ADVENTUROUS TRIPS
STORIES of an INDONESIAN LONG DISTANCE CYCLIST
Jumat, 21 September 2012
Minggu, 05 Februari 2012
TOUR du MONT BLANC 2011
LET’S
DANCE WITH THE WIND AND MAKING LOVE WITH THE SUN!!!
...... pernah dimuat dalam Harian Umum Pikiran Rakyat, Rabu 22 Pebruari 2012,
rubrik Laporan Khusus, halaman 25
rubrik Laporan Khusus, halaman 25
Awal perjalanan,
Pertengahan bulan Agustus 2011 yang lalu,
saya berdua dengan Aristi Prajwalita terbang menuju Belanda. Lalu, dengan
diantar oleh Rene de Callone (warga Belanda) kami menuju Prancis untuk memulai
kegiatan. Berbeda dengan kegiatan saya tahun lalu. Walaupun masih juga
bersepeda, tapi kali ini prioritas saya adalah kegiatan pendakian. Yaitu
pendakian gunung Gran Paradiso +4061
meter dpl, di Italy dan Mont Blanc +4810 meter dpl, di Prancis. Sedangkan
kegiatan bersepeda akan melintasi beberapa Negara (the Netherlands – Belgium – France – Italy – Switzerland ).
Pada hari Jum’at, 26 Agustus 2011 kami tiba di kota Annecy, Prancis
dari Den Haag, Belanda. Setelah menempuh jarak sekitar 1300 kilometer dengan
mobil Rene de Callone. Langsung kami menuju sebuah camping ground, ‘Le Taillefer’ dan mendirikan tenda. Setelah itu, sementara
Rene dan istrinya beristirahat, sepeda-sepeda
mulai kami rakit kembali. Karena kami berdua, berencana mulai mengayuh sepeda
besok pagi, menuju Chamonix .
Kota Annecy, terletak di tepi Danau Annecy pada ketinggian sekitar 450
meter di atas permukaan air laut. Kota
yang berhawa sejuk mirip kota
Bandung dan menjadi kota tujuan wisata. Karenanya, pada musim panas
ini hampir semua tempat perkemahan dipenuhi para wisatawan.
Menjelang sore hari, setelah Rene dan istrinya kembali ke Belanda. Kami
mencoba sepeda di seputar perkemahan tersebut sambil menikmati pemandangan alam
yang menawan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena awan hitam datang
bergulung-gulung. Seperti prakiraan atau ramalan cuaca hari itu, hujan lebat
akan datang setelah tengah hari. Kami berdua lalu mengemasi peralatan yang masih
ada di luar tenda. Dan membuat pelindung tambahan pada kedua tenda kami untuk
sekedar menghalangi angin. Benar saja, hujan lebat turun dalam sekejab disertai
angin kencang.
Sampai tengah malam hujan pun belum reda, membuat saya gelisah karena
masih merasa lapar dalam dinginnya udara pegunungan Alpen tersebut. Di tenda
sebelah, terdengar suara Aristi mendengkur. Suhu udara malam hari turun hingga
12 derajat Celcius. Setelah makan beberapa biskuit, akhirnya saya tertidur bergelung di dalam sleeping bag.
Keesokan paginya,
selesai kami menggulung kedua tenda. Turun hujan lagi. Rintik hujan ini tidak
membuat kami menunda perjalanan. Kami telah siap. Dalam cuaca yang kurang
bersahabat dan suhu udara yang rendah kami meninggalkan areal perkemahan
tersebut (suhu 9 derajat Celcius). Jalanan masih lengang walaupun sudah jam 9
lebih. Kami sempat mampir di sebuah supermarket untuk menambah bekal dan juga
mengirimkan surat-surat ke beberapa relasi dari kantor pos setempat.
Keluar kota Annecy, kami bersepeda menyusuri jalur khusus sepeda. Jalan
selebar tiga meter tersebut beraspal mulus dibangun parallel dengan jalan
kendaraan bermotor (highway) sampai kota Ugine. Kami kayuh terus sepeda kami,
menerobos hujan yang kian deras. Setelah menempuh jarak lebih dari 20
kilometer, jari jemari terasa mulai kesemutan. Kami putuskan untuk berhenti di
sebuah shelter. Istirahat sejenak, melahap biskuit sekedar pengganjal perut
yang mulai kelaparan. Udara terasa dingin menusuk tulang. Dan tubuh kedinginan
karena kaus di dalam jas hujan pun basah karena keringat bercampur air hujan.
Dari sebuah
persimpangan jalan di kota Ugine, kami sudah tidak lagi bersepeda pada jalur
sepeda. Menyusuri jalan mendaki di lereng lembah pegunungan Alpen. Hujan pun
mulai reda, namun suhu udara masih rendah. Terasa berat bersepeda pada kondisi
alam demikian. Perlahan saja kami mengayuh tapi tetap konstan. Nyatanya, tetap
saja hal ini memaksa sering berhenti untuk mengatur nafas yang
tersengal-sengal. Suatu saat, ketika berhenti di sebuah rest area, ada sepasang wisatawan dengan ‘campervan’nya menyapa dan memberi kami buah pisang.
Sekitar pukul 14.00 barulah matahari menampakkan diri. Sinarnya mampu
menambah kehangatan dan mengusir dinginnya udara. Celana dan jaket pun kami
lepas untuk membuat nyaman dalam bersepeda.
Jalan terus menanjak, semakin tinggi semakin indah pemandangan alam
yang tersaji. Setibanya di kota kecil Margeve, kami mencari informasi camping
ground. Letak tourist information
terletak di pusat kota yang ramai sekali di akhir minggu. Dan
satu-satunya camping ground yang ada,
ternyata berada 4.5 kilometer di luar kota tersebut.
Dengan menahan rasa lapar kami mengayuh sepeda kembali dan tidak lupa
sebelumnya membeli makanan cepat saji buat makan malam. Bornand Camp, terletak
di sebuah perbukitan yang menghadap sebuah lembah. Berada tepat di bawah sebuah
stasiun cable car yang hanya
berfungsi jika musim dingin tiba.
Kami sudahi perjalanan hari pertama tersebut setelah mengayuh sepeda
sejauh 62.5 kilometer dari Annecy, selama lima jam lebih bersepeda. Cukuplah buat saya. Matahari
terbenam setelah pukul 21.30. Malam hari, thermometer pada angka 9 derajat tapi
terus turun hingga 6 derajat Celcius. Sebelum terlelap tidur, saya mempelajari
rute perjalanan buat besok. Melihat garis kontur ketinggian pada peta, saya
hanya bisa mengelus dada. Ini Pegunungan Alpen bung!
Besoknya, Minggu 28
Agustus 2011 cuaca sangat cerah! Nampak sebuah hamparan pemandangan alam yang
indah. Sesekali terdengar suara lonceng sapi dari sebuah peternakan di seberang
lembah. Sekitar jam sepuluh, setelah sarapan kami meninggalkan tempat kami
berkemah. Dan dari sebuah persimpangan jalan, sepeda melaju kencang menuruni
jalan yang menukik sejauh 9 kilometer hingga kota Les Bairnes/La Fayet.
Karena di jalan bebas hambatan dilarang bersepeda, terpaksa kami harus
mencari jalan alternatif. Lintasan highway
berada di dasar lembah, dan medan
jalan alternatif tersebut adalah naik turun pada lereng di kanan kiri lembah.
Cukup menguras tenaga. Menyusuri, mengikuti lika-liku jalan tersebut.
Kelelahan rasanya hilang, sesaat setelah
mendapati cantiknya pemandangan alam. Tampak parasit warna-warni dari beberapa
penggiat parapente (paralayang), yang melayang-layang. Dengan latar belakang
langit biru dan puncak-puncak gunung yang berselimutkan salju.
Selepas Vadagne,
setelah menanjak beberapa kilometer barulah jalan menukik turun hingga La
Hauche. Tanpa terasa adrenalin mulai menjalari seluruh tubuh. Menggugah
semangat! Sepeda melaju kian kencang. Terasa nikmatnya bersepeda pada lintasan
jalan mulus yang lengang. Membuat diri serasa raja jalanan. Aroma bau pepohonan
pinus menambah indahnya momen tersebut.
La Hauche – Chamonix , datar dan jaraknya sekitar 7 kilometer. Kala
masuk pusat kota Chamonix di
hadapkan ramainya wisatawan. Apalagi bertepatan dengan masuknya ke garis
finish, para pelari yang mengikuti Ultra Trail. Sebuah perlombaan lari cross country yang mengitari wilayah Chamonix melewati daerah pegunungan. Dari pengeras
suara, terdengar lagu Vangelis : 'Conquest of Paradise' sebagai pengiring lagu penyambutan para pelari
melintas garis finish. Irama lagu tersebut membuat kami pun merasa tersanjung
saat memasuki kota Chamonix .
Seharusnya tujuan kami stasiun kereta api untuk menemui rekan kami,
Tantyo Bangun. Namun karena jalan ke arah stasiun terhalang kegiatan. Akhirnya,
berpindah titik temunya ke depan Kantor Pos Chamonix .
Tantyo Bangun selama ini tinggal di kota Brussels, Belgium . Dan akan bergabung dengan kami berdua. Kami berniat mendaki Gran Paradiso,
Italy sebagai sasaran antara sebelum mendaki Mont Blanc, France - gunung
tertinggi di Eropa Barat.
Pendakian Gran Paradiso,
Kedua sepeda serta
peralatan lain yang tidak terpakai buat pendakian, kami titipkan di penginapan
tempat kami bermalam. Lalu, kami bertiga menumpang bis menuju Aosta, Italy . Dalam perjalanan Chamonix (France ) – Cormayour (Italy ) – Aosta, bis yang kami tumpangi melewati Mont Blanc Tunnel. Terowongan ini sepanjang 11,66
kilometer, dibangun menembus bawahnya gunung Mont Blanc .
Setibanya di Aosta, kami putuskan mencari penginapan di sekitar
terminal. Karena hari sudah petang. Baru besoknya, kami lanjutkan menuju kaki Gran Paradiso . Bis terisi enam orang penumpang. Menyusuri
jalan berkelok-kelok di lembah Valsavarenche. Dan sampai di depan gerbang Gran
Paradiso Camping Ground, kami diturunkan.
Mengetahui kedatangan kami, Franco Caviglia, pengelola bumi perkemahan Gran Paradiso menyambut dengan senang hati. Pasalnya, sebelum
meninggalkan Indonesia kami sudah berkomunikasi via internet.
Jum’at, 31 Agustus 2011; saya berdua
dengan Tantyo Bangun berangkat menuju Refugio Frederico Chabod yang terletak
pada ketinggian 2750 meter dpl. Sedangkan Aristi tetap berkemah di camping ground, menunggu kami berdua
mendaki gunung Gran
Paradiso tersebut. Dan
menurut Franco Caviglia, prakiraan cuaca esok hari akan buruk. Peluangnya
50-50, dia menambahkan!
Kedua tenda pun ditinggal, kami hanya membawa perlengkapan seperlunya
dan peralatan pendakian es. Peralatan pendakian seperti: boots, crampons, ice axe dan sit
harness kami sewa dari Franco Caviglia.
Mendaki di gunung es memang berbeda dari pendakian gunung api di tanah air.
Ada teknik moving
together yang mengharuskan sesama pendaki saling terikat pada seutas tali.
Dengan niat saling mengamankan apabila salah satu ada yang jatuh atau terpeleset
masuk crevasse (rekahan es/salju). Persiapan
sudah cukup, namun halangan lain datang di luar kekuasaan manusia.
Dibutuhkan waktu
sekitar 4 jam lebih, jalan kaki untuk sampai refugio, hut yang didirikan oleh Frederico Chabod pada tahun 1985 tersebut.
Jalan setapak menyusuri hutan pinus. Bagusnya, pada bagian yang curam dibuat
tangga batu. Guna mencegah terjadinya erosi serta longsor. Batu-batu yang
berbentuk lempengan tebal tersebut disusun berdiri bukan rebah. Dan selalu
dibuatkan lobang-lobang saluran air pada bagian tertentu.
Pada akhir batas
pepohonan pinus, di atas ketinggian 2000 meter berganti dengan padang rumput. Banyak dijumpai ibex (kambing
gunung), yang tampak merumput dengan tenangnya. Mereka sudah terbiasa dengan
para pendaki yang lalu lalang. Para pendaki pun
sudah memiliki etika yang tinggi untuk tidak mengganggu flora fauna kawasan
itu.
Saat kami berjalan naik menuju hut,
kami sering berpapasan dengan para pendaki yang baru turun dari puncak. Jarang
sekali yang naik setujuan dengan kami, ada beberapa rombongan yang tujuan
akhirnya hanya sampai hut dan akan kembali keesokan harinya. Atau yang sekedar trekking dengan jalur melingkar melewati
beberapa hut (trekking hut to hut).
Antara lain melintasi Refugio Frederico Chabod
+2750 meter dpl dan Refugio Vittorio Emanuele II +2732 meter.
Dalam ruang bangsal (dormitory) Refugio F. Chabod tempat kami menginap,
hanya ada lima orang. Kami berdua dan tiga orang pendaki
dari Belanda yang baru datang setelah malam tiba. Kelompok lain berada dalam
ruang yang terpisah. Kami senang tidak begitu ramai pendaki yang naik. Tapi
rasa senang itu pun masih diselimuti rasa was-was akan cuaca besoknya. Betul
juga, sepanjang malam hujan turun disertai angin. Menjelang subuh agak reda,
namun awan hitam masih melingkupi kawasan tersebut.
Pagi itu, saat
matahari belum terbit kami sudah mulai mendaki menuju puncak. Hanya dua
kelompok pendaki yang berjalan tanpa pemandu. Kami, saya dan Tantyo dari Indonesia . Serta dua pendaki muda dari Belanda.
Sisanya kelompok pendaki yang dipimpin
oleh pemandu.
Walaupun sebelumnya sudah mempelajari peta, karena belum terlalu kenal
medan, kami berdua agak kesulitan juga ketika memasuki perbatasan batuan dengan
es (morraine rock). Situasi diperburuk
karena hujan es semalam menghilangkan jejak-jejak di permukaan es dan salju.
Setelah lebih dari setengah jam mencoba memotong jalan ke punggungan
dengan permukaan es bercampur batu yang licin, kecelakaan kecil terjadi. Sepatu
yang terpasang crampons terantuk
berkali-kali. Saya dan Tantyo
masing-masing jatuh terguling sekali. Saya lebih beruntung jatuhnya
tidak berdampak. Sementara Tantyo jatuh dengan crampons mengarah ke betis, membuat celana saljunya robek sepanjang
20 Cm.
Sambil melakukan orientasi ulang, kami mengedarkan pandangan ke arah
lembah. Dalam keremangan pagi, crevasse (rekahan
es) membentang di pertemuan gletser (Chiacciaio Glacier dan Laveciau Galcier).
Di ujung pertemuan dua gletser tersebut terlihat lidah gletser yang paling
bersih dari jebakan crevasse hingga
menepi ke arah barat. Terlihat beberapa pemandu membawa kelompoknya ke sana . Ada juga beberapa pendaki yang naik dari
Rifugio Vitturio Emanuele II. Tampaknya jalur itu lebih aman, kami pun memotong
ke arah yang sama.
Setelah itu rute menanjak terus ke selatan ke arah punggungan puncak.
Cuaca makin buruk dan kami menemui beberapa orang pendaki yang kembali turun
karena tidak mampu. Terlebih harus pintar menyiasati crevasse yang menghadang Karena rekahan es di padang salju tersebut menganga dan siap menerkam
mangsanya. Kami pun berjalan dengan penuh konsentrasi, fokus dan selalu
waspada. Setelah sampai di punggungan terakhir, angin makin kencang dan
pandangan sangat terbatas terhalang kabut tebal.
Kami berjalan sesuai ritme dan kemampuan, perlahan tapi tetap konstan.
Jarang sekali berhenti. Berjalan dengan crampons
di atas salju bukan perkara mudah! Mungkin kecepatan langkah kami sangat lambat
dibandingkan mereka yang sudah terbiasa. Apalagi saya sudah tidak muda dan
tidak setangguh dulu lagi. Telah lama sekali saya tidak mendaki gunung
bersalju, terakhir pada tahun 2000 di kawasan Khumbu Himal, Nepal . Dua pendaki Belanda sudah turun dari
puncak dan memberi semangat kepada kami. Dorongan dari pendaki lain pun penambah
semangat.
Kami berdua menjadi kelompok terakhir yang menuju puncak. Turun hujan
es, berangin dan kabut tebal menghalangi orientasi. Benar-benar menguji mental
dan semangat kami. Saya yang berjalan di depan hanya mengandalkan panduan
alami. Jejak-jejak yang ditinggalkan pendaki sebelumnya hanya terlihat samar,
terselimuti salju yang turun.
| Gran Paradiso Peak |
Kami tidak menyadarinya hingga saat-saat terakhir sebelum mendekati
puncak, karena pandangan terbatas. Sekali angin berhembus kencang menyibak
kabut tebal. Sekejab tapi cukup lumayan, bisa menegaskan posisi kami. Dan
punggunan puncak terlihat jelas. Wow! Tegak menjulang! Patung Maria yang menjadi pertanda terlihat di
puncak Madonna.
Dengan bantuan tali pengaman, kami menapak-memanjat tangga batuan
curam. Lalu bergeser melipir di gigir tipis puncak ke arah patung tersebut.
Puncak Gran Paradiso setinggi 4061 metr dpl itupun bisa kami
sambangi. Secara pribadi kami senang dengan keberhasilan pendakian gunung
tertinggi di Italy ini. Namun saat menapak turun ke arah timur setelah mengibarkan sang
Saka Merah Putih, kami tahu bahwa ada gunung yang lebih tinggi untuk didaki. Mont Blanc , gunung tertinggi di Eropa Barat dan kami
akan mencobanya beberapa hari lagi.
Beberapa hari kemudian kami bertiga
telah bergabung dengan tim Vanaprastha, yang datang menyusul dari Jakarta . Dan tim berkumpul di sebuah rumah di
kawasan Argentierre, 8 kilometer dari
Chamonix, France . Tim pendaki terdiri sepuluh orang termasuk dua orang crew tv swasta. Yaitu: Echol, Iin, Obet,
Aristi, Kharis, Eko, Paimo, Tantyo, Tejo dan Zaenal. Dalam pendakian nanti,
kami akan dipandu oleh lima
orang pemandu internasional berlisensi. Mereka adalah Wolfgang (Austria ), Robert (Irlandia), Paolo (Spain ), Wrost (Austria ), Nicole (Greece ). Setelah mendapatkan peralatan pendakian
dari tempat penyewaan (seperti sit harness, ice axe, crampons, helm, boots),
kami memulai kegiatan.
Proses pendakian melalui beberapa tahapan. Tahap pertama, pada hari Sabtu,
10 September 2011
kami semua berlatih mendaki/memanjat Petite Aiguille Verte +3512 meter dpl. Di
atasnya Aiguille des Grands Montets, masih di kawasan Argentierre. Tim dibagi
menjadi lima kelompok sesuai jumlah pemandu. Setiap
pemandu dua pendaki. Dan saya bersama Tantyo Bangun dipandu oleh Nicole dari
Yunani.
Tidak seperti yang lain, kami berdua dianggap sudah bisa oleh Nicole.
Kami tidak lagi diajari bagaimana teknik dasar berjalan dan self rescue di atas salju jika terjadi
kecelakaan. Masalahnya, sewaktu selesai mengenakan perangkat pendakian dia
bertanya kepada kami. Apakah kami berdua punya pengalaman mendaki gunung
es/salju sebelumnya?
Kami kelompok terakhir yang bergerak, menyusul teman-teman lain yang
terlebih dulu berjalan. Kami bertiga saling terikat dengan tali, masing-masing
berjarak tak lebih dari 2.5 meter. Posisi saya di tengah, antara Nicole di
depan dan Tantyo di belakang. Beberapa kali Nicole memberi pengarahan, dan tali
harus selalu tegang. Setengah jam kemudian kami bertiga istirahat sejenak di
gigir punggungan bukit berbatu, bibir dari Argeniterre Glacier. Lalu berjalan
lagi menyilang. Dari situ mulai merayapi dan memanjat dinding batu tanpa
melepas crampons.
Akhirnya, kami sampai juga di puncak batuan granit, Petite Aiguille de
Verte disusul teman-teman lain beberapa menit kemudian. Tapi ada juga yang
tidak sampai dan memutuskan kembali turun saat mulai mendekati bukit berbatu
tersebut. Di antaranya ada pula yang mengalami kecelakaan, jatuh dan menarik tubuh
rekannya. Bahkan seorang rekan kami, ketika turun dari puncak mengalami cidera
pada pergelangan kaki kanannya. Oleh Wolfgang, pemandunya, disuruh meluncur di
atas salju bertumpu pada pantatnya. Lalu digendong sampai Aiguille des Grands
Montets oleh Wolfgang dan Nicole. Saya selalu mengamati cara kerja mereka yang
porfesional dan menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga.
Tahap kedua, hari yang berbeda! Hari Minggu, 11 September 2011, kami
semua dievakuasi dengan mobil menuju stasiun telepheratic (cable car) Chamonix +1030
meter dpl. Lalu dengan cable car kami
diangkut ke Aiguille du Midi +3842 meter dpl. Perjalanan yang menegangkan,
diayun-ayun dalam cable car dengan
sarat penumpang. Terutama saat mulai merambat, mendekati dinding-dinding
batunya.
Menara Aiguille du Midi tegak menjulang tinggi, menuding langit biru. Dari
balkonnya bisa melihat pemandangan indah lembah Chamonix maupun bentang alam dari pegunungan Alpen.
Aiguille du Midi memang tempat tujuan wisata. Tapi bukan
buat kami dan para pendaki umumnya. Ada hal lain lebih menarik yang bisa memacu
adrenalin. Karena setelah itu, melalui sebuah lorong kecil yang ujungnya penuh
lapisan es, dihadapkan langsung medan
yang sangat ekstrem.
Tidak mungkin orang yang tanpa peralatan dan pengalaman berani keluar dari lorong tersebut. Sebuah pintu pagar kecil menjadi pembatas lorong dengan lintasan bersalju. Di mulut lorong, kami semua diharuskan memasang crampons dan tali pengman. terlihat para pendaki lain berjalan perlahan, beriringan meniti sebuah jalan setapak di gigir tipis punggungan bersalju.
Sambil menunggu giliran, saya manfaatkan waktu untuk mengambil foto. Tidak semudah dugaan semula. Nyatanya, saat keluar pintu, hati tiba-tiba berkecamuk tak menentu! Berdoa sejenak dan pasrah! Bagaimana tidak, lintasannya curam dan terjal sekali. Lebarnya, cuma 20 sampai 30 centimeter, diapit jurang menganga di kanan kiri. Rasanya lutut bergetar dan tremor tak terkendali. Tapi saya berusaha untuk bisa tenang dan konsentrasi. Langkah saya kecil-kecil sambil mengawasi langkah kaki Nicole agar tidak terantuk.
Sambil menunggu giliran, saya manfaatkan waktu untuk mengambil foto. Tidak semudah dugaan semula. Nyatanya, saat keluar pintu, hati tiba-tiba berkecamuk tak menentu! Berdoa sejenak dan pasrah! Bagaimana tidak, lintasannya curam dan terjal sekali. Lebarnya, cuma 20 sampai 30 centimeter, diapit jurang menganga di kanan kiri. Rasanya lutut bergetar dan tremor tak terkendali. Tapi saya berusaha untuk bisa tenang dan konsentrasi. Langkah saya kecil-kecil sambil mengawasi langkah kaki Nicole agar tidak terantuk.
Sesudah itu, menuruni tangga salju. Menjadi lebih repot saat harus
berpapasan dengan iringan pendaki yang naik. Kami merapat, menunduk dan
beringsut di tepi jurang dengan ice axe
dihunjamkan dalam-dalam. Ketegangan berakhir dan tawa kami langsung berderai, saat
sudah mencapai tempat landai (Col
du Midi).
Setiap pemandu mempunyai cara dan teknik buat menyampaikan pesannya.
Tapi kesamaannya adalah penyampaian teori langsung praktek di lapangan. Seperti
halnya saat memanjat dinding, menggapai Pointe Lachenal +3613 meter dpl). Bertiga
berjalan membelah padang salju (Col du Midi), saat itu Nicole mencoba mengatur
kebersamaan ritme berjalan, kecepatan dan lain sebagainya. Sebenarnya untuk
mencapai Pointe Lachenal, bisa menggunakan jalur landai di sisi baratnya. Tapi
kami memanfaatkan dinding es yang hampir tegak lurus di sebelah utaranya.
Tanpa banyak bicara, dia membuka jalur dengan memasang beberapa ice screw sebagai penambat tali
lintasan. Pergerakannya sangat cepat, memanjat dengan menggunakan ice axe serta bertumpu pada ujung-ujung crampons. Saya berusaha mengikuti saja
kemauan bahkan ritmenya. Dan saya kebagian yang membuka penambat ice screw tersebut. Jujur saja, berdiri
sejajar dengan dinding es dan hanya bertumpu empat ujung crampons yang menancap es bukan hal mudah.
Konsentrasi penuh, karena harus mengatur jarak dan ketegangan tali
dengan Tantyo di bawah dan Nicole di atas. Tanpa jeda dilanjutkan merayapi
dinding batu untuk bisa menggapai puncak Pointe Lachenal. Alhasil setibanya di
puncak Pointe Lachenal, saya megap-megap kehabisan nafas. Berat memang tapi terjawab
sudah keraguan saya semalam. Walaupun hanya seorang pesepeda, terbukti saya
bisa melakukan mix climbing (rock-ice-snow). Benar-benar saya tidak menyangka
bahwa pendakian Mont
Blanc benar-benar technical climbing. Terima kasih
Tuhan!
Dari Pointe Lachenal, semua mencoba memanjat dinding dan bukit batu
yang mengarah ke Le Cosmique +3613 meter dpl tempat kami menginap sebelum
keesokan harinya turun kagi ke Chamonix. Ini merupakan bagian dari tahapan
aklimatisasi yang ingin dicapai sebelum melakukan pendakian sesungguhnya. Dan
malam itupun para pemandu duduk bersama mengevaluasi kemampuan dari
masing-masing tim pendaki Vanaprastha.
Senin, 12 Septermber 2011; tengah hari setelah hujan reda kami semua
meningalkan penginapan di Argentierre. Seperti kemarin, kami menuju Aiguille du
Midi dengan cable car. Lalu langsung
berjalan mengulang kesengsaraan, menuju Refugio Le Cosmique. Menjelang sore, Hut tersebut makin lama makin penuh oleh
kedatangan para pendaki. Pendaki yang datang berharap cuaca esok hari akan
cerah seperti dalam prakiraan. Kami menghabiskan sore dan malam harinya dengan
berbagi pengalaman serta berdiskusi dengan para pemandu kami.
Dalam pada itu, dari luar terdengar deru suara helikopter yang sedang hovering (terbang di tempat) tidak jauh
dari hut, tepatnya dekat dinding
Aiguille du Midi. Terjadi sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa seorang
pemanjat dari Italy ! Saat pemanjatan telah usai, dia sedang membereskan peralatan di bawah
dinding. Dan jatuh terperosok ke dalam crevasse.
Nicole pun bercerita bahwa beberapa minggu yang lalu, 32 orang pendaki
tewas tersapu avalanche (longsoran
salju), ketika pendakian baru mulai menuju Mont Blanc du Tacul. Padahal dalam perhitungan,
salju dan es masif pada pagi hari. Sebab itu, demi keselamatan bersama, Nicole
minta kami berdua menjaga irama berjalan, kecepatan serta kekompakan guna
menghasilkan hasil yang optimal.
Dibutuhkan waktu maksimum 14 jam berjalan kaki dari hut ke puncak dan kembali lagi. Rata-rata
pendaki membutuhkan waktu 12 sampai 13 jam. Diperhitungkan akan sampai puncak
sekitar pukul 09.00. Lebih dari itu sangat berbahaya sewaktu menuruni dinding
es/salju Mont Moudit. Selain fisik, ketabahan dan mental
prima juga diperlukan.
Setelah evaluasi, anggota tim lain banyak yang diganti pasangannya
sesuai kemampuan. Bahkan beberapa di antara kami sudah diarahkan ke puncak
ke-tiga, Mont Blanc du Tacul +4248 meter dpl. Seorang
anggota tim pun harus tinggal di hut,
karena serangan AMS (altitude mountain sicknes).
Malam itu, saya hanya bisa berdoa dan pasrah. Batuk kering yang selalu
mengganggu beberapa hari ini mereda, awal yang baik pikirku dalam hati. Saya
berusaha sesantai mungkin, walaupun tidak dipungkiri ada rasa was-was juga
dalam hati. Sebagai salah satu summiter yang
diharapkan mencapai puncak (walaupun saya hanya seorang pesepeda dan sudah
tidak muda lagi dalam usia). Bagaimana pun ada beban tanggung jawab yang
diberikan ketua Vanaprastha, bapak Adyaksa Dault.
Selain itu ada hal
lain yang memacu semangat saya. Usia bukan halangan! Bersepeda dan mendaki
gunung adalah dua kegiatan yang berbeda. Otot kaki pun yang dipergunakan sangat
berbeda. Cukup lama proses persiapan yang saya lakukan untuk kegiatan pendakian
ini.
Sepulang melakukan kegiatan Bersepeda Antar Negara dan Antar Benua
serta pendakian gunung Jbel Toubkal +4167 meter dpl, di Morocco pada tahun 2010
yang lalu. Saya mengubah pola latihan dan harus memulai semua dari nol lagi.
Karena ada masalah ligament pada lutut kanan yang pernah cidera sewaktu berkelana
di New
Zealand tahun 2007.
Sejak awal tahun 2011, porsi latihan bersepeda dikurangi. Awalnya,
selama sebulan lebih saya hanya berjalan kaki secara teratur. Lalu berjalan
cepat dan bulan ketiga mulai berani lari dan makin lama makin cepat dalam waktu
yang lama (endurance) secara progresif. Bahkan kemudian lari naik turun di
tangga seribu PLTD Bengkok – Dago, Bandung . Diselingi dengan latihan beban berat.
Bagi yang tidak tahu mungkin dikira sebagai orang tidak waras. Sebabnya, untuk
simulasi dan proses aklimatisasi saya harus bangun jam 03.30 pagi berjalan kaki
ke arah Bandung Utara yang dingin. Tapi primsipnya, saya
harus lebih baik daripada kwalitas latihan rekan-rekan di Jakarta yang
didampingi pelatih dengan program yang tertata rapi. Itu saja!
Menjelang pukul 02.30 waktu setempat,
kami semua sudah bangun untuk melakukan persiapan summit attack. Selesai sarapan kami semua bergabung dengan pendaki
lain untuk memasang sepatu dan peralatan lain di ruang khusus. Tepat pukul
03.30 kami mulai pergerakan. Suhu udara di luar, minus sepuluh derajat Celcius,
angin hanya berhembus pelan. Bulan purnama pun masih bundar, pantulan sinarnya
membuat pendar-pendar indah dari butiran salju yang terhampar luas.
Ayunan langkah pertama di atas permukaan salju terasa ringan. Ah, awal
yang indah, bathinku mengatakan! Kilatan cahaya senter kepala dari
iring-iringan pendaki nampak indah di kegelapan. Banyak pula pendaki dari tim
lain sudah berada di lereng curam Mont Blanc du Tacul.
Saat menanjak, terasa berat sekali. Kesunyian pagi itu, terpecahkan
oleh suara crampons dan ice axe yang menancap pada permukaan
salju. Tali pengaman dari Nicole lebih pendek dari kemarin. Sehingga mau tidak
mau saya harus mengikuti setiap langkahnya. Satu langkah satu tarikan nafas!.
Akhirnya ritme itu terbentuk dengan sendirinya. Dan mendahului dari anggota tim
Vanaprastha lainnya.
Di ufuk timur, langit gelap mulai sirna berganti dengan kemerahan lalu
jingga dan sinar keemasan matahari mulai menyeruak. Bersamaan dengan itu,
langkah kami terhenti sejenak saat berhadapan dengan dinding tegak Mont Moudit. Tepat di bawah dinding ada crevasse yang menganga lebar. Nicole
sebelum mulai memanjat memberi arahan kemana saya harus mengikutinya. Supaya
tidak berselisih jalur dengan tim pendaki lain. Para alpinist terlihat sangat
cepat dan cekatan. Tidak lagi satu persatu tim naik, dan yang lain menunggu
sampai jalur lintasan kosong dan aman. Tidak seperti teori-teori pada buku
panduan.
Sewaktu saya memanjat, ada dua orang lain juga naik bersamaan dengan
pemandu dan tali pengaman yang berbeda. Namun semuanya bermuara pada satu
penambat yang sama, gila! Labih gila lagi saat sudah berada di punggungan Mont
Moudit, terlihat pengaman yang digunakan adalah dua buah walking stick yang ditancapkan ke dalam permukaan salju.
Sekarang yang tersisa adalah Nicole, saya dan Tantyo. Disusul kemudian
Wrost dan Kharis (22 tahun, anggota tim termuda). Dari punggungan ini sudah
terlihat puncak Mont Blanc di kejauhan, ada sebuah bukit lagi di depannya yang
harus kami lewati. Pada lembah maupun lereng bukit tersebut, terlihat beberapa
pendaki berupa titik-titik yang bergerak pelan. Melihat kenyataan masih jauh,
cukup membuat lemas. Tidak! Hati saya berontak! Saya sudah melangkah sejauh
ini. Kobarkan semangat! Tanpa terasa adrenalin menjalari seluruh tubuh,
menggeliat. Rasa itulah yang sulit dikatakan. Sebuah interaksi langsung antara
manusia dengan alam semesta tanpa batas. Saya bilang kepada Kharis, apapun yang
terjadi kita harus mencapai puncak. Dia sepakat!
Oleh karena itu, saya sangat marah dan jengkel; saat Nicole dan Wrost
memberi ultimatum. Bahwa jika sampai pukul 09.30 belum sampai puncak, maka
semua harus turun! Guna menyiasati kaki kiri yang mulai terserang gejala
kejang, karena kecepatan yang dikembangkan Nicole. Saya tidak mau jadi beban
dan minta bergabung dengan Wrost dan Kharis. Dengan begitu Nicole dan Tantyo
bisa leluasa mencapai puncak lebih dulu.
Perhitungan yang tepat. Karena langkah yang melambat, gejala kejang pun
hilang. Kami bertiga berjalan perlahan, konstan dan nonstop. Alhasil sampailah
kami dipuncak Mont Blanc +4810 meter dpl, pada pukul 09.48; beberapa menit
setelah Nicole dan Tantyo mendahuluinya. Lega rasanya berdiri pada titik paling
tinggi di Eropa Barat ini sambil mengibarkan Merah Putih. Hanya sepuluh menit
kami berada di puncak. Lalu turun lagi.
Bersepeda menuju Belanda,
Saya berpisah
dengan seluruh tim Vanaprastha di kota
Anemasse dekat perbatasan Prancis – Swiss. Mereka akan kembali ke tanah air
lebih dulu, yang sebelumnya ada acara presentasi di KBRI Paris, Prancis dan
KBRI Den Haag, Belanda. Sedangkan Tantyo Bangun kembali lagi ke Brussles,
Belgia. Sendirian saya akan bersepeda menuju Amsterdam, melintas France - Switzerland - Belgium - the Netherlands .
Pagi
itu cuaca sangat cerah! Penuh suka cita aku bersepeda memasuki kota
Geneve, Switzerland . Merasakan
sebuah kenyamanan bersepeda yang luar biasa karena jalur sepeda sudah ada. Lintasan
datar mengitari danau dengan pemandangan yang indah mempesona. Sinar matahari
pagi menghangatkan suasana hati.
Sewaktu akan memasuki perbatasan Switzerland - France, saya harus
menyusuri jalan mendaki bukit yang berkelok-kelok pada lerengnya. Maklumlah
masih di kawasan Pegunungan Alpen. Menggenjot di tanjakan dengan sepeda sarat
beban, menjadi ujian tersendiri. Otot tangan meregang karena harus selalu
bertumpu pada stang sepeda. Pundak pegal dan hal inilah yang juga membuat nyeri
otot punggung. Tidak mudah bersepeda lagi setelah mendaki dua buah gunung, dengan
tingkat kesulitan di atas rata-rata. Terlebih setelah sebelumnya menggendong
ransel di punggung, sekarang beban berada di boncengan sepeda.
Malamnya, saya berkemah di sebuah camping site ‘Les Cheseaux’ - St. Cergue , Switzerland . Lahannya tidak begitu luas tapi sangat
bersih dan rapi. Ongkos nya semalam sekitar 20 euro dan menjadi tempat berkemah
yang termahal selama perjalanan kali ini.
Semalaman hujan
turun hingga paginya. Besokmya, Sabtu, 17 September 2011 saya melanjutkan perjalanan di bawah hujan
gerimis dengan suhu udara tidak lebih dari 9 derajat Celcius. Begitu pula empat
hari sesudahnya, setiap pagi saya selalu
bersepeda di bawah suhu udara rendah. Dengan cuaca yang kurang bersahabat dan
berangin. Matahari lebih sering tertutup awan, sehingga cukup menguras tenaga.
Beberapa camping site sudah banyak
yang tutup pada akhir musim panas ini. Bahkan sepertinya sudah memasuki musim
gugur. Dan makin ke utara cuaca kurang pas buat bersepeda jarak jauh.
Rute perjalanan saya adalah: Anemasse – Geneve – Champagnole – Dole –
Dijon – Chatillon s/ Seine – Troyes – Brussels – Machelen - Rotterdam – Den
Haag.
Meninggalkan Alpen, banyak jalan mendatar. Terutama antara Brussels,
Belgium – Den Haag, the Netherlands . Sangat dimanjakan, semua fasilitas bersepeda ada. Jalur sepeda berada
sejajar dengan jalan nasional (National Highway #1). Tidak sekali pun kendaraan bermotor
berani melintas atau menggunakan sebagian atau sekedar parkir pada lintasan
sepeda. Rambu-rambu (sign system) untuk pesepeda sangat jelas, dengan bahasa
gambar (pictogram) yang mudah dipahami. Para pesepeda
pun saat patuh pada peraturan lalu lilntas yang ada. Mereka selalu berhenti
saat lampu merah khusus sepeda menyala. Walaupun kondisi jalan sepi mereka
tidak asal nyelonong. Sebuah pembelajaran yang patut ditiru dan dikembangkan di
tanah airku!
Terasa sekali rasa kebersamaan sesama pesepeda. Mereka saling tolong
menolong. Seperti ketika saya ragu-ragu untuk melewati sebuah lintasan di kota Rotterdam , Belanda. Tidak segan-segan seseorang menghampiri
dan membantu. Memberitahu jalur sepeda yang benar. Bahkan mengantarkan sampai
tujuan yang ingin saya capai, kendatipun berjarak lebih dari 10 kilometer.
Memasuki kota Den Haag, Belanda tanpa terasa. Karena banyak sekali
pesepeda lalu lalang melintas di jalur sepeda. Sebelum mengakhiri perjalanan
ini saya mampir di sebuah warung untuk menikmati poffertjes dan secangkir kopi.
Sambil kontemplasi terhadap apa yang telah saya lakukan. Sebuah kegiatan yang
tidak sekedar mengandalkan kekuatan dengkul. Akan menjadi kenangan indah dalam
mengisi serta merayakan kehidupan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa!
(celebrate to my life!). Dan semoga bisa menjadi bahan inspirasi bagi kaum
muda. Terima kasih Tuhan!..........
Salam, PAIMO
Disarikan dari catatan perjalanan bertajuk: TOUR du MONT BLANC 2011
Petualangan yang dilakukan dari tanggal:
23 Agustus 2011 sampai dengan 8 Oktober 2011. Dilakukan bersama
dengan tim dari Vanaprastha, Jakarta
23 Agustus 2011 sampai dengan 8 Oktober 2011. Dilakukan bersama
dengan tim dari Vanaprastha, Jakarta
Rabu, 01 Februari 2012
AKHIRNYA, KENA JUGA DEH........!!!!!!!
CERITA YANG MENYEBALKAN
Dalam melakukan kegiatan pengembaraan di mancanegara, tidak jarang saya berinteraksi dengan penduduk lokal atau para pegiat alam terbuka, petualang maupun pengeliling dunia. Sehingga pembicaraan kami menjadi seru saat membicarakan rute yang sama, pada Negara yang pernah kami lalui sebelumnya. Anehnya, mereka selalu menghindari masuk Indonesia, terutama yang membawa kendaraan. Seperti sepeda atau sepeda motor. Umumnya, rute mereka dari Singapura langsung terbang menuju Perth, Australia ataupun sebaliknya. Alasan mereka hampir semua sama, karenaIndonesia sudah sangat dikenal mempunyai banyak ‘masalah’ dengan bea cukai dll, di airport ataupun pelabuhan.
Dalam pembicaraan tersebut di atas, tentu saja saya selalu berusaha menjelaskan bahwa semua itu bohong belakang. Selain mempromosikan keindahan alam Indonesia, saya katakana bahwa Orang Indonesia itu ramah tamah dan suka menolong. Tidak suka korupsi maupun mengutip uang lebih dari yang seharusnya. Buktinya selama ini saya tidak pernah mengalami hal-hal yang disebutkan mereka. Kiranya terlalu naïf apa yang saya katakan.
Akhirnya .........saya sependapat dengan mereka. Karena............. saya kena juga! Tidak salah kalau saya mengatakan orang Indonesia suka menolong, tapi dengan dalih menolong tersebut lah sebenarnya mereka (tidak semuanya) menipu. Ya ironis memang. Sejak dulu hingga sekarang, selama saya melakukan kegiatan di mancanegara. Seringkali saya ditolong dan dibantu oleh penduduk lokal, petugas lokal dengan tulus. Tapi justru di Indonesia saya di’kerjain’ Ceritanya begini:
Setelah bersepeda sejauh 3538.5 kilometer dari Brussels (Belgium) hingga Rabat (Morocco), melintas Belgia – Prancis – Spanyol – Portugal dan Maroko. Selama 48 hari bersepeda dari 64 hari masa pengembaraan. Serta mendaki Gunung Jbel Toubkal +4167 meter dpl, gunung tertinggi di kawasan Pegunungan Atlas Afrika Utara. Saya pulang kembali ke Indonesia pada tanggal 14 Agustus 2010, dengan pesawat Etihad Airways dari Casablanca (Morocco) – Abu Dhabi - Jakarta. Dan tiba di Indonesia pada hari Minggu, 15 Agustus 2010.
Saat itu, uang yang tersisa pas-pasan. Dan saya tidak mampu membayar ongkos kelebihan bagasi (biasanya, dari maskapai penerbangan lainnya saya selalu mendapat surat keringanan atas kelebihan bagasi, namun kali ini tidak). Oleh karena itu, saya putuskan kelebihan beban bagasi dikirim via kargo dari Casablanca ke alamat saya di Bandung, Jawa Barat – Indonesia. Berat barang dari 1 Kg sampai 34 Kg dikenakan ongkos 1600 Dirham Morocco setara lebih kurang 150 euro. Dan barang perlengkapan saya cuma 24 kilogram terdiri dari 2 koli (duffle bag dan sebuahpannier).
Selasa malam, 17 Agustus 2010 saya mendapat kabar melalui sms dari sesorang yang mengaku bernama Agus, no hp: 021.91600441x Bahwa barang kiriman saya dari Casablanca sudah tiba di kawasan Kargo – Cengkareng. Tentu saja saya senang apalagi dikatakan bahwa barang saya utuh. Selain terima kasih, saya jawab bahwa barang akan saya ambil hari Senin, 23 Agustus 2010. jika saya sudah sehat.
Rupanya, jawaban saya di atas menjadi jalan masuk bagi oknum tersebut, untuk berusaha memperdaya. Seperti isi sms terlampir, dia katakan untuk seminggu ongkos sewa gudang akan melonjak dan dia bisa membantu mengurus hingga mengirim sampai ke alamat saya di Bandung.
Saat itu, kondisi fisik saya sedang kurang fit. Maklum sejak turun gunung, saya mengalami kejang otot. Yang diakibatkan perubahan gerak aktifitas berbeda. Dari lama bersepeda lalu naik turun gunung dengan cepat. Rupanya semua otot kaki tertarik dan kaku, jalan pun seperti robot. Dan juga akibat perubahan iklim yang drastis, dari panas ke dingin. Mengingat kondisi tersebut di atas dan sudah terbiasa dengan bantuan yang jujur dan tulus dari orang yang tidak dikenal sebelumnya selama melakukan petualangan di negeri orang. Saya pun tidak curiga atas tawaran tersebut.
Oknum yang bernama Agus ini lalu minta saya mengirim fotocopy KTP dan Paspor, via fax dengan nomor 021.8590457x. Anehnya dia tidak protes saat saya kirim fotocopy paspor hanya bagian depannya. Berikutnya dia minta saya untuk kirim uang sebelum barang dikirim. Nah, di sini lah sudah muncul rasa curiga, tapi saya ikuti saja permainannya. Rupanya dia makin gencar mengirim sms.
Hal berikutnya yang membuat saya semakin curiga adalah ketika dia mengatakan sudah menghabiskan sejumlah uang buat mengurus surat dari Kedutaan (kedutaan mana? dan apa urusannya dengan pihak kedutaan?) Aneh! Saya pun menjadi kesal menanggapinya, mulailah dia mengancam tidak akan mengirim barang-barang tersebut kalau saya tidak segera mentransfer uang. Lalu sms lagi dengan nomor hp lain (021.4160644x) Dan mengaku pula sebagai atas dari Agus (padahal saya yakin orangnya sama, karena saat menelepon suara dan logatnya sama).
Dia lalu memberikan No Rekening di BCA atas nama Supriyadi: 2721593519
Jum’at, 20 Agustus 2010 sore, pk 18.00 saya akhirnya menstransfer uang sejumlah Rp 700.000,- seperti yang diminta. Setelah menerima uang dia mengatakan barang akan dikirim saat itu juga dan sekitar jam 22.00 akan tiba di alamat.
Senin, 23 Agustus 2010, sudah tiga hari berlalu namun barangpun tidak kunjung tiba. Saya mencoba menghubunginya dan dikatakan bahwa memang benar bahwa belum bisa dikirim karena uang sewa gedung kurang Rp 276 000,- dan saya harus melunasinya. ‘Agus’ tersebut minta uang rokok dan digenapi menjadi Rp 300 000,- dan ditransfer ke No Rekg. BCA KCP. Senayan City atas nama Lilis Lestari, 5005036311. Sore itu saya pun mentransfer uangnya dengan harapan barang akan saya terima malam harinya. (Jumlah keseluruhan uang yang sudah saya transfer adalah Rp 1.000.000,-/satu juta rupiah). Harapan tinggal harapan, sampai keesokan harinya barang pun tidak datang. Saya pun menelepon ‘Agus’ dan dijawab dengan entengnya; wah mungkin sopirnya ketiduran. Setelah itu tidak satupun sms maupun telepon saya dijawabnya.
Rabu, 25 Agustus 2010, ketika sudah tidak ada jawaban dan keterangan yang jelas. Saya lalu berkonsultasi dengan pihak BCA maupun Polwiltabes di SPK. Sarannya, saya harus ke Jakarta langsung membuktikan ada tidaknya barang tersebut. Karena kondisi fisik sudah membaik, saya berencana keesokan harinya akan ke Jakarta. Semua data yang diperlukan sudah saya persiapkan sekiranya nanti jadi lapor polisi di kawasan Bandara Soekarno Hatta.
Kamis, 26 Agustus 2010, dengan menggunakan jasa travel Xtrans, saya langsung menuju Bandara Soekarno Hatta, tepatnya di Terminal Kargo. Saya berusaha melupakan uang sejuta dan tidak menghubungi si’Agus’. Saya akan mengurus sendiri, berbekal nomor seri resi dan salinan bukti pengiriman barang dari Casablanca. Saat itu saya sedang tidak memendam rasa marah atau dendam pada seseorang, saya hanya berserah diri saja, pasrah.
Sejujurnya, baru pertama kali saya masuk kawasan Terminal Kargo tersebut. Suasananya membuat bingung karena tidak ada rambu-rambu petunjuk. Ketika saya bertanya pada seorang petugas keamanan, kemana saya harus mengurus. Dia menunjukkan arahnya serta mengingatkan hati-hati akan terjebak calo, karena areal 520 (internasional) banyak calonya. Tetapi lucunya, dia juga menawarkan jasa temannya yang biasa membantu mengeluarkan barang, jika saya belum berpengalaman mengurus. Aneh!
Dari seorang petugas di areal gudang 520, saya disarankan menuju bangunan menyerupai bedeng di belakang bangunan Bea Cukai. Mengambil Surat Keterangan Penyerahan Dokumen Barang (Document Delivery Order) dengan menunjukkan nomor resi pengiriman. Karena jenis barang saya adalah Personal Effect, dibutuhkan cap Imigrasi di Bandara, tanggal terakhir saya masuk Indonesia
Maka di fotocopy paspor saya dan KTP saya. Di ruangan yang sama, saya harus membeli formulir isian serta map buat kelengkapan administrasi di Bagian Bea Cukai (Rp. 6000,-). Banyak sekali orang sedang menunggu antrian di situ, tapi ada saja seseorang yang membantu saya.
Di Gedung Bea Cukai, di loket PIBK saya diterima baik oleh bapak Soekanto dan juga diberitahu tahapan berikutnya yang harus saya kerjakan. Setelah itu, saya harus berjalan kembali menuju Gudang 520 sesuai petunjuk tadi. Dalam pada itu, seorang bapak yang tadinya sama-sama menunggu di depan loket, mau membantu dan memandu saya masuk meja demi meja dalam ruangan gudang.
Pertama harus ke meja di dalam lorong sempit (katanya untuk minta lokasi) sebuah istilah untuk menentukan lokasi/letak dimana barang disimpan. Kedua, setelah barang ditemukan, baru dicek secara fisik oleh petugas Bea Cukai. Barang saya tidak ada masalah karena memang baju-baju kotor dan perlengkapan berkelana seperti tenda, sleeping bag, matras, fly sheet, kompor dll. Lalu dari tempat pengecekan fisik, saya harus ikut ke ruangan petugas untuk dibuatkan daftar hasil pengecekan fisik tersebut. Dan dari situ harus kembali ke loket PIBK Bea Cukai untuk mendapatkanSurat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB). Kembali ke Gudang 520 lagi ke loket pembayaran sewa gudang (ada 3 tahap). Dan saya harus membayar sewa gudang dll, di loket Bank BNI sejumlah Rp 236. 000,- (dua ratus tiga puluh enam ribu rupiah saja). Setelah melalui 3 tahap lagi, menyerahkan bukti pelunasan, bukti SPPB, pemeriksaan di bagian sekuriti barang saya keluar dari gudang 520 dan barang bisa langsung dibawa pulang.
Rencana untuk lapor ke pihak berwajib atas kejadian yang saya alami sebelumnya, saya urungkan. Pasalnya, selain hari itu sudah sore dan harus cepat kembali ke Bandung. Ada hal lain yang mengganggu pikiran. Yaitu pada saat saya sedang dalam antrian, saya berkenalan dengan seorang wanita yang mengurus 4 buah koper milik atasannya. Atasannya seorang dosen di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta. Dalam pembicaraan, saya ceritakan tentang penipuan yang saya alami. Tanpa disangka, dia pun bercerita penipuan uang yang dialaminya. Dengan modus sama seorang oknum telah memperdayanya hingga habis sepuluh juta rupiah, lima juta dibayar tunai dan lima juta lagi ditransfer. Wah rupanya, oknum oknum ini sudah terbiasa memperdaya pengguna jasa kargo dengan dalih dan modus yang sama.
Cerita lain adalah saat keberangkatan, karena alasan yang sama seperti yang saya uraikan di atas. Barang yang sama juga terpaksa saya kirim melalui jasa kargo. Saat itu di tangani oleh Fesindo Airport Service, dikirim pada tanggal 12 Juni 2010 dengan tujuan Brussels, Belgia. 19 kg berat barang @ 19 $ US = 361 $ US (1 $ US = Rp. 9.300,-) IDR. Rp 3.357.300 ditambah bea handling Rp. 500.000,- Saya diharuskan membayar Rp. 3.850.000,- (tiga juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah).
Dan ketika saya ambil di Brussels Airport, dalam catatan Air Waybill bernomor 217.2824 6444 dari Thai Airways International PCI; tertera bahwa ongkos pengiriman adalah 8.84 perkilo x 20 Kg = 176.80 $ US ditambah bea lain-lain 20 $ US. Jumlah 196.80 $ US.
Selisih 361 $US – 196.80 $US = 164.20 $US wooooowww mengambil untungnya keterlaluan!.
Dari pengalaman tersebut di atas, telah terbukti dan tidak bisa dipungkiri apa yang sering jadi pembicaraan para petualang dunia. Bahwa di Indonesia memang bermasalah. Sebenarnya, jika yang berwajib mau mengungkap kasus-kasus yang tentunya tidak sekali ini terjadi bisa saja. Karena oknum yang pertama kali memberitahu kedatangan barang kepada saya, adalah orang yang tahu pasti bahwa barang tersebut memang ada dalam daftar kedatangan barang. Paling tidak masih dalam lingkaran tersebut. Kedua, sebaiknya pemberitahuan kedatangan barang bukan melalui telepon atau sms (karena sering disalahgunakan). Tetapi alangkah bijaksana kalau melalui email, seperti ketika saya akan mengambil barang di Brussels Airport, Belgia. Semua tercetak dan tertulis dan ada buktinya. Akhirnya, harapan saya tentu saja agar masalah dan kejadian yang seperti saya alami tidak akan terjadi dan menimpa bagi pengguna jasa kargo.
Berikut ini catatan sms dari oknum yang mengaku bernama Agus, kepada saya. Terlihat gencar sekali mengirim sms tetapi setelah mendapatkan uang yang diinginkan langsung tidak bisa dihubungi lagi:
- 021.9600441x 16 Agustus 2010, 22.42.13:
Slmt mlm pak.... Pak saya dari PT Jasindo airport.
Barang Bpk yg 2 koli 24 kilo udah nyampe pak. Skrg di gudang kita.
Tks. Agus pt Jasindo
- 021.9600441x 17 Agustus 2010, 13.54.51:
Klu senin nt. Sewa gudangnya bertambah pak.
Apa bsk aja saya casteums. Sore barang dikirim.
- 021.9600441x 18 Agustus 2010, 09.46.58
Slmt siang pak...... Pak hrp fax photo copy ktp dan paspor ke 021.85904574 Tks.
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 11.09.47:
Siang jg pak.....? Nt sore pak dikirim. Melalui mobil ya pak. Tks
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 12.22.12:
Pak. Barang dikirim ....... Melalui paket kargo. Alamat sesuai ktp kan ...?
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 12.28.20:
Ya pak.... Mengenai pembyran ditransfer bisa ...?
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 12.37.51:
Ya tks pak atas krjasama-ya..!!
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 13.36.39:
Pak minta maaf yang sebesar2nya ...! Boos ktr saya klu eg dikrim uang.
Brang ditahan. Krn udah pengalaman ditipu orang.
Mhn pengertian bpk. Tks atas krjs smanya
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 13.40.55:
Barang udah diantar pak ...? Tp eg mau dikirim krmh nt.
Krn banyak paket lain di mobil box kita. Trksh.
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 14.27.07:
Bgmn pak ..? Apa dikrim uangnya skrg.
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 14.50.02:
Bca.2721593519 supriyadi ........ ini pak regnya. Tks
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 14.54.12:
Eg ada niat tu mnipu uang 700rb pak. Tp ini bos saya tel ke saya pak ...
Boleh bpk. Lapor ke polisi saya pak. Klu bohong
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 14.57.48:
No rek udah saya kirim pak. Barang utuh pak. Jgn kwatir. Tks
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 15.11.19:
Ini data ktr saya ...? Komplek ruko cempaka mas blok K. No 6-7
Cempaka Putih. Jakarta Pusat. Boleh suruh dtng or Bapak ke ktr saya. Tks
- 021.9600441x Jum’at, 20 Agustus 2010, 15.35.55:
Maaf pak saya udah pening nie ..? Boos suruh transfer uang dlu
Kalau saya bohon barang eg datang tlng lapor saya ke polisi siap saya pak. Tks
-------------------------------
- 021.4160644x Jum’at, 20 Agustus 2010, 16.27.21:
Slmt sore pak. Saya atasan agus. Barang nanti jam 5 dikirim.
Tlng. selesaikan pembyaran segera. Ke bca yg dikirm tadi. Mksh
- 021.4160644x Jum’at, 20 Agustus 2010, 17.38.02:
Ya kalau enggak mau kirim skrg uang. Barang ditunda uang segitu rebut.
Barang eg diantar klu gitu
- 021.41 60644x Jum’at, 20 Agustus 2010, 17.41.09:
Biar bpk tau ... urus izin di kedutaan aja kmren 300rb. Bea cukai 200rb.
Blm lg beaya kirim.
------------------
setelah sedikit berdebat dalam pembicaraan via telepon, saya transfer dari ATM BCA, 20 Agustus 2010, 17.54.21 uang sejumlah Rp 700.000,- ke rek: 2721593519 Nama: Supriyadi uang sejumlah Rp 700.000,-
------------------
- 021.4160644x Jum’at, 20 Agustus 2010, 18.00.40:
Ya tks brang jam 10 mlm nyampe kok ....
---------------------------------
- 021.9600441x Sabtu, 21 Agustus 2010, 18.32.44:
Slmt mlm pak ...? Pak udah dikirim barang sama boos saya. Tks
- 021.9600441x Sabtu, 21 Agustus 2010, 18.36.06:
Kok blm nyampe ya .... Katanya smlm dikirm ....
T peg apa2 pak. Nt cek lg. Saya eg enak ama bpk. Tks
- 021.9600441x Senin, 23 Agustus 2010, 16.57.07:
Pak, udah aku cek barangnya ...? Blm dikrim.
Msh ditahan krn brangnya kmaren pak Supriadi yg urus. Tks
- 021.9600441x Senin, 23 Agustus 2010, 17.05.57:
Pak. Ditahan barang krn sewa gudang kurang Rp 276.000,-
Pak Supriadi udah terlalu ngmng ama saya dlu ....
Jadi dia lpas tggungan ...! Bgmn pak ini, aku yg jd malu ama bpk.
- 021.9600441x Senin, 23 Agustus 2010, 17.27.37:
BCA KCP Senayan City no rekg. 5005036311 Nama Lilis Lestari.....
Bpk kirim aja skrg ..... Bpk percaya ama saya x ini ..... Tks
-----------------
lalu dalam pembicaraan via telepon dia minta digenapi menjadi tiga ratus ribu rupiah. Dan saya transfer dari ATM BCA, 23 Agustus 2010, 17.57.43 uang sejumlah Rp 300.000,- ke rek: 5005036311 Nama: Lilis Lestari
-----------------
- 021.9600441x Senin, 23 Agustus 2010, 18.13.57:
Iya pak tks ...?
- 021.9600441x Senin, 23 Agustus 2010, 21.16.49:
Met mlm pak ....? Pak brang bsk dikirimnya krn gudang udah tutup pak. Tks
- 021.9600441x Senin, 23 Agustus 2010, 21.23.10:
Tks jg pak ....
- 021. 9600441x Selasa, 24 Agustus 2010, 13.40.41:
Siang pak .... ini lg muat pak krn sekaligus punyk orang lain pak ...
Ntar mlm dah dtg kog. Tks
- 021.9600441x Selasa, 24 Agustus 2010, 16.22.46:
Pak brang udah dikrim ya .... Tks
------------
Rabu, 25 Agustus 2010, Saya berusaha menanyakan kenapa barang belum juga datang ke nomor-nomor tersebut di atas sudah sulit dihubungi atau langsung dimatikan. Sekali bisa kontak, oknum yang bernama Agus tersebut dengan enteng menjawab mungkin sopirnya ketiduran di jalan. Setelah itu telepon saya tidak pernah di jawab.
Kamis, 26 Agustus 2010, barang sudah saya ambil dan urus sendiri ke terminal kargo di kawasan Bandara Soekarno Hatta..
Jum’at, 27 Agustus 2010, saya mencoba mengirim sms ke nomor tersebut di atas berkali-kali untuk menanyakan masalah nasib barang saya (seakan barang belum saya dapat) bisa masuk tetapi tidak ada sekalipun jawaban. Begitupun hari hari selanjutnya.
Langganan:
Postingan (Atom)