BERSEPEDA MELINTAS 4 NEGARA
THAILAND – CAMBODIA – LAOS – VIETNAM
........
oleh : Paimo
Awal Perjalanan,
Sesaat
setelah pesawat yang membawaku dari Jakarta mendarat, tubuh segera disergap dinginnya
udara malam yang basah karena habis turun hujan. Sisa malam itu, saya habiskan dengan tiduran
di atas kursi dalam ruang tunggu Svarnabhum International Airport, Bangkok - Thailand . Rencanaku baru keesokan paginya (Selasa, 15
September 2009 ) akan
bersepeda ke pusat kota
Bangkok yang berjarak 40 Km.
Tapi kenyataannya
berbeda. Berubah sesudah mendapat keterangan bahwa rute atau ruas jalan ke
Bangkok, sama dengan yang akan saya lalui nantinya bila menuju perbatasan Thailand – Cambodia . Dan untung pula saya putuskan naik bis,
sebab jalan keluar dari bandara tersebut sangat rumit, mirip jalan layang di
daerah Tomang - Jakarta . Bis
itu kemudian melintas di jalan bebas hambatan dan menurunkan semua penumpang di
Khao Sarn. Sebuah kawasan di tengah kota Bangkok, tempat berkumpulnya para backpackers dari mancanegara.
| dalam bersepeda jarak jauh, 'kekuatan hati' lebih utama daripada kekuatan otot ataupun kekuatan finansial |
Tidak sulit mencari
alamat penginapan di kawasan Khao Sarn tersebut, karena saya sudah beberapa
kali berkunjung. Kedatangan saya kali ini adalah untuk mengawali kegiatan
bersepeda jarak jauh dengan rute berbeda dengan yang sebelumnya. Saya bermaksud
melintasi Thailand – Cambodia – Laos – Vietnam . Rutenya dari kegiatan TRANS ASIAN CYCLING TRIP 2009 sebagai berikut: Bangkok – Chachoengsao – Kabin Buri – Aran
Yaphra Thet – (perbatasan
Thailand–Cambodia) – Poypet – Sisophon – Siem Reap – Stung – Phnom Penh – Prey
Vaeng – Chub – Chlong – Kratie (Kracheh) – Stung Treng –Dong Khlalor –
(perbatasan Cambodia-Laos) – Van Kew – Pakse – Paksong – Huoay Kong – Attapeu –
Pheu Khao (perbatasan Laos-Vietnam) – Attapeu – Pheu Kau – (perbatasan
Laos-Vietnam) – Plei Can - N Hoi – Plei Ku – Eadrang – Buon Mo Thuot – Dakmil –
Kien Duc – Dong Xuoi – Thu Dau Mot – Saigon (Ho Chi Minh City).
| jalur sepeda di Bangkok |
Rencananya pada hari Jum’at,
Selama berada di
ibukota Negara Gajah Putih ini, saya mengunjungi beberapa obyek wisata dengan
menumpang bis air yang melayani trayek pada aliran sungai Phraya. Sempat pula
saya dijamu pasangan pesepeda Thailand, Wan dan Mou yang pernah berkeliling
dunia dengan sepeda selama 6 tahun. Mereka yang menjadi terkenal di Thailand setelah menuliskan buku hasil
perjalanannya dalam 4 edisi.
Jum’at, 18 September 2009 ,
Hari pertama meninggalkan Bangkok, menjadikan suatu hal yang mengasyikkan. Saya susuri jalanan utama Bangkok saat hari masih gelap. Udara pagi terasa
segar menjalari seluruh tubuh, membakar semangat. Tampak satu-dua bis kota yang meluncur di jalur lambat dan berhenti
di halte untuk menaik-turunkan penumpang. Ketika langit di atas kota
metropolitan tersebut mulai terang, kabut masih tampak menyelimuti puncak para
pencakar langitnya. Jalanan semakin ramai lalu lintas kendaraan tapi saya bisa
cepat beradaptasi dengan baik. Dan bisa keluar kota Bangkok dengan selamat. Lalu menyusuri highway mengarah ke timur, menuju
bandara.
| dragon fruit flower |
Di samping juga penyesuaian diri dalam mengendarai sepeda dengan sarat beban. Sampai kemudian di sebuah persimpangan sebelum Kabin Buri, saya belok kanan mengikuti Highway #359. Rupanya ruas jalan ini masih baru dan jarang rumah penduduk. Di kanan kiri jalan banyak terdapat hutan homogen atau perkebunan singkong yang luas. Pada area yang ditumbuhi ilalang banyak pedagang yang berjualan tikus sawah yang dibakar dan belalang yang digoreng sangrai.
Suatu saat, cuaca
yang sebelumnya cerah tiba-tiba langit berubah menjadi kelam dengan awan hitam
bergulung-gulung. Disusul kemudian turun hujan lebat disertai angin, bak
dicurahkan dari langit. Saya pontang panting mencari tempat berteduh, karena
tidak menyangka akan dihadang demikian cepat. Sepeda saya belokan ke sebuah
gudang yang dijaga orang Burma . Sambil menunggu hujan reda, saya
mengemasi kembali peralatan penting ke dalam dry bag.
Menjelang sore, saat
hujan reda saya mencapai Phanom Sarakham, bersepeda sejauh 113,14 kilometer
dari Bangkok . Kemudian saya memberanikan diri minta
izin berkemah dalam areal Wat (kuil/pagoda) Ban Huai Chot. Setelah dapat izin,
tenda bukannya saya dirikan di bawah langit tetapi di teras salah satu bangunan
Wat tersebut. Takut kalau tengah malam turun hujan lagi seperti tadi. Di dalam
kompleks Wat tersebut masih banyak pepohonan. Bersamaan datangnya malam, nyamuk
pun menyambut dengan riang, menyergap dan menyelusup ke dalam tenda. Suasana malam mengasyikkan karena bisa
mendengarkan dendang merdu binatang malam. Bahkan paginya pun saya dibangunkan
oleh kicauan yang riuh dari burung-burung yang menyambut datangnya sang surya.
Selasa, 22 September 2009 ,
Memasuki perbatasan
Thailand-Cambodia, tidak mengalami masalah yang berarti karena secara
administratif semua sudah saya penuhi. Malah petugas Imigrasi banyak membantu.
Perbekalan yang ada di sepeda tidak diperiksa sekalipun. Hanya sedikit bingung
menerjemahkan nilai kurs mata uang setempat. Sebab di Thailand 1$US=32 Bath dan
di Cambodia 1Bath menjadi 122 Real dengan pecahan mata
uang yang besar seperti Indonesia . Tapi tak apalah.
| Poypet, kota perbatasan |
Dua hari lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kota Siem Reap dari Poypet. Selama bersepeda,
saya melihat beberapa kejutan di antaranya modifikasi sepeda motor yang bisa
menarik sebuah gerobak panjang dengan puluhan penumpang. Atau menarik sebuah
gerobak pendek dengan desain khusus, yang biasa disebut Thuk-thuk. Tapi beda
sekali rancang bangunnya dengan Thuk-thuk Thailand .
![]() |
| 'nasi lemang' |
Rumah tradisional
orang Khmer berupa rumah panggung terbuat dari kayu dengan gaya arsitekturnya yang khas dan memakai pola-pola
tertentu. Kolong rumahnya, sering dimanfaatkan sebagai kandang ternak atau
garasi traktor tangan. Traktor kecil ini selain digunakan mengolah sawah,
dipakai juga sebagai alat transportasi jika sudah disambung dengan gerobak di
belakangnya.
| awas ngabledug euy!!! |
Jalan raya di Thailand dan Cambodia, umumnya mulus dan datar sehingga dalam
sehari saya bisa bersepeda rata-rata 100 kilometer lebih. Dan waktu yang
tersisa lebih banyak untuk berteduh atau istirahat, sekedar menghindar dari
teriknya matahari. Tiduran sambil berayun di hammock, punya pemilik warung makan dan minuman. Jalan highway tersebut lebih banyak dibangun
lebih tinggi dari tanah disekitarnya, sehingga mirip pematang sawah.
Hal ini menyebabkan banyaknya terjadi genangan air di kanan-kirinya. Apalagi sudah datang musim hujan maka yang paling banyak saya jumpai adalah orang yang mencari ikan di genangan air. Baik itu dengan menjala atau memancing ikan. Papan-papan larangan menggunakan listrik dan tuba banyak dipasang dekat pemukiman penduduk. Menurut keterangan, endrin malah banyak dipakai sebagai campuran dalam pembuatan arak lokal. Misalnya, kalau produksinya sehari mampu 2 liter, tapi produsen tersebut mampu menjual 10 liter ke pasar. Karena diperbanyak dengan air dll lalu dicampur sedikit endrin biar ampuh.
Hal ini menyebabkan banyaknya terjadi genangan air di kanan-kirinya. Apalagi sudah datang musim hujan maka yang paling banyak saya jumpai adalah orang yang mencari ikan di genangan air. Baik itu dengan menjala atau memancing ikan. Papan-papan larangan menggunakan listrik dan tuba banyak dipasang dekat pemukiman penduduk. Menurut keterangan, endrin malah banyak dipakai sebagai campuran dalam pembuatan arak lokal. Misalnya, kalau produksinya sehari mampu 2 liter, tapi produsen tersebut mampu menjual 10 liter ke pasar. Karena diperbanyak dengan air dll lalu dicampur sedikit endrin biar ampuh.
Sebelum mencapai
Siem Reap, saya berkemah di sebuah Wat di desa Kanlanh yang berjarak sekitar 65
Km. Pagi harinya, udara sangat dingin dan mendung. Saya bersepeda menyusuri
jalanan basah karena semalaman hujan deras mengguyurnya. Cuaca berangsur cerah
ketika makin dekat Siem Reap. Kota
ini sebagai gerbang menuju Angkor Wat. Dan menjadi sangat penting bagi saya,
karena sudah lama sekali saya ingin sekali mengunjungi Angkor Wat yang tersohor
ke segala penjuru dunia.
Dahulu, 12 tahun
yang lalu saya sudah nyaris berkunjung ke Angkor Wat.
Tapi kenyataannya hanya tinggal mimpi. Saat itu saya sudah mencapai kota
Saigon, Vietnam dalam kegiatan serupa, bersepeda jarak jauh. Saigon – Phnom
Penh bisa
ditempuh dua hari bersepeda. Tapi, saya tidak diperkenankan untuk masuk Cambodia padahal sudah punya visa masuk Cambodia sejak dari Indonesia . Tapi apa dayaku? Pasalnya, pada tahun
1997 tersebut, kota Phnom Penh sedang diserbu kelompok bersenjata dan
terjadi kerusuhan besar. Mimpi itu lalu saya pendam dalam hati, hingga menjadi
kenyataan saat ini.
Rabu, 23 September 2009 ,
Di kota Siem Reap, saya menumpang di Pastoran Gereja Katholik yang
terletak di pinggir Siem Reap River . Kebetulan ada dua orang pastor yang berasal dari Indonesia, yaitu
Romo Heri Brata Sudarma dan Romo Mardi Widayat. Saya banyak mendapat masukan
dan cerita menarik dari beliau.
Menjelang pagi dan hari masih gelap, saya sudah menggenjot sepeda menuju
kompleks Angkor Wat yang sudah dikelola dengan baik. Tiket
masuk ada beberapa kategori, tetapi saya memilih yang berlaku buat satu hari,
20 $ US perorang.
| sun rise at Angkor Wat |
Setelah berkeliling
di Angkor Wat saya mengunjungi kompleks Angkor Thom. Angkor Thom ternyata lebih dahsyat lagi. Nyata
sekali bahwa memang di sini merupakan peninggalan kejayaan Kerajaan Khmer masa
lalu (sekitar tahun 802 Masehi). Kemudian saya sempat pula melihat Preah Khan, Ta Keo dan Ta Prohm. Yang paling
unik adalah Ta Prohm karena pada beberapa bagian bangunan dililit akar
pepohonan yang mungkin sudah berumur ratusan tahun. Akar-akar dari pohon
tersebut mirip seekor gurita yang sedang mencengkeram mangsanya. Akar tersebut
mampu menembus celah bebatuan candi.
| bingkai kedigdayaan masa lampau |
Keesokan harinya, saya bersepeda mengunjungi
kampung terapung yang terdapat di sekeliling Boeung Tonle Sap (Danau Tonle Sap ). Tonle Sap , merupakan danau terluas di Cambodia dan tempat bermuara sungai Siem Reap. Oleh
karena itu pada beberapa bagian, permukaan air sungai tersebut sama rata dengan
jalan raya. Bahkan luapannya menggenangi halaman rumah penduduk.
Sedihnya, ketika
saya sudah berada di Phnom Penh . Hanya beda beberapa hari, kota Siem Reap yang pernah saya singgahi sedang
terendam air. Bahkan Pastoran Siem Reap, tempat saya bermalam yang terletak di
tepi sungai Siem Reap pun juga terendam. Dan lantai dua dari bangunan tersebut
tempat saya tidur, digunakan menjadi tempat pengungsian dari Panti Asuhan anak
cacat dari kelompok Suster Theresa. Musibah ini terjadi karena kolam yang
mengelilingi Angkor Wat menjadi meluap karena curah hujan yang
berlebih. Air limpahannya sengaja dialirkan ke sungai Siem Reap yang masih
menggenang. Jadi bisa dibayangkan, banjir menimpa kota yang terkenal sebagai tempat tujuan wisata.
Minggu, 29 September 2009 ,
Setelah diguyur
hujan angin selama beberapa jam, akhirnya saya sampai di Phnom Penh dengan selamat. Pada dasarnya, memang
tidak dengan mudah saya melakukan perjalanan ini. Apalagi saya sudah tidak muda
dan tidak setangguh dulu lagi. Selama delapan hari saya harus bersepeda dengan
susah payah, menempuh jarak 728,5 kilometer dari Bangkok - Thailand .
Sebelum didera dengan hujan angin selama
beberapa hari terakhir, saya mengalami pemanggangan tubuh secara terus menerus.
Yang memeras keringat dan mengucur deras membasahi tubuh. Tapi itulah seni dari
petualangan yang sesunggguhnya. Mencoba mengintegrasikan kembali seni dengan
masyarakat serta kehidupan. Bagaimana berinteraksi dengan bahasa, perilaku dan
budaya serta masyarakat yang berbeda. Bahkan mengelola ganasnya alam semesta
serta mengakrabinya, menyelaraskan tubuh dengan hawa dan cuaca. Untuk menguak
batas-batas yang dimiliki manusia.
![]() |
| long motor cycle, just in Cambodia |
Tiba di ibukota Kingdom of Cambodia ini sekitar pukul 18.00 waktu setempat.
Alamat yang dituju, tidaklah sulit saya temukan karena susunan dan sistem jalan
perkotaan mudah dipahami. Selama beberapa hari saya ditampung oleh Keluarga
Bapak Yohanes Iwan Baskoro, yang sudah saya kenal lama. Beliau bekerja untuk sebuah
NGO (non goverment organitation) dan karena prestasinya pernah mendapatkan
penghargaan dari Pangeran Charles. Pada kesempatan tersebut, saya sempat pula
ikut rombongan peserta Seminar Internasional tentang hemat energi, berkunjung
ke pelosok Cambodia . Yang penduduk desanya menggunakan tungku murah, dan hemat energi
untuk mengolah air sadapan tandan bunga pohon siwalan/lontar menjadi palm sugar.
Dan secara
kebetulan juga, selama berada di kota ini, saya menjadi terhindar dari Badai
Ketsana. Yang telah mengobrak-ngabrik kawasan Laos , Vietnam dan sebagian Cambodia . Justru daerah yang dilewati badai
tersebut merupakan lintasan yang akan saya lalui kemudian.
![]() |
| no comment! |
Dan pada hari yang berbeda saya sempat bersepeda mengunjungi lokasi dan area pembunuhan - penimbunan mayat yang terkenal dengan sebutan Killing Field di desa Choueng Ek. Letaknya sekitar 15 Km dari
Minggu, 4 Oktober 2009,
Perjalanan tahap
dua Phnom Penh, Cambodia – Attapeu, Laos saya lanjutkan sesaat setelah dilepas
oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Cambodia, Bapak Ngurah
Swajaya. Kemudian diantar sampai batas kota oleh Permika (Persatuan Masyarakat Indonesia di Kambodia). Setelah sehari sebelumnya
didaulat untuk memberikan presentasi hasil perjalanan yang pernah kulakukan
sebelumnya di dalam Ruang Serba Guna KBRI.
Berpisah dengan rombongan pesepeda Khmer dan Permika di batas kota,
Chmbar Ampeu. Kemudian sepanjang belasan kilometer dari Highway # 1 ini saya
dihadapkan pada ruas jalan yang rusak. Guna menghilangkan rasa haus dan penat.
Setelah bersepeda sejauh 35 kilometer dalam 2,5 jam, saya istirahat dengan
berayun pada hammock di bawah pohon
kersen dari sebuah warung penjual minuman.
Tengah hari, saya tiba di dermaga penyeberangan sungai Mekong (penduduk biasa menyebut Xekong) yang lebar sekali. Ferry yang
melayani penyeberangan ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk bisa
mencapai dermaga seberang sungai. Ongkos penyeberangannya 200 Real. Di seberang
sungai, dari sebuah persimpangan jalan, sepeda saya belokkan ke kiri menyusuri
Highway #11. Meninggalkan
Highway
#1 yang mengarah ke perbatasan Cambodia - Vietnam (Bavet – Moc Bai).
Sebenarnya jarak Phnom Penh (Cambodia ) – Ho
Chi Minh City
(Saigon-Vietnam); tidak terlalu jauh. Dengan bersepeda mungkin bisa ditempuh
dalam dua hari. Artinya, kalau dari Bangkok (Thailand ) langsung menuju Ho Chi Minh City (Vietnam ) dibutuhkan waktu sekitar 10 hari
bersepeda. Namun saya berpikir lain. Sebab terlebih dulu saya menyusuri tepian
Sungai Mekhong ke arah utara untuk memasuki Negara Laos bagian selatan. Lalu
merambah pegunungan Bolaven dan memasuki perbatasan Laos – Vietnam . Pada kenyataannya, rute yang kupilih ini
lebih seru dan banyak sekali tantangannya.
Pada hari pertama tahap kedua tersebut, saya hanya mampu mengayuh
sejauh 97,84 Km (selama 5 jam 24 menit 15 detik). Karena sempat dihadang hujan
angin selama beberapa jam. Malam harinya di Prey Vaeng, saya menginap di sebuah
guest house yang terletak di tepi anak sungai Mekong yang lebar sekali.
Keluar Prey Vaeng,
saya menyusuri jalanan rata yang diapit persawahan yang luas. Pohon Siwalan
tumbuh berbaris rapi pada pematangnya. Lama kelamaan kayuhan terasa semakin
berat, lintasan tanpa terasa mulai menanjak. Terutama ketika mendekati kota kecil Chub. Sejak itulah jalanan mulai
naik turun secara landai. Berikutnya, beberapa puluh kilometer saya bersepeda
di dalam kawasan perkebunan karet yang sunyi. Dan cuaca yang sebelumnya cerah
berubah mendung dan gerimis, kondisi cuaca seperti itu datang silih berganti.
Setibanya di Chub, melalui sebuah persimpangan saya meninggalkan
highway #11 guna mengikuti ruas highway #7. Sebenarnya untuk mencapai kota Kratie (Kracheh) yang berada di sebelah
utaranya, ada jalan alternatif yang lebih dekat. Walaupun tidak semuanya
beraspal, seperti tertera dalam peta. Oleh karena itu dari sebuah persimpangan
yang ada, saya lalu membelokkan diri mengikuti highway #73. Di sekitar
persimpangan tersebut masih banyak rumah penduduk, tetapi selepas itu tidak ada
satupun rumah penduduk. Malah aku harus bersepeda di tengah hutan yang pada
beberapa bagian sudah diolah menjadi perkebunan karet. Malamnya saya berkemah
di halaman rumah penduduk.
Keesokan harinya kabut tebal menyelimuti kawasan tersebut, akibat hujan
turun semalaman. Udara lembab dan berat untuk bersepeda. Jalanan lengang
sekali, jarang sekali ada kendaraan lewat. Selepas tengah hari, sesudah
melewati kota kecil Chlong, jalan beraspal pun habis, berganti jalanan tanah
yang berdebu. Kondisi jalan tanah ini menyerupai pematang di persawahan. Tidak
ada pepohonan rindang di tepi jalan buat berteduh.
| Mekhong river, floating on! |
Suatu ketika, jalanan tanah tersebut terhenti karena air merendamnya. Padahal
jalan ini satu-satunya jalur menuju Kratie (Kracheh). Di ujung jalan tersebut
berubah menjadi pangkalan penyeberangan. Menjadi ramai, karena banyak penjaja
makanan dan minuman. Calon penumpang pun harus menunggu giliran. Saya lalu
menumpang perahu penduduk yang dijadikan media penyeberangan. Dua buah perahu
kecil dirapatkan dan pada bagian atasnya disatukan dengan diberi papan buat
penumpang. Ada empat sepeda motor termasuk sepeda saya
dan sembilan penumpang termasuk dua orang awak perahu. Sepedaku disamakan
tarifnya dengan sebuah sepeda motor, 30.000 Real. Perahu digerakkan dengan
mesin tempel. Menyusuri tepian sungai Mekong selama
50 menit.
Bibir perahu hanya
menyisakan sekitar 15 Cm dari tinggi permukaan air. Ngeri juga jika sedang
berpapasan dengan perahu tongkang yang mengangkut mobil. Ombaknya membuat
perahu yang kutumpangi berayun-ayun dan air sungai masuk ke lambung perahu.
Saya sendiri sudah pasrah kalau terjadi sesuatu. Mau apa lagi? Lebar sungainya
sendiri hampir tak terlihat, karena luasnya. Dari perahu saya bisa melihat
perkampungan yang terendam air.
Kamis, 8 Oktober 2009,
Lepas kota Kratie, saya menyusuri jalan lama sejauh 41 Km sebelum
akhirnya bersatu lagi dengan highway #7. Ruas jalan ini berada di tepi sungai Mekong dan masih banyak pohon besar yang menaunginya. Suasana pedesaan
sungguh menyenangkan. Sinar matahari berusaha menyeruak dari balik dedaunan,
menembus gumpalan asap membentuk berkas sinar yang memukau. Mirip sebuah tirai.
Melatar-belakangi rumah penduduk yang berjajar rapat. Dan sesekali terdengar
suara teriakan memanggilku dari dalam rumah. Gadis-gadis desa mematut dirinya
di beranda, sambil melempar senyum malu jika beradu pandang.
Di tengah ruas
jalan tersebut ada sebuah tempat tujuan wisata untuk melihat habitat pesut Mekong (Orcaella Brevirostris). Dan penduduk desa sekitarnya, serempak
membuat cinderamata terbuat dari kayu berbentuk gantungan kunci sampai patung
ikan lumba-lumba berukuran sedang.
Setibanya di Stung Treng, saya langsung mencari warung yang menjual Tokolok. Tokolok, jus buah khas Cambodia, yang terdiri atas berbagai macam
buah dijadikan satu. Sering tokolok
menjadi pengganti makan siang selama berkelana di daerah Cambodia . Harga satu gelasnya sama dengan harga menu
makanan yang biasa saya lahap. Sesudahnya saya mencari penginapan murah (5 $US semalam) yang menghadap sungai Mekong . Karena ada waktu luang, saya cuci sepeda sampai bersih di kamar mandi
penginapan serta mencuci pakaian kotor.
Pada
ruas jalan Kratie (Kracheh) - Stung Treng, jarang sekali kendaraan dan lintasan
mulai melambung naik turun menguras tenaga. Pemukiman penduduk pun sudah jarang
sekali, sehingga harapan untuk mendapatkan suplai makanan sirna. Apalagi dari
Stung Treng menuju perbatasan Cambodia – Laos sejauh 57 Km, sepi sekali hanya
ada satu-dua kendaraan. Medannya melalui hutan lebat, sangat lengang.
Jum’at, 9 Oktober 2009,
Harapan akan mendapatkan asupan makanan di perbatasan, musnah!. Karena
ternyata perbatasan Cambodia – Laos berada di tengah hutan dan suasananya tidak seramai perbatasan yang
sebelumnya kulewati. Jangankan warung makan, letak pos imigrasi Cambodia juga
sudah pindah ke lokasi baru, Trapang Kreang selang 3 kilometer dari lokasi yang
lama, Dong Khlalor. Dan kedua pos Imigrasi hanya berjarak sekitar 10 meter.
Setiap memasuki
Negara baru, selalu saja ada perasaan was-was dalam hati. Tapi itu sangat
manusiawi, pikirku dalam hati demi menghibur hati yang gundah. Laos masih menganut paham Komunis dan di kantor
pemerintahan selalu dipasang dua bendera. Bendera Laos dan bendera komunis
(palu arit berlatar belakang merah). Pikiranku menerawang jauh mengingat
pengalaman 12 tahun lalu ketika merambah belantara Laos yang sesungguhnya. Harapanku saat ini
semoga semua sudah berubah menjadi lebih baik.
Senang sekali
rasanya bisa lolos pemeriksaan tanpa masalah. Tantangan berikutnya adalah
menembus hujan gerimis, berusaha mencapai kota yang ada penginapannya. Kata petugas
imigrasi sekitar 45 kilometer dari perbatasan. Dan jarak perbatasan ini ke
ibukota Negara Laos Vientine (Vian Chang), adalah 897 kilometer.
Sedangkan ke Pakse 145 kilometer. Saya genjot sepeda menyusuri highway #13, tanpa mempedulikan tetesan air hujan yang menerpa wajah. Suasana dalam perjalanan lebih sepi lagi daripada sebelumnya, lengang. Kadang-kadang, saya melewati kawasan hutan yang sepi mencekam. Tapi umumnya di kanan kiri jalan hanya terdapat bentangan areal persawahan. Pedesaan biasanya terdapat pada tepian sungaiMekong . Harus menyimpang jauh dari jalan yang
baru selesai dibangun tersebut (selesai tahun 2005). Sangat jarang kendaraan
lewat, kalaupun ada hanyalah beberapa sepeda motor penduduk setempat.
Sedangkan ke Pakse 145 kilometer. Saya genjot sepeda menyusuri highway #13, tanpa mempedulikan tetesan air hujan yang menerpa wajah. Suasana dalam perjalanan lebih sepi lagi daripada sebelumnya, lengang. Kadang-kadang, saya melewati kawasan hutan yang sepi mencekam. Tapi umumnya di kanan kiri jalan hanya terdapat bentangan areal persawahan. Pedesaan biasanya terdapat pada tepian sungai
Karena saya belum
mengenal kondisi medan dengan baik. Maka saya tidak mau berkemah
pada malam pertama di Laos ini. Sampai suatu saat, saya mencoba bertanya letak penginapan
terdekat kepada seseorang yang sedang bertugas mengukur tanah. Secara kebetulan
orang tersebut bisa bahasa Inggris dengan baik. Menurutnya, letak penginapan
tidak jauh karena dia bersama teman-temannya juga bermalam di penginapan
tersebut. Senang sekali mendengarnya,
karena hari sudah sore dan gerimis belum juga reda.
Sabtu, 10 Oktober 2009,
Seperti hari hari
sebelumnya, suasana sepi dan lengang masih menemani perjalanan berikutnya. Pada
hari Sabtu ini terlihat beberapa bis pembawa rombongan wisatawan, menuju obyek
wisata. Khong Island (Don Kong), berupa sebuah pulau pada aliran sungai Mekong yang telah menjadi tempat tujuan wisata primadona di Laos Selatan. Dan di pulau tersebut ada sebuah airstrip. Karena selain bisa melihat
pesut Mekong, Irrawaddy Dolphin (Orcaella Brevirostris) terdapat
juga jeram yang sangat menawan.
Sejak dari
Thailand, saya senang sekali makan Comtam, kudapan mirip asinan dengan bahan
utama pepaya muda. Dikocok dan ditumbuk dalam lumpang kayu yang diberi campuran
yuyu (kepiting sungai) asin. Biasanya disuguhkan bersama Khao Niaw (nasi
ketan). Ternyata Comtam yang disajikan dari sebuah warung makan, sangat pedas
sekali membuat lidah getir. Sayang, padahal saya sudah sangat lapar dan
berharap bisa makan Comtam dengan nikmat.
Berikutnya, medan lintasan makin terasa menanjak dan menjauh dari
aliran sungai Mekong. Sampai di desa
Ban Thang Beng, terdapat sebuah persimpangan jalan menuju arah Attapeu, Laos (116 Km). Seperti dalam perencanaan semula
saya akan berbelok di sini. Namun, saya menjadi kecewa saat mendapat penjelasan
bahwa rute jalan tersebut tertutup saat musim hujan. Terhalang oleh aliran dua
buah sungai yang sedang meluap.
Dan memang tidak ada jembatan untuk melintasi
kedua sungai tersebut. Biasanya jalan tersebut menjadi lancar diwaktu musim
kemarau. Lemas rasanya, karena saya harus memutar sektiar lebih dari 150
kilometer. Malamnya aku berkemah di
sebuah pagoda, Wat Ban Lak Si Seep (artinya desa Km 40). Saat itu, sepeda sudah
kukayuh sejauh 1502,7 Km dari Bangkok , Thailand .
![]() |
| old bhiku |
Besoknya, saya
harus menghadapi tanjakan yang berkelok-kelok memasuki kaki Pegunungan Bolaven.
Mendekati kota Pakse lalu lintas kendaraan mulai ramai.
Dan dari sebuah persimpangan, saya langsung menuju Paksong. Bersepeda terasa sangat
lambat sekali, hanya mampu mengayuh dengan kecepatan di bawah 20km/jam. Cuaca
yang sebelumnya cerah pun berubah mendung dan sering gerimis.
Senin, 12 Oktober 2009,
Setibanya di
Paksong, saya istirahat di sebuah warung.
Di atas meja selalu tersedia garam, cabe kering, gula dan lada putih.
Juga irisan jeruk nipis. Selain itu, pelanggan akan diberi segelas es teh
secara gratis, biasanya saya tambahkan gula dan peresan jeruk nipis. Jadilah
lemon tea, lumayan juga buat mengirit uang! Lalu kulahap habis mie kuah yang
disajikan dalam mangkok ukuran jumbo. Beserta dedaunan lalab yang disajikan.
Pasar Paksong
merupakan pusat para pedagang sayuran terbesar di daerah Laos Selatan. Dekat pasar tersebut ada
persimpangan jalan. Dari simpang tiga Paksong tersebut, sebenarnya ada jalan
beraspal menuju Attapeu melingkar melewati Sekong. Tapi jaraknya akan lebih
jauh lagi. Oleh karena itu, saya memilih jalan potong melewati desa Houay Kong.
Supaya bisa lebih cepat mencapai Attapeu.
Kondisi jalan potong ini masih berupa lintasan tanah. Dari peta
terlihat jelas bahwa kontur tanahnya akan menurun terus. Oleh karena itu saya
bisa melaju cepat deras, beradu cepat dengan datangnya hujan. Sepeda
melonjak-lonjak ketika melewati tanah bergelombang. Asyik sekali, serasa sedang
naik kuda. Dan mendung tebal yang sedari tadi menguntit di belakang, akhirnya
tega mencurahkan hujan lebat dari langit. Tidak ada pilihan lain bagi saya
kecuali tetap menggenjot, karena di kanan kiri lintasan berupa perkebunan kopi.
Airnya mengalir deras membentuk selokan-selokan kecil di badan jalan. Pada
beberapa ruas jalan, air menutup seluruh permukaan jalan. Hal inilah yang
sering membuatku hampir celaka karena terjebak pada lubang dalam yang berair
dan penuh lumpur. Bisa dibayangkan
bagaimana keadaan saya saat itu. Tubuh basah kuyub walaupun sudah memakai jas
hujan. Tanah dan lumpur sudah membalur sekujur tubuh, wajah dan juga sepeda.
Yang terpenting bagi saya hanya satu, kamera-kamera jangan sampai basah.
Setibanya di desa Houay Kong, saya bersihkan tubuh dan sepeda yang
penuh lumpur sambil menunggu hujan reda. Warung-warung yang ada di Houay Kong,
umumnya berjualan minuman dalam kemasan. Mereka tidak bersedia menyeduh
secangkir kopi panas. Akhirnya, ada ibu warung di dekat terminal yang mau
membuatkan kopi dan merebus dua butir telor sekedar buat mengisi perut
keroncongan. Selama itu saya berdiang dekat perapian supaya badan hangat
kembali.
Hujan sudah reda, walaupun demikian tidak mengurangi serunya tantangan
berikutnya. Sudah tidak ada lagi perkebunan kopi seperti sebelumnya. Pemukiman
penduduk sudah jarang ditemui, hanya ada satu dua rumah orang yang berbentuk
gubuk-gubuk tanpa dinding dan wanitanya masih bertelanjang dada. Enggan rasanya
untuk memotret mereka, karena semua pandangan mata tertuju kepada saya. Ladang pun tidak ada karena lintasan naik
turun memasuki kawasan hutan belantara. Saya masih merasa beruntung karena
sejak dari Paksong – Houay Kong dan selanjutnya, jalanan sudah menurun.
Sehingga saya berusaha mencapai desa terdekat untuk bermalam, sambil menahan
rasa lapar. Tapi apa daya, namanya juga jalanan di tengah hutan, ditambah lagi
dengan sepeda yang berat, masih saja terasa lamban.
Dalam hutan
belantara dalam arti sesungguhnya, saya hanya ditemani suara-suara binatang. Dan
tidak sekalipun berharap atau membayangkan ‘sesuatu’ yang tiba-tiba menampakkan diri. Suasana
sangat mencekam karena pohon-pohon besar di sisi jalan dahannya menjurai ke
bawah menaungi badan jalan menghambat sinar matahari. Kadang-kadang melewati
hutan bambu yang rumpunnya membentuk sebuah lorong. Sesekali saya harus
berhenti untuk melemaskan otot lengan yang meregang dan membetulkan posisi panniers (tas boncengan) yang copot dari
rak bagasi, akibat sepeda yang melonjak-lonjak. Kaos di badan masih basah,
campuran antara keringat dan air hujan.
Hari semakin sore dan mendung
tebal bergelayut, memberi suasana kurang nyaman. Pandangan ke sekeliling sangat
terbatas, saya tidak mampu berorientasi secara luas. Membuat saya menjadi ragu
buat memutuskan berhenti dan berkemah di sebarang tempat.
![]() |
| Tangtara Laos |
Mereka lalu
mengajak berkemah bersama. Sekilas, saya melihat sebuah gubuk sederhana tempat
mereka bernaung. Saya tidak mau ambil resiko, perjalanan harus kulanjutkan!
Kendatipun tubuh sudah penat dan mata mulai lamur. Saya tetap berusaha mencapai
desa terdekat yang katanya kurang 15 kilometer lagi. Namun sebelumnya kucoba
menolak secara halus dengan bahasa tubuh, bahwa nanti banyak nyamuk yang akan menggigitku.
Waktu menunjukkan pk.17.00 tapi di dalam hutan terasa sudah gelap
sekali. Masih saja saya bimbang untuk berkemah di dalam hutan atau mencapai
desa yang masih jauh. Saya berpikir tidak mungkin juga memasuki desa saat sudah
malam, malah akan dicurigai. Sampai akhirnya, saya melihat sebuah gubuk di
bawah rerimbunan pohon jati dari kawasan hutan yang telah diolah.
Kuberanikan untuk bertanya. Sial, malah tangsi tentara. Kepalang basah, daripada saya harus kemalaman di tengah hutan. Dengan bahasa sekenanya untuk berkomunikasi, akhirnya saya diizinkan. Yang kelihatan tadi hanya sebuah gubuk, ternyata di dalam lahan tersebut lebih dari dua puluh gubuk Mereka bercampur dengan penduduk. Dan saya diinapkan dalam sebuah gubuk milik seorang bapak dengan tiga anak lakinya, Phao namanya.
Kuberanikan untuk bertanya. Sial, malah tangsi tentara. Kepalang basah, daripada saya harus kemalaman di tengah hutan. Dengan bahasa sekenanya untuk berkomunikasi, akhirnya saya diizinkan. Yang kelihatan tadi hanya sebuah gubuk, ternyata di dalam lahan tersebut lebih dari dua puluh gubuk Mereka bercampur dengan penduduk. Dan saya diinapkan dalam sebuah gubuk milik seorang bapak dengan tiga anak lakinya, Phao namanya.
Malamnya beberapa
tentara datang mengajak ngobrol. Dan di tangga gubuk tersebut banyak orang
berkerumun mendengarkan sambil sesekali tergelak tertawa melihat kelakukanku.
Ah, diterima pikirku. Malam kian larut, mereka beringsut membubarkan diri.
Kasur sederhana digelar dan dipasang kelambu. Sebelum tidur saya ganjal perutku
yang kelaparan dengan beberapa buah kurma dan biskuit. Saya merasa aman dan
nyaman yang membuatku tidur nyenyak sampai dibangunkan suara kokok ayam di pagi
hari. Hari yang panjang dan cukup melelahkan.
Selasa, 13 Oktober 2009,
Sewaktu berkemas, saya melihat dan menanyakan apa isi dari beberapa
guci yang tertutup rapat di pojok ruangan. Orang-orang yang hadir menjawab
dengan berusaha membuka salah satu guci dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu
menusukkan sepenggal pipa mirip rotan, lalu dihirupnya. Raut mukanya,
menggambarkan sebuah kenikmatan. Ternyata bir lokal, mirip dengan yang ada di Nepal . Penuh senda gurau kami bergantian
menghirupnya. Saya pun ikut mencoba sekedar basa-basi, dengan alasan takut
pusing saat bersepeda.
Setelah pamitan dengan para tentara dan penduduk, saya meluncur turun
lagi mengarah ke Attapeu. Hutan belantara telah habis berganti dengan daerah
yang penuh ilalang dan semak belukar. Jalan tanah semakin lebar. Senang sekali
bisa bersepeda di pagi hari dengan suasana yang mengasyikkan. Lima belas kilometer kemudian saya sampai di
persimpangan jalan beraspal lagi (rute Paksong – Sekong). Dan saya di periksa
lagi oleh sekelompok tentara yang sikapnya lebih keras dari sebelumnya. Jarak
dari persimpangan tersebut ke Attapeu, kurang lebih 60 kilometer.
Cuaca kurang bersahabat, bahkan kabut tebal masih menyelimuti sebagian
daerah pegunungan tersebut. Jalanan beraspal mulus dan lengang, membelah
kawasan hutan belantara. Tampak beberapa kelabang hutan yang besar berusaha
menyeberang jalan. Dan pada beberapa ruas jalan yang landai, terlihat jelas
lumpur bekas genangan air yang menenggelamkan ruas jalan saat ada Badai
Ketsana. Tingginya mencapai lebih dari dua meter dari permukaan jalan. Tak
terbayangkan bagaimana jadinya kalau saat itu saya tidak berhenti di Phnom
Penh, Cambodia .
Sesudah mengayuh sepeda selama 3 jam, sekitar pk13.30 saya memasuki kota Attapeu (Samakhi Xai), ibukota dari Propinsi
Attapeu. Beberapa bagian ruas jalan utama tergerus air saat terjadinya banjir.
Tidak lupa pula mampir di sebuah warung untuk makan. Keramaian dan luas Attapeu
mirip dengan sebuah kota
Kecamatan di Indonesia. Petugas penginapan tempatku bermalam, bercerita bahwa
sewaktu terjadi Badai Ketsana, Sungai Xekong yang mengalir di samping Attapeu,
meluap. Membanjiri serta menenggelamkan hampir sebagian besar kota .
Keesokan harinya, saya tidak melanjutkan perjalanan. Istirahat, mencuci
serta menjemur peralatan yang lembab. Mengirim berita ke Indonesia dari satu-satunya warnet yang ada bukanlah
hal yang mudah. Karena sinyal sering terganggu. Sebagai kenangan dari Pegunungan
Bolaven, saya membeli tenunan tradisional Laos yang cukup bagus dan murah. Selesailah
Tahap dua ini.
Kamis, 15 Oktober 2009,
Rute tahap berikutnya
sebagai berikut: Attapeu – Pheu Kau – (perbatasan Laos-Vietnam) – Plei Can - N
Hoi – Plei Ku – Eadrang – Buon Mo Thuot – Dakmil – Kien Duc – Dong Xuoi – Thu
Dau Mot – Saigon (Ho Chi Minh City).
| 100 Km lagi! Vietnam Border! |
Cuaca sangat cerah saat bersepeda menuju perbatasan dan cenderung terik
sekali. Dalam waktu yang tidak lama saya sudah menghabiskan dua bidon air
minum. Kondisi seperti ini memaksaku sering beristirahat dan berteduh. Kaos pun
yang basah karena keringat sudah kuganti dengan yang kering. Medan lintasan naik turun di kawasan lahan
perkebunan Tapi selanjutnya hutan tua mengapit jalan utama tersebut sampai
perbatasan. Sungguh di luar dugaan, ternyata jalanan sudah beraspal mulus. Beda
sekali dengan data yang saya peroleh sebelum berangkat. Dikatakan bahwa kondisi
jalan masih tanah, seperti dari Paksong ke Attapeu. Tapi tak apalah, apapun
kondisinya saya tetap senang bisa merambah Pegunungan Bolaven.
Sebenarnya
target saya pada hari ini bisa masuk perbatasan. Nyatanya, saya hanya mampu
menempuh jarak sejauh 75 kilometer. Tenaga terkuras habis saat menghadapi medan lintasan yang naik turun (rolling) secara
terus menerus, berliku-liku menyusuri perbukitan. Sebagai pengganjal perut
kulahap satu sisir pisang yang kubeli dari sebuah warung kecil di pinggiran
hutan. Saat itu setiap menghadapi tanjakan, saya hanya mampu menuntun sepeda
dan meluncur ketika jalan menurun. Mengingat kondisi rantai sepeda yang sudah
mulai aus. Ah sepeda tuaku memang sudah renta dan sakit-sakitan, saya harus
bersabar.
Menjelang sore, ketika melihat ada beberapa gubuk di tengah hutan.
Saya beranikan diri minta izin untuk
berkemah. Diperbolehkan, malah disarankan untuk berkemah di dalam ruangan rumah
gubuknya. Kemudian saya masak beberapa bungkus mie instant dan berbagi dengan tuan
rumah. Malam hari di tengah belantara di pelosok Negara orang lain sungguh tak
terasa. Suasananya sangat damai, terdengar alunan nada-nada merdu dari suara
binatang malam yang bernyanyi sahut-menyahut tanpa henti. Terkadang
kunang-kunang melintas di depanku yang sedang duduk santai di tangga rumah gubuk
tersebut.
Jum’at, 16 Oktober 2009,
Paginya, kabut tebal menyelimuti kawasan tersebut. Kata tuan rumah Vietnam hujan deras semalam sehingga membawa
dampak ke arah Laos . Sambil menunjuk arah di balik pegunungan yang berawan gelap. Saya
pamit untuk melanjutkan perjalanan. Pada kayuhan pertama, langsung dihadapkan
tanjakan demi tanjakan melipir pegunungan sampai akhirnya tiba di puncaknya. Baru kemudian turun menukik,
mengarah ke perbatasan sejauh 60 kilometer.
Senang sekali saya mendapati sebuah warung yang menjual nasi di desa
terakhir Laos (Xecan). Dari desa terakhir tersebut sampai pos Imigrasi Laos, Pheu
Kau masih 12 km. Saya harus bersusah payah lagi menapaki jalan yang menanjak
sampai Pos Imigrasi yang berada di puncak bukit.
Keluar Laos lancar dan tidak ada masalah. Berbeda saat di pos Vietnam petugasnya lama sekali membolak-balik
paspor. Sampai akhirnya, saya diperbolehkan menuju Kantor Imigrasi yang
berjarak 800 meter dari pos tersebut. Sepeda dan kakiku yang penuh lumpur
kucuci dengan air kran, sebelum masuk kantor Imigrasi Vietnam . Ternyata lebih dari satu jam waktu
terbuang percuma menunggu penyelesaian paspor dicap. Sepeda juga
dipermasalahkan, dengan sedikit berdebat akhirnya beres juga. Mengingat sudah
kehilangan banyak waktu (saat itu sudah sore, hampir pk 16.45) saya langsung
bergegas.
Tujuanku adalah
Plei Can atau N Hoi yang berjarak 20 Km dari perbatasan.
Terasa perbedaan saat bersepeda di Vietnam . Jalanan mulus sekali dan lebar, yang
memungkinkan saya melaju dengan cepat. Alamnya sudah tidak lagi hutan belantara
yang lebat seperti di Laos . Daerah perbukitan sudah gundul semua, hutan sudah tidak ada dan
sejauh-jauhnya mata memandang yang nampak
hanyalah perkebunan teh. Banyak sekali pos-pos dan tangsi tentara.
Beruntunglah saya, dengan mudah mendapatkan penginapan saat mencapai kota Plei Can sekitar pk 18.00. Pada kesempatan
itu, saya menukarkan uang dengan mata uang setempat buat bekal (1$ US = 18.000
VnD/ Vietnam Dong). Malam harinya turun hujan lebat
hingga pagi harinya.
Sabtu,17 Oktober 2009,
Tidak
ada pilihan lain lagi, saya harus berani menembus hujan untuk menghemat waktu. Dalam
keadaan hujan, perjalanan dari Plei Can hingga Plei Ku sejauh 114,38Km. Saya
tempuh dalam waktu 8jam 19menit 43detik. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi saat
itu. Berhenti hanya untuk makan atau sekedar mampir di warung kopi, selebihnya
secara terus menerus berada di atas sadel sepeda. Karena kalau berhenti, tubuh
menjadi dingin dan menggigil. Jas hujan yang kupakai sudah jenuh air dan tembus
pula. Dengan kata lain tubuhku sudah basah kuyub selama 8 jam tersebut.
Begitu pula
keesokan harinya aku kembali bersepeda dalam hujan selama 7 jam 34 menit 08
detik menempuh jarak 113,51Km. Tubuh dalam keadaan basah kuyub. Barulah pada
hari keempat di Vietnam, saya mendapatkan sinar matahari beberapa saat, tapi
itu cukup membuatku kelengar. Cuma mampu menempuh jarak 65 Km. Berikutnya,
hujan dan panas menjadi hal biasa. Hanyalah keteguhan hati dan determinasi yang
tinggi, bisa membuatku tetap bertahan.
Saat berhujan-hujan tersebut, saya menghitung ada 6 titik area berbeda
yang tersapu banjir bandang. Banjir akibat Badai Ketsana membawa berbagai
endapan lumpur dan bongkahan kayu besar. Menghancurkan pemukiman, menggerus
ruas jalan dan sebagian lagi airnya masih menggenangi jalan yang kulewati.
Malah ada ruas jalan yang sedang dalam proses pembersihan lumpurnya. Jalanan
yang dibangun lebih tinggi dan menyerupai pematang pun masih terendam air dan
lumpur. Genangan airnya seperti danau yang luas. Ngeri sekali, membayangkan
kalau saya lebih cepat beberapa hari, mungkin sudah lenyap terbawa arus sungai
lebar tersebut.
| very very uenak tenan ! |
Selama berada di Vietnam, belum pernah sekalipun berkemah. Sebenarnya
sudah beberapa kali saya mencoba minta izin untuk menumpang berkemah di lahan
orang, tapi ditolak. Selain lahan yang basah karena setiap hari hujan, bentuk
rumah di Vietnam bukan lagi rumah panggung. Melainkan rumah biasa berupa rumah petak
kecil-kecil yang dibangun langsung di atas tanah dan tidak memiliki kolong
rumah.
Rabu, 21 Oktoebr 2009,
Pada ruas jalan Dak Mil – Kien Duc, rantai sepeda putus untuk kedua kalinya. Lemas rasanya,
karena susah sekali mencari bengkel atau toko sepeda. Sampai suatu saat
menemukan bengkel motor yang merangkap bengkel sepeda. Tidak ada rantai baru.
Sebagai pengganti rantai sepedaku, dua buah rantai bekas disambung menjadi
satu. Walaupun bukan rantai baru, namun saya yakin rantai tersebut jauh lebih
baik daripada rantai sepedaku yang telah dipakai lebih dari 10 000 Km. Hal ini
cukup membangkitkan rasa percaya diri lagi. Saya berani mengayuh dengan sekuat
tenaga. Tetap bersepeda kala mendaki dan meluncur kencang saat menuruni bukit.
Selain itu ban luar
bagian belakang terpaksa harus diganti karena sudah aus. Lebih dari 2000
kilometer baru sekali ganti ban luar dan sampai akhir perjalanan tidak
sekalipun ban dalam bocor. Ini merupakan catatan tersendiri.
Sejauh pengamatan saya, zaman sudah berubah. 12 tahun lalu kalau saya
bersepeda akan masuk sebuah kota
pada sore hari, maka akan berpapasan dengan ratusan pesepeda lokal yang baru
pulang kerja. Dan sebaliknya bila saya meninggalkan sebuah kota pada pagi hari,
maka akan berpapasan dengan ratusan pesepeda yang hendak berangkat kerja.
Sekarang semua sudah beralih naik sepeda motor dan sepeda hanya dipergunakan
olah anak-anak sekolah atau ibu-ibu setengah baya ke pasar.
Dalam perjalanan, saya banyak melewati daerah perkebunan karet dan
kopi. Alam pegunungan yang sejuk di antara pepohonan pinus membuatku betah mengendarai
sepeda berlama-lama. Dari Kien Duc – Dong Xuoi, kondisi jalan lebih banyak
menurun. Don Xuoi - Saigon, sejauh 93 kilometer menyusuri Highway #14, yang
sudah dipisah median jalan. Jika
memasuki kota besar, musuh utama saya adalah sepeda motor. Dimanapun berada
saya selalu dikepung sepeda motor. Kendatipun demikian jarang sekali pengendara
sepeda motor yang ugal-ugalan. Mereka sangat tertib dan tidak ngebut di jalan
raya. Dan di persimpangan, sepeda motor berhenti tepat di belakang zebra cross.
Di Vietnam sudah tidak ada lagi, sepeda motor yang ditumpangi 6 orang seperti
kutemui 12 tahun lalu. Atau yang dimodifikasi menjadi alat angkutan desa
seperti di Cambodia .
Minggu, 25 Oktober 2009,
Akhirnya,
saya tiba dengan selamat di Saigon (Ho Chi Minh City ), Vietnam pada hari Minggu, 25 Oktober 2009. Setelah
bersepeda selama 31 hari dari Bangkok, Thailand (dalam 38 masa pengembaraan,
tidak termasuk masa kepulangan ke Indonesia) menempuh jarak 2565,9 kilometer.
| vietnam riksaw |
Paimo
Disarikan dari catatan harian TRANS ASIAN CYCLING TRIP 2008.
CONQUERING ROADS UNDER THE HEAT OF THE SAME SUN
sebuah perjalanan bersepeda jarak
jauh melintasi negara Thailand
– Cambodia – Laos
dan Vietnam
yang dilakukan dari tanggal 14 September 2009 sampai dengan 28 Oktober 2009.
.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar