Rabu, 04 Januari 2012

NEVER CRACK UNDER PRESSURE



BERSEPEDA MERAMBAH SOUTHERN ALPS

.......petualangan PAIMO di New Zealand 
(dimuat Majalah Cycling, Edisi 44, Mei 2008)

Awal perjalanan,
              Pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan selamat di Auckland International Airport setelah terbang selama 10 jam lebih dari Kuala Lumpur, Malaysia. Untuk keluar dari area bandara kami harus melewati beberapa kali pemeriksaan, termasuk biosecurity. Di salah satu sudut airport tersebut terdapat tempat khusus untuk merakit sepeda dan pada dindingnya terpampang sebuah peringatan, dengan huruf besar berwarna merah. Demi menjaga keselamatan pengendara, maka bersepeda di jalan raya harus menggunakan helm. Apabila tidak memakai helm akan didenda 55 $NZ. Penumpang pesawat yang membawa sepeda bisa langsung merakitnya dan mengendarai ke tempat tujuan tanpa susah payah.
Karena barang bawaan kami masih belum dikemas dalam panniers, maka kami menggunakan mobil sewaan, menuju Bamber House di daerah Mt. Eden, Auckland. Tempat menginap tersebut, kami pesan sejak sebelum berangkat dari Indonesia. Selama tiga hari berada di Auckland, waktu yang ada selain digunakan untuk aklimatisasi dan adaptasi, kami pergunakan juga untuk mencari data terbaru yang diperlukan.

Senin, 13 Nopember 2006, sekitar pk 09.39 kami meninggalkan Bamber House,  mengawali perjalanan bertajuk TRANS WAITOMO CYCLING TRIP 2006. Tidak dengan mudah kami mencari jalan alternatif menuju arah selatan. Karena ada ruas jalan dari State Highway #1 (Motorway) yang khusus untuk kendaraan bermotor, selebihnya sepeda boleh melintas di jalur bebas hambatan tersebut. Pada hari pertama, kami bersepeda sejauh 60 km sampai Pokeno. Rute kami di pulau utara adalah sbb: Auckland  (Mt Eden) – Pokeno – Matamata – Rotorua – Taupo – Te Pohue – Napier – Hasting – Waipukurau – Dannervirke – Woodville – Greyton – Featherston  – Lower Hut – Wellington. 

              Selama sepuluh hari kami berdua (aku dan Benny) bersepeda dari Auckland - Wellington, sejauh 846,9 Km. Dalam perjalanan kami selalu menghadapi cuaca yang sukar sekali untuk ditebak. Suatu hari kami bersepeda diguyur hujan gerimis terus menerus dalam suhu udara sangat rendah. Tapi lain hari kami harus melawan angin yang berhembus kencang dari depan atau harus bersepeda di bawah teriknya sinar matahari. Lintasan naik turun pegunungan sering kami lalui dengan elevasi ketinggian bervariasi dan sangat menguras tenaga.
Di daerah perbukitan terbentang luas hamparan hijau, tempat ternak merumput. Banyak kami melihat ternak sapi, biri-biri, kambing, alpaca, llama, rusa maupun menjangan. Di antaranya, binatang liar pun berkeliaran tanpa takut terusik manusia.
Di kedua sisi jalan raya dipasang pagar kawat. Bahkan kadang-kadang dialiri listrik supaya binatang tidak nyelonong ke jalan raya. Hal ini cukup menyulitkan kami untuk melakukan bush camp (berkemah di sebarang tempat asal aman dan nyaman). Oleh karena itu, target untuk bisa mencapai 100 km dalam sehari selalu tidak terpenuhi. Akhirnya, jarak tempuh disesuaikan dengan lokasi camping site yang ada di kota tujuan terdekat.
Umumnya, para penduduk yang kami temui memberi respon positif. Kecuali suatu hari kami pernah diusir seorang pemilik rumah. Ceritanya, setelah lelah mengayuh beberapa jam di bawah teriknya matahari. Kami ingin berteduh di bawah naungan pohon rindang. Jauh dari bangunan rumah yang letaknya menjorok ke dalam dan kami tidak memasuki areal halamannya (tidak membuka pintu halaman). Tidak berapa lama kemudian pemilik rumah keluar dan menyatakan keberatannya kalau kami rebahan di situ.
gambar tempel  &  logo perjalanan
Aroma Cemara Pinus,
              Matahari tepat di atas ubun-ubun. Pemandangan alam khas daerah sub tropis sangat mempesona. Barisan pohon pinus berjajar di pinggir jalan melindungi tekad dan semangat kami. Tercium aroma khas pinus yang terbawa semilirnya angin. Sepanjang jalan hutan pinus, jarang pemukiman penduduk. Ada areal tertentu yang sedang proses penebangan dan areal lain sedang dalam tahap pengolahan tanah, diaduk-aduk diambil akarnya. Konservasi alam terbina dan ekosistem terjaga dengan baik.
Aku merasakan dahsyatnya alam. Jangan bayangkan jalanan yang landai. Ruas jalan Taupo – Te Pohue, merupakan bagian terberat, karena kami harus melewati tiga buah punggungan pegunungan dengan kontur lintasan mencapai ketinggian 715 meter dpl. lalu turun sampai 400 meter dpl naik lagi 680 meter dpl turun menukik sampai 320 meter dpl berikutnya menanjak sekali lagi sampai 690 meter dpl dan selanjutnya turun sampai Te Pohue, 420 meter dpl. Bukit-bukit pinus ini seperti tak ingin membiarkan aku melupakan betapa hebatnya alam New Zealand. Jarak yang kami tempuh cuma 97,10 kilometer tapi dengan kondisi alam seperti di atas dan sepeda digelayuti beban berat, ternyata cukup melelahkan. Napasku yang ngos-ngosan mengalahkan suara deru angin. Walaupun kondisi tubuh melemah, kami tetap berupaya mencapai Te Pohue yang ada penginapannya. Gaya arsitektur hotel kecil tempat kami bermalam, eksterior maupun interiornya mengingatkan kami pada film-film cowboy. Berbeda sekali rasanya berada dalam kamar yang hangat, setelah berhari-hari berkemah di udara terbuka. Kamar tersebut semalam 40 $NZ.

Selepas Te Pohue, banyak sekali wine yard beserta pabrik pengolahan anggur maupun perkebunan buah cherry dan buah peach. Kondisi jalan menurun landai hingga Napier. Menyusuri sebagian dari rute Pacific Coast Tourist Route. Di New Zealand ada lima rute wisata yang terkenal dan pada ruas-ruas tertentu kami sudah melewatinya dengan sepeda. Rute tersebut antara lain: Alpine Pacific Triangle Tourist Route, Inland Scenic Tourist Route, Southern Scenic Tourist Route, Thermal Explorer Tourist Route, Pacific Coast Tourist Route.

Napier, berada di pantai timur Northland, di kota tersebut kami mencari restoran China yang biasanya menjual nasi. Bagi Benny sulit meninggalkan kebiasaan makan nasi, sehingga menimbulkan rasa rindu yang amat sangat kalau sudah beberapa hari tidak jumpa nasi. Dalam perjalanan sebelumnya, selain memasak dari bahan-bahan makanan yang dibawa. Untuk menghadapi keadaan darurat, kami berbekal Power Bar, juga makanan berkalori dan karbohydrat tinggi. Di samping itu, burger dan fish n chips. merupakan menu makanan yang cocok dengan selera perut dan cukup murah bagi isi kantong kami. Sekali waktu, di sebuah café kota kecil Lumsden, Southland, NZ; kami pernah makan fish n chips termahal selama perjalanan, seporsi harganya 20 $NZ (l $NZ = Rp 6050,-). Ternyata memang enak. Penyajiannya pun beda, dengan piring yang ditata apik di atas meja makan. Tidak seperti biasanya yang diwadahi sekedar kantong kertas.
artikel di Majalah Cycling, edisi #44, 2008


Camping Ground,
              Kami akhiri perjalanan hari itu di kota Hasting, 22 Km sebelah selatan dari Napier. Seperti biasanya, ketika memasuki sebuah kota, kami langsung mampir di Information Centre untuk mendapatkan beberapa info yang kami inginkan termasuk letak camping site. Bumi perkemahan Holiday Park Top Ten, terletak agak di pinggir kota Hasting. Untuk dua buah tenda kami harus bayar 26 $NZ. Kami mendirikan kedua tenda dekat sebuah sungai yang airnya sangat jernih, tampak ikan-ikan berseliweran dan banyak belibis maupun angsa liar yang berenang-renang. Di kanan kiri sungai, terdapat pohon weeping willow yang daunnya menjurai ke bawah, menyentuh permukaan air.
Sebelum kami bergelung di dalam sleeping bag masing-masing, kami menyantap nasi goreng yang sebelumnya di beli dari sebuah restoran China. Tapi sayang, Benny kurang cocok dengan olahan nasinya, lalu dibuanglah nasi goreng tersebut. Menjelang malam suhu udara mencapai 17 derajat Celcius. Angin bertiup kencang sekali, dahan dan ranting berderak saling beradu. Kami di dalam tenda ketakutan kalau-kalau ada dahan atau ranting yang patah lalu menimpa kami.

Di New Zealand, jaringan Holiday Park Top Ten mudah ditemukan karena merupakan yang terbesar dan mempunyai reputasi bagus (fasilitas dan layanan yang baik).  Wilayah cakupan camping ground sangat luas, ada motel, cabin, caravan site, camping site, kolam renang, play ground, loundry, kitchen, ruang tv, kedai makanan, kios cinderamata, bangsal kamar mandi dll.
Sampai di pelosok New Zealand, umumnya selalu terdapat bumi perkemahan dengan fasilitas yang cukup memadai dan dikelola dengan baik. Lingkungan bersih dan kondisi peralatan dapur maupun perabotan lainnya (seperti mesin cuci, lemari es, televisi dll) cukup terawat dengan baik. Maksudnya, kamar mandi dan dapur itu tidak ada petugasnya yang berjaga. Jadi pendatang yang diharapkan bisa merawat dan menjaga semua perabotan dan peralatan. Telah menjadi kebiasaan tak tertulis, siapapun pengguna peralatan dapur, sesudahnya harus mencuci dan membersihkan lagi untuk orang berikutnya. Tidak terbayangkan bila hal itu ada di Indonesia, mungkin sudah hilang semua perabotannya karena rasa memiliki yang besar.

Di kesempatan lainnya, kami singgah di Cameron Flat Camping Ground. Merupakan sebuah lahan perkemahan di kawasan Mount Aspiring National Park. Jauh dari pemukiman dan terletak di tengah hutan belantara. Bisa dibayangkan suasana malam harinya, sungguh menakjubkan karena suara binatang malam bersahutan – sebuah harmonisasi alam yang indah. Tidak ada penjaga, tetapi seluruh prosedur penggunaan fasilitas dan sistem pembayaran tertera pada sebuah papan, termasuk jenis flora fauna yang terdapat di sekitar lahan tersebut. Tempat pemanggangan, kamar kecil, instalasi air bersih tersedia dan terawat baik. Kertas tisu di ruang WC pun bisa didapat dengan mudah dari sebuah boks.

Dua hari berikutnya, kami sampai di Woodville (Senin, 20 Nopember 2006), cuaca cerah dan kami bersepeda melawan angin yang menerpa wajah tak kenal ampun. Terasa berat sekali, sering kami terhuyung-huyung. Dan Benny sempat sekali terjatuh dihempaskan angin. Dan kami menyebut Hari Angin, sedangkan sehari sebelumnya kami namai Hari Kelinci karena banyak kelinci liar berloncatan di antara semak-semak di sisi jalan raya, lalu mengintip malu di mulut liangnya. Di jalanan banyak bangkai kelinci, tertabrak sewaktu berusaha menyeberang.
Woodville ternyata kota kecil yang berada di sebuah lembah. Dan di pegunungan yang mengapitnya tampak ratusan kincir angin mirip yang pernah aku lihat di Hongaria. Woodville Camping Ground, terletak di halaman belakang sebuah gedung serba guna milik pemerintah setempat. Sebenarnya gratis, cuma kalau menggunakan WC dan Shower harus membayar 10 $NZ dan kuncinya bisa diambil dari petrol station kota tersebut. Mendung tebal bergelayut rendah dan angin bertiup kencang. Saat aku mencari sebongkah batu pemukul pasak, tendaku diterbangkan angin. Benny terkekeh melihatku berlarian mengejar tenda dome yang berguling-guling.
Keesokan harinya, jalanan menanjak terus sampai pada ketinggian 376 meter dpl (Bruce Summit) lalu turun lagi sampai Masterton. Seperti pada kota-kota yang lainnya juga di Masterton kami melihat ada area bermain khusus untuk anak-anak, Kid Play Group, dan ada lahan yang menyerupai kolam untuk bermain skate board atau ramp untuk bermain sepeda BMX.

Melintasi Rimutaka,
              Selepas Featherton (+35 meter dpl), jalanan mulai merayap naik, melipir dinding terjal sebuah lembah. Tanjakan memang tidak tajam, tapi sangat panjang tak berujung. Tak sampai setengah jam, napasku terengah-engah, paru-paru terasa seperti terbakar. Kendaraan jarang melewati lintasan alternatif ini, karena jalanan meliuk-liuk daerah perbukitan dan melintasi Pegunungan Rimutaka. Setibanya di Rimutaka Summit (ketinggian +576 meter dpl), kami mengganti kaos dan menjemur yang basah kena keringat serta memakai jaket. Ada sebuah rumah makan bertengger di puncaknya. Dan angin lembah bertiup sangat kencang, menderu dan bergaung di antara lembah-lembahnya. Sejauh-jauhnya mata memandang, pada lembahnya yang landai tampaklah jalan berkelok-kelok, menjauh dan kemudian lenyap di kaki cakrawala.

Long n Winding Road
Lantas, jalanan turun menukik di sela-sela jurang yang menganga lebar. Jalan aspal di depanku kosong, lengang tanpa lalu lalang kendaraan. Hanya angin lembah yang melintas. Tikungan-tikungan tajam membuatku was-was, takut terjungkal masuk jurang. Jari jemari mengengkeram kuat setang sepeda dan lengan meregang menahan getaran. Menurun terus sampai Pakuratahi, dimana kami lalu istirahat sebentar melepas jaket. Akhirnya, tak sampai satu jam kemudian, kami memasuki State Highway #2 yang padat lalu lintasnya, mengarah ke Wellington. Macam rusa masuk kampung, kami kebingungan menghadapi lajur jalan yang banyak dengan arus kendaraan melaju kencang. Dan, kami merasa terselamatkan adanya jalur khusus sepeda sampai Wellington City Centre.

Suatu saat kami dihadapkan jalan yang sangat curam sewaktu mencari daerah Kelburn, salah satu Suburb dari Welllington. Aku tidak kuat menuntut sepedaku, dibantu Benny kami mendorong sepeda yang sarat beban tersebut sampai ujung tanjakan. Ada beberapa orang yang tersenyum-senyum melihat tingkah kami berdua. Bicara masalah jalan curam, ada sepenggal jalan di kota Dunedin, kemiringannya mendekati sudut 6o derajat. Dan tercatat dalam rekor dunia sebagai The Steepest Street on the World.

Di kota Wellington singgah di KBRI dan disambut baik oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI, Bapak Amris Hasan beserta seluruh staf-nya. Selama dua hari kami berada di lingkungan KBRI. Setelah itu, Sabtu tanggal 25 Nopember 2006 kami melanjutkan perjalanaan ke pulau selatan. Menumpang ferry penyeberangan ke Picton, seorang 75 $NZ, termasuk sepeda. Di pelabuhan, kami harus mengantri mendapatkan boarding pass.  Sesudah semua kendaraan besar masuk perut ferry, barulah sepeda masuk melalui jalan mobil. Sepeda dan sepeda motor ditempatkan berdekatan dengan kandang-kandang binatang, di dek 3. Anjing, kucing dan binatang peliharaan lainnya dilarang masuk kabin penumpang., di dek 10.

Semua penumpang menikmati panorama alam yang menawan dari dek paling atas, sambil dibelai sejuknya udara pagi. Lepas dari dermaga Wellington, ferry menjauhi sebuah teluk. Di teluk itulah tampak berjajar ratusan yacht, yang tiang-tiangnya menjulang tinggi, menunjuk langit biru. Berpagar gedung-gedung pencakar langit. Cuaca cerah dan ferry bergerak tanpa terasa, menyusuri birunya Selat Cook lalu melintas di antara pulau-pulau kecil.

Setelah tiga jam berlayar, ferry tersebut pada pk 11.30 merapat di dermaga Picton. Cuaca cenderung panas menyengat, hawa terasa gerah. Sebelum meneruskan perjalanan menuju Bleinheim, aku melepas celana panjang dan jaket di luar pelabuhan. Benny tidak mau mengganti celananya, tanggung katanya. Sebab jarak Picton-Bleinheim cuma 27 Km. Saat mengayuh sepeda pada tanjakan landai ada sebuah truk kontener mendahului. Angin turbulen dari truk tersebut membuat Benny terkejut. Sial baginya, celana panjangnya terkait crank. Keseimbangannya hilang ia lalu jatuh tersungkur. Dengkulnya luka berdarah, untung saja celana tidak robek.

Rute perjalanan keliling Southland, NZ adalah sbb: Picton – Bleinheim – Keikoura – Christchurch – Dunedin – Milton – Balclutha – Owaka – Papatowai – Takanui –Fortrose - Bluff – Invercargill – Winton – Lumsden – Kingston – Frankton – Wanaka – Haast – Fox Glacier – Hokitika – Greymouth – Reefton – Inangahua – Murchison  – St Arnaud – Bleinheim – Picton.

Terperangah,
              Sejumlah jalan yang kami lewati, melintasi daerah pantai tidak selalu datar, tapi sering berupa wilayah perbukitan. Kondisi seperti ini otomatis ikut menghambat kami dalam mengayuh sepeda. Beberapa kali berhenti di pinggir pantai, sekedar menikmati pemandangan alam dan memunguti Pauia (kulit kerang) yang menjadi bahan cinderamata khas NZ. Kulit kerang ini setelah digosok akan menampilkan sebuah keindahan dengan munculnya warna-warna pelangi yang berkilauan.

Saat sedang asyik mengayuh sepeda. Tiga puluh kilometer sebelum mencapai Kaikoura. Aku dikejutkan dengan adanya seekor singa laut besar yang sedang berjemur di atas rerumputan, di sisi jalan. Hanya dipisahkan pagar pembatas jalan, tidak lebih dari tiga meter. Aku terperangah saat melihat sekelilingnya, ......ya ampun!, temannya banyak sekali. Koloni singa laut tersebut, ada yang di atas bebatuan pantai, tidur bermalasan, berenang-renang dan ada pula yang becanda berguling-guling dengan sesamanya sambil mengeluarkan suara khas.
Baru kali ini, aku melihat singa laut dalam jumlah yang sangat banyak, hidup di habitat asli. Mereka tidak terganggu kendaraan yang berseliweran. Memang kendaraan dilarang berhenti di sebarang tempat. Anehnya, hanya ada beberapa ekor saja di sekitar rest area, di mana mobil bisa berhenti (parkir) dan menjadi tempat pengamatan singa laut. Mungkin hal itu sengaja dilakukan guna menjaga kelestarian alam agar ekosistem terpelihara dengan baik. Tak sampai setengah jam mengayuh, terdengar jeritan burung-burung, di sisi jalan. Ada ribuan burung sejenis camar. Sarang-sarang yang jumlahnya tak terhitung berserakan di atas batuan pantai. Ketika kami lewat, burung-burung tersebut berhamburan terbang sambil mencericit bising. Tapi ada juga kawanan burung yang tetap di sarang mendekap anaknya yang masih berbulu. Dan ada juga yang sedang mengerami telornya atau sekedar mengepak-ngepakkan sayapnya. Sebuah atraksi alam yang memukau.
burung bebas membuat sarangnya
Dan banyak lagi binatang liar lainnya, yang kami jumpai dalam perjalanan. Itulah sebabnya kenapa aku senang sekali menikmati keindahan alam jagat raya ini dengan sepeda. Selain bisa menjelajah sampai pelosok, berkelana dengan sepeda bisa berinteraksi langsung dengan yang apa dilewati maupun dikunjungi. Mencium aroma khas pinus, merasakan sengatan matahari dan dinginnya udara, melihat berbagai keindahan alam, mencicipi menu makanan lokal, mendengar siulan burung-burung setiap pagi. Di sepanjang perjalanan, pemandangan alam terasa tidak pernah membosankan. Terkadang hal-hal tersebut malah menimbulkan rasa kerinduan bahkan ketagihan.
Sebuah hamparan rumput hijau yang luas melapis permukaan daerah perbukitan. Berlatar belakang langit biru. Dan nun jauh di bawah horizon, tampak bintik-bintik putih, beberapa biri-biri terpanggang terik matahari. Memberikan aksen dari sebuah keharmonisan alam. Sebuah interaksi antara manusia dengan alam semesta tanpa batas. Inikah yang disebut surga? Aku bertanya dalam hati.

Dan sungguh, neraka pun belum pernah kulihat, tapi memang jauh berbeda bila dibandingkan dengan perjalananku sebelumnya di Amerika Latin. Saat merambah Andean Altiplano, Pegunungan Andes. Dan melintasi Atacama Desert, sebuah padang gurun kering kerontang, gersang dan tanpa kehidupan. Aku didera cuaca ekstrim, rasa dingin dan lapar berkesinambungan. Seakan ingin meluluh-lantakan seluruh persendian kehidupanku. Tapi itulah seni dari petualangan sesungguhnya. Menghargai kehidupan. Hidup yang merdeka!

Local Musician
New Zealand merupakan surga bagi petualang. Sepanjang perjalanan selalu ditemukan keindahan alam atau hal-hal lain yang selalu merangsang adrenalin. Tidak terpaku pada suatu tempat tujuan wisata. Segala macam kegiatan yang ada hubungannya dengan outdoor activity dan petualangan tersedia. Banyak cara untuk bisa berkelana dan menikmati keindahan alam NZ. Misalnya dengan naik bis, sepeda, hitch hiking (menumpang), sepeda motor besar, kereta api, caravan ataupun campervan. Belakangan ini, campervan banyak digemari wisatawan karena lebih praktis daripada caravan. Bedanya, caravan harus ditarik dengan kendaraan lain, sedangkan campervan hanya berupa sebuah kendaraan yang dirancang lengkap dengan segala perlengkapan berkemah. Campervan ini bisa disewa, demikian juga sepeda.

Lengkap fasilitas buat bersepeda,
              Selama perjalanan di daerah Pulau Utara (Te Ika a Maui - bahasa Maori), jarang sekali kami berjumpa dengan pesepeda jarak jauh. Berbeda sekali ketika kami berada di Pulau Selatan (Te Wai Pounamu), banyak sekali pesepeda menjalani trayek yang jauh. Sepeda menjadi salah satu sarana transportasi yang disukai para wisatawan maupun penduduk lokal. Segala fasilitas penunjang untuk kegiatan bersepeda telah disediakan secara resmi oleh Pemerintah NZ sampai ke pelosok. Misalnya, rambu-rambu khusus sepeda, jalur sepeda, peta, rute perjalanan, area parkir sepeda, dan buku panduan wisata bersepeda yang sangat lengkap. Bahkan perlengkapan pakaian bersepeda untuk musim dingin pun tersedia.

Sewaktu bersepeda pun kami merasa aman dan nyaman, kendati arus lalu lintas sedang ramai. Pengguna jalan lainnya patut dipuji, sangat menghargai orang bersepeda. Mereka berkendara pada jalurnya masing-masing, sangat teratur, tertib dan taat pada hukum yang berlaku. Bersepeda, tanpa memakai helm, akan didenda 55 $NZ (1$NZ = Rp6050,-). Fasilitas bersepeda ada kemiripannya dengan di daerah Eropa. Oleh karena itu, banyak sekali pesepeda yang berasal dari daratan Eropa. Mereka menghindari musim dingin di Eropa, lalu bergiat di NZ yang sedang mengalami musim panas.
Never crack under pressure
Lima hari setelah meninggalkan Picton, kami tiba di kota Christchurch. Kami berdua mencapai kota tersebut sekitar pk.12.30 waktu setempat. Dan ditampung keluarga Bapak Lilik Abdul Hamid, warga Indonesia yang bekerja untuk Air New Zealand. Sempat pula kami diajak berkeliling kota sebelum keesokan harinya melanjutkan perjalanan.
Pada pagi hari sebelum memasuki kota Christchurch, sepeda kami kayuh dari kota kecil Waipara yang terkenal wine yard-nya. Bagai orang kesetanan, selama kurang lebih dua jam kami kebut-kebutan di jalan mendatar. Melintas kawasan perkebunan anggur sejauh 56 kilometer. Padahal, sehari sebelumnya kami berdua bersepeda naik turun menyusuri daerah perbukitan. Terhuyung-huyung diterpa angin yang sangat kencang membuyarkan konsentrasi. Berulang kali truk trailer lewat menyisakan angin pusar. Supaya tidak tergilas, aku cengkeram kuat-kuat setang sepeda, selalu menjaga keseimbangan dan waspada. Sesudahnya tangan terasa pegal-pegal.
Sempat pula kami dihentikan tiba-tiba oleh hujan lebat. Memaksa kami berteduh dan berkemah di bangsal penimbunan jerami di pinggir jalan.  Malamnya suhu turun drastis sampai 2 derajat Celcius. Cuaca benar-benar sukar diprediksi.

              Kamis, 30 Nopember 2006 cuaca buruk sekali dari pagi sudah hujan dan kabut tebal mengepung rumah. Rasanya malas bangun dari tempat tidur dan keluar dari kamar yang hangat. Akhirnya, kami nekad menembus hujan meninggalkan Christchurch. Supaya tidak banyak waktu terbuang percuma. Sejak awal, memang kami berdua sudah sepakat untuk tetap bersepeda dalam cuaca apapun. Sialnya, di batas kota, untuk pertama kalinya banku bocor setelah menempuh lebih dari seribu kilometer. Repot sekali mendorong sepeda sarat beban, sambil mencari tempat berteduh dari guyuran hujan.

Sepeda kugenjot lagi dan sampai di Rosselton langsung mencari WC umum. Sekedar menghangatkan tubuh di mesin pengering otomatis. Seluruh pakaian dalam lembab. Jari jemari tangan dan kaki sudah keriput tidak kuat menahan dingin. Akhirnya, kaos kaki dan sarung tangan aku rangkap dengan kantong plastik pembungkus roti, supaya kedap air. Mungkin konyol, tapi dari dulu hal ini terbukti paling efektif. Apalagi aku tidak punya sarung tangan kedap air. Lalu kami berteduh di bawah teritis emperan sebuah toko. Membuat secangkir coklat panas dan makan nasi bungkus yang dibekali Ibu Lilik.
Sebenarnya, kami berdua sudah tidak tahan lagi menahan terpaan hujan badai yang cukup dahsyat. Dan curah air hujan yang dingin, bagai jarum mencucuk wajah. Ditambah lagi pandangan menjadi kabur karena semburat air dari kendaraan yang melaju kencang. Setiap memasuki kota kecil kami celingukan mencari camping ground, tapi percuma juga mendirikan tenda di atas lahan basah. Pelan-pelan kami mengayuh, jari jemari sudah sulit digerakkan dan kaki mulai terasa kebas kedinginan. Hujan mereda tapi suhu udara tetap rendah, dingin dan angin masih berhembus kencang.

Sesudah melintasi jembatan Rakaia River yang lebarnya 2,2 Km, kami dapati Rakaia Holiday Park. Tenda kami dirikan dekat sebuah caravan kosong di bawah naungan pohon pinus. Mentari sebentar saja mengintip dari celah-celah mendung setelah itu menghilang lagi dan hujan gerimis sepanjang hari. Malam harinya suhu udara mencapai 8 derajat, tubuh kedinginan karena seharian kehujanan. Dan memaksaku menggunakan jaket sebelum masuk ke dalam sleeping bag.
Besok paginya, aku dibangunkan kicauan merdu burung Tui yang bertengger tidak jauh dari kami berkemah. Tui nama burung yang besaran dan bentuknya mirip burung jalak, tubuhnya hitam dan paruhnya kuning. Sangat populer di NZ dan dijadikan logo sebuah perusahaan bir.

              Di Timaru, Benny membeli seat post (tiang sadel) seharga 30 $ NZ di sebuah toko sepeda, menggantikan yang lama karena retak di bagian ujungnya. Sementara itu, aku mengunjungi charity house, toko yang menjual pakaian bekas. Lumayan, aku mendapatkan thermal wear, dengan harga murah. Charity house dan toko yang menjual barang-barang antik, biasanya selalu ada di setiap kota.  Dalam proses pengumpulan dan penimbunan pakaian bekas dari penduduk lokal, disediakan kotak khusus. Di setiap kota biasanya ada beberapa kotak besar mirip kotak sampah. Dan jenis maupun macam pakaiannya sudah dipilah-pilah sesuai kotak tersebut. Uang hasil penjualan pakaian bekas dipakai untuk amal.

Sebelum memasuki kota Oamaru, aku sempat istirahat dan mengambil foto di pal 45 derajat titik/garis pertengahan antara Kutub Selatan dan Equator. Ketika berada di areal perkemahan Oamaru, ada rombongan pesepeda datang naik bis. Dan bisnya menarik gandengan yang penuh sepeda (Flying Kiwi). Mereka ikut trip dari sebuah tour operator yang menangani kegiatan bersepeda antar kota. Karena kebetulan hari Sabtu, kendaraan pribadi, dan campervan memenuhi camping ground tersebut. Lahan yang tersisa untuk kami berkemah, letaknya di bawah pohon tidak jauh dari dapur dan kamar mandi. Sepanjang malam turun hujan.  

Rekan seperjalanan,
              Keesokan harinya, gerimis dan udara sangat dingin. Kami meninggalkan Oamaru pelan-pelan karena harus melewati beberapa tanjakan. Begitu hari merangkak siang, cuaca berangsur cerah. Tapi tetap dingin berangin. Sewaktu istirahat di Herbert lewat seorang pengendara sepeda dengan bagasi tarik (trailer). Phillip C Killen, seorang misionaris NZ yang sudah lima tahun bersepeda keliling negerinya untuk mewartakan kebaikan. Setelah berbasa-basi, ia mendahului kami berdua dan menjelang sore kami berjumpa lagi dengannya saat mencari lahan berkemah di kota kecil Waikouaiti. Kami bertiga makan malam bersama di dapur camping ground, setelah sebelumnya Killen memasak kerang hijau yang diberi pengelelola lahan tersebut. Dan perlakuan semacam ini tidak hanya sekali kami alami. Pada umumnya, mereka sangat menghargai dan jauh lebih apresiatif terhadap apa yang kami lakukan. Menu makanan yang dimasak Killen, bagiku sangat enak dan cocok dengan selera. Tapi Benny lebih memilih masak mi instan dan telor.    

Aku ingat sesaat sebelum memasuki kota ini sore tadi. Benny, berkejaran dengan pesepeda lokal di sebuah tanjakan. Ketika dia berhasil mendahuluinya dan lebih dahulu mencapai titik tertinggi, dia berteriak kegirangan senang: “.....aku lulus, lulus kumlaud!”. Ada kejadian lain yang tak kalah lucunya, sewaktu akan meninggalkan lahan  perkemahan Milton. Aku pamitan pura-pura akan meninggalkannya, padahal kutunggu dia di seberang lapangan, sambil mengamatinya berkemas. Benny, kelihatan sangat terburu-buru dan saat akan mengembalikan kunci dapur ke petugas dia tidak melihat adanya bentangan tali jemuran. Lehernya tersangkut dan mental jatuh, aku tak bisa menahan ketawa melihat tingkah lakunya yang mirip Mr Bean di televisi.  Saat bergabung aku diamkan saja tidak menyinggung masalah tersebut dengan harapan dia akan bercerita. Lama kelamaan aku tidak tahan, aku lalu cerita tentang Mr.Bean yang terjerat tali jemuran. Dia merasa dan kami akhirnya tertawa terpingkal-pingkal. Atau ketika akan melintasi Pegunungan Rimutaka yang sangat terjal. Benny gelisah terus menerus, sudah terpengaruh saran orang lain untuk naik kereta api. Karena sangat berbahaya bagi yang belum terbiasa. Jadinya, kuhibur dan kudorong semangatnya untuk tetap bersepeda dan bertahan dalam kondisi apapun. Sesaat setelah pegunungan tersebut telintasi, ternyata ada rasa bangga terbersit di wajahnya. Memang banyak hal-hal menggelikan kami alami bersama selama perjalanan, yang malah memicu semangat dan kekompakan.

Sebelumnya, kami berdua pernah berkelana di Semenanjung Malaysia pada tahun 2003. Bersepeda menyusuri jalan-jalan yang menghubungkan Singapore-Malaysia-Thailand. Benny Yahya Permana, 55 tahun, rekan perjalananku ini sebenarnya bukan seorang petualang. Tapi seorang pengusaha dan pembuat tahu di Bandung. Meskipun tidak muda lagi tapi selalu bersemangat muda. Dan dia sangat tertarik dengan kegiatan sepeda khususnya bersepeda jarak jauh. Rasa ingin tahu, keberaniannya untuk selalu mencoba dan mau belajar hal baru patut ditiru kaum muda. Hebatnya, demi sepeda dia mau mengorbankan keluarga dan usahanya selama dua bulan.
WANAKA LAKE
Kendatipun mampu dalam hal finansial, sejak awal perjalanan, dia berhasrat melaksanakan  kegiatan di NZ, dengan cara mengembara, menggelandang dari satu titik ke titik berikutnya. Semula, Benny berencana naik sepeda hanya sampai Invercargill, kota di bagian selatan Southland dan kembali lagi ke Auckland dengan pesawat lalu pulang ke Indonesia. Meninggalkanku sendirian bertualang di negeri Kiwi tersebut. Tapi akhirnya, bersedia berkeliling habis seluruh New Zealand. Benny telah banyak berkorban demi terealisasinya mimpi mengelilingi NZ dengan sepeda, aku sangat berterima kasih untuk semuanya!.

Mencapai titik selatan NZ,
              Untuk mencapai kota Dunedin, sekali lagi kami harus melintasi sebuah daerah perbukitan, Mount Cargill. Mengikuti jalur lama, karena sepeda dilarang melintas pada jalur motorway, ruas jalan dari State Highway #1. Sebelumnya, kami beberapa kali harus bersepeda naik tanjakan dan turunan curam sampai simpang tiga Waitati. Cobaan sesungguhnya dari penjelajahan ini ternyata baru dimulai dari pertigaan itu. Jalanan terus merayap naik, tak ada habisnya. Gigi percepatan sudah dipasang paling rendah, tapi percuma saja. Kaki seperti tak kuat lagi mengayuh. Sebelum akhirnya memasuki kawasan hutan pinus yang sepi, melingkar-lingkar di bukit lalu menukik tajam sampai Dunedin.

Di Dunedin, sesaat setelah selesai makan siang, turun hujan lebat. Ketika hujan reda, kami harus bersusah payah mendorong sepeda di atas jalan licin, menjauhi pusat kota. Mendaki bukit sejauh 4 kilometer, menuju tempat kami akan berkemah. Sekitar lima belas Campervan wisatawan asal negeri Belanda memenuhi lahan berkemah dan kami mendapat tempat di sudut. Semalaman hujan gerimis dan suhu mencapai 5 derajat Celcius. Begitupun saat meninggalkan kota Dunedin besoknya, kami selalu diguyur hujan. Kami berangkat kesiangan karena agak sulit berkemas dan melipat tenda yang basah. Tujuan hari ini adalah kota kecil Milton, sekitar 60 Km. Kami tidak tahan dengan deraan cuaca yang menimpa silih berganti. Apalagi gigiku sering terasa linu karena tambalannya copot.

Setibanya di sebuah persimpangan jalan di Balclutha, kami belok kiri menyusuri Southern Scenic Tourist Route. Berbeda jauh dengan keadaan rute sebelumnya, State Highway #1; pada rute ini jarang kendaraan lewat. Sebenarnya rute yang kami susuri ini lebih jauh, tapi melintasi daerah-daerah yang alamnya indah mempesona. Melewati beberapa highway, seperti Owaka Highway, Papatowai Highway, Tokanui-Niagara Highway, Gorge Road dan Invercargill Highway. Rute yang kami lalui adalah sbb: Dunedin–Milton - Balclutha – Owaka –Papatowai -Tokanui – Fotrose – Invercargill - Bluff.

Bluff, titik paling selatan
Beberapa waktu kemudian, kami pun tiba di Bluff (Motupohue). Setelah menempuh jarak 1863 km, bersepeda selama 24 hari dari Auckland di Northland atau 14 hari bersepeda dari kota pelabuhan Picton di bagian utara Southland. Kota kecil Bluff, berada di sebuah jasirah yang menjorok ke tengah laut (Selat Foveaux). Unik, karena menjadi kota paling selatan dari NZ dan sebagai titik awal dari State Highway #1 dari negeri Kiwi ini.
Tapi untuk mencapainya tidak dengan mudah, karena dari arah Invercargill harus mengelilingi sebuah teluk dengan udara dingin dan terpaan angin yang luar biasa kencangnya. Gerak laju sepeda hanya didorong oleh kemauan hati dan kekuatan kaki. Di Southland, meskipun dalam musim panas (summer time) suhu udara rata-rata di bawah 10 derajat. Kendala cuaca yang sangat ekstrim seringkali memperlambat pergerakan kami.

Kemudian dari Bluff kami mengayuh sepeda mengarah ke Picton lagi, sambil menyusuri sebagian dari pantai barat Southland dengan rute sebagai berikut: Bluff – Invercargill – Winton – Lumsden – Kingston – Frankton – Wanaka – Haast – Fox Glacier – Hokitika – Greymouth – Reefton – Inangahua – Murchison  – St Arnaud – Bleinheim – Picton.

Akhir Perjalanan,
              Selasa, 19 Desember 2006 merupakan hari ke-25 berada di pulau selatan atau hari ke-35 perjalanan dari 39 hari pengembaraan di NZ. Kami meninggalkan Greymouth yang berada di pantai barat pulau selatan. Melewati ruas jalan yang sepi dari arus lalu lintas kendaraan berat. Melintas sebagian dari Pegunungan Alpen Selatan. Maka sudah bisa ditebak kondisi jalannya, akan naik turun bukit di dalam cuaca yang sering berubah-ubah. Dan sebelum mencapai Reefton Camping Ground, kami menikmati hiburan alunan musik country yang dimainkan beberapa penduduk lokal. Mereka berkumpul di halaman sebuah café. Pakaian, gaya mereka maupun eksterior bangunan mengingatkan sebuah daerah pertambangan. Sebagian pemusik duduk santai di pinggir perapian kayu bakar. Tungku pembakaran dan tandon untuk merebus air hitam penuh jelaga. Mereka juga tidak keberatan ketika aku mengambil gambar dari kegiatannya. Bahkan mereka mengajak kami bergabung.

Di dapur Reefton Camping Ground, kami berkenalan dengan pesepeda dari Belgia, Australia dan Canada. Mereka masing-masing mempunyai tujuan berbeda. Kami saling bertukar informasi, sambil aku mengamati cara mereka memasak. Peralatan dan perlengkapan mereka jauh lebih canggih. Dibandingkan dengan peralatanku!
Yang membuatku sedih, sewaktu di Invercargill, boncengan depan sepedaku patah dan aku ikat saja dengan kawat. Boncengan depan tersebut kubuat pada tahun 1997 dari bahan besi cor, dan sudah menemaniku merambah berbagai Negara. Boncengan belakang pun sudah lebih dulu patah (sewaktu di Northland) dan sudah aku ikat dengan tali raffia saat di Wellington. Walau pun begitu, terbukti sampai sejauh ini tidak ada masalah.
Bukannya aku tidak mau mengganti dengan yang baru, tapi aku tidak mampu beli. Karena harga-harga suku cadang sepeda di NZ sangat mahal buat isi kantongku.

Corona Range, Southern Island
Memang, aku sadar sepenuhnya bahwa sepedaku yang berbahan chromoly sudah tidak layak lagi dipakai jarak jauh. Sepedaku diberi oleh sebuah produsen sepeda – kini telah gulung tikar – pada tahun 1995, menjelang perjalananku bersepeda melintasi Benua Australia. Tapi mau pakai sepeda mana lagi? Namun, aku tidak pernah berkecil hati; sejengkal pun aku tidak pernah surut. Dengan peralatan seadanya, uang secukupnya serta kemauan. Ternyata, sepeda tersebut telah mampu menempuh jarak lebih dari 20 000 km, merambah ribuan kilometer Gurun Atacama di Amerika Latin, melintasi Pegunungan Alpen, Balkan Mountain,  Pegunungan Andes, Menyeberangi danau garam Salar de Uyuni, Pegunungan Southern Alps dll.  

Sasaran berikutnya adalah Picton dengan harapan bisa langsung ikut ferry penyeberangan ke Wellington. Dan tanggal 26 Desember 2006 kami melanjutkan perjalanan menuju Auckland dengan rute sebagai berikut: Wellington – Paekakariki – Foxton – Ororua Downs – Bulls – Taihape – Mangaweka – Waioru – Ohakune – Owhango – Taumaranui – Te Kuiti – Otorohanga – Te Awamutu – Hamilton – Te Kauwhata – Remuera, Auckland. Ruas jalan WellingtonAuckland yang berjarak sekitar 650 km itu ditempuh dalam waktu sembilan hari. Kami melintasi jalan raya dengan kondisi cukup baik. Alam berulang kali memberi bonus dan kejutan. Tidak ada kesulitan berarti selama menempuh jalur tersebut. Kecuali cuaca yang sering berubah-ubah, hujan panas datang silih berganti mendera kami berdua.

jalanan pun mengeluarkan asap hehehe....




paimo dan benny  



Rabu, 3 Januari 2007 kami tiba kembali di Auckland. Tujuan kami adalah mencari camping ground di daerah pusat kota Auckland, biar mudah mengurus tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia Ternyata camping ground yang kami cari sudah tutup dan yang lainnya sudah berubah fungsi menjadi penginapan biasa. Akhirnya, kami mendapatkan lokasi berkemah jauh di luar kota, sekitar 22 kilometer.


Jumat, 5 Januari 2007; kami bersepeda menuju di Auckland International Airport. Lantas, sepeda kami preteli dan mengemasinya dalam karung plastik untuk kemudian naik pesawat pulang ke Jakarta, Indonesia via Kuala Lumpur, Malaysia. Tuntas sudah perjalanan yang tak sekedar mengandalkan kekuatan dengkul ini. Meninggalkan berbagai kenangan manis. Dan merupakan klimaks dari perjalanan pengembaraan yang memakan waktu selama 57 hari menempuh jarak 3765,5 kilometer mengelilingi Aotearoa (bahasa Maori untuk New Zealand). Jejak perjalanan di negeri Kiwi ini, bagiku merupakan salah satu mata rantai penting dari rangkaian garis yang kubuat mengelilingi bumi ini.

Bandung, Januari 2008
PAIMO

.......................................




Disarikan dari catatan harian NEVER CRACK UNDER PRESSURE
(TRANS WAITOMO CYCLING TRIP 2006) sebuah perjalanan bersepeda jarak jauh mengelilingi New Zealand, yang dilakukan dari tanggal 9 Nopember 2006 sampai dengan 6 Januari 2007. Yang dilakukan berdua dengan Benny Yahya Permana






                                               
                                                                             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar