BERSEPEDA MERAMBAH SOUTHERN ALPS
.......petualangan PAIMO di New
Zealand
(dimuat Majalah Cycling, Edisi 44, Mei 2008)
(dimuat Majalah Cycling, Edisi 44, Mei 2008)
Awal perjalanan,
Pesawat yang kami
tumpangi mendarat dengan selamat di Auckland International Airport setelah
terbang selama 10 jam lebih dari Kuala Lumpur, Malaysia . Untuk keluar dari area bandara kami harus
melewati beberapa kali pemeriksaan, termasuk biosecurity. Di salah satu sudut airport tersebut terdapat tempat
khusus untuk merakit sepeda dan pada dindingnya terpampang sebuah peringatan,
dengan huruf besar berwarna merah. Demi menjaga keselamatan pengendara, maka
bersepeda di jalan raya harus menggunakan helm. Apabila tidak memakai helm akan
didenda 55 $NZ. Penumpang pesawat yang membawa sepeda bisa langsung merakitnya
dan mengendarai ke tempat tujuan tanpa susah payah.
Karena barang bawaan kami masih belum dikemas dalam panniers, maka kami menggunakan mobil
sewaan, menuju Bamber House di daerah Mt. Eden, Auckland . Tempat menginap tersebut, kami pesan
sejak sebelum berangkat dari Indonesia . Selama tiga hari berada di Auckland, waktu
yang ada selain digunakan untuk aklimatisasi dan adaptasi, kami pergunakan juga
untuk mencari data terbaru yang diperlukan.
Senin, 13 Nopember 2006, sekitar pk 09.39 kami meninggalkan Bamber
House, mengawali perjalanan bertajuk TRANS
WAITOMO CYCLING TRIP 2006. Tidak dengan mudah kami mencari jalan alternatif
menuju arah selatan. Karena ada ruas jalan dari State Highway #1 (Motorway)
yang khusus untuk kendaraan bermotor, selebihnya sepeda boleh melintas di
jalur bebas hambatan tersebut. Pada hari pertama, kami bersepeda sejauh 60 km
sampai Pokeno. Rute kami di pulau utara adalah sbb: Auckland (Mt Eden) – Pokeno – Matamata – Rotorua –
Taupo – Te Pohue – Napier – Hasting – Waipukurau – Dannervirke – Woodville – Greyton
– Featherston – Lower Hut –
Wellington.
Selama sepuluh hari
kami berdua (aku dan Benny) bersepeda dari Auckland - Wellington , sejauh 846,9 Km. Dalam perjalanan kami
selalu menghadapi cuaca yang sukar sekali untuk ditebak. Suatu hari kami
bersepeda diguyur hujan gerimis terus menerus dalam suhu udara sangat rendah. Tapi
lain hari kami harus melawan angin yang berhembus kencang dari depan atau harus
bersepeda di bawah teriknya sinar matahari. Lintasan naik turun pegunungan
sering kami lalui dengan elevasi ketinggian bervariasi dan sangat menguras
tenaga.
Di daerah perbukitan terbentang luas hamparan hijau, tempat ternak merumput.
Banyak kami melihat ternak sapi, biri-biri, kambing, alpaca, llama, rusa maupun
menjangan. Di antaranya, binatang liar pun berkeliaran tanpa takut terusik
manusia.
Di kedua sisi jalan raya dipasang pagar kawat. Bahkan kadang-kadang
dialiri listrik supaya binatang tidak nyelonong ke jalan raya. Hal ini cukup menyulitkan
kami untuk melakukan bush camp (berkemah
di sebarang tempat asal aman dan nyaman). Oleh karena itu, target untuk bisa
mencapai 100 km dalam sehari selalu tidak terpenuhi. Akhirnya, jarak tempuh
disesuaikan dengan lokasi camping site
yang ada di kota tujuan terdekat.
Umumnya, para penduduk yang kami temui memberi respon positif. Kecuali
suatu hari kami pernah diusir seorang pemilik rumah. Ceritanya, setelah lelah
mengayuh beberapa jam di bawah teriknya matahari. Kami ingin berteduh di bawah naungan
pohon rindang. Jauh dari bangunan rumah yang letaknya menjorok ke dalam dan kami
tidak memasuki areal halamannya (tidak membuka pintu halaman). Tidak berapa
lama kemudian pemilik rumah keluar dan menyatakan keberatannya kalau kami rebahan
di situ.
Matahari tepat di atas
ubun-ubun. Pemandangan alam khas daerah sub tropis sangat mempesona. Barisan
pohon pinus berjajar di pinggir jalan melindungi tekad dan semangat kami. Tercium
aroma khas pinus yang terbawa semilirnya angin. Sepanjang jalan hutan pinus,
jarang pemukiman penduduk. Ada areal tertentu yang sedang proses penebangan dan
areal lain sedang dalam tahap pengolahan tanah, diaduk-aduk diambil akarnya. Konservasi
alam terbina dan ekosistem terjaga dengan baik.
Aku merasakan dahsyatnya alam. Jangan bayangkan jalanan yang landai. Ruas
jalan Taupo – Te Pohue, merupakan bagian terberat, karena kami harus melewati
tiga buah punggungan pegunungan dengan kontur lintasan mencapai ketinggian 715
meter dpl. lalu turun sampai 400 meter dpl naik lagi 680 meter dpl turun
menukik sampai 320 meter dpl berikutnya menanjak sekali lagi sampai 690 meter
dpl dan selanjutnya turun sampai Te Pohue, 420 meter dpl. Bukit-bukit pinus ini
seperti tak ingin membiarkan aku melupakan betapa hebatnya alam New Zealand . Jarak yang kami tempuh cuma 97,10
kilometer tapi dengan kondisi alam seperti di atas dan sepeda digelayuti beban
berat, ternyata cukup melelahkan. Napasku yang ngos-ngosan mengalahkan suara
deru angin. Walaupun kondisi tubuh melemah, kami tetap berupaya mencapai Te
Pohue yang ada penginapannya. Gaya arsitektur hotel kecil tempat kami bermalam,
eksterior maupun interiornya mengingatkan kami pada film-film cowboy. Berbeda sekali rasanya berada
dalam kamar yang hangat, setelah berhari-hari berkemah di udara terbuka. Kamar
tersebut semalam 40 $NZ.
Selepas Te Pohue, banyak sekali wine
yard beserta pabrik pengolahan anggur maupun perkebunan buah cherry dan
buah peach. Kondisi jalan menurun landai hingga Napier. Menyusuri sebagian dari
rute Pacific
Coast Tourist Route . Di New Zealand ada lima rute wisata yang terkenal dan pada
ruas-ruas tertentu kami sudah melewatinya dengan sepeda. Rute tersebut antara
lain: Alpine Pacific Triangle Tourist Route, Inland Scenic Tourist Route,
Southern Scenic Tourist Route, Thermal Explorer Tourist Route, Pacific Coast Tourist Route .
Napier, berada di pantai timur Northland, di kota tersebut kami mencari restoran China yang biasanya menjual nasi. Bagi Benny
sulit meninggalkan kebiasaan makan nasi, sehingga menimbulkan rasa rindu yang
amat sangat kalau sudah beberapa hari tidak jumpa nasi. Dalam perjalanan
sebelumnya, selain memasak dari bahan-bahan makanan yang dibawa. Untuk
menghadapi keadaan darurat, kami berbekal Power Bar, juga makanan berkalori dan
karbohydrat tinggi. Di samping itu, burger
dan fish n chips. merupakan menu
makanan yang cocok dengan selera perut dan cukup murah bagi isi kantong kami.
Sekali waktu, di sebuah café kota kecil
Lumsden, Southland, NZ; kami pernah makan fish
n chips termahal selama perjalanan, seporsi harganya 20 $NZ (l $NZ = Rp
6050,-). Ternyata memang enak. Penyajiannya pun beda, dengan piring yang ditata
apik di atas meja makan. Tidak seperti biasanya yang diwadahi sekedar kantong
kertas.
| artikel di Majalah Cycling, edisi #44, 2008 |
Camping Ground,
Kami akhiri perjalanan hari itu di kota Hasting, 22 Km sebelah selatan dari Napier. Seperti biasanya, ketika memasuki sebuah kota, kami langsung mampir di Information Centre untuk mendapatkan beberapa info yang kami inginkan termasuk letak camping site. Bumi perkemahan Holiday Park Top Ten, terletak agak di pinggir
Sebelum kami bergelung di dalam sleeping
bag masing-masing, kami menyantap nasi goreng yang sebelumnya di beli dari
sebuah restoran China . Tapi sayang, Benny kurang cocok dengan olahan nasinya, lalu
dibuanglah nasi goreng tersebut. Menjelang malam suhu udara mencapai 17 derajat
Celcius. Angin bertiup kencang sekali, dahan dan ranting berderak saling
beradu. Kami di dalam tenda ketakutan kalau-kalau ada dahan atau ranting yang
patah lalu menimpa kami.
Di New Zealand, jaringan Holiday Park Top Ten mudah ditemukan karena
merupakan yang terbesar dan mempunyai reputasi bagus (fasilitas dan layanan
yang baik). Wilayah cakupan camping ground sangat luas, ada motel,
cabin, caravan site, camping site, kolam renang, play ground, loundry, kitchen, ruang tv, kedai makanan, kios
cinderamata, bangsal kamar mandi dll.
Sampai di pelosok New Zealand, umumnya selalu terdapat bumi perkemahan
dengan fasilitas yang cukup memadai dan dikelola dengan baik. Lingkungan bersih
dan kondisi peralatan dapur maupun perabotan lainnya (seperti mesin cuci,
lemari es, televisi dll) cukup terawat dengan baik. Maksudnya, kamar mandi dan
dapur itu tidak ada petugasnya yang berjaga. Jadi pendatang yang diharapkan
bisa merawat dan menjaga semua perabotan dan peralatan. Telah menjadi kebiasaan
tak tertulis, siapapun pengguna peralatan dapur, sesudahnya harus mencuci dan
membersihkan lagi untuk orang berikutnya. Tidak terbayangkan bila hal itu ada di
Indonesia, mungkin sudah hilang semua perabotannya karena rasa memiliki yang
besar.
Di kesempatan lainnya, kami singgah di Cameron Flat Camping Ground. Merupakan
sebuah lahan perkemahan di kawasan Mount Aspiring National Park . Jauh dari pemukiman dan terletak di
tengah hutan belantara. Bisa dibayangkan suasana malam harinya, sungguh
menakjubkan karena suara binatang malam bersahutan – sebuah harmonisasi alam
yang indah. Tidak ada penjaga, tetapi seluruh prosedur penggunaan fasilitas dan
sistem pembayaran tertera pada sebuah papan, termasuk jenis flora fauna yang
terdapat di sekitar lahan tersebut. Tempat pemanggangan, kamar kecil, instalasi
air bersih tersedia dan terawat baik. Kertas tisu di ruang WC pun bisa didapat
dengan mudah dari sebuah boks.
Dua hari berikutnya, kami sampai di Woodville (Senin, 20 Nopember 2006),
cuaca cerah dan kami bersepeda melawan angin yang menerpa wajah tak kenal
ampun. Terasa berat sekali, sering kami terhuyung-huyung. Dan Benny sempat
sekali terjatuh dihempaskan angin. Dan kami menyebut Hari Angin, sedangkan
sehari sebelumnya kami namai Hari Kelinci karena banyak kelinci liar
berloncatan di antara semak-semak di sisi jalan raya, lalu mengintip malu di
mulut liangnya. Di jalanan banyak bangkai kelinci, tertabrak sewaktu berusaha
menyeberang.
Woodville ternyata kota
kecil yang berada di sebuah lembah. Dan di pegunungan yang mengapitnya tampak
ratusan kincir angin mirip yang pernah aku lihat di Hongaria. Woodville Camping
Ground, terletak di halaman belakang sebuah gedung serba guna milik pemerintah
setempat. Sebenarnya gratis, cuma kalau menggunakan WC dan Shower harus membayar 10 $NZ dan kuncinya bisa diambil dari petrol station kota tersebut. Mendung tebal bergelayut rendah
dan angin bertiup kencang. Saat aku mencari sebongkah batu pemukul pasak,
tendaku diterbangkan angin. Benny terkekeh melihatku berlarian mengejar tenda dome yang berguling-guling.
Keesokan harinya, jalanan menanjak terus sampai pada ketinggian 376
meter dpl (Bruce Summit) lalu turun lagi sampai Masterton. Seperti pada
kota-kota yang lainnya juga di Masterton kami melihat ada area bermain khusus
untuk anak-anak, Kid Play Group, dan ada lahan yang menyerupai kolam untuk
bermain skate board atau ramp untuk
bermain sepeda BMX.
Melintasi Rimutaka,
Selepas Featherton
(+35 meter dpl), jalanan mulai merayap naik, melipir dinding terjal sebuah
lembah. Tanjakan memang tidak tajam, tapi sangat panjang tak berujung. Tak
sampai setengah jam, napasku terengah-engah, paru-paru terasa seperti terbakar.
Kendaraan jarang melewati lintasan alternatif ini, karena jalanan meliuk-liuk daerah
perbukitan dan melintasi Pegunungan Rimutaka. Setibanya di Rimutaka Summit (ketinggian +576 meter dpl), kami mengganti
kaos dan menjemur yang basah kena keringat serta memakai jaket. Ada sebuah rumah makan bertengger di
puncaknya. Dan angin lembah bertiup sangat kencang, menderu dan bergaung di
antara lembah-lembahnya. Sejauh-jauhnya mata memandang, pada lembahnya yang
landai tampaklah jalan berkelok-kelok, menjauh dan kemudian lenyap di kaki
cakrawala.
| Long n Winding Road |
Suatu saat kami dihadapkan jalan yang sangat curam sewaktu mencari
daerah Kelburn, salah satu Suburb dari Welllington. Aku tidak kuat menuntut
sepedaku, dibantu Benny kami mendorong sepeda yang sarat beban tersebut sampai
ujung tanjakan. Ada beberapa orang yang tersenyum-senyum
melihat tingkah kami berdua. Bicara masalah jalan curam, ada sepenggal jalan di
kota Dunedin, kemiringannya mendekati sudut 6o derajat. Dan tercatat dalam
rekor dunia sebagai The Steepest Street on the World.
Di kota Wellington singgah di KBRI dan disambut baik oleh Duta Besar
Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI, Bapak Amris Hasan beserta seluruh staf-nya. Selama
dua hari kami berada di lingkungan KBRI. Setelah itu, Sabtu tanggal 25 Nopember
2006 kami melanjutkan perjalanaan ke pulau selatan. Menumpang ferry
penyeberangan ke Picton, seorang 75 $NZ, termasuk sepeda. Di pelabuhan, kami
harus mengantri mendapatkan boarding pass. Sesudah semua kendaraan besar masuk perut
ferry, barulah sepeda masuk melalui jalan mobil. Sepeda dan sepeda motor ditempatkan
berdekatan dengan kandang-kandang binatang, di dek 3. Anjing, kucing dan
binatang peliharaan lainnya dilarang masuk kabin penumpang., di dek 10.
Semua penumpang menikmati panorama alam yang menawan dari dek paling atas,
sambil dibelai sejuknya udara pagi. Lepas dari dermaga Wellington, ferry
menjauhi sebuah teluk. Di teluk itulah tampak berjajar ratusan yacht, yang
tiang-tiangnya menjulang tinggi, menunjuk langit biru. Berpagar gedung-gedung
pencakar langit. Cuaca cerah dan ferry bergerak tanpa terasa, menyusuri birunya
Selat Cook lalu melintas di antara pulau-pulau kecil.
Setelah tiga jam berlayar, ferry tersebut pada pk 11.30 merapat di
dermaga Picton. Cuaca cenderung panas menyengat, hawa terasa gerah. Sebelum meneruskan
perjalanan menuju Bleinheim, aku melepas celana panjang dan jaket di luar
pelabuhan. Benny tidak mau mengganti celananya, tanggung katanya. Sebab jarak
Picton-Bleinheim cuma 27 Km. Saat mengayuh sepeda pada tanjakan landai ada
sebuah truk kontener mendahului. Angin turbulen dari truk tersebut membuat
Benny terkejut. Sial baginya, celana panjangnya terkait crank. Keseimbangannya hilang ia lalu jatuh tersungkur. Dengkulnya
luka berdarah, untung saja celana tidak robek.
Rute perjalanan keliling Southland, NZ adalah sbb: Picton –
Bleinheim – Keikoura – Christchurch – Dunedin – Milton – Balclutha – Owaka –
Papatowai – Takanui –Fortrose - Bluff – Invercargill – Winton – Lumsden
– Kingston – Frankton – Wanaka – Haast – Fox Glacier – Hokitika – Greymouth –
Reefton – Inangahua – Murchison – St
Arnaud – Bleinheim – Picton.
Terperangah,
Sejumlah jalan yang
kami lewati, melintasi daerah pantai tidak selalu datar, tapi sering berupa
wilayah perbukitan. Kondisi seperti ini otomatis ikut menghambat kami dalam
mengayuh sepeda. Beberapa kali berhenti di pinggir pantai, sekedar menikmati
pemandangan alam dan memunguti Pauia
(kulit kerang) yang menjadi bahan cinderamata khas NZ. Kulit kerang ini setelah
digosok akan menampilkan sebuah keindahan dengan munculnya warna-warna pelangi
yang berkilauan.
Saat sedang asyik mengayuh sepeda. Tiga puluh kilometer sebelum mencapai
Kaikoura. Aku dikejutkan dengan adanya seekor singa laut besar yang sedang
berjemur di atas rerumputan, di sisi jalan. Hanya dipisahkan pagar pembatas
jalan, tidak lebih dari tiga meter. Aku terperangah saat melihat sekelilingnya,
......ya ampun!, temannya banyak sekali. Koloni singa laut tersebut, ada yang
di atas bebatuan pantai, tidur bermalasan, berenang-renang dan ada pula yang
becanda berguling-guling dengan sesamanya sambil mengeluarkan suara khas.
Baru kali ini, aku melihat singa laut dalam jumlah yang sangat banyak, hidup
di habitat asli. Mereka tidak terganggu kendaraan yang berseliweran. Memang
kendaraan dilarang berhenti di sebarang tempat. Anehnya, hanya ada beberapa
ekor saja di sekitar rest area, di
mana mobil bisa berhenti (parkir) dan menjadi tempat pengamatan singa laut. Mungkin
hal itu sengaja dilakukan guna menjaga kelestarian alam agar ekosistem terpelihara
dengan baik. Tak sampai setengah jam mengayuh, terdengar jeritan burung-burung,
di sisi jalan. Ada ribuan burung sejenis camar. Sarang-sarang
yang jumlahnya tak terhitung berserakan di atas batuan pantai. Ketika kami
lewat, burung-burung tersebut berhamburan terbang sambil mencericit bising. Tapi
ada juga kawanan burung yang tetap di sarang mendekap anaknya yang masih berbulu.
Dan ada juga yang sedang mengerami telornya atau sekedar mengepak-ngepakkan
sayapnya. Sebuah atraksi alam yang memukau.
| burung bebas membuat sarangnya |
Sebuah hamparan rumput hijau yang luas melapis permukaan daerah
perbukitan. Berlatar belakang langit biru. Dan nun jauh di bawah horizon, tampak
bintik-bintik putih, beberapa biri-biri terpanggang terik matahari. Memberikan
aksen dari sebuah keharmonisan alam. Sebuah interaksi antara manusia dengan
alam semesta tanpa batas. Inikah yang disebut surga? Aku bertanya dalam hati.
Dan sungguh, neraka pun belum pernah kulihat, tapi memang jauh berbeda
bila dibandingkan dengan perjalananku sebelumnya di Amerika Latin. Saat
merambah Andean Altiplano, Pegunungan Andes . Dan
melintasi Atacama Desert, sebuah padang gurun kering kerontang, gersang dan
tanpa kehidupan. Aku didera cuaca ekstrim, rasa dingin dan lapar
berkesinambungan. Seakan ingin meluluh-lantakan seluruh persendian kehidupanku.
Tapi itulah seni dari petualangan sesungguhnya. Menghargai kehidupan. Hidup
yang merdeka!
| Local Musician |
Lengkap fasilitas buat bersepeda,
Selama perjalanan
di daerah Pulau Utara (Te Ika a Maui - bahasa
Maori), jarang sekali kami berjumpa dengan pesepeda jarak jauh. Berbeda sekali
ketika kami berada di Pulau Selatan (Te Wai Pounamu), banyak sekali pesepeda menjalani
trayek yang jauh. Sepeda menjadi salah satu sarana transportasi yang disukai
para wisatawan maupun penduduk lokal. Segala fasilitas penunjang untuk kegiatan
bersepeda telah disediakan secara resmi oleh Pemerintah NZ sampai ke pelosok. Misalnya,
rambu-rambu khusus sepeda, jalur sepeda, peta, rute perjalanan, area parkir
sepeda, dan buku panduan wisata bersepeda yang sangat lengkap. Bahkan
perlengkapan pakaian bersepeda untuk musim dingin pun tersedia.
Sewaktu bersepeda pun kami merasa aman dan nyaman, kendati arus lalu
lintas sedang ramai. Pengguna jalan lainnya patut dipuji, sangat menghargai
orang bersepeda. Mereka berkendara pada jalurnya masing-masing, sangat teratur,
tertib dan taat pada hukum yang berlaku. Bersepeda, tanpa memakai helm, akan
didenda 55 $NZ (1$NZ = Rp6050,-). Fasilitas bersepeda ada kemiripannya dengan
di daerah Eropa. Oleh karena itu, banyak sekali pesepeda yang berasal dari
daratan Eropa. Mereka menghindari musim dingin di Eropa, lalu bergiat di NZ
yang sedang mengalami musim panas.
Lima hari setelah meninggalkan Picton, kami tiba di kota Christchurch . Kami berdua mencapai kota tersebut sekitar pk.12.30 waktu setempat. Dan
ditampung keluarga Bapak Lilik Abdul Hamid, warga Indonesia yang bekerja untuk Air New Zealand . Sempat pula kami diajak berkeliling kota sebelum keesokan harinya melanjutkan
perjalanan.
Pada pagi hari sebelum memasuki kota Christchurch, sepeda kami kayuh
dari kota kecil Waipara yang terkenal wine yard-nya. Bagai orang kesetanan,
selama kurang lebih dua jam kami kebut-kebutan di jalan mendatar. Melintas
kawasan perkebunan anggur sejauh 56 kilometer. Padahal, sehari sebelumnya kami
berdua bersepeda naik turun menyusuri daerah perbukitan. Terhuyung-huyung diterpa
angin yang sangat kencang membuyarkan konsentrasi. Berulang kali truk trailer
lewat menyisakan angin pusar. Supaya tidak tergilas, aku cengkeram kuat-kuat
setang sepeda, selalu menjaga keseimbangan dan waspada. Sesudahnya tangan
terasa pegal-pegal.
Sempat pula kami dihentikan tiba-tiba oleh hujan lebat. Memaksa kami
berteduh dan berkemah di bangsal penimbunan jerami di pinggir jalan. Malamnya suhu turun drastis sampai 2 derajat
Celcius. Cuaca benar-benar sukar diprediksi.
Kamis, 30 Nopember
2006 cuaca buruk sekali dari pagi sudah hujan dan kabut tebal mengepung rumah. Rasanya
malas bangun dari tempat tidur dan keluar dari kamar yang hangat. Akhirnya,
kami nekad menembus hujan meninggalkan Christchurch . Supaya tidak banyak waktu terbuang
percuma. Sejak awal, memang kami berdua sudah sepakat untuk tetap bersepeda
dalam cuaca apapun. Sialnya, di batas kota, untuk pertama kalinya banku bocor setelah
menempuh lebih dari seribu kilometer. Repot sekali mendorong sepeda sarat
beban, sambil mencari tempat berteduh dari guyuran hujan.
Sepeda kugenjot lagi dan sampai di Rosselton langsung mencari WC umum.
Sekedar menghangatkan tubuh di mesin pengering otomatis. Seluruh pakaian dalam
lembab. Jari jemari tangan dan kaki sudah keriput tidak kuat menahan dingin.
Akhirnya, kaos kaki dan sarung tangan aku rangkap dengan kantong plastik
pembungkus roti, supaya kedap air. Mungkin konyol, tapi dari dulu hal ini
terbukti paling efektif. Apalagi aku tidak punya sarung tangan kedap air. Lalu
kami berteduh di bawah teritis emperan sebuah toko. Membuat secangkir coklat
panas dan makan nasi bungkus yang dibekali Ibu Lilik.
Sebenarnya, kami berdua sudah tidak tahan lagi menahan terpaan hujan
badai yang cukup dahsyat. Dan curah air hujan yang dingin, bagai jarum mencucuk
wajah. Ditambah lagi pandangan menjadi kabur karena semburat air dari kendaraan
yang melaju kencang. Setiap memasuki kota kecil kami celingukan mencari camping ground, tapi percuma juga
mendirikan tenda di atas lahan basah. Pelan-pelan kami mengayuh, jari jemari
sudah sulit digerakkan dan kaki mulai terasa kebas kedinginan. Hujan mereda
tapi suhu udara tetap rendah, dingin dan angin masih berhembus kencang.
Sesudah melintasi jembatan Rakaia River yang lebarnya 2,2 Km, kami
dapati Rakaia Holiday Park . Tenda kami dirikan dekat sebuah caravan
kosong di bawah naungan pohon pinus. Mentari sebentar saja mengintip dari
celah-celah mendung setelah itu menghilang lagi dan hujan gerimis sepanjang
hari. Malam harinya suhu udara mencapai 8 derajat, tubuh kedinginan karena
seharian kehujanan. Dan memaksaku menggunakan jaket sebelum masuk ke dalam sleeping bag.
Besok paginya, aku dibangunkan kicauan merdu burung Tui yang bertengger
tidak jauh dari kami berkemah. Tui nama burung yang besaran dan bentuknya mirip
burung jalak, tubuhnya hitam dan paruhnya kuning. Sangat populer di NZ dan
dijadikan logo sebuah perusahaan bir.
Di Timaru, Benny
membeli seat post (tiang sadel) seharga
30 $ NZ di sebuah toko sepeda, menggantikan yang lama karena retak di bagian
ujungnya. Sementara itu, aku mengunjungi charity
house, toko yang menjual pakaian bekas. Lumayan, aku mendapatkan thermal wear, dengan harga murah. Charity house dan toko yang menjual
barang-barang antik, biasanya selalu ada di setiap kota .
Dalam proses pengumpulan dan penimbunan pakaian bekas dari penduduk
lokal, disediakan kotak khusus. Di setiap kota biasanya ada beberapa kotak besar mirip
kotak sampah. Dan jenis maupun macam pakaiannya sudah dipilah-pilah sesuai
kotak tersebut. Uang hasil penjualan pakaian bekas dipakai untuk amal.
Sebelum memasuki kota Oamaru, aku sempat istirahat dan mengambil foto
di pal 45 derajat titik/garis pertengahan antara Kutub Selatan dan Equator.
Ketika berada di areal perkemahan Oamaru, ada rombongan pesepeda datang naik
bis. Dan bisnya menarik gandengan yang penuh sepeda (Flying Kiwi). Mereka ikut
trip dari sebuah tour operator yang
menangani kegiatan bersepeda antar kota . Karena kebetulan hari Sabtu, kendaraan
pribadi, dan campervan memenuhi camping ground tersebut. Lahan yang
tersisa untuk kami berkemah, letaknya di bawah pohon tidak jauh dari dapur dan
kamar mandi. Sepanjang malam turun hujan.
Rekan seperjalanan,
Keesokan harinya, gerimis
dan udara sangat dingin. Kami meninggalkan Oamaru pelan-pelan karena harus
melewati beberapa tanjakan. Begitu hari merangkak siang, cuaca berangsur cerah.
Tapi tetap dingin berangin. Sewaktu istirahat di Herbert lewat seorang pengendara
sepeda dengan bagasi tarik (trailer). Phillip C Killen, seorang misionaris NZ
yang sudah lima tahun bersepeda keliling negerinya untuk
mewartakan kebaikan. Setelah berbasa-basi, ia mendahului kami berdua dan
menjelang sore kami berjumpa lagi dengannya saat mencari lahan berkemah di kota kecil Waikouaiti. Kami bertiga makan malam
bersama di dapur camping ground,
setelah sebelumnya Killen memasak kerang hijau yang diberi pengelelola lahan
tersebut. Dan perlakuan semacam ini tidak hanya sekali kami alami. Pada
umumnya, mereka sangat menghargai dan jauh lebih apresiatif terhadap apa yang
kami lakukan. Menu makanan yang dimasak Killen, bagiku sangat enak dan cocok
dengan selera. Tapi Benny lebih memilih masak mi instan dan telor.
Aku ingat sesaat sebelum memasuki kota ini sore tadi. Benny, berkejaran dengan
pesepeda lokal di sebuah tanjakan. Ketika dia berhasil mendahuluinya dan lebih
dahulu mencapai titik tertinggi, dia berteriak kegirangan senang: “.....aku
lulus, lulus kumlaud!”. Ada kejadian lain yang tak kalah lucunya, sewaktu akan
meninggalkan lahan perkemahan Milton . Aku pamitan pura-pura akan meninggalkannya,
padahal kutunggu dia di seberang lapangan, sambil mengamatinya berkemas. Benny,
kelihatan sangat terburu-buru dan saat akan mengembalikan kunci dapur ke
petugas dia tidak melihat adanya bentangan tali jemuran. Lehernya tersangkut
dan mental jatuh, aku tak bisa menahan ketawa melihat tingkah lakunya yang
mirip Mr Bean di televisi. Saat
bergabung aku diamkan saja tidak menyinggung masalah tersebut dengan harapan
dia akan bercerita. Lama kelamaan aku tidak tahan, aku lalu cerita tentang Mr.Bean
yang terjerat tali jemuran. Dia merasa dan kami akhirnya tertawa
terpingkal-pingkal. Atau ketika akan melintasi Pegunungan Rimutaka yang sangat
terjal. Benny gelisah terus menerus, sudah terpengaruh saran orang lain untuk
naik kereta api. Karena sangat berbahaya bagi yang belum terbiasa. Jadinya, kuhibur
dan kudorong semangatnya untuk tetap bersepeda dan bertahan dalam kondisi
apapun. Sesaat setelah pegunungan tersebut telintasi, ternyata ada rasa bangga
terbersit di wajahnya. Memang banyak hal-hal menggelikan kami alami bersama
selama perjalanan, yang malah memicu semangat dan kekompakan.
Sebelumnya, kami berdua pernah berkelana di Semenanjung Malaysia pada tahun 2003. Bersepeda menyusuri
jalan-jalan yang menghubungkan Singapore-Malaysia-Thailand. Benny Yahya Permana,
55 tahun, rekan perjalananku ini sebenarnya bukan seorang petualang. Tapi
seorang pengusaha dan pembuat tahu di Bandung . Meskipun tidak muda lagi tapi selalu
bersemangat muda. Dan dia sangat tertarik dengan kegiatan sepeda khususnya
bersepeda jarak jauh. Rasa ingin tahu, keberaniannya untuk selalu mencoba dan
mau belajar hal baru patut ditiru kaum muda. Hebatnya, demi sepeda dia mau
mengorbankan keluarga dan usahanya selama dua bulan.
| WANAKA LAKE |
Mencapai titik selatan NZ,
Untuk mencapai kota
Dunedin, sekali lagi kami harus melintasi sebuah daerah perbukitan, Mount Cargill . Mengikuti jalur lama, karena sepeda dilarang melintas pada jalur motorway, ruas jalan dari State Highway #1. Sebelumnya, kami beberapa kali harus
bersepeda naik tanjakan dan turunan curam sampai simpang tiga Waitati. Cobaan
sesungguhnya dari penjelajahan ini ternyata baru dimulai dari pertigaan itu.
Jalanan terus merayap naik, tak ada habisnya. Gigi percepatan sudah dipasang
paling rendah, tapi percuma saja. Kaki seperti tak kuat lagi mengayuh. Sebelum
akhirnya memasuki kawasan hutan pinus yang sepi, melingkar-lingkar di bukit
lalu menukik tajam sampai Dunedin .
Di Dunedin, sesaat setelah selesai makan siang, turun hujan lebat. Ketika
hujan reda, kami harus bersusah payah mendorong sepeda di atas jalan licin,
menjauhi pusat kota . Mendaki bukit sejauh 4 kilometer, menuju
tempat kami akan berkemah. Sekitar lima belas
Campervan wisatawan asal negeri Belanda memenuhi lahan berkemah dan kami
mendapat tempat di sudut. Semalaman hujan gerimis dan suhu mencapai 5 derajat
Celcius. Begitupun saat meninggalkan kota Dunedin besoknya, kami selalu diguyur
hujan. Kami berangkat kesiangan karena agak sulit berkemas dan melipat tenda
yang basah. Tujuan hari ini adalah kota kecil Milton, sekitar 60 Km. Kami tidak
tahan dengan deraan cuaca yang menimpa silih berganti. Apalagi gigiku sering
terasa linu karena tambalannya copot.
Setibanya di sebuah persimpangan jalan di Balclutha, kami belok kiri
menyusuri Southern Scenic Tourist Route . Berbeda jauh dengan keadaan rute
sebelumnya, State
Highway
#1; pada rute ini jarang kendaraan lewat. Sebenarnya rute yang kami susuri ini
lebih jauh, tapi melintasi daerah-daerah yang alamnya indah mempesona. Melewati
beberapa highway, seperti Owaka
Highway, Papatowai Highway, Tokanui-Niagara Highway, Gorge Road dan Invercargill Highway . Rute yang kami lalui adalah sbb:
Dunedin–Milton - Balclutha – Owaka –Papatowai -Tokanui – Fotrose – Invercargill
- Bluff.
| Bluff, titik paling selatan |
Tapi untuk mencapainya tidak dengan mudah, karena dari arah
Invercargill harus mengelilingi sebuah teluk dengan udara dingin dan terpaan
angin yang luar biasa kencangnya. Gerak laju sepeda hanya didorong oleh kemauan
hati dan kekuatan kaki. Di Southland, meskipun dalam musim panas (summer time) suhu udara rata-rata di
bawah 10 derajat. Kendala cuaca yang sangat ekstrim seringkali memperlambat
pergerakan kami.
Kemudian dari Bluff kami mengayuh sepeda mengarah ke Picton lagi, sambil
menyusuri sebagian dari pantai barat Southland dengan rute sebagai berikut: Bluff
– Invercargill – Winton – Lumsden – Kingston – Frankton – Wanaka – Haast – Fox
Glacier – Hokitika – Greymouth – Reefton – Inangahua – Murchison – St Arnaud – Bleinheim – Picton.
Akhir Perjalanan,
Selasa, 19 Desember
2006 merupakan hari ke-25 berada di pulau selatan atau hari ke-35 perjalanan
dari 39 hari pengembaraan di NZ. Kami meninggalkan Greymouth yang berada di
pantai barat pulau selatan. Melewati ruas jalan yang sepi dari arus lalu lintas
kendaraan berat. Melintas sebagian dari Pegunungan Alpen Selatan. Maka sudah
bisa ditebak kondisi jalannya, akan naik turun bukit di dalam cuaca yang sering
berubah-ubah. Dan sebelum mencapai Reefton Camping Ground, kami menikmati hiburan
alunan musik country yang dimainkan
beberapa penduduk lokal. Mereka berkumpul di halaman sebuah café. Pakaian, gaya mereka maupun eksterior bangunan
mengingatkan sebuah daerah pertambangan. Sebagian pemusik duduk santai di
pinggir perapian kayu bakar. Tungku pembakaran dan tandon untuk merebus air
hitam penuh jelaga. Mereka juga tidak keberatan ketika aku mengambil gambar
dari kegiatannya. Bahkan mereka mengajak kami bergabung.
Di dapur Reefton Camping Ground, kami berkenalan dengan pesepeda dari
Belgia, Australia dan Canada . Mereka masing-masing mempunyai tujuan
berbeda. Kami saling bertukar informasi, sambil aku mengamati cara mereka memasak.
Peralatan dan perlengkapan mereka jauh lebih canggih. Dibandingkan dengan
peralatanku!
Yang membuatku sedih, sewaktu di Invercargill, boncengan depan sepedaku
patah dan aku ikat saja dengan kawat. Boncengan depan tersebut kubuat pada
tahun 1997 dari bahan besi cor, dan sudah menemaniku merambah berbagai Negara.
Boncengan belakang pun sudah lebih dulu patah (sewaktu di Northland) dan sudah
aku ikat dengan tali raffia saat di Wellington . Walau pun begitu, terbukti sampai sejauh
ini tidak ada masalah.
Bukannya aku tidak mau mengganti dengan yang baru, tapi aku tidak mampu
beli. Karena harga-harga suku cadang sepeda di NZ sangat mahal buat isi
kantongku.
| Corona Range, Southern Island |
Sasaran berikutnya adalah Picton dengan harapan bisa langsung ikut
ferry penyeberangan ke Wellington . Dan tanggal 26 Desember 2006 kami melanjutkan perjalanan menuju
Auckland dengan rute sebagai berikut: Wellington – Paekakariki – Foxton –
Ororua Downs – Bulls – Taihape – Mangaweka – Waioru – Ohakune – Owhango –
Taumaranui – Te Kuiti – Otorohanga – Te Awamutu – Hamilton – Te Kauwhata – Remuera,
Auckland. Ruas jalan Wellington – Auckland yang berjarak sekitar 650 km itu ditempuh
dalam waktu sembilan hari. Kami melintasi jalan raya dengan kondisi cukup baik.
Alam berulang kali memberi bonus dan kejutan. Tidak ada kesulitan berarti
selama menempuh jalur tersebut. Kecuali cuaca yang sering berubah-ubah, hujan
panas datang silih berganti mendera kami berdua.
Rabu, 3 Januari 2007 kami tiba kembali di Auckland. Tujuan kami adalah mencari camping ground di daerah pusat kota Auckland, biar mudah mengurus tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia Ternyata camping ground yang kami cari sudah tutup dan yang lainnya sudah berubah fungsi menjadi penginapan biasa. Akhirnya, kami mendapatkan lokasi berkemah jauh di luar kota, sekitar 22 kilometer.
Jumat, 5 Januari 2007; kami bersepeda menuju diAuckland International
Airport . Lantas, sepeda kami preteli dan
mengemasinya dalam karung plastik untuk kemudian naik pesawat pulang ke
Jakarta, Indonesia via Kuala Lumpur, Malaysia . Tuntas sudah perjalanan yang tak sekedar
mengandalkan kekuatan dengkul ini. Meninggalkan berbagai kenangan manis. Dan merupakan
klimaks dari perjalanan pengembaraan yang memakan waktu selama 57 hari menempuh
jarak 3765,5 kilometer mengelilingi Aotearoa (bahasa Maori untuk New Zealand ). Jejak perjalanan di negeri Kiwi ini,
bagiku merupakan salah satu mata rantai penting dari rangkaian garis yang
kubuat mengelilingi bumi ini.
Jumat, 5 Januari 2007; kami bersepeda menuju di
PAIMO
.......................................
Disarikan dari catatan harian NEVER CRACK UNDER PRESSURE
(TRANS WAITOMO CYCLING TRIP 2006) sebuah perjalanan bersepeda
jarak jauh mengelilingi New Zealand, yang dilakukan dari tanggal 9 Nopember
2006 sampai dengan 6 Januari 2007. Yang dilakukan berdua dengan Benny Yahya Permana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar