Rabu, 04 Januari 2012

TRANS PENINSULA CYCLING TRIP 2003


SEBULAN MENYUSURI SEMENANJUNG MALAYSIA dengan SEPEDA

(pernah dimuat secara bersambung di Harian Umum PIKIRAN RAKYAT, Agustus 2003 dst.)

Awal Perjalanan,
              Sesaat setelah feri Batam – Singapura merapat di dermaga Pelabuhan Singapura, kami berdua sibuk menurunkan dua buah kotak berisi sepeda dan perlengkapan kami. Tidak ada kesulitan dengan pabean bahkan kuli angkut yang membantu dan memindahkan barang ke terminal penumpang, menolak pembayaran dari kami. Karena hari sudah sore kami putuskan untuk bermalam di Singapura.

Keesokan harinya, Kamis, 5 Juni 2003  setelah semua perlengkapan terpasang pada sepeda, kami mulai mengayuh sepeda menuju perbatasan Singapura – Malaysia. Menyusuri jalanan utama kota Singapura bukanlah suatu hal yang mudah, jarang orang bersepeda di tengah kota. Walaupun kami bersepeda di tepi jalur lambat, ternyata masih miris juga bila ada bis kota yang merapat dan mendahului, takut terserempet atau tersenggol karena kami masih harus menyelaraskan keseimbangan bersepeda dengan beban yang kami bawa; apalagi sering berhenti untuk melihat peta supaya tidak tersasar.

Memasuki jembatan perbatasan kedua negara tersebut, kami bersepeda searah dengan ribuan pengendara sepeda motor berkecepatan tinggi dengan suara deru mesin yang memekakkan telinga. Sebab bila akan memasuki pos imigrasi kedua Negara tersebut, jalur kendaraan roda empat atau lebih berbeda jauh jaraknya dengan jalur kendaraan roda dua. Mereka adalah warga Malaysia yang hendak pulang dari tempat kerjanya di Singapura. Tidak lebih dari lima menit mereka mengurus keimigrasian di pos, berbeda dengan kami berdua yang harus mengisi formulir imigrasi, formulir kesehatan untuk penanggulangan SARS dan harus melewati kamera pemindai (sensor pendeteksi) panas tubuh.

rute perjalanan
  Menjelang sore hari sampai di Bandar Johor Bahru dan kami berdua cari penginapan di sekitar China Town. Di Hotel Hawaii, untuk sebuah kamar sederhana ber-AC  kami membayar 50 RM (1 Ringgit Malaysia = Rp 2200,-). Malam hari kami berjalan-jalan menuju pusat jajanan di tengah kota, menu makanan yang ditawarkan sangat beragam dan mengundang selera makan sehingga sulit bagi kami untuk memutuskan. Akhirnya saya mencoba nasi goreng Hailam, nasi goreng dengan sayur dan kuah.

              Besok paginya, sebelum meneruskan perjalanan kami sarapan di sebuah warung di  pinggir pantai yang menghadap Singapura. Lalu sepeda kami genjot di atas jalan Highway No:5, menyusuri pantai yang bersih sampai  persimpangan Sekudai, arah Jalan Lebuh Raya Utara Selatan (Highway No:1) kami belok kiri menuju kota Ponthian Besar. Pada hari pertama bersepeda di Semenanjung Malaysia tersebut kami cukup kepayahan karena selain jalanan naik turun, juga disebabkan sengatan matahari. Sempat pula kami mengguyur tubuh di sebuah pompa bensin Pekan Nenas. Beberapa kali kami berteduh untuk sekedar melepaskan penat dan mengeringkan badan dari keringat yang membasahi. Sambil menghabiskan satu sisir pisang dan nanas.

Saat kami tiduran setelah makan siang, cuaca mendadak berubah seketika, dari arah selatan datang awan gelap bergulung-gulung disertai angin kencang. Tidak lama kemudian hujan lebat turun, kami berlindung di balik sepeda yang sebelumnya ditutup sehelai plastik. Hanya sebentar hujan turun dan begitu reda kami melanjutkan perjalanan, ternyata hujan lagi dan lebih deras dari sebelumnya. Kami berteduh dan meringkuk kedinginan di balik dinding kios penjual buah-buahan

Berkemah di Tanah Lapang,
              Memasuki kota Pontian Kechil, cuaca sudah cerah kembali dan kami membeli bahan makanan di sebuah toko. Dan setibanya di kota Benut, kami kesulitan untuk mencari penginapan, akhirnya sepeda kami genjot keluar kota lagi menuju Batu Pahat. Berhubung hari sudah gelap, kami lalu mencari lahan untuk mendirikan tenda. Begitu melihat ada sebuah tanah lapang yang menjorok ke dalam sebuah perkebunan kelapa sawit, kami menyelinap masuk dan mendirikan dua buah tenda yang kami bawa. Suasana malam pertama berkemah di Semenanjung Malaysia sungguh mengesankan. Matahari terbenam dan menyisakan sinar yang berpendar-pendar di langit. Malam pun datang disusul munculnya sang rembulan, berkas sinarnya mulai menembus sela-sela daun kelapa sawit, menimbulkan bayangan yang menari-nari dipermainkan angin. Bintangpun bertebaran di langit yang kelam. Suara binatang malam saling bersahut-sahutan menambah semaraknya malam indah itu, yang membuat saya enggan masuk tenda karena asyik menikmatinya.

Sabtu, 7 Juni 2003, nyanyian aneka burung menyambut datangnya pagi cerah dan membangunkan kami dari tidur yang nyenyak. Sambil menunggu munculnya sang Surya, saya menyeduh secangkir kopi dan sarapan. Lalu kami berkemas dan bergegas melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat.
Rute perjalanan berikutnya mendatar, menyusuri areal perkebunan kelapa sawit.     
Di tengah perjalanan, ban belakang tiba-tiba kempis karena tambalannya bocor lagi tidak mampu menanggung beban yang berat. Saat itu posisi saya tertinggal jauh dari Benny sehingga untuk memanggilnya saya minta bantuan seorang pengendara sepeda motor yang searah. Dalam pada itu, beberapa anak kecil mendekat dan seorang di antaranya tidak keberatan memberikan sebotol air minum dengan rasa buah leci. Di kemudian hari botol minum bekas air leci ini aromanya berbekas sampai lama, sehingga saya selalu teringat dengan kebaikan anak kecil ini.

gambar tempel n logo perjalanan
Setelah mengayuh sejauh 112,25 Km sampailah kami di kota Muar, sebuah kota di pantai yang ramai di kunjungi orang untuk berlibur. Kami menginap di Hotel Kingdom yang cukup bersih dan ber-AC, sebelumnya saya cukup kebingungan ketika mencari hotel. Sewaktu menanyakan kamar di sebuah hotel dijawab penuh oleh petugas jaga, padahal saya tahu pasti masih banyak kamar kosong. Dan dari petugas Hotel Kingdom saya diberi tahu bahwa banyak hotel yang dipergunakan untuk kegiatan prostitusi, dan tidak jarang para WTS sudah menanti di setiap kamar hotel. Pengalaman ini membuat kami menjadi berhati-hati dalam memilih penginapan di setiap kota nantinya. Selain itu banyak juga toko yang menjual kupon toto secara resmi, membuat kami cukup terheran-heran karena hal ini ada dan bisa terjadi di Malaysia.

Tiduran di Bawah Pohon,
              Tujuan berikutnya adalah kota Melaka yang banyak terdapat peninggalan jaman Portugis. Jalan menuju kota tersebut relatif naik turun daerah bukit berkapur, udara panas sehingga peluh membasahi tubuh kami saat bersepeda. Di Telok Mas, 10 Km sebelum Melaka kami bermaksud makan di sebuah rumah makan, menu makanan yang bersantan ternyata  tidak sejalan dengan selera kami dan kondisi tubuh yang berkeringat membuat kami enggan menyuapkan nasi lebih dari 4 sendok makan. Masuk kota Melaka lewat jalan alternatif. Pada sebuah lorong jalan yang mengarah ke pantai kami belokan laju sepeda. Di halaman belakang sebuah apartemen mewah kami gelar matras EIGER untuk istirahat dan tidur siang. Di bawah naungan pohon rindang dan semilirnya angin pantai membuat kami cepat pulas tidur.

Suasana kota Melaka pada hari Minggu sangat sepi, di beberapa bagian kota ada kegiatan lomba motocross ada juga sekelompok penggemar layangan bermain di tanah lapang. Berbagai macam bentuk 3 dimensi layangan yang sangat menarik diterbangkan, ada naga, ikan pari dengan anaknya, panda, kubus. Tetapi yang sangat menarik perhatian penonton adalah seorang pengendali layangan berbentuk segitiga, dari kejauhan tampak bagai orang sedang menari. Dan bila angin bertiup kencang dia akan terseret sampai puluhan meter, tingkah lakunya menggelikan membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal.

Becak Malaysia
Selepas tengah hari, sepeda kami arahkan ke Port Dickson meninggalkan kota Melaka yang panas (suhu mencapai 35 derajat Celcius). Dalam perjalanan, ada ruas jalan yang melintasi hutan lebat sehingga kami bisa menikmati udara sejuk yang ditimbulkan dari bayang-bayang pepohonan. Dan penjual buah-buahan berjajar rapi di tepi jalan.
Di sebuah persimpangan kami belok kiri mempergunakan Highway No:138, menuju Port Dickson via Kampung Kuala Linggi. Lalu lintas kendaraan semakin jarang dan lintasan naik turun di daerah pantai. Setibanya di Kampung Kuala Sungai Baharu hari sudah sore dan tidak ada penginapan. Yang ada penginapannya justru di Kampung Kuala Linggi yang relatif lebih sepi dibandingkan keramaian pasar Kuala Sungai Baharu.


Banyak biawak di pinggir jalan
Akhirnya sepeda sekuat tenaga kami kayuh untuk mencapai tempai yang dimaksud. Alangkah kecewanya Benny, karena bayangan akan tidur di kamar ber-AC musnah. Yang dijumpai adalah ruangan semacam kamar kos di tepi pantai dengan harga sewa yang sangat mahal. Kekecewaan dan rasa penatnya tertebus oleh indahnya pemandangan saat matahari terbenam dan pijatan bapak penjaga kamar pada malam harinya. Untuk makan malam terpaksa kami membeli dua piring nasi beserta lauknya dari bapak penjaga tersebut karena tidak ada warung di sekitar penginapan itu, sialnya menu makanan yang disajikan tidak mampu menimbulkan hasrat makan Benny.

Tiga Etape Penyelesaian,
              Pada hari berikutnya, seperti biasa, perjalanan kami mulai pk 08.00 WIB atau satu jam lebih lambat dari waktu setempat. Dalam satu hari kami bisa menempuh jarak sekitar 100 Km dalam 5 – 6 jam, dari pk 08.00 sampai pk 17.30. Sementara waktu istirahat selama 1,5 jam kami pergunakan untuk makan dan tidur siang. Kendala utama selama perjalanan adalah udara panas yang membuat hilang nafsu makan. Apalagi sajian makanan di warung makan seringkali tak mampu mengundang selera makan. Sebagai pangganti, untuk makan siang kami lebih banyak melahap pisang atau buah-buahan lainnya.

Motivasi saya bersepeda jarak jauh kali ini sebenarnya adalah untuk melengkapi rute lintasan jauh yang pernah saya lalui dengan sepeda di kawasan Malaysia. Pada tahun 1986, saya pernah bersepeda berdua dengan teman dari Kalimantan Barat (Pontianak) – Serawak – Brunei Darussallam – Sabah (Tawao) dan pada tahun 1997 seorang diri saya bersepeda dari Singapura – Pantai Timur Semenanjung Malaysia sampai kota Bangkok – Laos – Vietnam dan berakhir di kota Ho Chi Minh City (Saigon).  
               
Dan pada tahun 2003, dalam rangka memperingati HUT BENNY TEAM, sebuah kelompok pesepeda di Bandung, saya bersama dengan Benny Yahya Permana sepakat untuk menyusun rencana petualangan/perjalanan  bersepeda jarak jauh yang kami beri nama: TRANS PENINSULA CYCLING TRIP 2003.
Yakni bersepeda dari Singapura- Malaysia (sisi Pantai Barat Semenanjung Malaysia) – Thailand, berakhir di kota Bangkok. Kami sadari sepenuhnya kegiatan ini memang berat. Karena itu, untuk menyelesaikan saya membaginya beberapa tahap. Rute perjalanan yang telah tersusun adalah dari Singapura menyeberangi jembatan perbatasan ke Johor Bahru lalu Pontian Kechil dan menyusuri pantai barat Semenanjung Malaysia hingga Kuala Lumpur, untuk itu jarak yang kami tempuh 564,7 Km. Dilanjutkan etape kedua dari Kuala Lumpur – Kuala Selangor – Sekinchan – Sitiawan – Butterworth – Alor Setar dan masuk Thailand melalui perbatasan Bukit Kayu Hitam /Danok – Sadao – Hat Yai – Pathalung – Trang – Krabi – Pulau Phi-Phi – Pulau Phuket, sejauh 995,6 Km. Tahapan terakhir adalah dari Phuket – Takuapa – Kapoe – Ranong – Chumpon – Prachuap Khiri Khan – Hua Hin – Petchaburi – Samut Sakhon – Bangkok, sejauh 893 Km.

              Kondisi jalan di sepanjang pantai barat Semenanjung Malaysia umumnya sangat mulus. Maklum dari Singapura sampai Bangkok kami bersepeda di jalan bebas hambatan. Disiplin pengguna jalan sangat patut diberi acungan jempol. Mereka tetap berada di jalurnya dan menjaga jarak aman dengan pesepeda. Kelebihannya dibandingkan dengan jalan bebas hambatan di Indonesia, adalah adanya sebuah jalur khusus untuk sepeda dan sepeda motor; yang membuat rasa aman dan nyaman dalam bersepeda. Jalanan sangat bersih dan tidak ada sampah berserakan, demikian juga dengan pantainya yang ditata rapi dan bersih. Seperti halnya ketika akan memasuki kota Port Dikson, pusat jajanan dan kios penjual cinderamata berjajar rapi dan bersih, fasilitas umum tidak ada corat-coret vandalis. Cemara yang tumbuh tidak terlihat bekas sayatan pisau dari tangan jahil. Ada beberapa pohon yang berusia ratusan tahun dengan batangnya yang meliuk-liuk diberi lampu bawahnya sehingga sinarnya akan menambah daya artistik pohon tersebut.

Keluar Port Dikson, kami melintasi daerah bukit-bukit dan bila berada di sebuah ketinggian tampak perkebunan kelapa sawit yang membentang luas berbatasan dengan laut. Suhu udara mencapai 34 derajat Celcius, membuat gerah dan memaksa kami untuk berteduh. Kami menggelar matras di lantai sebuah bedeng pekerja yang sedang memperbaiki jalan. Dan sebelum terlelap tidur, kami guyur tubuh dengan air segar. Setibanya di sebuah persimpangan jalan menuju Sepang, kami belok kiri ke arah pantai Morib.

Menerobos Hujan Lebat,
              Di Morib, pada sebuah tikungan tajam ada sebuah truk terbalik, menutup separuh badan jalan dan di sekitarnya berserakan buah kelapa sawit yang tumpah dari bak truk tersebut. Pantai Morib berada di sebuah teluk yang tenang, banyak terdapat hotel berbintang dan ada juga lapangan golf. Kami makan sea food sepuasnya  di pusat jajanan Pantai Morib sebelum menuju areal perkemahan. Tenda didirikan di bawah pohon cemara yang tumbuh di garis pantai. Sambil menunggu datangnya malam kami duduk santai menikmati proses matahari terbenam. Gumpalan awan berarak, berkilauan dan di kaki langit semburat warna keemasan. Di kejauhan tampak seorang nelayan memasang jaring dan beberapa nelayan lainnya memunguti sesuatu dari tanah pantai yang landai. Ketika matahari menyisakan sinarnya, tampaklah sebuah silhoutte yang memikat, seakan mampu melupakan kenyataan bahwa kami berada di tempat asing dan jauh dari kota Bandung.

Malam hari, tidak terdengar suara deru mesin kendaraan yang lewat. Deburan ombak dan desau angin malam menemani tidur kami yang nyenyak dalam masing-masing tenda EIGER. Sampai suatu saat saya terhenyak dan benar-benar kaget, sebab kaki yang terjulur keluar tenda terasa ada yang menyemprotkan air hangat. Langsung berteriak karena saya pikir Benny ingin membalas kejahilan saya sebelumnya. Ternyata ada seekor kucing sedang menungging sambil  kencing di kaki dan tenda. Minta ampun jengkelnya karena bau pesing kencing kucing ini selalu tercium setiap saya berkemah di kemudian hari.
Selang tidak berapa lama setelah kejadian itu, berhembus angin basah dari arah pantai. Makin lama semakin kencang, menderu-deru suaranya seolah mau menerbangkan tenda kami. Saya menyiasati terpaan angin tersebut dengan membentangkan selembar plastik di antara pohon cemara, sebagai pelindung kedua tenda kami. Lalu disusul hujan angin yang deras bagai dicurahkan dari langit. Dari balik tenda tampak kilat menyambar kesana-sini, membelah malam pekat dan suara lolongan sekelompok anjing yang tadi sore berkeliaran di sekitar tenda menimpalinya, menambah suasana menjadi lain. Dalam hati saya berdoa semoga tenda Benny tidak bocor dan membuat dia semakin nyenyak tidurnya. Bersamaan dengan waktu terbitnya matahari hujan mereda, sehingga memberi kesempatan kepada kami untuk berkemas.

Dalam cuaca yang redup dan hujan gerimis kami meninggalkan Pantai Morib dengan tujuan Kuala Lumpur. Sekitar 15 km kemudian kami tiba di kota Banting, di sebuah restoran kami sarapan dengan menu masakan Cina. Menjelang tengah hari cuaca berubah cerah dan terik matahari terasa lebih menyengat membuat pandangan menjadi nanar. Oleh karena itu kami berteduh dan istirahat di emperan pertokoan di kota Klang. Seperti pada kota-kota sebelumnya di pinggiran sebuah kota terlihat pembangunan sejumlah  pertokoan, apartemen maupun areal pemukiman. Sepertinya untuk mengantisipasi terjadinya ledakan penduduk 10 tahun mendatang atau sekedar untuk investasi. Hal ini dikuatkan dengan cerita seorang pegawai Kantor Pos yang kami temui (bukan Kepala Kantor Pos). Ia mengatakan bahwa gajinya adalah lebih 2000 RM perbulan atau sekitar 4,5 juta rupiah dan istrinya bekerja sebagai guru dengan imbalan gaji yang sama. Saat ini dia sudah memiliki tiga buah rumah yang memadai.
Dan di sepanjang pantai barat lebih banyak kami temui komunitas orang Hindi, baik yang nenek moyangnya berasal dari Sri langka maupun dari India.  Komunitas tersebut juga menguasai pusat perdagangan kota Klang. Tapi yang lebih menarik perhatian kami, justru saat terdengar alunan musik dangdut Indonesia dari penjual kaset setempat.  

 Hindu's temple
Keluar kota Klang kami bersepeda di jalan bebas hambatan hingga Kuala Lumpur lebih dari 40 Km jauhnya dan lalu lintas kendaraan padat sekali. Untung bagi kami karena ada jalur khusus untuk sepeda motor dan sepeda. Bahkan jembatanpun sengaja dibuat terpisah bagi pengguna kendaraan roda dua tersebut. Para remaja dan orang tua lebih banyak mengendarai sepeda motor di atas 100 cc. Umumnya pengendara  sepeda motor memacu kendaraannya dengan kencang dan helm yang dikenakan memenuhi kelayakan pakai serta berkualitas. Lucunya para pengendara motor tersebut kebanyakan jaketnya terbalik. Secara guyonan saya berkata ke Benny, Malaysia memang hebat dalam segala hal tapi sayang mereka belum bisa mengenakan jaket secara benar!

Dalam menempuh perjalanan cuaca tidak selalu bersahabat. Yang semula cerah bisa berubah secara tiba-tiba, menjadi gelap dan berangin kencang. Terkadang, cuaca panas secara mendadak berganti hujan deras. Sesekali  kami berteduh, namun selanjutnya hujan lebat tersebut kami terobos. Sehingga bisa dibayangkan keadaan kami saat itu, antrian mobil macet dan penumpang di dalamnya keheranan melihat kami. Luberan air dari jalur cepat masuk jalur lambat, akibatnya laju sepeda membelah genangan air membuat suasana menjadi semakin dramatis. Kami nekad bersepeda dalam hujan karena bila sering berhenti, kami takut target pencapaian Kuala Lumpur tidak terealisasikan dan ini bisa mengganggu jadwal hari-hari berikutnya. Semua peralatan sudah kami kemas dalam kantong-kantong plastik sebelum dimasukkan ke dalam tas sepeda.  

Menyedihkan,
              Hujan mereda ketika kami sampai di daerah Pudu, Kuala Lumpur. Di kawasan terminal ini kami celingukan mencari penginapan, setiap orang yang kami tanya menjawab tidak tahu karena mereka umumnya juga pendatang dari luar kota.  Benny berteduh beserta kedua sepeda kami di bawah jalan layang (rel kereta api listrik), sedangkan saya berkeliling mencari informasi penginapan. Hotel seringkali berada di lantai dua ke atas dari bangunan pertokoan, sehingga sulit untuk membawa atau menyimpan sepeda. Bersamaan dengan turunnya hujan lagi, saya putuskan untuk secepatnya bergerak agar tubuh tidak mengalami hypothermia. Akhirnya, kami dapatkan sebuah penginapan, kendatipun dengan fasilitas sederhana tapi cukuplah untuk sekedar merebahkan tubuh. Kami sepakat besok malam pindah tempat menginap di kawasan China Town.

Besok paginya, setelah menaruh perlengkapan di hotel pengganti, Benny bersepeda sendirian menuju Genting Highland. Dia sangat tertarik untuk mencoba rute tanjakan di daerah Genting yang sangat terkenal dalam setiap ada kegiatan balap sepeda tahunan Le Tour de Langkawi. Saya sendiri bertugas untuk membuat foto-foto di pusat kota Kuala Lumpur dan melapor ke Kedutaan Besar RI. Tetapi perlakuan oknum di KBRI patut disayangkan dan sangat memalukan. Sebelumnya saya sudah menelpon rencana kedatangan saya. Dan kebetulan ketika sampai di gerbang masuk KBRI sudah banyak yang antri. Giliran saya dipanggil malah dimintai uang untuk pengurusan visa kerja. Mungkin karena merasa salah alamat dan malu, akhirnya saya dipersilahkan untuk menunggu di luar pagar. Menyesakkan dan menyedihkan sekali, budaya jelek kog dibawa sampai Negeri Jiran

Berbeda sekali saat di awal perjalanan, sewaktu di Johor Bahru kami melaporkan diri di kantor Konsulat Jenderal RI. Kunjungan kami disambut ramah oleh Bapak Maryadi Hadisuwiryo sebagai Konsul Jenderal RI, ibu Cathy dan beberapa staf lainnya. Kedatangan kami adalah untuk melaporkan kegiatan yang akan kami lakukan, hal ini untuk mengantisipasi bila kelak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan. Dan beberapa minggu sebelumnya (dari Bandung) saya telah melayangkan surat pemberitahuan perihal rencana kegiatan kami tersebut ke setiap Perwakilan Pemerintahan Indonesia. Dalam suratpun sudah kami jelaskan pula bahwa untuk soal dana dan makanan kami tidak mau merepotkan perwakilan Pemerintah Indonesia. Sikap ini sekaligus untuk menepis anggapan bahwa petualang maupun pesepeda asal Indonesia selalu minta uang bila singgah di berbagai perwakilan negara kita di luar negeri.   

Sewaktu di Bandara Cengkareng, Jakarta kami mempunyai pengalaman lain yang cukup mengelus dada. Saat itu  kami sedang bersiap terbang dengan pesawat dari Cengkareng ke Batam. Petugas bandara berseragam biru mempermasalahkan sepeda yang sudah kami kemas rapi dalam kotak kardus sepeda. Dengan berbagai dalih mereka melarangnya dan harus masuk kargo pesawat. Sudah saya jelaskan bahwa saya bersepeda dengan menggunakan jasa pesawat terbang bukan hanya sekali ini, kenapa harus jadi masalah. Jawabnya baru saya dapatkan setelah teman saya dipanggil masuk sebuah ruangan dan dimintai uang. Sangat bertolak belakang dengan layanan petugas dari bandara Don Muang, Bangkok sewaktu akan pulang dengan pesawat menuju Cengkareng. Tidak masalah bagi mereka, sepeda utuh tidak dipreteli, tidak pula saya kemas dalam kantung atau kotak sepeda. Hal sepele tapi sangat berpengaruh bagi dunia pariwisata tentunya.

Menggigil Kedinginan,
              Seharian cuaca tidak bersahabat, kendatipun tidak hujan namun langit berawan. Menyebabkan Menara Kembar Petronas yang terkenal itu hanya terlihat samar-samar, begitu pula Menara Kuala Lumpur. Selama menunggu cuaca menjadi cerah dan langit membiru, saya tiduran di taman KLCC (halaman belakang Menara Petronas) sambil menjemur pakaian basah. Setelah lebih dua jam saya berada di taman tersebut datanglah seorang penjaga taman, dari logatnya saya yakin dia dari Jawa. Petugas itu melarangnya membawa sepeda ke taman, dia pikir saya orang Malaysia. Dan lebih untung lagi dia tidak melihat jemuran yang saya hamparkan di balik kebun bunga.

Selesai mengambil beberapa foto di Plaza Menara Petronas dan di seputar Dataran Merdeka, saya kembali menuju hotel tempat menginap. Ternyata Benny sudah kembali pula dari Genting Highland dengan menumpang taksi. Pada malam harinya, kawasan China Town tempat hotel kami berada ramai sekali. Penjual makanan, penjual cinderamata maupun orang lalu lalang saling berdesakan dan banyak turis dari mancanegara menyantap hidangan dengan berbagai menu masakan Cina.

Pada hari ke sembilan bersepeda (Kamis tanggal 12 Juni 2003), kami meninggalkan kota Kuala Lumpur menuju Kuala Selangor dan bermalam di kota Sekinchan. Akibat kehujanan beberapa hari yang lalu masih terasa, saat tidur dalam kamar ber-AC, badan mulai meriang dan menggigil kedinginan.  Hari-hari selanjutnya kami bersepeda dalam kondisi cuaca maupun medan lintasan yang mirip dengan sebelumnya. Bunga-bunga alamanda warna kuning sedang bermekaran di segala tempat, maupun bunga bougenville yang berwarna ungu, putih, oranye menambah semarak. Demikian juga bunga padma yang berwarna kemerahan, banyak tumbuh di genangan saluran air pinggir jalan dengan tangkai bunga yang panjang tampak berayun-ayun ditiup angin. Sempat pula kami menyeberangi tiga buah jembatan yang panjangnya 1300 meter, 1264 meter dan sekitar 1000 meter. Ketiga jembatan tersebut letaknya berbeda dan saling berjauhan.

              Dua hari kemudian, kami sampai di kota Taiping setelah bersepeda 899,4 Km. Sepertinya Taiping ini kota tua karena banyak bangunan  kuno dan rumah berhalaman luas yang ditumbuhi pohon-pohon berumur puluhan tahun. Di suatu sudut dari sebuah bangunan mesjid tertera tahun 1829. Bahkan ketika masuk ke dalam sebuah penginapan, masih terlihat bekas kejayaan hotel tersebut pada masa lampau walaupun sekarang kondisinya kumuh dan sangat memperihatinkan. Sebuah kamarnya ditawarkan 15 RM semalam, berlampu temaram dengan lobang-lobang dindingnya bertambalkan koran bekas. Kami bermalam di sebuah hotel yang agak lumayan setelah mencarinya berkeliling kota, kendati masih harus mengalah karena sepeda tidak boleh dibawa masuk ke dalam kamar.

Setiap memasuki sebuah kota, seperti biasanya setelah makan malam kami mencari wartel atau warnet. Untuk menemukan kedua jenis warung komunikasi tersebut tidak semudah di Indonesia. Bahkan untuk menggunakan telepon kartupun harus ekstra teliti, salah memasukkan kartu pada telepon boks yang bukan peruntukkannya, pulsa dalam kartu bisa hangus seketika dan hal itu pernah juga saya alami.  
Kalaupun ada warnet (warung internet), biasanya dipenuhi anak remaja. Disertai dengan suara gegap gempita memekakkan telinga, mereka bermain ramai-ramai untuk sebuah game. Warnet yang saya kunjungi di Taiping ini dikenakan tarip 0,5 RM satu jam (sekitar Rp 1100,-/jam). Melalui internet secara rutin saya selalu mengabarkan tentang keadaan, kondisi maupun tentang keberadaan kami ke relasi di Bandung atau Perwakilan Pemerintahan Indonesia. Tidak jarang pula kami dapatkan informasi aktual dari para pesepeda Malaysia atau Thailand. Selain itu, dalam perjalanan kami juga memanfaatkan  SMS sebagai media komunikasi.

Hari Biawak,
              Dalam perjalanan Taiping – Butterworth, kami sebut sebagai Hari Biawak, sebab selewat Kamunting kami sering melihat biawak.. Di selokan air sisi jalan, dekat pemukiman rumah penduduk; biawak dan kura-kura sering terlihat bebas berkeliaran tanpa takut diganggu orang. Binatang ini tidak dibunuh atau diburu untuk dimakan dagingnya oleh orang Malaysia, sehingga populasinya terjaga. Di samping itu, binatang lain yang sangat banyak kami temui adalah burung gagak dan burung jalak. Di sepanjang jalan banyak sekali species burung jalak. Terkadang bila malam tiba, di pohon-pohon tengah kota burung jalak saling rebut tempat bertengger sehingga menimbulkan suara cerecet riuh rendah ramai sekali. Dapat dikatakan tidak ada orang Malaysia yang memelihara burung ocehan, sedangkan di Thailand kebanyakan orang memelihara burung kutilang berjambul yang sangat dimanjakan dengan sangkar unik yang indah dan bagus buatannya.
Berikutnya, kami sebut saja Hari Kersen karena sebelum memasuki kota Alor Setar, di sepanjang sisi jalan pohon-pohon kersen yang ditanam sebagai peneduh jalan, sedang berbuah dan kami sambil bersepeda bisa sepuasnya memetik dan mengunyah buah asam manis tersebut.

              Sewaktu di kota Butterworth, sempat pula Benny ingin melintasi jembatan yang menghubungkan antara Daratan Semenanjung - Pulau Pinang.  Namun niatnya tidak terkabul karena sepeda dilarang melintasi jembatan yang merupakan Jembatan No:2 Terpanjang di Dunia tersebut. Akhirnya Benny harus puas  memandang takjub demi melihat keindahan, kekokohan serta kehebatan konstruksi jembatan yang membentang sepanjang 9 Km tersebut dari atas feri yang ditumpangi, kala menyeberang ke Pulau Pinang.

Dan Hotel Seberang Perak tempat kami menginap sewaktu di Alor Setar, berdampingan dengan sebuah museum yang dulunya adalah rumah tempat kelahiran Mahathir Mohammad, Perdana Menteri Malaysia. Museum tersebut sudah diperindah, tapi di luar pagar museum di sekitar bangunan hotel masih terdapat kompleks perumahan aslinya. Di kota ini terdapat pula Kesultanan Kedah yang letaknya berhadapan dengan sebuah masjid yang mirip dengan bangunan Masjid yang ada di Banda Aceh.
Alor Setar, kota yang cukup bersih dan sedikit lengang dibandingkan kota lainnya.
Dan bentuk becaknya sangat khas dan kebanyakan pengemudinya berusia lanjut, sebab yang muda lebih suka jadi tukang ojek sepeda motor. Di Malaysia maupun di Thailand ojek beroperasi dalam kota seperti angkutan umum dan pengemudi ojek berseragam.

              Pada hari ke 14 (Selasa, 17 Juni 2003), sekitar pk 15.15 waktu setempat kami tiba di Bukit Kayu Hitam. Perbatasan Malaysia - Thailand tersebut kami capai setelah bersepeda sejauh 1160,8 Km dari Singapura. Sebenarnya ada dua pintu masuk Thailand dari arah Alor Setar, yaitu melalaui Padang Besar dan Bukit Kayu Hitam / Danok. Kami memilih lewat Bukit Kayu Hitam karena ada ruas jalan dari Lebuh Raya Utara Selatan (Highway No:1) yang bisa kami lalui dengan sepeda.

latar belakang angkutan desa di Thailand
Dibandingkan sewaktu di Malaysia, suasana di Thailand terasa sekali perbedaanya. Di Danok banyak tempat-tempat Karaoke dan di depannya duduk beberapa wanita berpakaian seronok. Dari warung kaki lima sampai supermarket tersedia minuman beralkohol. Lalu lintas kendaraan sangat liar dan memberi kesan semrawut. Banyak kendaraan bak terbuka yang sarat muatan dan jalan terhuyung-huyung. Pengendara motor sering tanpa helm dan kalaupun berhelm kualitasnya mirip yang ada di Indonesia. Terkadang sepeda motor yang mempunyai bak samping, dijejali sampai 5 orang. Padahal di Malaysia sepeda motor jenis angkutan barang ini hanya diperbolehkan satu orang pengendara saja. Kadangkala terpikir, sangat beruntung saya hidup di Indonesia yang sudah terbiasa dengan keadaan semrawut seperti Thailand, tidak terbayangkan kalau datang dari sebuah negara yang berdisiplin tinggi dalam segala hal.   


Kaleng Bekas Kopi Berserakan,
              Dalam tiga hari perjalanan menuju kota Krabi, kami melalui Danok – Sadao - Hat Yai – Rattaphum – Pathalung – Trang – Sekao – Krabi. Selama perjalanan tersebut tidak banyak masalah kami temui. Hujan dan panas silih berganti datang mendera, semuanya kami hadapi dengan tabah. Medan lintasan sebelum menyusuri daerah pantai sedikit berbeda karena kami melintasi lebih banyak daerah perbukitan kapur. Dalam panasnya siang hari, keringat seringkali membasahi tubuh dan sesekali merembes ke mata, perih rasanya.
Kulit mulai mengelupas, akibat gosong disengat teriknya matahari berhari-hari.  Kondisi seperti ini pasti akan terjadi walaupun kulit sudah dibalur dengan salep pelindung. Yang cukup menggelikan kalau kami berjalan-jalan di tengah kota dengan celana pendek. Banyak yang senyum-senyum melihat kulit kami yang belang-belang, terutama Benny karena celana dan kaos yang dipakai dalam bersepeda sangat ketat.

gadis penjual bunga
Sesekali saya berhenti untuk membeli air tebu. Air tebu ini telah menjadi kesukaan saya sejak awal perjalanan karena tidak dicampur air dan disaring bersih dari sisa ampasnya. 
Konon glukosanya sangat berguna untuk menunjang daya tahan tubuh. Kalau di Malaysia air tebu ini diperas langsung dengan mesin, yang bisa kita lihat proses pembuatannya. Lain halnya di Thailand, sudah diproduksi secara massal dan air tebu ini dikemas dalam botol-botol.
Kebiasaan kami lainnya adalah setiap pagi menyeduh kopi atau coklat panas sambil berkemas-kemas. Namun setelah melihat kaleng bekas yang berserakan di sisi jalan dan mencoba membeli air kopi yang dikemas dalam kaleng, selanjutnya malah jadi ketagihan. 


kenalan kecilku
Di tengah perjalanan, ada juga pengemudi truk yang tiba-tiba menepi dan dari jendela dia menjulurkan kepala sembari menyodorkan sebotol air minum. Atau ada juga yang mau membayarkan minuman sehabis kami sarapan dan ngobrol bersama.
Saat kami ikut menumpang berkemah di halaman rumahnya ada yang memberi buah semangka dan pisang. Bahkan sering pula di ajak sarapan bersama bila kebetulan bermalam di lingkungan Wat (semacam vihara Budha). Sekali waktu saat bermalam di pos polisi, saya malah tidak diperkenankan mendirikan tenda, petugas polisi tersebut mempersilahkan saya untuk tidur di atas ranjangnya yang empuk

Buah Durian yang Murah,   
              Untuk menuju Pulau Phuket, kami menumpang feri dari Krabi. Sebab kami ingin mendapatkan pengalaman lain, selain itu jika bersepeda kami harus mengitari teluk selama tiga hari lebih. Tidak ada penyeberangan yang langsung Krabi - Pulau Phuket. Untuk kepentingan dunia pariwisata maka dibuatlah rute penyeberangan Krabi – Pulau Phi Phi dan keesokan harinya dari Pulau Phi-Phi berganti feri ke Pulau Phuket. Sebelum menemukan terminal feri penyeberangan, sempat kami berputar-putar karena keterangan yang kami peroleh kurang tepat. Makelar atau calo tiket jauh lebih sopan dibandingkan dengan calo di Indonesia.
Feri penyeberangan Krabi - Phi Phi Island dipenuhi oleh turis mancanegara yang dikenakan beaya 200 Bath perorang dan lebih mahal daripada harga tiket untuk penduduk setempat; sepeda 50 Bath (1 Bath = Rp 220,-). Ada juga dari mereka yang memanfaatkan waktu lebih kurang dua jam penyeberangan itu dengan berjemur di atas dek feri.

Pulau Phi Phi bentuknya menyerupai huruf H, sehingga ke dua pantainya yang landai tersebut sangat tenang terlindung teluk dengan diapit dinding-dinding kapur yang terjal dan menawan. Pulau Phi Phi sangat terkenal dengan wisata baharinya, bahkan banyak sekali pemanjat tebing professional yang datang untuk merayapi tebing-tebing alam yang menjulang tinggi beralaskan laut lepas. Sehingga untuk mengawali pemanjatan harus memanfaatkan jasa perahu nelayan setempat. Suasana perkampungan turisnya mirip sekali dengan suasana di pulau Bali, Indonesia. Kalau melihat kenyataan saat ini, wisatawan mancanegara lebih senang datang ke Thailand karena lebih aman. Begitu pula kesan kami saat mencapai Pulau Phuket pada keesokan harinya.

mendarat di Phiphi Island
Karena luasnya, kami tidak merasa berada di sebuah pulau. Segala macam kegiatan untuk menarik wisatawan minat khusus ada di Phuket, seperti Safari Gajah, Safari Off Road – Jeep, Bunggy Jumping, Trekking, Penelusuran Gua, Rafting, Diving, dll. Kota Phuket sangat ramai, terutama malam hari di China Town banyak pedagang berjualan dan orang jalan hilir mudik.
Phuket merupakan titik akhir dari etape kedua perjalanan kami. Dan kami berdua berpisah di sini, sebab Benny hendak kembali ke Indonesia lalu ke Perth, Australia. Sedangkan saya akan bersepeda sendirian menyelesaikan etape ketiga Phuket – Bangkok, sejauh 893 Km dan diperkirakan selama 9 hari.


              Senin, 23 Juni 2003, cuaca sangat cerah dibandingkan dua hari sebelumnya yang terus menerus turun hujan. Tanpa Benny, pada hari pertama bersepeda sendirian terasa sepi, sebab saya tidak ada lawan bicara maupun bercanda. Tidak ada lagi suara HP (hand phone) Benny berbunyi tanda ada SMS masuk. Karena selama 3 minggu dalam setiap harinya Benny bersepeda sambil memainkan jarinya mencet-mencet tombol HP untuk menerima dan mengirim SMS.
Sekali saya melihat Benny kebingungan, hilang kontak dengan relasi karena HP-nya mati beberapa hari akibat basah kehujanan saat masuk Kuala Lumpur, Malaysia.  Sebuah contoh yang hebat menurut saya, karena Benny mengatur perusahaan dari negara orang lain sambil mengayuh sepeda! Bagaimana tidak, Benny yang sudah berumur 51 tahun masih mampu bersepeda selama tiga minggu dan menempuh lebih dari 1500 km. Semua kendala yang menjadi hambatan di sepanjang perjalanan dihadapinya dengan tabah dan sabar. “Tabahkan hatimu! Khan itu semua ujian. Khan Boss Benny niat adventure, laen? Inget ka Tuhan dijamin selamet & loba rejeki!............” Begitulah salah satu bunyi kalimat dalam SMS yang dikirimkan Rizal dari Bandung untuk Benny.

Sepeda saya kayuh menyusuri rute Phuket – Takuapa – Kapoe – Ranong – Chumpon -Prachuap Khiri Khan – Hua Hin – Petchaburi – Samut Sakhon – Bangkok. Medan lintasan ternyata jauh lebih berat, lebih banyak melewati hutan-hutan serta naik turun daerah perbukitan. Ruas jalan Takuapa – Chumpon sepi dan merupakan jalan alternatif menuju Bangkok sehingga sangat sedikit lalu lintas kendaraan. Tapi yang sangat menguntungkan bagi saya karena banyak orang berjualan buah-buahan dengan harga murah. Satu buah durian harganya hanya 10 Bath (sekira Rp 2200,-) dan kalau di Bandung satu papan petai Rp 1000,- di daerah tersebut satu sisir petai (5-6 papan) dijual sekira Rp 3000,- Pantesan!,  saat saya makan nasi goreng petai, nasi tersebut dicampur satu genggam petai segar. Selain durian, yang sedang musim panen berlimpah adalah manggis, nanas, semangka dan rambutan. Hal ini menambah semangat saya dalam mengayuh sepeda.

Akhir Perjalanan,
              Pada kenyataannya, saya mampu bersepeda lebih dari 120 Km perhari bahkan dua hari menjelang kota Bangkok di atas 140 Km perhari. Sehingga jarak yang semula saya perkirakan akan memakan waktu 9 hari ternyata saya tempuh dalam 7 hari. Hal ini disebabkan matahari yang sedang berada di utara garis Khatulistiwa terbenam lebih lambat. Dan memberi waktu cukup lebih lama untuk bersepeda.  

grand palace
Untunglah saya selalu melengkapi peralatan-peralatan standar untuk berkelana seorang diri sehingga tidak ada kesulitan ketika harus bersepeda sendirian. Beban perlengkapan  termasuk bahan makanan cadangan, seberat 30 Kg tidak menjadi masalah bagi saya maupun sang sepeda. Justru yang menjadi masalah adalah boncengan baru yang saya pakai, tidak mampu menanggung beban, setelah menempuh jarak lebih dari 1800 Km. Setiap menuruni bukit, beban di boncengan selalu terguncang terus menerus dan suatu saat salah satu penyangga boncengan patah lalu menusuk sprocket/freewheel.
Laju sepeda terhenti seketika, kaget setengah mati! Karena saat itu adrenalin sedang memuncak. Kesal, kaget, dongkol berkecamuk jadi satu, apalagi sedang berada di tengah hutan lalu sepeda saya seret ke tempat yang teduh. Penyangga boncengan saya bebat dengan sebatang plat besi dan dikayuh perlahan-lahan sampai sejauh 60 Km menuju Ranong.


bike line
Sebenarnya saya sudah membeli boncengan dari sebuah toko sepeda di Ranong, tetapi kualitasnya sangat jelek. Secara kebetulan dari hubungan internet dengan Wan – Mou (pesepeda Thailand) yang pernah mampir ke Bandung dan saat ini sedang berada di Equador, Amerika Latin dalam rangka berkeliling dunia; saya mendapatkan alamat adiknya yang tinggal di kota Ranong. Adiknya juga pesepeda dan darinya saya dapatkan boncengan yang memadai untuk melanjutkan perjalanan jauh. Bahkan saya dijamu makan malam dengan menu masakan Thailand yang nikmat. Selanjutnya dia menghubungi dan menitipkan saya ke beberapa relasi di beberapa kota yang sekiranya akan saya lewati.

budha tmple
              Ranong – Chumpon sejauh 132 km saya tempuh dalam sehari dan ruas jalan berikutnya dari Chumpon sampai Bangkok merupakan lintasan yang pernah saya lalui pada tahun 1997 dengan sepeda. Senang sekali bisa menemukan kembali tempat saya makan, tempat berkemah, tempat berteduh atau tempat mandi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar. Bedanya sekarang sudah terdapat dua badan jalan dan dua arah yang terpisah. Tidak seperti tahun 1997, saat itu sedang taraf pembangunan sehingga sangat berbahaya karena dua jalur dalam satu badan jalan dan berdebu.

Bangkok atau dalam bahasa setempat disebut Krung Tib, sebagai titik akhir dari seluruh rangkaian petualangan/perjalanan yang sangat melelahkan ini saya capai setelah bersepeda menempuh jarak sekitar 2453,3 Km dari Singapura, pada hari Senin tanggal 30 Juni 2003 Pagi harinya saya masih berada di Petchaburi, sekitar 156 Km sebelah selatan Bangkok. Berdasarkan pengalaman yang lalu, saya optimistis Bangkok bisa dicapai dalam sehari. Sore hari saya memasuki perbatasan kota Bangkok di bawah siraman hujan yang lebat. Saya segera  terjepit di kemacetan arus lalu lintas yang padat. Kenikmatan bersepeda di tempat sepi selama berhari-hari berubah total menjadi penderitaan karena saya terjebak di jalan satu arah atau terjepit di antara bus kota. Ternyata tidak ada satu sepeda pun yang melaju di jalan.

Sehari sebelum mengakhiri perjalanan saya bermalam di sebuah Wat di kota Petchaburi, tempat dimana saya pernah berkemah dulu. Saya disambut ramah oleh seorang Biku yang pandai bahasa Inggris. Biku ini senang sekali bernyanyi  dan salah satu lagu yang paling sering dinyanyikan karena saya datang menjelang malam, adalah Stranger in The Night.
Sambil menunggu datangnya kantuk di tengah malam. Saya duduk sendiri di salah satu sudut ruangan di mana tenda didirikan, menghirup secangkir coklat panas. Dalam kesendirian di tengah heningnya malam saya mencoba mengevaluasi kegiatan ini. Memang tidak sedikit pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dari sebuah perjalanan yang tidak sekedar mengandalkan kekuatan otot ini. Telah banyak suka duka saya alami dalam perjalanan dan tentunya semua bermanfaat.

Pada umumnya perjalanan tersebut sangat menyenangkan tetapi ada pengalaman yang menyedihkan yaitu ketika kami mencapai kota Kuala Lumpur, Malaysia dalam keadaan basah kehujanan. Tidak seperti biasanya, saya merasa lambat sekali dalam membaca peta. Lalu saya mengeluarkan kaca mata baca, namun kacanya terkena tetesan air bahkan menjadi sangat kabur saat dilap. Perasaan saya menjadi tidak menentu, karena baru sekali ini terjadi hal seperti ini. Dan saya harus mengakui pendapat seorang wartawati Suara Pembaruan yang mewancarai kami sebelum berangkat, katanya: “……… kog meuni dua-duanya kararolot, mana atuh nu ngarora na……?”. Tetapi justru kesedihan yang paling mendalam adalah ketika dalam hati bertanya kapan ada seorang petualang atau pesepeda jarak jauh muncul dari komunitas pesepeda di Bandung yang mencapai ribuan itu untuk menggantikan dan meneruskan apa yang pernah kami lakukan.   



Bandung, Juli 2003
Bambang “PAIMO” Hertadi Mas

Disarikan dari catatan perjalananTRANS PENINSULA CYCLING TRIP 2003”
Sebuah perjalanan bersepeda menyusuri Semenanjung Malaysia melintasi Singapura – MalaysiaThailand, sejauh 2453,3 Km (dari Singapura hari Kamis, 5 Juni 2003 sampai Bangkok hari Senin, 30 Juni 2003). Berdua dengan Benny Yahya Permana  






1 komentar: