapi karena tidak ada lintasan lain, maka kami coba. Beberapa ratus meter kami menyusuri bahu jalan highway, malah jadi ragu sendiri dan kembali.
Di bawah sebuah jalan layang kami berhenti di pinggir bahu jalan untuk melakukan orientasi peta lagi. Sementara itu polisi yang melihat kami di Arminon, rupanya mengikuti kami. Mereka menyarankan melalui jalan tanah pedesaan yang ada di balik pemukiman Arminon sampai Rivabellosa. Dan polisi mengingatkan saya supaya selalu memakai helm sepeda. Untuk pertama kalinya saya memakainya, setelah 29 hari bersepeda tanpa helm. 
                
              Sebelum berpisah, di Rivabellosa kami berdua makan siang bersama di sebuah café. Setelah ditinggal Samuel kembalil ke Vitoria, saya mencari tempat teduh buat istirahat. Tiduran menggantung dengan hammock di antara dua batang pohon.

              Berikutnya, sekitar pukul 14.45 saya melanjutkan perjalanan dan harus menyusuri bahu jalan NH #1. Naik turun landai menguras tenaga, ditambah suhu udara kisaran 40-41 derajat Celcius. Beberapa kali masuk tunnel (terowongan) yang pekak telinga akibat suara deru kendaraan yang melaju kencang. Sampai pukul 19.00 saya berhenti dan memutsukan untuk mendirikan tepat di belakang sebuah rumah rusak. Seharian saya bersepeda selama 4 jam 55 menit 22 detik dan menempuh jarak sejauh 66,81 Km. Justru besoknya saya mampu bersepeda lebih dari 100 kilometer. Setelah melewati Burgos saya mulai menyimpang dari jalur  Camino Santiago de Compostella, mengarah ke Salamanca. Malamnya berkemah di sebuah camping ground Caztrojeriz. Sebuah pedesaan yang sangat tua dan terdapat beberapa situs peninggalan penyebaran agama Kristen yang penting.

              Dari Caztrojeriz hingga Salamanca membutuhkan dua hari bersepeda. Menyusuri jalan alternative, melewati daerah pertanian dan bentangan ladang gandum yang luas-luas. Selama bersepeda diterpa angin yang bertiup kencang secara terus menerus. Rupanya angin ini dimanfaatkan menjadi sumber daya listrik. Di beberapa bukit terdapat puluhan kincir angin.

              Lepas dari jalur Camino Santiago de Compostella, saya kemudian mengikuti sebagian jalur Ruta de Castillo. Jalur yang mengunjungi kastil dan benteng-benteng kuno, terutama yang ada di pelosok desa. Lintasan naik turun dan puncaknya ada di Montealegro, dimana ada bangunan benteng yang besar sekali. Dari sana jalan menukik, karena saya selalu memandang benteng mencari sudut pandang yang baik untuk motret. Lupa, kalau sedang meluncur kencang. Jadinya sepeda keluar jalan dan saya jatuh terpental dari sepeda. Untungnya, hanya tiang kaca spion yang patah dan sdikit lecet di kaki. Sejak itu, saya tidak berani sembrono lagi.     

Camino Santiago de Compostela
Sebelum mencapai Salamanca, saya berkemah di La Capea Camping Ground 7 Euro semalam. Lucunya untuk mandi harus membayar lagi dengan koin 0,50 Euro supaya showernya nyala. Mau berenang airnya dingin sekali, akhirnya saya mencuci pakaian di pinggir kolam renang.  Tenda saya dirikan dekat kantor pengelola dan restoran, di sebuah lahan yang berupa petak buat kendaraan atau campervan. Sebuah lahan dikelilingi atau dipagari pohon cemara yang rapat dan tinggi. Naungan pohon-pohon tersebut membuat teduh kalau siang hari. Ada fasilitas listriknya, dimana saya bias mengisi ulang batere kamera atau batere handphone yang habis.

              Malam harinya, suhu udara turun hingga 17 derajat Celcius. Sewaktu makan dodol duren yang dibeli dari Den Haag, Belanda. Tanpa terduga ada sesuatu benda keras terkunyah gigi. Ternyata logam tambalan gigi terlepas ikut menempel dodol tersebut. Sedih sekali mengingat proses penambalan gigi sangat lama sebagai salah satu bentuk persiapan sebelum berangkat bertualang.
Rupanya, kebiasaan orang Spanyol lain lagi. Tengah malam, mereka berkumpul di ruang restoran, makan malam dan mengobrol diselingi tawa keras sampai larut.  Suara bising mereka membuat saya sulit memejamkan mata.


Plaza de Salamanca, Spain
Setibanya di Salamanca, tentu saja saya mengunjungi beberapa objek wisata yang ada, seperti Major Plaza maupun cathedral-nya yang terkenal. Kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Ceudad Rodrigo, perbatasan Spanyol dan Portugal.

Ramai sekali suasana Salamanca karena Spanyol sedang merayakan kemenangan tim sepak bolanya menjadi Juara Dunia. Sementara itu, dari Konggres Komite Sepeda Indonesia di Jakarta, dapat kabar. Bahwa saya menerima sebuah penghargaan Life Achievement, di antara penerima penghargaan lain. Terima Kasih! Dan menurut saya memang suatu bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai para pesepedanya.             

Hooorreeeeeeeee!
Beberapa kilometer keluar Salamanca, saya dibingungkan adanya tiga highway yang saling silang di satu titik. Tidak ada yang bisa ditanya, saya hanya mengikuti kata hati kemana saya harus bergerak. Mengikuti jalan N.620 yang paralel dengan E.80 dan A.62. Jalan yantg saya lalui sepi kendaraan dan di sebelah kanan jalan terdapat lahan-lahan luas dengan tanaman pohon yang diambil kulitnya untuk diproses menjadi prop tutup botol anggur. Ada juga lahan peternakan sapi jantan yang diliarkan dan postur tubuhnya mirip banteng (torro).

              Saya beli minuman di sebuah petrol station, lalu tiduran di bawah cemara. Setelah sejam perjalanan dilanjutkan lagi. Ada sebuah rest area yang rimbun, banyak pepohonan dan ada wc serta air kran. Suasananya asyik, membuat saya tertarik untuk berkemah di situ. Tapi menjadi ragu karena hari masih ada sisa waktu panjang buat mengejar jarak tempuh.

              Tidak disangka di La Fuente de S Estaban, terdapat sebuah camping ground. Mungkin dulunya sebelum highway dibangun. Tempat ini menjadi tempat persinggahan karena berada di tengah perlintasan menuju Portugal. Sekarang kondisinya cukup memperihatinkan. Saya hanya bisa membeli makanan seadanya dari toko pengelola. Sedangkan roti saya harus beli di sebuah café hotel yang letaknya berseberangan. Selain roti, di hotel tersebut sempat saya membeli pisau lipat buatan tangan khas Spanyol untuk melengkapi koleksi di rumah.

              Setelah mandi dan cuci pakaian saya tiduran menunggu proses matahari terbenam sambil mendengarkan radio. Ada sepasang pengendara motor besar datang, lalu mendirikan tenda. Mereka menyapa saat saya melongokkan kepala dari balik kelambu tenda.

              Besoknya, saya mencapai Ciudad Rodrigo setelah bersepeda sejauh 33 kilometer dari tempat saya berkemah. Ciudad Rodrigo, kota terakhir di Spanyol sebelum memasuki wilayah Portugal. Sebuah kota yang ramai dikunjungi wisatwan, karena banyak peninggalan sejarahnya. Ada sebuah benteng kuno yang mengelilingi kota tua.

              Tengah hari, saya melanjutkan perjalanan dengan menyusuri N.620 ke arah perbatasan yang berjarak 25 kilometer. Cuaca cerah dan cenderung terik sekali. Suhu udara 44 derajat Celcius, memaksa saya sering minum. Dan tidak jarang pula berteduh di bawah gorong-gorong jalan E.80. Dan mendekati perbatasan jalur N.620 dan E.80 bersatu, membuat saya was-was. Karena bersepeda di sisi jalan dengan kendaraan melaju kencang. Deru mesinnya mendesing memekakkan telinga.

              Di perbatasan sudah tidak ada pos imigrasi lagi karena Portugal dan Spanyol sudah masuk kelompok Negara Schengen. Yang tersisa hanya bangunan douane yang megah serta sisa-sisa bangunan pengamanan perbatasan. Perbatasan tersebut menjadi kota ramai. Senang sekali saat melihat bendera Portugal berkibar, berarti saya sudah memasuki wilayah Portugal.

              Saat melihat jalur N.332 saya sudah merasa yakin benar. Suatu saat, ketika perasaan mengatakan ini salah. Saya mencoba menanyakan arah tujuan kepada seseorang. Benar dugaan saya! Saya bukannya mengarah ke selatan tetapi malah ke utara. Jadi saya harus kembali lagi sampai menemukan jalan di belakang bangunan douane tadi.

              Ternyata, kondisi jalannya sangat kurang mutunya dibandingkan jalanan di Spanyol. Karena konsentrasi mencari arah jalan yang benar akhirnya saya lupa kalau belum makan. Teringat sewaktu sudah berada jauh keluar dari keramaian kota perbatasan tadi.               

              Rute perjalanan di Portugal adalah sebagai berikut: Perbatasan Spanyol & Portugal – Guarda – Coimbra – Leiria – Caldas Reinha – Lisbon – Alcacer do Sal -  Beja – Serpa – Perbatasan Portugal & Spanyol.

              Malam pertama di Portugal saya berkemah di bawah pepohonan pinus di pinggir jalan (Km 79 Sabugal). Saya mendapatkan lahan ini setelah berlama-lama gagal mencari lahan berkemah yang ideal. Bahkan pernah ditolak penduduk ketika mnita izin ke penduduk untuk ikut berkemah di samping halaman rumahnya yang berupa hutan pinus. Saya harus ekstra hati-hati karena belum terbiasa dengan masalah keamanan dari Portugal.

              Hari kedua, bangun saat suhu udara 12 derajat Celcius. Lintasan naik turun landai, 7 kilometer setelah bersepeda saya masuk Aldea de Fonte. Namun pagi itu jam 8, rupanya belum ada yang bangun. Jalanan sangat sepi. Saya sempat menambah cadangan air dari kran yang ada di taman kota.

              Di sebuah desa kecil berikutnya, saya mampir ke sebuah toko yang merangkap café. Membeli apel dan pisau lipat khas Portugal. Sementara saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan, ada seseorang menyapa dan mengajak ngobrol. Sampai akhirnya saya diajak masuk lagi, ditraktir minum kopi exprreso yang dicampur aqualente (arak lokal). Berikutnya, orang-orang yang ada di café secara bergantian mengajak minum lagi dan bersulang. Tentu saja, saya berusaha menyudahi dengan halus. Kalau tidak, salah-salah nantinya saya  bersepeda sambil teler. Sebagai ucapan terima, saya bagikan cinderamata khas Indonesia.  
   
              Alam Portugal yang saya lewati mengingatkan alam daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Tanahnya kering kerontang dan berbatu-batu. Di sela- bebatuan tersebut mereka berkebun atau berladang. Di pedesaan, umumnya mereka menggunakan kendaraan bermotor keluaran tahun baheula.

              Jalanan menurun sampai titik terendahnya pada sebuah jembatan di kota Sabugal lalu naik lagi. Di Sabugal saya berpapasan dengan serombongan pesepeda  yang sepertinya ikut program kegiatan dari sebuah tour operator. Lintasan tetap saja berkelok-kelok menanjak tiada habisnya. Di sebuah simpang tiga, saya ragu-ragu karena rambu penunjuk jalan tidak jelas. Sebenarnya saya mencari jalan pintas menuju Maemao, sebuah tempat wisata dekat danau. Dari sebuah gardu pandang, saya berhenti buat istirahat sekalian orientasi medan. Di kejauhan danau sudah terlihat dan pemandangan alamnya memang sangat indah. Tapi jalan yang harus saya ikuti turunan menukik 12%. 

              Selewat Maemao, jalan bergabung lagi dengan jalan N.332 arah Penamacor. Matahari sudah berada di ubun-ubun dan lapar pun sudah mengganggu. Namun karena keberulan hari Minggu sulit sekali mencari toko atau restoran yang buka. Satu-satunya restoran yang ada penuh pengunjung, tampak mobil para pengunjung memenuhi lahan parkir.

              Saya masuk restoran, ternyata harus menunggu lama di ruang café karena semua harus antri. Begitu mendapat meja masih juga harus menunggu lagi, apalagi banyak pelayan yang tidak bisa berbahasa Jawa atau Inggris. Tak lama kemudian ada seorang pelayan yang datang menghampiri. Dengan ramah menyapa dan membantu. Butuh kesabaran lebih untuk bisa menikmati hidangan yang disajikan karena banyaknya pengunjung.

              Menu makan siang saya sebenarnya sederhana dibandingkan orang lain. Berupa: pembuka, salad, beefsteak, anggur. Itupun masih bersisa walaupun makan sampai kenyang. Tadinya saya perkirakan akan membayar lebih dari 20 Euro. Tidak mau rugi, buah zaitun, anggur (vino tinto) dan sisa makanan saya bungkus buat bekal. Di luar dugaan, sewaktu harus membayar ternyata hanya 6.5 Euro. Terbukti, bahwa Portugal adalah termurah di antara negara lain yang tergabung dalam kelompok Uni Eropa maupun Schengen.  

              Di bawah keteduhan pohon eukaliptus, saya tiduran bergantung dengan hammock lebih dari 3 jam lamanya. Cuaca cerah, panas dan kering. Walaupun suhu udara mencapai 44 derajat Celcius, namun di bawah bayang pohon-pohon sangat sejuk. Hembusan angin semilir di keteduhan terasa nyaman sekali. Sebuah kemewahan dan kenikmatan luar biasa tiada tara.

              Pukul 17.00 waktu Portugal, melanjutkan perjalanan lagi. Pada ruasa jalan berikutnya mampir di sebuah petrol station beli minuman ringan dan minta air untuk memenuhi seluruh bidon. Untung hal ini saya lakukan, karena berikutnya saya tidak menemukan pemukiman lagi sampai jangka waktu yang lama.

              Seperti keterangan yang diberikan, katanya ada camping ground di Castello Blanca lebih kurang 27 kilometer lagi. Tapi kondisi tubuh sudah letih sekali. Tenaga terkuras dan dikuras menghadapi kondisi alam yang ekstrem panasnya. Lalu di sebuah persimpangan jalan ada tanda rambu camping ground, saya ikuti dan ternyata jaraknya masih kurang 60 kilometer arah pegunungan tempat sebuah objek wisata. Kecewa, saya putar haluan mencari lahan seadanya buat bermalam.

              Matahari sudah terbenam di peraduannya menyisakan sinarnya di langit. Dalam keremangan saya melihat sebuah lahan kosong di pinggir jalan jauh dari mana-mana. Sebuah lahan yang dibatasi tumpukan batu sebagai pagarnya. Saya lalu menyelinap. Dan tenda tidak berani dibangun karena bisa terlihat dari jalan.

              Saya tidur beralaskan matras dan beratapkan langit. Dengan suhu udara mencapai 15 derajat Celcius. Makan seadanya dari apa yang ada di panniers. Agak sulit untuk memejamkan mata. Dalam sleeping bag kegerahan! Setelah seharian dipanggang terika matahari. Keluar dari sleeping bag malah digigit nyamuk atau dikerubuti semut. Di tengah malam dikagetkan dengan bunyi lonceng kalung ternak. Saya pikir hanya ada seekor ternyata ada puluhan ekor kambing berjalan berkeliling lahan sebelah. Sebenarnya saya was-was juga kalau ternyata rombongan ternak tersebut ada gembalanya. Tapi untungnya tidak ada!

              Paginya, dengan masih menahan kantuk saya meninggalkan tempat tersebut. Sebuah pengalaman yang lain lagi telah saya dapatkan. Setelah jalan yang ikuti bergabung dengan jalan utama, lalu lintas kendaraan semakin ramai. 22 kilometer sebelum kota Castillo Blanco. Di kota tersebut saya baru sarapan di sebuah retoran cepat saji. Dengan menu yang sama di negara sebelumnya, di Portugal lumayan murah, hanya 5.30 Euro.

              Kesulitan berikutnya adalah mencari jalur keluar kota. Hampir tersesat lagi masuk jalur E.85, karena arah Nisa (32 Km) tanpa rambu yang jelas. Jalan yang saya ikuti sepi sekali dan cuaca panas. Cenderung kering korantang, suhu kisaran 36-41 derajat. Lalu jalan tutun terus sampai VV Ridao yang ada waduk dan pabrik pengolahan kayu. Setelah melewati jembatan panjang ada pancuran air. Lumayan, selain membasuh wajah saya juga mencuci pakaian yang kotor. Semua air dalam bidon pun saya ganti yang lebih segar.

              Medan berikutnya, menanjak sejauh 4 kilometer melipir lereng waduk yang luas tersebut. Bersambung naik turun tiada habisnya hingga Nisa. Setibanya di Nisa ada restoran, tapi baru buka pukul 18.30 padahal sekarang sudah pukul 18.00. Lucu sekali mereka taat jadwal. Karena tidak ada camping ground, terpaksa saya melanjutkan perjalanan setelah memberli bahan makan terlebih dulu. Jalanan masih saja naik turun di kawasan yang tandus berbatu-batu. Menyulitkan saya mendapatkan lahan ideal buat berkemah.

              Dekat sebuah persimpangan jalan (10 Km setelah Arez), ada sebuah rumah dengan halaman luas. Saya nekad masuk untuk minta izin berkemah. Ada beberapa orang bapak tua sedang bercengkerama di beranda rumah. Kuhampiri mereka tapi serentak beberapa anjing yang ada menyalak mendekati saya. Namun kemudian gerak gerik anjing-anjing tersebut menandakan persahabatan, tidak lagi beringas. Ah, aman dan diterima pikir saya sederhana. Benar saja, Antonio sang pemilik lahan mengizinkan. Malah menyuruh saya memilih tempat yang nyaman.

              Mereka memperhatikan tingkah laku saya. Sementara saya membangun tenda dekat sebuah traktor agar terlindung dari hembusan angin. Selesai tenda berdiri, saya diajak ke beranda. Mereka menjamu saya dengan roti, makan daging asap dan minum anggur asli Portugal. Pantas saja setiap pria selalu membawa pisau lipat. Ternyata pisau lipat tersebut berguna buat menyayat bongkahan daging asap dan mengiris kecil-kecil untuk disuapkan ke mulut.

              Cara berkomunikasi yang unik. Saya tetap saja berbicara dalam bahasa Jawa dan mereka dengan bahasa Portugis. Dari pengalaman mengatakan, bahasa verbal bukan hal hakiki. Bahasa universal adalah bahasa gambar dan jauh lebih penting lagi adalah bahasa hati. Tapi aneh, walaupun demikian ada keakraban di antara kami.

              Dalam kamar mandi, saya tidak melanjutkan mandi karena airnya sangat dingin. Lari ke dalam tenda dan bergelung sleeping bag buat menghangatkan tubuh yang menggigil. Tertidur lama dan terjaga saat hari sudah gelap. Keluar tenda sebentar buat buang air kecil, sembari memandangi langit kelam yang berhiaskan kelap kelip taburan jutaan bintang. Binatang malam bersuara saling bersahutan. Malam yang mengasyikkan! Saya tidur lagi sampai pagi dengan nyenyak. Letih karena tenaga terkuras saat bersepeda naik turun bukit curam. Seharian bersepeda sejauh 82.24 Km selama 6 jam 34 menit 18 detik.

              Hari keempat di Portugal, saya menuju Alpiarqa. Setelah sarapan dua telor rebus dan muesli, saya bersepeda menyusuri jalan datar sehingga bisa memacu sepeda dengan kecepatan rata-rata di atas 20 kilometer/jam. Melawan angin kencang yang menerpa dari depan. Membuat goyang sepeda memaksa saya lebih berkonsentrasi. Karena lalu lintas kendaraan makin lama semakin ramai. Jalan yang saya lewati adalah satu satu jalan utama menuju Lisbon, ibukota Portugal.

              Cuaca cerah tapi suasananya agak lumayan karena banyak pepohonan. Suhu udara kisaran 29-34 derajat Celcius. Berikutnya, jalan menyusuri tepian Rio Tejo. Sungai lebar tersebut akan bermuara dekat Lisbon. Saya menjadi sering beristirahat karena tenggorokan perih, gejala dehidrasi. Tanpa terasa dengan cepat saya meraih jarak di atas 70 kilometer karena sepeda melaju didorong angin.
              Menjelang sore saya tiba di Alpiarqa Camping Parque Municipal, milik pemerintah daerah setempat. Semalam berkemah dikenakan beaya 7.5 Euro. Sesaat setelah tenda berdiri, terdengar raungan sirene dari arah pusat kota. Tak lama kemudian melintas iring-iringan mobil pemadam kebakaran (Bomberos). Disusul kemudian sebuah helikopter membawa tandon air serta sebuah pesawat kecil. Menurut keterangan ada kebakaran hutan tidak jauh dari tempat saya berkemah. Helikopter pulang balik beberapa kali mengambil air dan sejam kemudian terdengar bunyi sirene meraung lagi dari arah pusat kota, pertanda semuanya sudah diatasi.  Hari itu saya bersepeda hampir 7 jam dan mengayuh sejauh 102,4 kilometer.
             
              Pada hari Rabu, 21 Juli 2010 hari ke 33 dari 38 hari masa pengembaraan, saya mencapai kota Lisbon. Udara pagi cukup dingin 17 derajat dan merangkak naik terus hingga 29 derajat Celcius, maksimum sampai 34 derajat Celcius. Sebelumnya, meninggalkan Alpiarqa dengan semangat sekali. Walaupun harus berpacu dengan truk, bis atau kendaraan lain di jalan raya saya tidak peduli lagi. Target saya mencapai Lisabon ketika masih siang hari, karena kalau sudah sore atau malam saya akan kesulitan mencari alamat yang dituju.  

              Makan siang saya lakukan di belakang gedung sebuah super market di Porto Alto, setelah sebelumnya belanja bahan makanan. Dari Porto Alto menyeberangi sungai lebar (Rio Tejo) sampai Villa Franca. Berikutnya sempat kehilangan arah N.10 yang saya ikuti. Karena jalan bersambung dengan jalan layang bertumpuk. Mau bertanya pada seseorang tidaklah mungkin karena semua kendaraan melaju kencang. Saya ikuti saja kata hati, sampai akhirnya saya terbawa arus jalan yang mengarah ke pusat kota Lisbon.

              Ternyata alamat yang saya cari berada 10 kilometer sebelah selatan kota Lisbon (berada di suburb). Sewaktu tanya arah yang saya tuju pada penduduk lokal, malah mereka meragukan saya. Kata mereka jauh sekali kalau bersepeda. Saya bilang, sudah bersepeda ribuan kilometer dari Brussels, Belgia. Jadi sepuluh kilometer bukan masalah, yang penting arahnya benar. Mereka bisa maklum dan mulailah menjelaskan dengan seksama.

              Memang sengaja saya tidak membeli peta khusus kota Lisbon. Supaya sesering mungkin berkomunikasi dengan penduduk lokal. Dengan begitu menjadi lebih sering pula menyebut Indonesia sebagai negara asal. Kenyataannya, memang saya sedang tidak mewakili Indonesia atau apapun itu. Tapi sesungguhnya saya bangga sebagai warga biasa bisa mengenalkan Indonesia di negara lain.

              Akhirnya, alamat Wisma Indonesia bisa saya temukan. Dan tanpa diduga saya disambut Duta Besar RI, Bapak Albert Matondang beserta seluruh staff KBRI untuk Portugal di Lisbon. Setelah mandi dan ganti pakaian, saya diajak makan malam bersama. Terima kasih! Selama tiga hari saya berada di kota Lisbon guna pemulihan tubuh (recovery). Sejak berangkat dai kota Brussels baru kali ini saya istirahat total. Setelah bersepeda sejauh 2509,2 kilometer.

              Sementara itu, saya diantar ibu Novi dan bapak Doni mengunjungi situs dan objek wisata bersejarah. Seperti Torres de Belem, makam Vasco da Gama dll. Bahkan sempat diantar ke Cabo da Roca, sebuah titik semenanjung yang konon diklaim oleh Vasco da Gama menjadi titik terbarat dari daratan Eropa.

Torres del Belem, Lisbon - Portugal
 Sabtu, 24 Juli 2010, pada hari ke delapan di Portugal; saya melanjutkan perjalanan. Setelah sebelumnya bergabung dengan warga Indonesia yang lain, berkumpul di Wisma Indonesia merayakan HUT Proklamasi RI ke 65. Di mana saya juga bisa menyantap masakan Indonesia, nasi sayur asem dan ikan asin. Saya meninggalkan Wisma Indonesia dengan semangat penuh (pukul 15.00), tanpa tercabik secuilpun.

Saya harus menyeberangi muara sungai (Rio Tejo) dari terminal ferry Cais do Sodre menuju Saixal. Setibanya di dermaga Saixal disambut teriknya matahari dengan temperatur 41 derajat Celcius. Sepeda tetap saja saya genjot mengarah ke tenggara. Menjelang sore suhu turun hingga 38 derajat, membuat tubuh lemas dan letih.

              Sesudah bersepeda sejauh 45 kilometer, sekitar pukul 20.30 saya menemukan lahan berkemah yang nyaman di daerah Palmela. Sebuah lahan yang terlindung dari pandangan orang maupun dari pemukiman penduduk. Meskipun letaknya tidak jauh dari jalan raya. Terhalang oleh jajaran pohon eukaliptus. Terdengar suara kicauan burung yang kembali ke sarangnya dan kelinci liar berloncatan di seputar tenda. Malam hari tidak terlampau dingin, bulan purnama melengkapi suasana alam yang indah. Suhu udara paling rendah, menjelang pagi 22 derajat Celcius.  

              Paginya, saya dibangunkan oleh kicauan burung. Bulan masih menyisakan sinar terangnya. Setelah sarapan dan berkemas saya melanjutkan petualangan. Mulanya jalanan menurun tapi bersambung naik turun landai. Semakin ke arah tenggara alam Portugal semakin tandus dan kering.

              Setibanya di Alcacer belanja bahan makanan. Tidak terlihat penduduk berjalan-jalan di luar rumah. Pemukiman lengang sekali semua orang berada di dalam rumah. Pasalnya suhu udara pada paparan 44 – 47 derajat Celcius dan rekor terpanas yang saya alami selama ini. Bahkan ketika saya berteduh di bawah bayang pohon temperatur menunjukkan 38-39 derajat. Udara yang dihembuskan angin pun masih terasa panas. Air minum dalam bidon pun panas. Mata nanar jika terlampau memandang lama ke depan. Kulit pun perih setelah terpanggang, seakan krim dengan SPF 50 tak mempan lagi.

              Supaya tidak kelengar, begitu ada peluang untuk berteduh. Sekali lagi saya berhenti dan tiduran lagi di bawah pohon agar mendapatkan kesegaran. Beruntung pula lintasan berikutnya berada di tengah kawasan hutan pinus (Torrao kurang 30 kilometer). Setibanya di Torrao, mampir ke sebuah toko membeli buah-buahan buat bekal makan malam.  

              Saat sudah melintas perbatasan Portugal-Spanyol, kota kecil Rosal de La Frontera. Tiba-tiba ban belakang meletus, rupanya ban luar aus tanpa saya sadari. Itu terjadi pada Km 2700-an. Secepatnya saya ganti dengan ban luar cadangan. Sialnya ukurannya tidak sesuai. Tidak kehabisan akal dengan dibantu oleh Jose Emanuel yang kebutulan lewat dengan mobilnya, saya kerat ban cadangan tersebut menjadi pelapis dalam dari ban luar yang rusak. Dan ban luar dari roda depan yang relatif masih bagus saya tukar dengan roda belakang. Hasilnya lumayan hari itu saya masih mampu bersepeda lebih dari 20 km sampai saat istirahat berkemah. Rute di Spanyol setelah dari Portugal adalah sebagai berikut: Perbatasan Portugal & Spanyol – Cortegana – Sevilla – Puerto Real –  Algeciras – Menyeberang dengan ferry menuju Ceuta (Spanyol, Afrika Utara).

              Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya adalah upaya mencari ban luar dengan ukuran yang sesuai. Tapi kenyataannya ukuran ban saya memang tidak lazim dan belum banyak digunakan orang kecuali di kota besar. Puncak kejadian yang cukup melelahkan adalah sehari sebelum mencapai kota Sevilla, Spain.

Sevilla, Spain

Sesaat setelah istirahat siang saya bermaksud melanjutkan perjalanan. Terlihat ban roda depan menggembung tidak wajar. Saya langsung berpiki keras untuk mengatasinya. Satu-satunya cara adalah menjahit ban tersebut dengan kawat. Pertama hanya kuat untuk 12 Km, kedua jahitan dengan cara lain dan dilapis dengan aluminium. Berikutnya sistem jahitan tidak ada yang keluar ban. Dan kali keempat saya jahit dengan rapi.


Padahal saat itu, cucaca sangat panas sekali tiada tempat berteduh yang layak. Tapi saya berusaha untuk bertahan. Keringat pun bukan lagi menetes tapi sudah mengucur deras yang terkadang membuat perih mata. Hari itu takluk saat saya belum mencapai kota Sevilla. Tenda berhasil saya dirikan saat matahari sudah tenggelam menyisakan sinarnya (sekitar pukul 21.30). 


Adalah kebahagiaan yang tak terkira sewaktu saya mendapatkan ban baru yang sesuai ukurannya. Dan rasa kegirangan tersebut berlanjut saat disambut keindahaan kota Sevilla. Rupanya Tuhan selalu memberikan hadiah terbaik kalau kita mau berupaya. Terima kasih Tuhan.

dijahit kawat
TEMAN BARU,
              Suatu saat, situsasi memaksa saya harus berkemah di tengah hutan. Tenda saya dirikan dekat tempat pembuangan barang-barang tidak berguna. Menjelang malam terdengar suara langkah kaki binatang menginjak dedaunan kering. Terlihat seekor anjing berwarna hitam. Dari tampilannya saya duga termasuk jenis anjing piaraan. Mungkin bersama pemiliknya juga sedang berjalan ke arah saya berkemah, mungkin untuk buang air besar atau yang lainnya.

              Satu dua jam berlalu tapi masih terdengar suara angjing tersebut bekeliaran, artinya tidak ada orang datang atau saya menduga di sekitar tempat berkemah memang ada orang yang menetap. Jadi saya harus waspada. Tengah malam anjing tersebut tiba-tiba menyalak keras tidak jauh dari tenda. Rupanya ada yang datang, dari suaranya saya duga ada rusa mendekat. Begitulah ketika rusa pergi anjing tersebut diam lagi. Ah lumayan ada yang menjagaku, pikirku sederhana.

si temanku
Menjelang pagi saat saya harus keluar tenda untuk buat hajat, anjing tersebut tersentak dari tidurnya yang tidak jauh dari tenda. Anjing bagus itu rupanya bukan anjing liar, mungkin tertinggal dari pemiliknya saat buang air di daerah itu. Melihat dia tidak rakus dan badannya masih bagus mungkin belum lama juga dia berada di situ. Masih ada rasa curiga dengan orang baru seperti saya. Saat saya memasak mie dia mencium aroma makanan, dan mulai mendekat lenagkah demi langkah akhirnya ke depan tenda. Tak tega aku beri makan dari sebagian makanan sarapanku. Dia mulai menunjukkan sikap bersahabat dan manja. Saat saya menggulung tenda pun dia mulai berusaha menarik perhatian. Menarik-narik ujung tenda yang saya gulung dengan giginya.

              Saya harus melanjutkan perjalanan, tampaknya anjing yang tidak mengerti bahasa Jawa atau bahasa Inggris ini mengikutiku. Aduh, saya takut kalau dia tertabrak kendaraan. Sebentar dia menjauh, saat saya mulai mengayuh, dia mulai lari mengikuti. Begitulah terus berlari jika ada kendaraan lewat melintas hutan tersebut dia beringsut ke sisi jalan sebentar. Tak tega meninggalkan, saya mulai berusaha menggendong dan meletakkan di atas barang. Tiga kali sudah saya coba, tapi begitu sepeda bergerak dia meloncat kembali. Sedih kalau saat ada jalan turun dia mencoba mengejar sekuat tenaga. Terlihat kecapean, lihahnya terjulur dan terengah-engah. Lalu saya buat tempat minum dari bekas botol kemasan air Setiap menemukan air dari botol kemasan, saya usahakan dia untuk istirahat dan minum. Karena saya sendiri kekurangan air akhirnya kami berbagi air minum.

              Labih dari 9km dia berlari di jalanan mengikuti saya sampai akhirnya tiba di sebuah pemukiman. Saya berharap dan yakin ada seseorang yang mau menerimanya, karena dia termasuk jenis anjing bagus dan pintar. Kami berdua istirahat dan berbagi kue di pinggir jalan. Terlihat dia mulai tidak menghabiskan air, rupanya dia juga sudah mulai nyaman dengan situasi baru. Apalagi dari seberang jalan beberapa ekor anjing sudah menyalak melihat kedatangan kami.
Terbukti saat saya mulai bergerak untuk melanjutkan perjalanan dia memandang acuh tak acuh. Kecapaian? Mungkin saja! Tapi itu lebih baik daripada dia harus mengikuti terus sampai tak tahu dimana batasnya. Bersyukur dia tinggal dan semoga mendapatkan majikan yang baru. Saya masih ingat bagaimana cara dia berlari, bagaimana dia mulai beringsut ketakutan dan bagaimana dia kegirangan saat diberi air minum. Sebuah ke’merdeka’an tiada berbatas.

RABAT,
              Shalawat Badr dan Marhaban yang terdengar dikumandangkan serta iringan tabuhan rebana bertalu-talu dari halaman KBRI oleh para warga Indonesia dan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Maroko, menandai berakhirnya perjalanan saya yang bertajuk TRANS ANDALUCIA CYCLING TRIP 2010. Sebuah perjalanan bersepeda jarak jauh, melintas Belgia – Prancis – Spanyol – Portugal dan Maroko (BelgiumFranceSpainPortugalMorocco). Saya tiba di Rabat pada hari Sabtu, 7 Agustus 2010 setelah menempuh jarak 3538,5 kilometer dari kota Brussels dalam waktu 48 hari dari 55 hari masa pengembaraan. (meninggalkan Brussels, Belgia pada tanggal 18 Juni 2010). Sebuah perjalanan yang cukup panjang, berliku dan melelahkan. Tidak sekedar mengandalkan kekuatan otot tapi juga melilbatkan seluruh eksistensi tubuh, keseimbangan dan sinergi antara fisik, rasio, rasa dan naluri.

              Prosesi penyambutan, sudah diawali jauh sebelum mencapai kota Rabat ini.  Tiga hari sebelumnya (Kamis, 5 Agustus 2010) saat saya sudah memasuki kawasan Maroko, dekat kota Tanger. Saya disambut/dijemput oleh Bapak Hadi Syarifuddin dan ibu. Diberitahu bahwa warga Indonesia akan berkumpul di KBRI, untuk merayakan HUT RI ke 65. Oleh sebab itu alangkah baiknya jika saya bisa memasuki kota Rabat pada saat itu. Padahal jarak yang masih harus saya tempuh adalah lebih dari 350 Km.

              Tantangan tersebut di atas membuat saya jadi terpacu. Walaupun dengan beban berat, pada hari terakhir tersebut saya mampu menempuh jarak lebih dari 125 kilometer dalam waktu kurang dari 6 jam. Dan hal ini menjadi jarak terjauh dan tercepat yang pernah saya lakukan dalam perjalanan ini. Berat memang, tapi saya puas !

               Di batas kota Rabat, saya sudah di tunggu  oleh 10 orang pembalap sepeda nasional Maroko dan Ketua Federasi Sepeda Kerajaan Maroko. Kemudian bergabung pula Bapak Tosari Wijaya selaku Duta Besar dan juga para Staf KBRI. Akhir perjalanan yang indah dan sangat mengharukan, setelah apa yang saya alami selama dalam perjalanan sebelumnya.

JBEL TOUBKAL.
              Gunung tertinggi di kawasan Pegunungan Atlas, Morocco bernama Jbel Toubkal 4167 meter di atas permukaan laut, dan menjadi bagian dari perencanaan perjalanan saya sebelum berangkat. Dan sebagai gunung tertinggi di Haut Atlas (High Atlas) juga di Utara Afrika (Northern Africa). Tetapi karena beberapa kendala, saya menjadi pesimis untuk melakukan pendakian gunung ini. Antara lain waktu yang tinggal beberapa hari lagi sebelum saya kembali ke Indonesia, ransel yang tidak bisa diambil dari Kantor Pos Ceuta, Spanyol dll. Dan saya sudah pasrah apabila ternyata akhirnya tidak jadi melakukan pendakian gunung tersebut.

wild flowers, Jbel Toubkal, Morocco
Peluang itu pun akhirnya datang, Senin, 9 Agustus 2010 sebenarnya saya bermaksud mengunjungi kota Marrakech dan Casablanca dengan diantar anggota PPI (Persatuan Pelajar dan mahasiswa Indonesia) Maroko, yaitu M. Sabiq Al Hadi, 25 dan Islahudin Fahmi, 18. Dalam perjalanan menuju Marrakech dengan kereta api selama hampir 5 jam itulah. Hasrat untuk melakukan pendakian muncul lagi. Dan kebetulan saya sendiri sudah hafal luar kepala. Kota maupun rute yang bakal kami lalui.

              Setibanya di Marrakech kami bertiga makan malam di sebuah café di kawasan lapangan Jemaa el Fna (Jemaa el Fna Square) lalu mencari warung internet buat melengkapi data yang kami perlukan. Setelah itu kami bermalam di salah satu kamar kontrakan para mahasiswa yang menuntut ilmu di kota tersebut. Sebelum memejamkan mata, pikiran saya masih dipenuhi rencana dan apa yang harus dilakukan. Semua peralatan ada di Rabat. Dan peluang ini ada di depan pelupuk mata. Bukannya sekedar bonek (bondo nekad) tapi semua sudah saya perhitungkan. Dengan pemikiran kalau pun tidak punya tenda setidaknya bisa bermalam di hut (pondok pendaki)
Jbel Toubkal +4167 m ASL
Keesokan harinya, dengan sebuah taxi kami langsung menuju Imlil dan dari situ mulailah kami berjalan kaki selama kurang lebih 6 jam sampai hut terakhir yang dinamai Refuse du Toubkal (+3207 m dpl).  Kami berkemah dengan tenda sewaan dari pihak Hut dan menggunakan selimut tebal sebagai pengganti sleeping bag. Malam hari hujan turun dengan lebat diawali hujan es. Dan suhu udara meluncur drastis kisaran 12 derajat Celcius. Tapi kami bertiga bertahan di dalam tenda meringkuk dalam selimut.

 Dan baru keesokan harinya kami bertiga melanjutkan pendakian ke puncak Jbel Toubkal. Walaupun tertatih tatih akhirnya kami sampai juga di puncak gunung tersebut. Pemandangan alam yang menakjubkan dari puncak, menggantikan seluruh jerih payah dalam upaya pencapaiannya. Dan bagi saya, Gunung Jbel toubkal merupakan gunung ke 57 yang pernah saya daki. Gunung ketiga di Afrika yang pernah saya daki setelah Gunung Kilimanjaro (+5896 meter dpl). Mt Kenya (Point Lenana +4985 meter dpl) dan Gunungt Jbel Toubkal (+4167 meter dpl).

              Kalau dulu saya mendaki Gunung Kilimanjaro, sebagai gunung tertinggi di Benua Afrika dengan mengendarai/membawa sepeda hingga puncaknya (Uhuru Peak). Kali ini tidak dilakukan, karena sadar bahwa saya sudah tidak muda dan tidak setangguh dulu lagi. Namun, tetap saja mempunyai nilai tersendiri bagi saya karena untuk bisa sampai ke Maroko (Morocco) ini saya harus mengayuh sepeda sejauh 3538,5 kilometer. Tentunya bukan pekerjaan remeh temeh, yang sekedar mengandalkan kekuatan dengkul semata. Melainkan perlu determinasi yang tinggi untuk bisa melakukannya. Senang sekali bisa mengakhiri perjalanan ini dengan manis. Sebuah semangat yang tak pernah tercabik, tak pernah kandas dan tak pernah berakhir.
EVERLASTING SPIRIT !!!


PAIMO
Bandung, Mei 2011

Disarikan dari catatan perjalanan PAIMO:
EVERLASTING SPIRIT!
(TRANS ANDALUCIA CYCLING TRIP 2010)
Sebuah perjalanan bersepeda jarak jauh sendirian melintasi Belgium-France-Spain-Portugal-Morocco sejauh 3538,5 kilometer dan mendaki Gunung Jbel Toubkal +4167 meter dpl di Morocco. Yang dilakukan dari tanggal 12 Juni 2010 sampai dengan 15 Agustus 2010.




2 komentar:

  1. slm kenal om paimo..prjalanan om paimo membwt hati saya brhasrat untuk mencumbui alam raya ini...mantab...mantab...mantab....!!!!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi aku lagi belajar menuliskan apa yang pernah kurasakan, kualalli saat berinteraksi dengan bentang alam yang luas tak berbatas ini. Terima kasih atas apresiasimu kawan!

      Hapus