BERSEPEDA MELINTAS EROPA - MERAMBAH ALPEN
................pernah dimuat secara bersambung di Harian Umum Pikiran Rakyat, Okt - Nop 2004
................pernah dimuat secara bersambung di Harian Umum Pikiran Rakyat, Okt - Nop 2004
Awal Perjalanan,
Setelah terbang selama kurang lebih 12 jam, pesawat Thai Intl. Airways yang membawa saya dari Bangkok mendarat dengan selamat di Munchen Airport, Jerman. Lancar saja saat keluar pabean, bahkan di bagian imigrasi pun tidak perlu mengisi formulir keimigrasian dan urusan selesai dalam beberapa menit saja. Suasana dalam ruang kedatangan di Terminal 2 Munchen Airport sangat sepi. Saya menjadi penumpang terakhir yang keluar ruangan karena harus menunggu sepeda dari bagian bagasi.
Kedatangan saya ternyata sudah ditunggu oleh tiga orang pesepeda dari Jerman yang sebelumnya tidak saya kenal. Mereka adalah kerabat dari Boris Berndtson warga Negara Jerman yang menjadi mahasiswa ITB di Bandung dan menjadi teman latihan bersepeda selama melakukan persiapan perjalanan.
Kalau tidak ada mereka, sebenarnya saya sudah merencanakan untuk bermalam di sekitar Munchen Airport , karena hari sudah malam. Di luar gedung, udara dingin malam hari segera menyergap. Saya membongkar kantong pembungkus sepeda dan merakitnya. Ternyata beberapa baut lepas dan hilang, untung saya berbekal cadangan. Melihat pada beberapa bagian sepeda catnya terkelupas karena gesekan, saya takut sepeda mengalami kerusakan.
Selesai merakit sepeda dan mengemasi perbekalan ke dalam panniers, kami berempat bersepeda menuju kota Freising yang berjarak 20 km, setelah sebelumnya harus berjalan kaki melintasi Terminal 1 yang tak kurang jauhnya dari Terminal 2. Kami bersepeda melalui jalanan di tengah persawahan dan baru ketahuan kalau jari-jari roda depan meliuk, mungkin tertindih sewaktu dalam penerbangan. Sekitar jam 23.30 waktu setempat, dengan menahan rasa lapar, kami tiba di tempat tujuan.
![]() |
| Mekanik profesional! |
Setelah sarapan liebekas (roti khas daerah
Bukan hal mudah bersepeda pada awal perjalanan ini, karena harus menyesuaikan diri dengan situasi di jalan raya yang menggunakan jalur kanan. Mengantisipasi terhadap kejutan, maka harus berkonsentrasi penuh dalam bersepeda karena gerak reflek yang selalu ke arah kiri. Dan selalu menjaga keseimbangan sepeda yang diberi beban lebih dari 30 kg
Malam pertama berkemah,
Kebanyakan daerah yang saya lalui adalah ladang pertanian luas tanpa pepohonan. Sehingga menyulitkan saya mencari lahan berkemah. Sampai suatu saat saya beranikan diri menyelusup di dekat sebuah sungai yang ditumbuhi pepohonan lebat. Secepatnya saya mendirikan tenda lalu masuk ke dalamnya karena nyamuk-nyamuk mengerubuti tubuh. Tenda terlindung semak-semak dan menghadap ladang jagung.
![]() |
| Poster iklan bir! |
Kali pertama berkemah di daerah Jerman merupakan sebuah pengalaman yang mendebarkan, karena sebenarnya berkemah secara liar tidak diperbolehkan. Pada hari-hari berikutnya saya sudah punya keberanian berkemah di sebarang tempat.
Suhu pada malam hari 17 derajat Celcius dan hujan turun dengan lebatnya sampai keesokan paginya.
Berikutnya saya bersepeda dalam cuaca yang kurang bersahabat, suhu udara sangat rendah dengan hujan gerimis. Sehingga napas tersengal-sengal bila mendapati tanjakan, lalu jalan menurun hingga masuk kota Wesserburg. Hujan mulai reda. Beberapa kali saya terjebak arah jalur sepeda yang ada di dalam kota , sehingga harus lebih teliti dalam membaca peta kota tersebut. Di pusat kota tersebut saya tak sempat memotret, merasa kikuk karena semua mata memandang ke arah saya. Ramai, artistik dengan susunan bangunannya yang rapi
Sepeda saya arahkan ke Chiemsee (danau Chiem), melewati kota kecil Aham – Halfing – Bad Endorf – Hemhof dan Wisham. Dalam perjalanan saya berulang kali berusaha untuk membeli bensin di pompa bensin sebagai bahan bakar kompor, tapi sulit karena hanya membeli 1 liter dan corong pompa lebih besar daripada lobang botol aluminium yang saya bawa. Akhirnya, saya membeli bahan bakar khusus 4,5 Euro perliter (1 Euro = Rp 11.240,-) di toko peralatan berkemah ‘Bavarian Boote’; yang juga memproduksi perahu, cano, kayak dll dari bahan serat fiber.
Seebruck sebuah kota di tepi Chiemsee, merupakan kota wisata yang terkenal. Dan 7 km sebelum mencapai kota tersebut (sekitar pk 17.00), saya memutuskan untuk berhenti. Setelah sebelumnya bersepeda mengitari sebagian dari danau tersebut. Tenda digelar di balik semak belukar di bawah pepohonan, menghadap danau. Dan nyamuk-nyamuk berebut ingin masuk pula. Dari balik ilalang di tepi danau, terdengar suara angsa dan bebek liar saling bersahutan. Suhu udara semula 20 derajat semakin malam turun menjadi 17 derajat Celcius.
Pada ruas jalan berikutnya, lintasan melewati lembah-lembah pegunungan yang pada beberapa bagian puncaknya masih diselimuti salju dan lereng-lerengnya banyak tumbuh pohon pinus. Bila deretan punggungan pegunungan yang mengapit lembah satu telah terlewati akan disusul deretan pegunungan berikutnya sambung menyambung seakan tiada habisnya.
Sepanjang jalan terdengar jeritan burung pipit yang terbang berhamburan dari balik ilalang. Di kejauhan terlihat sekawanan sapi sedang merumput. Bunga bermekaran aneka warna, di halaman rumah penduduk yang luas maupun di depan jendela-jendela rumah bertingkat. Beberapa ibu berkerudung sedang berkebun. Bangunan kandang-kandang sapi terawat dengan baik. Dari cerobong atap rumah penduduk, kepulan asap menebarkan aroma kayu pinus yang khas. Pada bagian lain belibis dan angsa liar berserta anaknya berenang-renang bebas tanpa terusik di sungai jernih dengan ikan-ikan sebesar telapak tangan tampak berseliweran di sela-sela batu. Di ujung persimpangan jalan masuk daerah pertanian sering dijumpai kapel-kapel untuk beribadah dengan dekorasi yang berbeda. Sepanjang jalan mata tak bosan-bosannya mata memandang suasana alam yang elok itu.
Jalur sepeda yang tersedia di sisi jalan besar membuat rasa aman dan nyaman dalam menikmati hidangan pemandangan alam tersebut. Sesekali berhenti untuk merekam pemandangan alam mirip di kalender yang sebelumnya sering saya lihat.
Sedangkan kecepatan kendaraan bermotor yang melintas menjadi terkendali dengan adanya radar pemindai laju kendaraan di tempat-tempat tertentu.
Kasern Camping,
Di sebuah pompa bensin Freilassing saya membeli peta kota Salzburg , korek api, roti dan minuman untuk bekal. Sesudah kota tersebut barulah saya mencapai perbatasan Jerman-Austria sekitar pk 13.30. Saya memasuki kota Salzburg , bagai rusa masuk kampung. Karena sebelumnya bersepeda di daerah sepi, lalu dihadapkan pada keramaian yang padat kendaraan. Saya mengikuti arah dengan membaca peta dan menyusuri jalan sepeda di tepi sungai pembatas kedua Negara. Tetapi akhirnya bingung juga ketika jalur yang saya ikuti terhenti dengan adanya Lapangan Terbang.
Untuk mencari alamat di selatan pusat kota yang saya tuju, harus menembus sebuah terowongan. Tapi jalan menuju terowongan tidak tertera di dalam peta. Berkat naluri dan kesabaran, akhirnya saya bisa menemukan alamat itu. Namun sial, ternyata orang yang saya cari tidak ada di tempat. Terpaksa saya harus kembali ke pusat kota untuk mencari camping ground. Lucunya, dua camping ground yang dikelola ‘pramuka’-nya Austria sudah tidak beroperasi lagi. Justru yang ada, lokasinya di sebelah utara kota Salzburg , dengan jarak lebih kurang 14 km.
Dengan menahan rasa lapar saya susuri jalan-jalan kota Salzburg menuju lokasi perkemahan. Di tengah jalan saya membeli setangkup Doner Kebab (semacam burger), merasa cocok dengan selera, saya membekal setangkup lagi untuk makan malam.
Pepohonan rindang menaungi bumi perkemahan yang diberi nama Kasern Campingplatz dan letaknya tidak jauh dari jalan raya. Untuk masuk area saya dipungut bea 4,5 Euro dan bea mendirikan tenda 3 Euro. Fasilitasnya cukup baik, selain shower (kamar mandi) terdapat pula dapur, instalasi listrik, kantin dll. Pengelolaannnya secara profesional dan di kantor ada tersedia brosur maupun peta-peta daerah tujuan wisata seputar Salzburg . Ada stiker-stiker tertempel di jendela sebagai tanda bukti inspeksi tahunan dari ASCI, yang secara berkala menguji kelayakan dan kelengkapan fasilitas dari camping ground tersebut sebagai penentu kelas/tingkatan-nya. Ada area khusus untuk caravan, ada juga deretan tenda-tenda yang didirikan secara permanen untuk tamu-tamu yang menghendaki berkemah namun tidak punya tenda.
Waktu saya datang banyak tenda-tenda ditinggalkan penghuninya berkeliling kota Salzburg dan baru kembali ketika hari mulai gelap, tanpa takut dicuri isinya. Tenda saya merupakan tenda terkecil di antara yang ada dan satu-satunya pengunjung yang bersepeda. Ada pengelana yang bersepeda motor tapi tendanya lebih besar. Selesai mendirikan tenda, saya mandi sepuasnya dengan air panas setelah lima hari sebelumnya hanya dilap dengan tisu wangi. Konyolnya, sesudah keluar kamar mandi baru sadar kalau saya salah masuk ke kamar mandi wanita karena keliru mengartikan heren dan damen.
Matahari terbenam sekitar pk 22.30. Malamnya saya tidur dengan pulas akibat kecapaian setelah 5 jam lebih bersepeda dari tepi Chiemsee. Menurut keterangan yang saya peroleh, kebanyakan pesepeda lebih senang bermalam di penginapan murah di pusat kota , yang taripnya tidak beda jauh dengan tarip di perkemahan.
Salzburg kota yang cantik,
Pada hari ke empat, Sabtu, 17 Juli 2004, saya bangun pagi dan mendapati tenda basah oleh embun. Semalam suhu udara turun sampai 15 derajat Celcius. Sambil menunggu tenda mengering, saya sarapan mie instant dicampur muesli.
Lalu saya bersepeda lagi menyusuri jalanan yang kemarin dilewati, menuju pusat kota Salzburg . Sekedar berkeliling kota dan melihat-lihat keindahannya. Sepanjang jalan sepeda di tepi sungai Salzach, banyak aktivitas yang dilakukan warga dalam musim panas ini, ada yang memancing, jogging, jalan-jalan sambil menuntun anjing, roller skate, bersepeda, duduk santai sambil menikmati pemandangan, dll.
Mendekati centrum (pusat kota ), terlihat banyak rombongan wisatawan yang turun dari bus pariwisata, karena kendaraan bermotor dilarang masuk pusat kota . Para wisatawan jalan bergerombol sambil mendengarkan penjelasan pemandu dengan seksama. Jika pemandunya berbahasa Inggris saya mengikuti sambil menuntun sepeda. Di pusat kota saya sempatkan mampir ke warnet untuk mengirim berita ke Bandung .
Tokonya kecil-kecil dengan etalase yang disusun rapi penuh cita rasa keindahan, mirip etalase toko yang ada di Jl. Braga -Bandung . Banyak yang menjual cinderamata, tapi harganya mahal sekali. Sebagai contoh, gantungan kunci dijual 8 Euro sedangkan setangkup Doner Kebab untuk makan siang 3 Euro. Saya sering menjumpai warga dengan pakaian tradisional daerah Bavaria .
Sesudah itu sepeda saya dorong ke arah rumah tempat lahir WA Mozart (alm), tokoh musik terkenal. Bangunan bersejarah tersebut sekarang dijadikan museum dan terletak di antara deretan pertokoan. Tapi sayang, tidak berani masuk, karena selain tiketnya mahal, saya tidak tega meninggalkan sepeda di pusat keramaian kota .
Hidangan yang bisa saya nikmati sepuasnya tanpa bayar adalah mendengarkan sajian musik klasik yang dimainkan para pengamen di tengah plaza. Kemampuan memainkan alat musik flute, harpa, accordion dan balalaika sungguh menakjubkan. Alunan musik yang diperdengarkan membuat orang betah berlama-lama mematung di sekelilingnya. Setiap kelompok selain mengamen, mereka memasarkan dan menjual cakram padat (compact disc) hasil rekamannya dengan harga 15 Euro perkeping (sekira Rp 174 000,-).
Pada bagian lain, ada sekelompok orang sedang mengatur tata suara, tata lampu, balkon penonton dan mengerjakan panggung berlatar belakang bangunan gereja yang sangat terkenal. Mempersiapkan sebuah festival musik yang melibatkan seniman musik seluruh daratan Eropa.
Tujuan berikutnya adalah kota Liezen dengan rute sbb: Salzburg – Thalgau – Fuschl – St. Gigen – Strobl – Bad Ischl (highway 158) – Bad Goisern – St. Agatha – Bad Aussee – Bad Mittendorf – Stainach – Liezen (highway 145). Untuk keluar kota, sekali lagi saya harus kembali menyusuri jalan ke arah Kasern Campingplatz. Lalu mengikuti rute sepeda Mozartweg ke arah Ischlbahn Strasse, yang lewat daerah pertanian dan hutan lindung. Sewaktu bersepeda di hutan lindung, rasa kantukpun datang dan saya rebahkan diri di bangku taman sampai tertidur.
Tiba di Thalgau, sekitar pk 17.00 dan tampak warga kota kecil tersebut menghabiskan hari Minggunya dengan duduk di kafé-kafé pinggir jalan atau di bangku-bangku taman kota sambil menjilati es krim. Dan untuk mencapai Fuschl, saya harus melintasi sebuah punggungan pegunungan lebih dari 30 km. Dalam usaha menapaki punggungan tersebut, di tengah jalan nyatanya tubuh lemas dan memaksa saya untuk segera menggelar tenda di hutan pinus.
Saya mendirikan tenda EIGER di pinggiran hutan, menghadap sebuah lembah dengan hamparan rumput luas berlatar belakang lipatan-lipatan pegunungan. Dan kota Thalgau terdapat di lembahnya. Dari arah jalan raya terdengar deru mesin yang meraung-raung, ada empat pengendara motor besar yang berlatih balapan, bolak-balik sampai matahari terbenam. Langit kelam pada malam hari berulang kali menjadi terang benderang karena kilatan cahaya dan petir menyambar kesana-sini disusul suara gelegar, tanda akan datangnya hujan. Tak lama kemudian hujan deras pun turun. Anehnya, air hujan bagai tersaring dedaunan pohon di atas tenda sehingga tidak banyak air yang jatuh mengenai atap tenda. Di dalam tenda, saya meringkuk kedinginan sambil terus berdoa.
Doner Kebab yang khas,
Menjelang subuh sampai pagi keesokan harinya, tiada hentinya suara kicauan burung bersahut-sahutan. Sinar sang surya mulai menerobos sela-sela dahan pepohonan dan udara pagi yang segar menambah semaraknya suasana. Pada kaki langit di kejauhan, antara lembahnya ada kabut tipis yang masih enggan lepas dari pucuk-pucuk cemara, lipatan dan punggungan bukit berjajar sampai hilang di batas pandang.
Berikutnya saya kembali bersepeda pada jalan yang menanjak landai. Sesekali didahului dan disapa dengan ramah oleh para pesepeda yang sedang berlatih. Dari sebuah tempat yang tinggi, saya bisa melihat keindahan Fuschl a see (danau Fuschl). Pada lintasan yang turun menukik tajam dan berliku sepeda melaju makin kencang sampai kota Fuschl. Arsitektur bangunan di tepi danau Fuschl sangat bagus. Struktur rangkanya didominasi balok kayu berwarna gelap yang kontras sekali dengan warna-warni bunga yang digantung di luar jendela. Banyak sekali orang bersepeda mengitari danau. Di pelataran kafé-kafé terlihat komunitas pengendara motor besar berkumpul dan ternyata di antara mereka banyak sekali yang wanita. Jadi sewaktu berkendara, kita tak bisa tahu maupun membedakan pria atau wanita karena tubuhnya dibungkus dengan kostum pembalap. Dari perbekalan, kebersihan dan jenis motornya, terlihat bahwa ada yang menempuh jarak pendek tapi ada juga yang jarak jauh.
Mampir di kedai Doner Kebab. Satu jam saya harus menunggu penjual menyiapkan kedainya untuk buka. Terlebih dulu daging untuk kebab harus dipanasi. Kompor yang menghasilkan bara api, diletakkan di ujung meja. Susunan daging padat yang menyerupai guling dipanggang di bara api dengan posisi tegak. Bila sudah matang, daging tersebut disayat dengan pisau. Lalu dimasukkan ke dalam setangkup roti dicampur paprika, slada, tomat dan saos lainnya, mirip burger. Ada beberapa macam Kebab, saya mencari yang murah meriah. Kebanyakan penjual Doner Kebab adalah keturunan Turki. Sehingga begitu mendengar tujuan akhir saya adalah Turki, dia sangat senang dan juga geleng-geleng kepala sambil bertanya: ‘ ….. are you crazy or what?’
Selama menunggu kebab disajikan, saya menikmati hidangan pemandangan alam di sekitar kedai sambil minum sebotol bir. Harga 0,5 liter bir lebih murah dibandingkan dengan harga 0,5 liter air mineral atau 0,5 liter air jeruk kemasan. Ternyata kondisinya mirip dengan air teh di Indonesia, bir banyak diproduksi oleh industri rumahan (home industry) dan dikonsumsi setiap saat diperlukan. Justru minum teh menjadi hal langka dan mahal.
Meninggalkan Fuschl sekitar pk 12.00 tengah hari, sampai kemudian mendapati sungai yang jernih, dimana saya bisa mencuci celana, pakaian, dll. Sesudah itu sepeda dikayuh pada jalan yang menanjak lalu turun di pinggir sebuah danau lagi yang tak kurang indahnya, Wolfgangsee. Setibanya di St Gigen, saya berhenti sejenak melihat kereta gantung yang bergerak menuju ke atas bukit. Ketika mendongakkan kepala, ternyata banyak sekali parasut dari paralayang yang berputar-putar meniti angin.
Mobil dan karavan memenuhi areal parkir di tepi danau Wolfgang. Dan pada pantainya yang landai, terlihat banyak warga sedang berjemur, berenang-renang atau sekedar berendam sambil mendekap anjingnya. Di tempat lain ada komunitas pemancing, ada komunitas penyelam dengan peralatan lengkap, ada pula yang main roller skate menyusuri jalur sepeda dengan kecepatan tinggi. Saya sendiri, akhirnya meneduh dan tertidur pulas di dalam bangunan ber-AC yang berfungsi untuk Tourist Information.
Memasuki kota Bad Ischl, sempat terkecoh jalur dan masuk tunnel (terowongan) yang diperuntukkan kendaraan bermotor. Semua toko di kota Bad Ischl tutup, demikian juga petrol station (pompa bensin) yang biasanya jual makanan. Saya bisa membeli makanan ringan di kota berikutnya Bad Goisern, ada petrol station satu-satunya yang buka di kota tersebut. Para motorist banyak yang mengisi bahan bakar dan membeli makanan di tempat itu juga. Keluar kota jalan menanjak 6 km dengan kemiringan 22%, aduh berat sekali dan perut terasa mulai kejang.
Bermalam di tempat mewah,
Saat itu waktu menunjukkan pk 18.15 dan tubuh sudah lemas sekali karena dihajar jalanan yang naik turun sepanjang hari. Di sebuah belokan, ada sebuah restoran (Raststatte, Potschenkehre) yang sudah tutup dan tidak beroperasi lagi. Setelah melihat sekelilingnya, saya berpendapat lokasi tersebut memungkinkan sekali sebagai tempat bermalam. Dan salah satu ruang yang saya pilih adalah WC. Kalau dibayangkan WC-nya kotor dan bau seperti di Indonesia itu salah besar. Ada 3 buah WC, yang satu ruang disediakan untuk pria, satu untuk wanita dan satu lagi untuk pengguna berkursi roda. Ketiga WC tersebut ber-AC, bersih, berlampu dan air ledengnya bisa langsung diminum tanpa harus direbus dulu. Saya memilih WC yang ada tanda kursi roda, karena jarang dipakai, ada kuncinya, lantai bersih dan tidak bau.
Saya menunggu datangnya malam di luar WC sambil menyeduh kopi dan merebus mie. Dalam pada itu, saya juga mengamati situasi, siapa tahu tiba-tiba datang petugas atau penjaga gedung, sehingga saya masih mempunyai kesempatan untuk pindah. Beberapa pasangan datang sekedar buang air kecil atau menikmati panorama yang indah. Dimana ada sebuah danau membentang luas di lembah dengan tebing-tebing curam mengitarinya dan matahari yang beringsut tenggelam menyisakan sinar yang berpendar keemasan di gumpalan awan.
Begitu malam tiba, saya menyelinap masuk WC bersama sepeda. Matras EIGER dan sleeping bag saya gelar di atas lantai lalu tidur. Tengah malam ketika hujan turun dengan lebatnya saya bangun dan masak makanan. Setelah itu tidur nyenyak sampai keesokan harinya. Tempat ini bagi saya merupakan tempat yang paling mewah dalam perjalanan menuju Wina , Austria .
Dalam perjalanan berikutnya saya harus bersepeda dalam cuaca yang kurang bersahabat, hujan terus menerus dan jalanan menanjak penuh tikungan 9 %, sejauh 8 km sampai ketinggian 985 meter, lalu turun. Ketika naik tubuh gerah sekali tapi saat turun rasa dingin begitu menusuk walaupun memakai jaket. Rahang terasa kaku, gigi gemeretuk dan tangan kesemutan. Suasana jalanan di tengah hutan tersebut sungguh mencekam karena kabut tebal menutupi pandangan ke depan. Bila ada kendaraan lewat percikan air semburat menerpa wajah dan kacamata membuat kabur pandangan. Saya mengenakan pakaian warna cerah dan mengenakan juga rompi bereflektor, biar terlihat dari jarak jauh.
Tengah hari cuaca cerah sekali dan jaket serta pakaian penahan dingin lainnya dicopot diganti dengan pakaian sehari-hari untuk bersepeda. Istirahat makan dan tidur siang saya lakukan di atas tumpukan papan kayu di halaman rumah orang setelah sebelumnya membeli bahan makanan dan buah-buahan di salah satu super market di tepi jalan.
Sebelum memasuki kota Liezen, cuaca mendung lalu gerimis. Sempat pula terbawa arus kendaraan masuk jalur autobhan (khusus kendaraan bermotor) dan melintasi tunnel yang panjang. Hal ini bisa terjadi karena saya terlalu patuh dengan rambu-rambu lalu lintas yang ada, seharusnya saya mengambil jalan alternatif. Di dalam tunnel sangat menakutkan, tidak ada jalur sepeda, suara klakson dan deru mesin kendaraan sangat memekakkan telinga. Untung saya bisa selamat.
Selanjutnya dari Liezen hingga Melk, saya menyusuri jalan utama (main roads), kalau di peta diberi warna kuning, sedangkan highway warna merah tebal. Rutenya adalah sbb: Liezen – Admont – Hieflau (main road 146) – Palflau – Lassing – Gostling – Lunz – Gaming – Scheibbs - Oberndorf – St. Leonhard - Wieselburg (main road 25) – Melk. Seperti sebelumnya, rute ini lebih banyak melintasi daerah Pegunungan Alpen dan merupakan bagian rute balap sepeda Tour de Alpen yang terkenal.
Sedangkan rute perjalanan dari Munchen, Jerman sampai Istanbul , Turki yang saya lalui lebih banyak mengikuti rute yang pernah dilewati Prof. DR. HOK Tanzil (alm) sewaktu berkeliling Eropa dengan mobil. Dalam perencanaan sebelum melakukan kegiatan, masukan data terbaru selalu saya analisis dan digabungkan dengan data yang sudah ada. Beberapa relasi telah banyak membantu dalam persiapan perjalanan. seperti Johanna dan Andi Manhart, warga negara Jerman yang bekerja di Dinas Geologi Bandung, dan menjadi teman berlatih mengayuh sepeda. Sama halnya dengan Borris Berndtson, mereka banyak memberikan masukan dan dorongan. Paling tidak saya bisa mendengarkan pengalaman mereka ketika bersepeda dari Munich/Munchen, Jerman sampai Cluj Napoca , Romania . Sehingga saya bisa mendapatkan gambaran kondisi alam, lalu lintas kendaraan dan jalur lintasan yang akan saya lalui. Ditambah dengan buku panduan Lonely Planet, data yang saya peroleh menjadi lebih lengkap sehingga saya lebih optimis untuk melakukan perjalanan.
Peta-peta yang saya gunakan sangat presisi dan akurat serta menjelaskan semua fasilitas perjalanan. Kalau peta masing-masing kota , saya membeli di daerah setempat dengan harga sekitar 3,5 - 5,5 euro. Merupakan keasyikan tersendiri setiap akan memasuki sebuah kota besar. Saya harus bisa memecahkan sebuah tantangan di alam yang sama sekali baru, mirip menghadapi sebuah permainan. Dalam kepadatan lalulintas sebuah kota yang tidak dikenal sebelumnya, saya dituntut berkonsentrasi penuh. Membaca peta dengan cepat, menerjemahkan rambu-rambu maupun peringatan dalam bahasa yang tidak saya mengerti dan memutuskan dengan tepat dalam waktu yang singkat.
Sebagai contoh ringan adalah bagaimana cara menyeberang jalan dengan aman sambil menuntun sepeda berat. Jalan yang harus diseberangi sangat lebar dan bagian tengah jalan masih ada lintasan trem listrik, sehingga bila terlambat harus menunggu lama lagi sampai kesempatan berikutnya.
Sekali pernah tersasar di kota Wien/Wina, Austria . Disebabkan lokasi yang saya tuju ternyata tidak tertera dalam peta. Saat itu saya bermaksud mengunjungi pusat pemakaman kota (Zentralfriedhof), dimana terdapat kompleks makam musisi ternama seperti Strauss, Bach, Mozart, Beethoven dll. Nyatanya saya salah mengunjungi kompleks makam kecil, sedangkan kompleks yang dimaksud masih 2 km lagi dan itu tidak ada dalam peta.
Menyusuri Sungai Donau/Danube,
Melk –Wien/Wina, cukup asyik untuk ditempuh. Saya bersepeda di tanggul sungai Donau/Danube sekitar 200 km dan merupakan bagian dari rute bersepeda yang sangat terkenal di Eropa. Karena ada jalur sepeda di tepi sungai Donau dari kota Passau di ujung barat Austria sampai kota Hainburg di ujung timur. Pada musim panas seperti saat ini, banyak sekali orang melakukan kegiatan bersepeda di jalur datar ini. Bayangkan, jumlahnya mencapai ribuan orang.
Pesepeda dengan jenis road bike melaju kencang sedangkan yang mengendarai jenis touring bike bersepeda santai. Banyak pasangan kakek nenek yang mengisi liburnya dengan bersepeda berdua, ada juga satu keluarga dengan kereta trailer yang ditarik sepeda. Sepeda mereka umumnya berkualitas tinggi dengan komponen yang mahal harganya. Secara iseng saya pernah bertanya kepada Reinhold Schwatzet pesepeda dari Jerman yang sedang istirahat dalam perjalanannya dari Bremen ke Wien/Wina, dia mengatakan sepedanya adalah touring bike yang kualitasnya sedang dari merk terkenal, harganya 3100 Euro (sekitar Rp 32 juta ) dan panniers kedap air harga satu set mendekati 140 Euro.
Tidak kaget karena di sebuah toko sepeda di kota Freising saya pernah memegang sepeda dengan harga berkisar Rp 85 000 000,-. Walaupun sepeda saya cuma Rp 625 000,-; sepeda bekas dan buatan Indonesia (pabriknya pun sudah tutup!), saya tidak berkecil hati. Nyatanya, dengan sepeda ala kadarnya tersebut saya mampu melintasi pegunungan Alpen dan menempuh ribuan kilometer. Beberapa komponennya sepeda saya, merupakan pemberian teman-teman dan sebagian lagi beli di kaki lima Jl. Astana Anyar, Bandung . Bahkan boncengan dibuat dari bahan besi beton. Sedangkan perlengkapan yang terbaik dan membanggakan adalah panniers karena tas sepeda tersebut dirancang serta dibuat oleh EIGER, produsen tas dan peralatan berkelana dari Bandung . Bukannya saya tidak punya keinginan untuk mempunyai sepeda yang representatif, justru hal itu adalah bagian dari sebuah mimpi yang kelak harus diwujudkan pula.
Saya beruntung karena mengayuh ke arah timur yang menurun dan mengikuti arus sungai. Jalur ini melintasi banyak kebun buah-buahan, seperti buah persik, anggur, apel, pir, plum dll. Saya perhatikan para pesepeda tidak ada yang memetik buah, walaupun terkadang dahan serta buahnya menjurai di atas kepala. Mereka lebih baik membeli pada pemilik kebun yang menjual buah dengan cara menyimpan dagangannya dalam kardus-kardus dan meletakkan di pinggir jalan tanpa ditunggui.
![]() |
| Perajut pakaian! |
Kastil-kastil berdiri kokoh di atas bukit batu. Menara-menara gereja menjulang tinggi. Sejauh-jauhnya mata memandang, terlihat ladang gandum, dimana bagian yang sudah dipanen, jeraminya digaruk dengan sebuah kendaraan khusus lalu dijatuhkan kembali sudah berupa kotak/kubus jerami yang besar-besar.
Hamparan luas menguning lantaran bunga matahari yang bermekaran menghadap ke timur, dimana matahari lebih lama menyinarinya. Melihat kenyataan yang ada, bagi saya Eropa adalah surga bagi pesepeda dan sama halnya Nepal menjadi surga bagi pendaki gunung.
Arus sungai Donau sangat kencang dan airnya keruh, tetapi pada beberapa tempat yang dangkal banyak orang yang berenang, berendam sambil mendekap anjing dan berjemur di pantainya yang landai. Setelah mencoba, saya tidak berani mandi karena airnya dingin. Beberapa kapal pesiar melintas.
Rossatz Campingplatz tempat saya berkemah dipenuhi oleh tenda-tenda dari pemilik mobil yang melakukan perjalanan antar Negara ataupun yang sekedar berekreasi di pinggir sungai Donau/Danube. Dan di bagian lain berjajar caravan-caravan yang diperlengkapi bagasi sepeda. Tenda saya dekat dengan kran air, tepat di bawah pohon apel yang berbuah lebat. Tetangga adalah sepasang pesepeda berasal dari Jerman yang akan menuju kota Bratislava , Slovakia . Sewaktu mendirikan tenda, seekor anjing besar warna hitam pekat milik tetangga lain menghampiri saya untuk mengajak bermain. Yah lumayan punya teman baru. Sebelumnya, pemilik anjing ketakutan kalau-kalau hewan kesayangannya berbuat nakal.
![]() |
| Pemain harpa di sebuah pelataran (pengamen) |
Apel berjatuhan,
Tiga hari lamanya saya bersepeda dari Wien/Wina, Austria sampai Budapest , Hongaria. Suhu udara rata-rata 33 -35 derajat Celcius. Cukup menyengat di waktu siang dan malam hari rata-rata 17 derajat Celcius, membuat tenda menjadi lembab. Berbeda dengan suasana negara sebelumnya, di Hongaria selama tiga hari perjalanan menuju Budapest, dihadapkan medan lintasan yang membosankan, datar dan melewati daerah ladang pertanian yang luas dan panas. Kondisi jalan sedikit memperihatinkan, di samping tidak lebar, bagian tepi jalan cukup bergelombang sehingga saya harus bersusah payah jika ada kendaraan besar lewat seperti bis, truk-truk kontener dll. Hembusan angin kencang cukup merepotkan. Mencari makanan atau bahan makanan susah sekali, sebab jarang sekali ada toko atau warung yang bisa dilihat dari luar. Kebanyakan café hanya menjual minuman dengan makanan ringan. Pengertian fast food, saya pikir makanan cepat saji seperti umumnya di Indonesia; ternyata yang dimaksud adalah makanan cepat disantap seperti kacang, berondong (pop corn), camilan dll. Alhasil saya selalu tertipu dan kecewa, dengan kata lain perut harus bersabar lebih lama lagi untuk diisi makanan berat.
Sewaktu melintasi perbatasan Austria – Hongaria, saya dilarang mengambil gambar. Petugasnya hanya seorang dan cukup lama dia membuka arsip untuk menemukan kode Indonesia dan paspor saya dicap gambar mobil karena jarang orang melintas batas negara dengan sepeda. Sebelumnya, ketika petugas menanyakan identitas, segera saya meraba bagian pinggang belakang untuk memutar tas tempat menyelipkan paspor. Karena posisi tangan di balik celana dan kaos dikira saya mengambil senjata. Serta merta, dari ekor mata saya melihat gerakan petugas, jarinya membuka kunci sarung dan tangannya menggenggam pistol. Dalam benak, spontan keluar ide jahil untuk menggoda tapi ah resikonya saya bisa ditembak beneran. Dua kali kejadian seperti ini, pertama kali ketika polisi memeriksa saya di tengah hutan yang sepi.
Pada hari kedua di Hongaria, saya mengalami suatu pengalaman yang paling mengharukan, sehabis membeli 4 butir apel untuk bekal, saya mengayuh dengan penuh semangat. Tapi mungkin karena penjualnya kurang kuat cara mengikat kantong kreseknya. Di saat ban sepeda melindas lubang, maka berhamburanlah apel yang sedianya untuk makan malam tersebut. Saya pandang dengan pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, sebab hal itu terjadi di batas kota/desa. Tanpa disangka mobil berhenti diikuti sederetan mobil-mobil di belakangnya. Barisan mobil tersebut memberikan kesempatan saya untuk memunguti apel yang berserakan dan tentunya bual apel itu sudah benjut semua. Para pengendara tak satupun membunyikan klakson. Mereka sangat menghargai pesepeda terutama pesepeda jarak jauh.
Selama beberapa hari saya singgah di
Dan saya selalu menegaskan untuk tidak akan menyulitkan dalam hal keuangan, karena seluruh dana perjalanan telah saya persiapankan sejak awal dari hasil swadaya dan bantuan dari Eiger, Sigg, Thai Intl. Airways serta donatur yang bersimpati terhadap kegiatan yang saya lakukan. Hal ini saya lakukan guna menepis anggapan bahwa setiap petualang Indonesia yang mampir di KBRI selalu minta uang. Bahkan saya merasa malu sendiri, karena para staf tersebut kadangkala ada yang memberi bahan makanan atau menyelipkan sekedar uang jajan. Tentu saja dalam kesempatan ini, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar dan seluruh Staf KBRI (Austria di Wina, Hongaria di Budapest , Romania di Bucharest , Bulgaria di Sofia), juga kepada Eiger, Sigg, Thai Intl. Airways, Pikiran Rakyat dll. yang banyak membantu mewujudkan mimpi melintasi Negara-negara di sekitar pegunungan Alpen tersebut.
Dari Budapest, Hongaria saya menuju Bucharest (Bucuresti), Romania lalu ke Istanbul, Turki melalui daerah Bulgaria dengan rute sbb: Budapest – Kecskemet - Kiskunfelegyhaza (highway 5) - Szeged (highway E75) - Mako - Border (highway 43) – Nadlac – Arad – Deva –Simeria - Sebes – Sibiu - Ramnicu Valcea – Pitesti - Bucharest (highway 7) – Giurgiu (perbatasan Romania-Bulgaria) – Ruse – Veliko Tarnovo – Kilifarevo – Gurkovo – Nova Zagora – Radnevo – Marica – Harmanli – Svilengrad – Kapitan Andreevo (perbatasan Bulgaria-Turki) – Edirne – Babaeski – Luleburgaz – Qorlu – Silivri – Buyukcemece - Istanbul
Keluar kota Budapest , kondisi jalannya datar dan lebih mulus daripada saat memasuki Negara Hongaria beberapa hari sebelumnya. Tetapi lalu lintas kendaraan sangat padat. Setelah menempuh jarak 128 km lebih dari kota Budapest , truk kontener tidak lagi melewati freeway karena memang tidak ada, gantinya mereka melewati highway yang saya lalui juga. Maka bisa dibayangkan keadaan saya. Dituntut untuk konsentrasi penuh jadi akibatnya otot leher dan tangan yang mencengkeram stang sepeda jadi pegel semua.
Masuk Negara Romania , bukanlah hal mudah, karena menurut keterangan kondisi kehidupan masyarakatnya lebih parah dari Indonesia dan tindakan kriminal ada dimana-mana. Selain itu di jalan raya sewaktu-waktu ada polisi gadungan yang memeras dengan dalih memeriksa kartu identitas, gangguan dari Cygen (Romanian Gipsy dari suku Tsigana) dan pencopetan dll.
Dari Budapest hingga Szeged (Hongaria) tidak berjumpa dengan pesepeda jarak jauh, apalagi ke Romania . Dari kota Szeged (Hongaria) ke Bucharest (Romania ) sejauh 641 km, bukanlah suatu perjalanan ringan, dituntut selalu lebih waspada. Sehingga menimbulkan rasa kawatir, cemas, was-was yang berkecamuk dalam hati sebelum memasuki daerah Romania tersebut. Memang saya punya pengalaman merambah belantara sesungguhnya di daerah Thailand Selatan, Laos , Vietnam tetapi itu tidak menjamin. Karena nasib orang siapa tahu.
Toh peringatan itu tak mengurungkan niat saya untuk menjelajah daerah Romania . Saya tidak mau gegabah, setiap saat saya berdoa, setiap waktu saya mempelajari situasi dan kondisi setempat. Dalam kesendirian, saya pasrah dan berserah diri kepadaNya, lalu kekawatiran, kecemasan, keraguan dll, semuanya saya rangkum menjadi sesuatu yang mampu membangkitkan semangat dan rasa optismisme. Adrenalin memuncak dan dalam hati saya berkata inilah petualangan sesungguhnya.
![]() |
| Tukang reparasinya nge-bir terus. …..wkwkwkwk |
Berkelana di Romania, sebelumnya saya pikir akan menjadi klimaks dari seluruh rangkaian perjalanan bersepeda yang tidak sekedar mengandalkan kekuatan otot ini. Oleh sebab itu saya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menguak tabir yang menyelimuti dan menembus belantara manusia Romania yang kompleks. Belakangan baru saya sadari bahwa grafik dari nilai petualangan itu sedang beranjak naik dan klimaksnya justru ketika mencapai daerah Turki.
Detik demi detik, setahap demi setahap saya jalani dengan sabar dan tabah sampai akhirnya mendekati perbatasan Romania – Bulgaria . Setelah sebelumnya saya mendapatkan visa Bulgaria di kota Bucharest . Saya bersyukur ketika semua terlampaui dan Carpathian Mountain (Carpatii Meridionalli) terlintasi.
Kondisi di jalanan memang lebih rawan bila dibandingkan dengan Negara sebelumya yang saya lewati. Tapi sesungguhnya saya jauh lebih beruntung karena lahir dan hidup di Indonesia , yang banyak ‘kelebihan’-nya. Lebih semrawut, lebih kacau sopir-sopir kendaraannya, lebih tidak menghargai pemakai jalan lainnya, lebih tidak disiplin, lebih banyak kasus kriminal dan copet. Sehingga saya bisa lebih survive di Negara orang lain.
Setiap akan memasuki sebuah perbatasan, selalu muncul rasa was-was, berdebar-debar dan kawatir. Karena aneka cerita dan beberapa kasus yang terjadi sebelumnya, seperti pemerasan yang dilakukan oknum petugas terhadap pendatang maupun penipuan yang dilakukan oleh penukar uang gelap, penyebaran uang palsu dll. Perbatasan Romania-Bulgaria ditandai dengan sebuah jembatan yang membentang di atas sungai Dunav (Donau) sepanjang 3 km (Friendship Brigde). Sebenarnya ada keinginan untuk memotret tapi takut jadi masalah. Urusan imigrasi ternyata lancar, sepeda tidak digeledah. Dan mereka malah senyum-senyum mengajak bercanda. Mereka selalu mengatakan,”… ini masalah besar karena kendaraan anda tidak dilengkapi surat-surat!”. Maksudnya, kebanyakan pelintas batas yang mengendarai kendaraan bermotor selalu menunjukkan surat dan membayar pajak. Sangat jarang yang menggunakan sepeda.
Beberapa penukar uang gelap membuntuti sambil menawarkan jasanya. Namun saya tidak tertarik, lebih baik ke penukaran uang resmi walaupun ternyata masih juga dinakali.
Bila telah keluar perbatasan saya selalu berharap tidak dicegat lagi oleh polisi penjaga perbatasan (Border Guard), seperti pengendara mobil.
Pedal Patah,
Pada hari-hari berikutnya, mulailah petualangan sesungguhnya. Selama 7 hari berkelana di Bulgaria saya hanya membelanjakan uang sebesar 20$ US. Karena di daerah Bulgaria ternyata lebih susah untuk membeli bahan makanan. Toko hanya terdapat di kota besar. Selama pengembaraan di daerah Bulgaria , kebanyakan saya memanfaatkan adanya buah-buahan yang tumbuh liar di pinggir jalan, seperti anggur, apel, arbei, injir, persik dll.
Seperti malam-malam sebelumnya, selama perjalanan, setiap malam saya selalu membuat bush camp, mendirikan tenda untuk bermalam di mana saja, asal nyaman dan aman untuk istirahat. Baik di tengah hutan maupun di pinggiran lahan pertanian.
Di Bulgaria sengaja saya tidak masuk Sofia , ibukota Negara tersebut karena langsung menuju perbatasan Bulgaria-Turki. Melintasi Stara Planina (Balkan Mountain) melalui daerah hutan yang sepi.
Rute yang saya lalui memang tak dilalui kendaraan. Vileko Tarnovo – Nova Zagora, sejauh 150 Km lintasan tersebut sedang ditutup bagi kendaraan bermotor. Karena sedang diperbaiki kualitasnya, maka tidak jarang pada beberapa ruas jalan saya mendapati jalan terputus sedang dibuldozer. Akan tetapi, justru banyak hal hal menarik saya temui dalam perjalanan. Hampir semua perumahan di pedesaan ditinggal penghuninya, bahkan tidak jarang rumah-rumah kosong tersebut dipergunakan sebagai kandang sapi. Menurut keterangan, kemiskinan muncul sejak berakhirnya era komunisme, banyak yang kehilangan pekerjaan dan mereka sekarang mengadu nasib ke Negara tetangga. Jarang sekali di pedesaan menjumpai orang-orang yang muda usia. Banyak orang-orang tua yang miskin dengan pakaian kumal sedang menggembalakan ternak.
Dalam usaha melintasi Stara Planina tersebut, sepeda mengalami kerusakan untuk pertama kalinya. Pedal patah ketika sampai di puncak pendakian yang ketinggiannya lebih dari 1305 meter dpl (gunung tertinggi di Bulgaria , G. Musala /Rila – 2925 meter dpl). Oleh karena tidak bisa berakrobat, pedal tersebut saya ikat saja dengan kawat. Sebelumnya poros ban depan (Front Hub Set), juga mengalami gangguan karena beberapa butiran komponennya pecah.
Melewati perbatasan Bulgaria – Turki tidak ada masalah, kecuali timbul rasa kaget karena nilai tukar uangnya lebih parah dari Indonesia (1$US = 1 450 000 Lira Turki). Jadi untuk menukar uang 20$ US saya memegang uang sekitar 30 juta Lira Turki. Hal ini cukup membuat pusing karena semua harga kebutuhan terasa sangat mahal.
![]() |
| Senja hari di salah satu sudut kota Istanbul, Turkey |
Sungguh tidak saya bayangkan sebelumnya, kalau ternyata pencapaian
Bambang Hertadi Mas,
Disarikan dari catatan perjalanan TRANSYLVANIA-ALPS CYCLING TRIP 2004
Sebuah kegiatan bersepeda jarak jauh melintasi Jerman-Austria-Hongaria-Romania – Bulgaria-Turki, yang dilakukan dari tanggal 12 Juli 2004 hingga 6 September 2004 .








Tidak ada komentar:
Posting Komentar