Rabu, 04 Januari 2012

CONQUERING ROADS UNDER THE HEAT OF THE SAME SUN


BERSEPEDA MELINTAS 4 NEGARA

                         THAILAND – CAMBODIA – LAOS – VIETNAM 

 ........

oleh : Paimo

Awal Perjalanan,
              Sesaat setelah pesawat yang membawaku dari Jakarta mendarat, tubuh segera disergap dinginnya udara malam yang basah karena habis turun hujan.  Sisa malam itu, saya habiskan dengan tiduran di atas kursi dalam ruang tunggu Svarnabhum International Airport, Bangkok - Thailand. Rencanaku baru keesokan paginya (Selasa, 15 September 2009) akan bersepeda ke pusat kota Bangkok yang berjarak 40 Km. 


dalam bersepeda jarak jauh, 'kekuatan hati' lebih utama
daripada kekuatan otot ataupun kekuatan finansial
Tapi kenyataannya berbeda. Berubah sesudah mendapat keterangan bahwa rute atau ruas jalan ke Bangkok, sama dengan yang akan saya lalui nantinya bila menuju perbatasan ThailandCambodia. Dan untung pula saya putuskan naik bis, sebab jalan keluar dari bandara tersebut sangat rumit, mirip jalan layang di daerah Tomang - Jakarta. Bis itu kemudian melintas di jalan bebas hambatan dan menurunkan semua penumpang di Khao Sarn. Sebuah kawasan di tengah kota Bangkok, tempat berkumpulnya para backpackers dari mancanegara. 

              Tidak sulit mencari alamat penginapan di kawasan Khao Sarn tersebut, karena saya sudah beberapa kali berkunjung. Kedatangan saya  kali ini adalah untuk mengawali kegiatan bersepeda jarak jauh dengan rute berbeda dengan yang sebelumnya. Saya bermaksud melintasi ThailandCambodiaLaosVietnam. Rutenya dari kegiatan TRANS ASIAN CYCLING TRIP 2009 sebagai berikut: Bangkok – Chachoengsao – Kabin Buri – Aran Yaphra  Thet – (perbatasan Thailand–Cambodia) – Poypet – Sisophon – Siem Reap – Stung – Phnom Penh – Prey Vaeng – Chub – Chlong – Kratie (Kracheh) – Stung Treng –Dong Khlalor – (perbatasan Cambodia-Laos) – Van Kew – Pakse – Paksong – Huoay Kong – Attapeu – Pheu Khao (perbatasan Laos-Vietnam) – Attapeu – Pheu Kau – (perbatasan Laos-Vietnam) – Plei Can - N Hoi – Plei Ku – Eadrang – Buon Mo Thuot – Dakmil – Kien Duc – Dong Xuoi – Thu Dau Mot – Saigon (Ho Chi Minh City).

jalur sepeda di Bangkok
              Walaupun keempat Negara tujuan saya adalah anggota ASEAN, namun tetap saja untuk masuk Cambodia dan Laos masih membutuhkan Visa. Dan untuk menghemat waktu, setelah menyimpan perlengkapan dan sepeda dalam kamar penginapan. Saya mencari travel agent yang bisa membantu mengurus visa Cambodia dan Laos.  


Rencananya pada hari Jum’at, 18 September 2009;  saya akan meninggalkan Bangkok. Jadi semakin cepat dapat visa semakin baik. Karena dapat kabar bahwa akan terjadi demonstrasi besar-besaran di Bangkok pada hari Sabtu, 19 September 2009. Kalau hal ini memang terjadi seperti kejadian-kejadian sebelumnya, salah-salah saya bisa terperangkap dalam kota dalam waktu yang tidak menentu. 

              Selama berada di ibukota Negara Gajah Putih ini, saya mengunjungi beberapa obyek wisata dengan menumpang bis air yang melayani trayek pada aliran sungai Phraya. Sempat pula saya dijamu pasangan pesepeda Thailand, Wan dan Mou yang pernah berkeliling dunia dengan sepeda selama 6 tahun. Mereka yang menjadi terkenal di Thailand setelah menuliskan buku hasil perjalanannya dalam 4 edisi.

Jum’at, 18 September 2009,
              Hari pertama meninggalkan Bangkok, menjadikan suatu hal yang  mengasyikkan. Saya susuri jalanan utama Bangkok saat hari masih gelap. Udara pagi terasa segar menjalari seluruh tubuh, membakar semangat. Tampak satu-dua bis kota yang meluncur di jalur lambat dan berhenti di halte untuk menaik-turunkan penumpang. Ketika langit di atas kota metropolitan tersebut mulai terang, kabut masih tampak menyelimuti puncak para pencakar langitnya. Jalanan semakin ramai lalu lintas kendaraan tapi saya bisa cepat beradaptasi dengan baik. Dan bisa keluar kota Bangkok dengan selamat. Lalu menyusuri highway mengarah ke timur, menuju bandara.

dragon fruit flower
              Ketika hari merangkak siang, sengatan matahari pada kulit mulai terasa. Dan keringat mulai membasahi kaos. Saya tidak mau memaksakan diri pada hari pertama ini, berkali-kali terpaksa berhenti untuk berteduh. Dari pengalaman selama ini, hal ini biasa terjadi pada awal perjalanan. 


Di samping juga penyesuaian diri dalam mengendarai sepeda dengan sarat beban. Sampai kemudian di sebuah persimpangan sebelum Kabin Buri, saya belok kanan mengikuti Highway #359. Rupanya ruas jalan ini masih baru dan jarang rumah penduduk. Di kanan kiri jalan banyak terdapat hutan homogen atau perkebunan singkong yang luas. Pada area yang ditumbuhi ilalang banyak pedagang yang berjualan tikus sawah yang dibakar dan belalang yang digoreng sangrai.

              Suatu saat, cuaca yang sebelumnya cerah tiba-tiba langit berubah menjadi kelam dengan awan hitam bergulung-gulung. Disusul kemudian turun hujan lebat disertai angin, bak dicurahkan dari langit. Saya pontang panting mencari tempat berteduh, karena tidak menyangka akan dihadang demikian cepat. Sepeda saya belokan ke sebuah gudang yang dijaga orang Burma. Sambil menunggu hujan reda, saya mengemasi kembali peralatan penting ke dalam dry bag.

             Menjelang sore, saat hujan reda saya mencapai Phanom Sarakham, bersepeda sejauh 113,14 kilometer dari Bangkok. Kemudian saya memberanikan diri minta izin berkemah dalam areal Wat (kuil/pagoda) Ban Huai Chot. Setelah dapat izin, tenda bukannya saya dirikan di bawah langit tetapi di teras salah satu bangunan Wat tersebut. Takut kalau tengah malam turun hujan lagi seperti tadi. Di dalam kompleks Wat tersebut masih banyak pepohonan. Bersamaan datangnya malam, nyamuk pun menyambut dengan riang, menyergap dan menyelusup ke dalam tenda.  Suasana malam mengasyikkan karena bisa mendengarkan dendang merdu binatang malam. Bahkan paginya pun saya dibangunkan oleh kicauan yang riuh dari burung-burung yang menyambut datangnya sang surya.

Selasa, 22 September 2009, 
              Memasuki perbatasan Thailand-Cambodia, tidak mengalami masalah yang berarti karena secara administratif semua sudah saya penuhi. Malah petugas Imigrasi banyak membantu. Perbekalan yang ada di sepeda tidak diperiksa sekalipun. Hanya sedikit bingung menerjemahkan nilai kurs mata uang setempat. Sebab di Thailand 1$US=32 Bath dan di Cambodia 1Bath menjadi 122 Real dengan pecahan mata uang yang besar seperti Indonesia. Tapi tak apalah.

Poypet, kota perbatasan
Di Poypet, kota perbatasan bagian Cambodia, saya sempatkan bermalam di sebuah losmen. Untuk sedikit mempelajari suasana dan keadaan. Karena sistem berkendara menjadi berubah di sebelah kanan.               

              Dua hari lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kota Siem Reap dari Poypet. Selama bersepeda, saya melihat beberapa kejutan di antaranya modifikasi sepeda motor yang bisa menarik sebuah gerobak panjang dengan puluhan penumpang. Atau menarik sebuah gerobak pendek dengan desain khusus, yang biasa disebut Thuk-thuk. Tapi beda sekali rancang bangunnya dengan Thuk-thuk Thailand.

'nasi lemang'
              Dalam perjalanan saya sering melihat kehidupan desa yang berbeda-beda. Ada sebuah desa yang penduduknya memelihara ternak di halaman depan rumahnya, malah sering ditambatkan di tepi jalan. Ada sebuah daerah yang penduduknya menjual nasi lemang yang dimasak dalam potongan ruas bambu, ada daerah yang penduduknya khusus menjual sangrai beras yang ditumbuk dan ada pula daerah yang menjual jagung rebus.

              Rumah tradisional orang Khmer berupa rumah panggung terbuat dari kayu dengan gaya arsitekturnya yang khas dan memakai pola-pola tertentu. Kolong rumahnya, sering dimanfaatkan sebagai kandang ternak atau garasi traktor tangan. Traktor kecil ini selain digunakan mengolah sawah, dipakai juga sebagai alat transportasi jika sudah disambung dengan gerobak di belakangnya. 

awas ngabledug euy!!!
              Di sepanjang jalan, banyak dijumpai penduduk berjualan bensin dalam botol-botol yang dipajang di tepi jalan. Juga kios atau warung yang menjual minuman ringan termasuk bir dan arak lokal. Paling banyak minuman dalam kemasan kaleng. Lucunya sekaleng bir jauh lebih murah daripada air minum dalam kemasan. Es diberikan secara gratis.

              Jalan raya di Thailand dan Cambodia, umumnya mulus dan datar sehingga dalam sehari saya bisa bersepeda rata-rata 100 kilometer lebih. Dan waktu yang tersisa lebih banyak untuk berteduh atau istirahat, sekedar menghindar dari teriknya matahari. Tiduran sambil berayun di hammock, punya pemilik warung makan dan minuman. Jalan highway tersebut lebih banyak dibangun lebih tinggi dari tanah disekitarnya, sehingga mirip pematang sawah. 


Hal ini menyebabkan banyaknya terjadi genangan air di kanan-kirinya. Apalagi sudah datang musim hujan maka yang paling banyak saya jumpai adalah orang yang mencari ikan di genangan air. Baik itu dengan menjala atau memancing ikan. Papan-papan larangan menggunakan listrik dan tuba banyak dipasang dekat pemukiman penduduk. Menurut keterangan, endrin malah banyak dipakai sebagai campuran dalam pembuatan arak lokal. Misalnya, kalau produksinya sehari mampu 2 liter, tapi produsen tersebut mampu menjual 10 liter ke pasar. Karena diperbanyak dengan air dll lalu dicampur sedikit endrin biar ampuh.

              Sebelum mencapai Siem Reap, saya berkemah di sebuah Wat di desa Kanlanh yang berjarak sekitar 65 Km. Pagi harinya, udara sangat dingin dan mendung. Saya bersepeda menyusuri jalanan basah karena semalaman hujan deras mengguyurnya. Cuaca berangsur cerah ketika makin dekat Siem Reap. Kota ini sebagai gerbang menuju Angkor Wat. Dan menjadi sangat penting bagi saya, karena sudah lama sekali saya ingin sekali mengunjungi Angkor Wat yang tersohor ke segala penjuru dunia.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       

              Dahulu, 12 tahun yang lalu saya sudah nyaris berkunjung ke Angkor Wat. Tapi kenyataannya hanya tinggal mimpi. Saat itu saya sudah mencapai kota Saigon, Vietnam dalam kegiatan serupa, bersepeda jarak jauh. SaigonPhnom Penh bisa ditempuh dua hari bersepeda. Tapi, saya tidak diperkenankan untuk masuk Cambodia padahal sudah punya visa masuk Cambodia sejak dari Indonesia. Tapi apa dayaku? Pasalnya, pada tahun 1997 tersebut, kota Phnom Penh sedang diserbu kelompok bersenjata dan terjadi kerusuhan besar. Mimpi itu lalu saya pendam dalam hati, hingga menjadi kenyataan saat ini. 

Rabu, 23 September 2009,
              Di kota Siem Reap, saya menumpang di Pastoran Gereja Katholik yang terletak di pinggir Siem Reap River. Kebetulan ada dua orang pastor yang berasal dari Indonesia, yaitu Romo Heri Brata Sudarma dan Romo Mardi Widayat. Saya banyak mendapat masukan dan cerita menarik dari beliau.  Menjelang pagi dan hari masih gelap, saya sudah menggenjot sepeda menuju kompleks Angkor Wat yang sudah dikelola dengan baik. Tiket masuk ada beberapa kategori, tetapi saya memilih yang berlaku buat satu hari, 20 $ US perorang.

sun rise at Angkor Wat
              Sepeda lalu dirantai di sebuah bak sampah, depan Angkor Wat. Dalam hati saya pikir lumayan sepi di pagi hari. Ternyata, dugaanku meleset. Saya benar-benar kaget saat melangkah masuk melewati gerbang Angkor Wat. Di sebuah halaman luas antara gerbang dengan bangunan Angkor Wat telah dijejali para wisatawan yang ingin mengabadikan proses matahari terbit dari balik Angkor Wat. Momen ini memang istimewa, terbentuk sebuah silhouette yang indah sekali. Ada sebuah sensasi yang luar biasa, saat menikmatinya.

              Setelah berkeliling di Angkor Wat saya mengunjungi kompleks Angkor Thom. Angkor Thom ternyata lebih dahsyat lagi. Nyata sekali bahwa memang di sini merupakan peninggalan kejayaan Kerajaan Khmer masa lalu (sekitar tahun 802 Masehi). Kemudian saya sempat pula melihat  Preah Khan, Ta Keo dan Ta Prohm. Yang paling unik adalah Ta Prohm karena pada beberapa bagian bangunan dililit akar pepohonan yang mungkin sudah berumur ratusan tahun. Akar-akar dari pohon tersebut mirip seekor gurita yang sedang mencengkeram mangsanya. Akar tersebut mampu menembus celah bebatuan candi.

bingkai kedigdayaan masa lampau
              Tak terbayangkan betapa majunya teknologi zaman itu, tidak habis pikir, bagaimana caranya menyusun dan membuat relung-relung batu yang tinggi. Reliefnya banyak penggambaran tentang peperangan dan sebagian lagi apsara (bidadari).  Saya bersyukur bisa melihat Angkor Wat dari dekat, sehingga bisa menjadi bandingan dengan Borobudur yang dibangun sekitar tahun 825 Masehi. Tapi menjadi bingung, setelah melihat dinastinya yang mirip-mirip namanya. Mungkinkah keturunan orang Khmer yang membangun Borobudur? Atau malah sebaliknya?

              Keesokan harinya, saya bersepeda mengunjungi kampung terapung yang terdapat di sekeliling Boeung Tonle Sap (Danau Tonle Sap). Tonle Sap, merupakan danau terluas di Cambodia dan tempat bermuara sungai Siem Reap. Oleh karena itu pada beberapa bagian, permukaan air sungai tersebut sama rata dengan jalan raya. Bahkan luapannya menggenangi halaman rumah penduduk.

              Sedihnya, ketika saya sudah berada di Phnom Penh. Hanya beda beberapa hari, kota Siem Reap yang pernah saya singgahi sedang terendam air. Bahkan Pastoran Siem Reap, tempat saya bermalam yang terletak di tepi sungai Siem Reap pun juga terendam. Dan lantai dua dari bangunan tersebut tempat saya tidur, digunakan menjadi tempat pengungsian dari Panti Asuhan anak cacat dari kelompok Suster Theresa. Musibah ini terjadi karena kolam yang mengelilingi Angkor Wat menjadi meluap karena curah hujan yang berlebih. Air limpahannya sengaja dialirkan ke sungai Siem Reap yang masih menggenang. Jadi bisa dibayangkan, banjir menimpa kota yang terkenal sebagai tempat tujuan wisata.

Minggu, 29 September 2009,
              Setelah diguyur hujan angin selama beberapa jam, akhirnya saya sampai di Phnom Penh dengan selamat. Pada dasarnya, memang tidak dengan mudah saya melakukan perjalanan ini. Apalagi saya sudah tidak muda dan tidak setangguh dulu lagi. Selama delapan hari saya harus bersepeda dengan susah payah, menempuh jarak 728,5 kilometer dari Bangkok - Thailand


long motor cycle, just in Cambodia
Sebelum didera dengan hujan angin selama beberapa hari terakhir, saya mengalami pemanggangan tubuh secara terus menerus. Yang memeras keringat dan mengucur deras membasahi tubuh. Tapi itulah seni dari petualangan yang sesunggguhnya. Mencoba mengintegrasikan kembali seni dengan masyarakat serta kehidupan. Bagaimana berinteraksi dengan bahasa, perilaku dan budaya serta masyarakat yang berbeda. Bahkan mengelola ganasnya alam semesta serta mengakrabinya, menyelaraskan tubuh dengan hawa dan cuaca. Untuk menguak batas-batas yang dimiliki manusia.

              Tiba di ibukota Kingdom of Cambodia ini sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Alamat yang dituju, tidaklah sulit saya temukan karena susunan dan sistem jalan perkotaan mudah dipahami. Selama beberapa hari saya ditampung oleh Keluarga Bapak Yohanes Iwan Baskoro, yang sudah saya kenal lama. Beliau bekerja untuk sebuah NGO (non goverment organitation) dan karena prestasinya pernah mendapatkan penghargaan dari Pangeran Charles. Pada kesempatan tersebut, saya sempat pula ikut rombongan peserta Seminar Internasional tentang hemat energi, berkunjung ke pelosok Cambodia. Yang penduduk desanya menggunakan tungku murah, dan hemat energi untuk mengolah air sadapan tandan bunga pohon siwalan/lontar menjadi palm sugar.

              Dan secara kebetulan juga, selama berada di kota ini, saya menjadi terhindar dari Badai Ketsana. Yang telah mengobrak-ngabrik kawasan Laos, Vietnam dan sebagian Cambodia. Justru daerah yang dilewati badai tersebut merupakan lintasan yang akan saya lalui kemudian.

no comment!
              Selama berada di kota Phnom Penh, saya sempat singgah di Museum Genocide, Tuol Sleng (Museum Of Genocidal Crime). Dulunya berupa bangunan sekolah yang dipergunakan Rezim Pol Pot untuk menyiksa dan membunuh bagi yang bertentangan dengan ideologinya. Suasananya masih cukup mencekam karena sebagian masih dibiarkan seperti aslinya. 


Dan pada hari yang berbeda saya sempat bersepeda mengunjungi lokasi dan area pembunuhan - penimbunan mayat yang terkenal dengan sebutan Killing Field di desa Choueng Ek. Letaknya sekitar 15 Km dari kota Phnom Penh. Di Lokasi tersebut sekarang telah didirikan sebuah monumen peringatan. Di dalam monumen tersimpan ratusan tengkorak manusia, sedangkan sisanya telah dikremasi. Dari foto-foto yang terpampang dalam museum, terlihat juga bahwa di daerah lain pun ada beberapa monumen yang sama. Foto-foto sewaktu penggalian, saat ditemukan ratusan bahkan ribuan korban kekejaman dari Khmer Rouge ini .

Minggu, 4 Oktober 2009, 
              Perjalanan tahap dua Phnom Penh, Cambodia – Attapeu, Laos saya lanjutkan sesaat setelah dilepas oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Cambodia, Bapak Ngurah Swajaya. Kemudian diantar sampai batas kota oleh Permika (Persatuan Masyarakat Indonesia di Kambodia). Setelah sehari sebelumnya didaulat untuk memberikan presentasi hasil perjalanan yang pernah kulakukan sebelumnya di dalam Ruang Serba Guna KBRI.

              Berpisah dengan rombongan pesepeda Khmer dan Permika di batas kota, Chmbar Ampeu. Kemudian sepanjang belasan kilometer dari Highway # 1 ini saya dihadapkan pada ruas jalan yang rusak. Guna menghilangkan rasa haus dan penat. Setelah bersepeda sejauh 35 kilometer dalam 2,5 jam, saya istirahat dengan berayun pada hammock di bawah pohon kersen dari sebuah warung penjual minuman.

              Tengah hari, saya tiba di dermaga penyeberangan sungai Mekong (penduduk biasa menyebut Xekong) yang lebar sekali. Ferry yang melayani penyeberangan ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk bisa mencapai dermaga seberang sungai. Ongkos penyeberangannya 200 Real. Di seberang sungai, dari sebuah persimpangan jalan, sepeda saya belokkan ke kiri menyusuri Highway #11. Meninggalkan Highway #1 yang mengarah ke perbatasan Cambodia - Vietnam (Bavet – Moc Bai).

              Sebenarnya jarak Phnom Penh (Cambodia) – Ho Chi Minh City (Saigon-Vietnam); tidak terlalu jauh. Dengan bersepeda mungkin bisa ditempuh dalam dua hari. Artinya, kalau dari Bangkok (Thailand) langsung menuju Ho Chi Minh City (Vietnam) dibutuhkan waktu sekitar 10 hari bersepeda. Namun saya berpikir lain. Sebab terlebih dulu saya menyusuri tepian Sungai Mekhong ke arah utara untuk memasuki Negara Laos bagian selatan. Lalu merambah pegunungan Bolaven dan memasuki perbatasan LaosVietnam. Pada kenyataannya, rute yang kupilih ini lebih seru dan banyak sekali tantangannya.

              Pada hari pertama tahap kedua tersebut, saya hanya mampu mengayuh sejauh 97,84 Km (selama 5 jam 24 menit 15 detik). Karena sempat dihadang hujan angin selama beberapa jam. Malam harinya di Prey Vaeng, saya menginap di sebuah guest house yang terletak di tepi anak sungai Mekong yang lebar sekali.

              Keluar Prey Vaeng, saya menyusuri jalanan rata yang diapit persawahan yang luas. Pohon Siwalan tumbuh berbaris rapi pada pematangnya. Lama kelamaan kayuhan terasa semakin berat, lintasan tanpa terasa mulai menanjak. Terutama ketika mendekati kota kecil Chub. Sejak itulah jalanan mulai naik turun secara landai. Berikutnya, beberapa puluh kilometer saya bersepeda di dalam kawasan perkebunan karet yang sunyi. Dan cuaca yang sebelumnya cerah berubah mendung dan gerimis, kondisi cuaca seperti itu datang silih berganti.

              Setibanya di Chub, melalui sebuah persimpangan saya meninggalkan highway #11 guna mengikuti ruas highway #7. Sebenarnya untuk mencapai kota Kratie (Kracheh) yang berada di sebelah utaranya, ada jalan alternatif yang lebih dekat. Walaupun tidak semuanya beraspal, seperti tertera dalam peta. Oleh karena itu dari sebuah persimpangan yang ada, saya lalu membelokkan diri mengikuti highway #73. Di sekitar persimpangan tersebut masih banyak rumah penduduk, tetapi selepas itu tidak ada satupun rumah penduduk. Malah aku harus bersepeda di tengah hutan yang pada beberapa bagian sudah diolah menjadi perkebunan karet. Malamnya saya berkemah di halaman rumah penduduk.

              Keesokan harinya kabut tebal menyelimuti kawasan tersebut, akibat hujan turun semalaman. Udara lembab dan berat untuk bersepeda. Jalanan lengang sekali, jarang sekali ada kendaraan lewat. Selepas tengah hari, sesudah melewati kota kecil Chlong, jalan beraspal pun habis, berganti jalanan tanah yang berdebu. Kondisi jalan tanah ini menyerupai pematang di persawahan. Tidak ada pepohonan rindang di tepi jalan buat berteduh. 

Mekhong river, floating on!
              Di sepanjang jalan, tampak luapan air sungai Mekong masih membanjiri pemukiman. Dampak dari badai Ketsana beberapa hari lalu. Rumah panggung penduduk dikepung air. Beberapa anak tampak riang gembira berenang-renang di air yang berwarna kecoklatan tersebut. Ada pula penduduk yang mandi atau mencuci di bawah tangga rumah. Ternak-ternak yang biasa ditempatkan di kolong rumah, ditambatkan di pinggir jalan. Konyolnya, aliran air dari kotoran ternak tersebut bercampur dengan air yang dipergunakan untuk mandi dan mencuci.

              Suatu ketika, jalanan tanah tersebut terhenti karena air merendamnya. Padahal jalan ini satu-satunya jalur menuju Kratie (Kracheh). Di ujung jalan tersebut berubah menjadi pangkalan penyeberangan. Menjadi ramai, karena banyak penjaja makanan dan minuman. Calon penumpang pun harus menunggu giliran. Saya lalu menumpang perahu penduduk yang dijadikan media penyeberangan. Dua buah perahu kecil dirapatkan dan pada bagian atasnya disatukan dengan diberi papan buat penumpang. Ada empat sepeda motor termasuk sepeda saya dan sembilan penumpang termasuk dua orang awak perahu. Sepedaku disamakan tarifnya dengan sebuah sepeda motor, 30.000 Real. Perahu digerakkan dengan mesin tempel. Menyusuri tepian sungai Mekong selama 50 menit.

              Bibir perahu hanya menyisakan sekitar 15 Cm dari tinggi permukaan air. Ngeri juga jika sedang berpapasan dengan perahu tongkang yang mengangkut mobil. Ombaknya membuat perahu yang kutumpangi berayun-ayun dan air sungai masuk ke lambung perahu. Saya sendiri sudah pasrah kalau terjadi sesuatu. Mau apa lagi? Lebar sungainya sendiri hampir tak terlihat, karena luasnya. Dari perahu saya bisa melihat perkampungan yang terendam air.

Kamis, 8 Oktober 2009,
              Lepas kota Kratie, saya menyusuri jalan lama sejauh 41 Km sebelum akhirnya bersatu lagi dengan highway #7. Ruas jalan ini berada di tepi sungai Mekong dan masih banyak pohon besar yang menaunginya. Suasana pedesaan sungguh menyenangkan. Sinar matahari berusaha menyeruak dari balik dedaunan, menembus gumpalan asap membentuk berkas sinar yang memukau. Mirip sebuah tirai. Melatar-belakangi rumah penduduk yang berjajar rapat. Dan sesekali terdengar suara teriakan memanggilku dari dalam rumah. Gadis-gadis desa mematut dirinya di beranda, sambil melempar senyum malu jika beradu pandang.

              Di tengah ruas jalan tersebut ada sebuah tempat tujuan wisata untuk melihat habitat pesut Mekong (Orcaella Brevirostris). Dan penduduk desa sekitarnya, serempak membuat cinderamata terbuat dari kayu berbentuk gantungan kunci sampai patung ikan lumba-lumba berukuran sedang.

              Setibanya di Stung Treng, saya langsung mencari warung yang menjual Tokolok. Tokolok, jus buah khas Cambodia, yang terdiri atas berbagai macam buah dijadikan satu. Sering tokolok menjadi pengganti makan siang selama berkelana di daerah Cambodia. Harga satu gelasnya sama dengan harga menu makanan yang biasa saya lahap. Sesudahnya saya mencari penginapan murah (5 $US semalam) yang menghadap sungai Mekong. Karena ada waktu luang, saya cuci sepeda sampai bersih di kamar mandi penginapan serta mencuci pakaian kotor.

              Pada ruas jalan Kratie (Kracheh) - Stung Treng, jarang sekali kendaraan dan lintasan mulai melambung naik turun menguras tenaga. Pemukiman penduduk pun sudah jarang sekali, sehingga harapan untuk mendapatkan suplai makanan sirna. Apalagi dari Stung Treng menuju perbatasan Cambodia – Laos sejauh 57 Km, sepi sekali hanya ada satu-dua kendaraan. Medannya melalui hutan lebat, sangat lengang.

Jum’at, 9 Oktober 2009,
              Harapan akan mendapatkan asupan makanan di perbatasan, musnah!. Karena ternyata perbatasan CambodiaLaos berada di tengah hutan dan suasananya tidak seramai perbatasan yang sebelumnya kulewati. Jangankan warung makan, letak pos imigrasi Cambodia juga sudah pindah ke lokasi baru, Trapang Kreang selang 3 kilometer dari lokasi yang lama, Dong Khlalor. Dan kedua pos Imigrasi hanya berjarak sekitar 10 meter.
            
              Setiap memasuki Negara baru, selalu saja ada perasaan was-was dalam hati. Tapi itu sangat manusiawi, pikirku dalam hati demi menghibur hati yang gundah. Laos masih menganut paham Komunis dan di kantor pemerintahan selalu dipasang dua bendera. Bendera Laos dan bendera komunis (palu arit berlatar belakang merah). Pikiranku menerawang jauh mengingat pengalaman 12 tahun lalu ketika merambah belantara Laos yang sesungguhnya. Harapanku saat ini semoga semua sudah berubah menjadi lebih baik.

              Senang sekali rasanya bisa lolos pemeriksaan tanpa masalah. Tantangan berikutnya adalah menembus hujan gerimis, berusaha mencapai kota yang ada penginapannya. Kata petugas imigrasi sekitar 45 kilometer dari perbatasan. Dan jarak perbatasan ini ke ibukota Negara Laos Vientine (Vian Chang), adalah 897 kilometer. 


Sedangkan ke Pakse 145 kilometer. Saya genjot sepeda menyusuri highway #13, tanpa mempedulikan tetesan air hujan yang menerpa wajah. Suasana dalam perjalanan lebih sepi lagi daripada sebelumnya, lengang. Kadang-kadang, saya melewati kawasan hutan yang sepi mencekam. Tapi umumnya di kanan kiri jalan hanya terdapat bentangan areal persawahan. Pedesaan biasanya terdapat pada tepian sungai Mekong. Harus menyimpang jauh dari jalan yang baru selesai dibangun tersebut (selesai tahun 2005). Sangat jarang kendaraan lewat, kalaupun ada hanyalah beberapa sepeda motor penduduk setempat.

              Karena saya belum mengenal kondisi medan dengan baik. Maka saya tidak mau berkemah pada malam pertama di Laos ini. Sampai suatu saat, saya mencoba bertanya letak penginapan terdekat kepada seseorang yang sedang bertugas mengukur tanah. Secara kebetulan orang tersebut bisa bahasa Inggris dengan baik. Menurutnya, letak penginapan tidak jauh karena dia bersama teman-temannya juga bermalam di penginapan tersebut.  Senang sekali mendengarnya, karena hari sudah sore dan gerimis belum juga reda.            

Sabtu, 10 Oktober 2009,
              Seperti hari hari sebelumnya, suasana sepi dan lengang masih menemani perjalanan berikutnya. Pada hari Sabtu ini terlihat beberapa bis pembawa rombongan wisatawan, menuju obyek wisata. Khong Island (Don Kong), berupa sebuah pulau pada aliran sungai Mekong yang telah menjadi tempat tujuan wisata primadona di Laos Selatan. Dan di pulau tersebut ada sebuah airstrip. Karena selain bisa melihat pesut Mekong, Irrawaddy Dolphin (Orcaella Brevirostris) terdapat juga jeram yang sangat menawan.

              Sejak dari Thailand, saya senang sekali makan Comtam, kudapan mirip asinan dengan bahan utama pepaya muda. Dikocok dan ditumbuk dalam lumpang kayu yang diberi campuran yuyu (kepiting sungai) asin. Biasanya disuguhkan bersama Khao Niaw (nasi ketan). Ternyata Comtam yang disajikan dari sebuah warung makan, sangat pedas sekali membuat lidah getir. Sayang, padahal saya sudah sangat lapar dan berharap bisa makan Comtam dengan nikmat.

              Berikutnya, medan lintasan makin terasa menanjak dan menjauh dari aliran sungai Mekong. Sampai di desa Ban Thang Beng, terdapat sebuah persimpangan jalan menuju arah Attapeu, Laos (116 Km). Seperti dalam perencanaan semula saya akan berbelok di sini. Namun, saya menjadi kecewa saat mendapat penjelasan bahwa rute jalan tersebut tertutup saat musim hujan. Terhalang oleh aliran dua buah sungai yang sedang meluap. 


old bhiku
Dan memang tidak ada jembatan untuk melintasi kedua sungai tersebut. Biasanya jalan tersebut menjadi lancar diwaktu musim kemarau. Lemas rasanya, karena saya harus memutar sektiar lebih dari 150 kilometer. Malamnya aku berkemah di sebuah pagoda, Wat Ban Lak Si Seep (artinya desa Km 40). Saat itu, sepeda sudah kukayuh sejauh 1502,7 Km dari Bangkok, Thailand.
 
              Besoknya, saya harus menghadapi tanjakan yang berkelok-kelok memasuki kaki Pegunungan Bolaven. Mendekati kota Pakse lalu lintas kendaraan mulai ramai. Dan dari sebuah persimpangan, saya langsung menuju Paksong. Bersepeda terasa sangat lambat sekali, hanya mampu mengayuh dengan kecepatan di bawah 20km/jam. Cuaca yang sebelumnya cerah pun berubah mendung dan sering gerimis.

Senin, 12 Oktober 2009,
              Medan lintasan menuju Paksong lebih parah lagi karena dalam tiga jam saya hanya mampu menempuh jarak 21 kilometer dengan kecepatan rata-rata hanya 6 kilometer perjam. Medan lintasan berupa tanjakan dan tanjakan lagi secara terus menerus. Suasana pegunungan daerah penghasil kopi yang terkenal ini mulai terasa, dingin dan berkabut. Tubuh semakin kedinginan karena kaos sudah basah oleh keringat.

              Setibanya di Paksong, saya istirahat di sebuah warung.  Di atas meja selalu tersedia garam, cabe kering, gula dan lada putih. Juga irisan jeruk nipis. Selain itu, pelanggan akan diberi segelas es teh secara gratis, biasanya saya tambahkan gula dan peresan jeruk nipis. Jadilah lemon tea, lumayan juga buat mengirit uang! Lalu kulahap habis mie kuah yang disajikan dalam mangkok ukuran jumbo. Beserta dedaunan lalab yang disajikan.

              Pasar Paksong merupakan pusat para pedagang sayuran terbesar di daerah Laos Selatan. Dekat pasar tersebut ada persimpangan jalan. Dari simpang tiga Paksong tersebut, sebenarnya ada jalan beraspal menuju Attapeu melingkar melewati Sekong. Tapi jaraknya akan lebih jauh lagi. Oleh karena itu, saya memilih jalan potong melewati desa Houay Kong. Supaya bisa lebih cepat mencapai Attapeu.

              Kondisi jalan potong ini masih berupa lintasan tanah. Dari peta terlihat jelas bahwa kontur tanahnya akan menurun terus. Oleh karena itu saya bisa melaju cepat deras, beradu cepat dengan datangnya hujan. Sepeda melonjak-lonjak ketika melewati tanah bergelombang. Asyik sekali, serasa sedang naik kuda. Dan mendung tebal yang sedari tadi menguntit di belakang, akhirnya tega mencurahkan hujan lebat dari langit. Tidak ada pilihan lain bagi saya kecuali tetap menggenjot, karena di kanan kiri lintasan berupa perkebunan kopi.

              Airnya mengalir deras membentuk selokan-selokan kecil di badan jalan. Pada beberapa ruas jalan, air menutup seluruh permukaan jalan. Hal inilah yang sering membuatku hampir celaka karena terjebak pada lubang dalam yang berair dan penuh lumpur. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan saya saat itu. Tubuh basah kuyub walaupun sudah memakai jas hujan. Tanah dan lumpur sudah membalur sekujur tubuh, wajah dan juga sepeda. Yang terpenting bagi saya hanya satu, kamera-kamera jangan sampai basah.

              Setibanya di desa Houay Kong, saya bersihkan tubuh dan sepeda yang penuh lumpur sambil menunggu hujan reda. Warung-warung yang ada di Houay Kong, umumnya berjualan minuman dalam kemasan. Mereka tidak bersedia menyeduh secangkir kopi panas. Akhirnya, ada ibu warung di dekat terminal yang mau membuatkan kopi dan merebus dua butir telor sekedar buat mengisi perut keroncongan. Selama itu saya berdiang dekat perapian supaya badan hangat kembali.             

              Hujan sudah reda, walaupun demikian tidak mengurangi serunya tantangan berikutnya. Sudah tidak ada lagi perkebunan kopi seperti sebelumnya. Pemukiman penduduk sudah jarang ditemui, hanya ada satu dua rumah orang yang berbentuk gubuk-gubuk tanpa dinding dan wanitanya masih bertelanjang dada. Enggan rasanya untuk memotret mereka, karena semua pandangan mata tertuju kepada saya. Ladang pun tidak ada karena lintasan naik turun memasuki kawasan hutan belantara. Saya masih merasa beruntung karena sejak dari Paksong – Houay Kong dan selanjutnya, jalanan sudah menurun. Sehingga saya berusaha mencapai desa terdekat untuk bermalam, sambil menahan rasa lapar. Tapi apa daya, namanya juga jalanan di tengah hutan, ditambah lagi dengan sepeda yang berat, masih saja terasa lamban.

              Dalam hutan belantara dalam arti sesungguhnya, saya hanya ditemani suara-suara binatang. Dan tidak sekalipun berharap atau membayangkan ‘sesuatu’  yang tiba-tiba menampakkan diri. Suasana sangat mencekam karena pohon-pohon besar di sisi jalan dahannya menjurai ke bawah menaungi badan jalan menghambat sinar matahari. Kadang-kadang melewati hutan bambu yang rumpunnya membentuk sebuah lorong. Sesekali saya harus berhenti untuk melemaskan otot lengan yang meregang dan membetulkan posisi panniers (tas boncengan) yang copot dari rak bagasi, akibat sepeda yang melonjak-lonjak. Kaos di badan masih basah, campuran antara keringat dan air hujan.

              Hari semakin sore dan mendung tebal bergelayut, memberi suasana kurang nyaman. Pandangan ke sekeliling sangat terbatas, saya tidak mampu berorientasi secara luas. Membuat saya menjadi ragu buat memutuskan berhenti dan berkemah di sebarang tempat.

Tangtara Laos
              Sampai suatu saat, sewaktu melintas di atas sebuah jembatan. Saya diberhentikan sekelompok orang yang bersenjata lengkap. Saya yakin mereka tentara yang sedang bertugas. Jadi saya hanya bisa pasrah dan berserah diri padaNya. Mereka tanya dalam bahasa Laos yang tidak kumengerti dan kujawab saja dengan bahasa Jawa yang tidak mereka mengerti. Terakhir, komandan mereka mengambil tanda pengenal dari saku temannya, saya paham mereka menginginkan tanda pengenal. Kuambil paspor dari dalam tas dan sambil bercanda saya bujuk mereka untuk dipotret. Lama-lama mereka pun mau potret bersama.

              Mereka lalu mengajak berkemah bersama. Sekilas, saya melihat sebuah gubuk sederhana tempat mereka bernaung. Saya tidak mau ambil resiko, perjalanan harus kulanjutkan! Kendatipun tubuh sudah penat dan mata mulai lamur. Saya tetap berusaha mencapai desa terdekat yang katanya kurang 15 kilometer lagi. Namun sebelumnya kucoba menolak secara halus dengan bahasa tubuh, bahwa nanti banyak nyamuk yang akan menggigitku.

              Waktu menunjukkan pk.17.00 tapi di dalam hutan terasa sudah gelap sekali. Masih saja saya bimbang untuk berkemah di dalam hutan atau mencapai desa yang masih jauh. Saya berpikir tidak mungkin juga memasuki desa saat sudah malam, malah akan dicurigai. Sampai akhirnya, saya melihat sebuah gubuk di bawah rerimbunan pohon jati dari kawasan hutan yang telah diolah. 


Kuberanikan untuk bertanya. Sial, malah tangsi tentara. Kepalang basah, daripada saya harus kemalaman di tengah hutan. Dengan bahasa sekenanya untuk berkomunikasi, akhirnya saya diizinkan. Yang kelihatan tadi hanya sebuah gubuk, ternyata di dalam lahan tersebut lebih dari dua puluh gubuk Mereka bercampur dengan penduduk. Dan saya diinapkan dalam sebuah gubuk milik seorang bapak dengan tiga anak lakinya, Phao namanya.

              Malamnya beberapa tentara datang mengajak ngobrol. Dan di tangga gubuk tersebut banyak orang berkerumun mendengarkan sambil sesekali tergelak tertawa melihat kelakukanku. Ah, diterima pikirku. Malam kian larut, mereka beringsut membubarkan diri. Kasur sederhana digelar dan dipasang kelambu. Sebelum tidur saya ganjal perutku yang kelaparan dengan beberapa buah kurma dan biskuit. Saya merasa aman dan nyaman yang membuatku tidur nyenyak sampai dibangunkan suara kokok ayam di pagi hari. Hari yang panjang dan cukup melelahkan.

Selasa, 13 Oktober 2009,
              Sewaktu berkemas, saya melihat dan menanyakan apa isi dari beberapa guci yang tertutup rapat di pojok ruangan. Orang-orang yang hadir menjawab dengan berusaha membuka salah satu guci dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu menusukkan sepenggal pipa mirip rotan, lalu dihirupnya. Raut mukanya, menggambarkan sebuah kenikmatan. Ternyata bir lokal, mirip dengan yang ada di Nepal. Penuh senda gurau kami bergantian menghirupnya. Saya pun ikut mencoba sekedar basa-basi, dengan alasan takut pusing saat bersepeda.

              Setelah pamitan dengan para tentara dan penduduk, saya meluncur turun lagi mengarah ke Attapeu. Hutan belantara telah habis berganti dengan daerah yang penuh ilalang dan semak belukar. Jalan tanah semakin lebar. Senang sekali bisa bersepeda di pagi hari dengan suasana yang mengasyikkan. Lima belas kilometer kemudian saya sampai di persimpangan jalan beraspal lagi (rute Paksong – Sekong). Dan saya di periksa lagi oleh sekelompok tentara yang sikapnya lebih keras dari sebelumnya. Jarak dari persimpangan tersebut ke Attapeu, kurang lebih 60 kilometer.

              Cuaca kurang bersahabat, bahkan kabut tebal masih menyelimuti sebagian daerah pegunungan tersebut. Jalanan beraspal mulus dan lengang, membelah kawasan hutan belantara. Tampak beberapa kelabang hutan yang besar berusaha menyeberang jalan. Dan pada beberapa ruas jalan yang landai, terlihat jelas lumpur bekas genangan air yang menenggelamkan ruas jalan saat ada Badai Ketsana. Tingginya mencapai lebih dari dua meter dari permukaan jalan. Tak terbayangkan bagaimana jadinya kalau saat itu saya tidak berhenti di Phnom Penh, Cambodia.

              Sesudah mengayuh sepeda selama 3 jam, sekitar pk13.30 saya memasuki kota Attapeu (Samakhi Xai), ibukota dari Propinsi Attapeu. Beberapa bagian ruas jalan utama tergerus air saat terjadinya banjir. Tidak lupa pula mampir di sebuah warung untuk makan. Keramaian dan luas Attapeu mirip dengan sebuah kota Kecamatan di Indonesia. Petugas penginapan tempatku bermalam, bercerita bahwa sewaktu terjadi Badai Ketsana, Sungai Xekong yang mengalir di samping Attapeu, meluap. Membanjiri serta menenggelamkan hampir sebagian besar kota.

              Keesokan harinya, saya tidak melanjutkan perjalanan. Istirahat, mencuci serta menjemur peralatan yang lembab. Mengirim berita ke Indonesia dari satu-satunya warnet yang ada bukanlah hal yang mudah. Karena sinyal sering terganggu. Sebagai kenangan dari Pegunungan Bolaven, saya membeli tenunan tradisional Laos yang cukup bagus dan murah. Selesailah Tahap dua ini.

Kamis, 15 Oktober 2009,
              Rute tahap berikutnya sebagai berikut: Attapeu – Pheu Kau – (perbatasan Laos-Vietnam) – Plei Can - N Hoi – Plei Ku – Eadrang – Buon Mo Thuot – Dakmil – Kien Duc – Dong Xuoi – Thu Dau Mot – Saigon (Ho Chi Minh City).

100 Km lagi! Vietnam Border!
              Setelah beristirahat sehari di Attapeu, saya melanjutkan perjalanan dengan penuh semangat. Sayangnya, semangat tersebut pernah surut manakala rantai sepeda putus di tengah jalan setelah bersepeda sejauh 10 Km dari Attapeu. Sesaat aku mengeluh, tapi secepatnya kusiasati situasi demikian. Kupotong beberapa mata-rantai dan kusambung lagi rantai tersebut. Pal kilometer menunjukkan angka 100 untuk sampai di perbatasan Laos -Vietnam.

              Cuaca sangat cerah saat bersepeda menuju perbatasan dan cenderung terik sekali. Dalam waktu yang tidak lama saya sudah menghabiskan dua bidon air minum. Kondisi seperti ini memaksaku sering beristirahat dan berteduh. Kaos pun yang basah karena keringat sudah kuganti dengan yang kering. Medan lintasan naik turun di kawasan lahan perkebunan Tapi selanjutnya hutan tua mengapit jalan utama tersebut sampai perbatasan. Sungguh di luar dugaan, ternyata jalanan sudah beraspal mulus. Beda sekali dengan data yang saya peroleh sebelum berangkat. Dikatakan bahwa kondisi jalan masih tanah, seperti dari Paksong ke Attapeu. Tapi tak apalah, apapun kondisinya saya tetap senang bisa merambah Pegunungan Bolaven.

              Sebenarnya target saya pada hari ini bisa masuk perbatasan. Nyatanya, saya hanya mampu menempuh jarak sejauh 75 kilometer. Tenaga terkuras habis saat menghadapi medan lintasan yang naik turun (rolling) secara terus menerus, berliku-liku menyusuri perbukitan. Sebagai pengganjal perut kulahap satu sisir pisang yang kubeli dari sebuah warung kecil di pinggiran hutan. Saat itu setiap menghadapi tanjakan, saya hanya mampu menuntun sepeda dan meluncur ketika jalan menurun. Mengingat kondisi rantai sepeda yang sudah mulai aus. Ah sepeda tuaku memang sudah renta dan sakit-sakitan, saya harus bersabar.

              Menjelang sore, ketika melihat ada beberapa gubuk di tengah hutan. Saya  beranikan diri minta izin untuk berkemah. Diperbolehkan, malah disarankan untuk berkemah di dalam ruangan rumah gubuknya. Kemudian saya masak beberapa bungkus mie instant dan berbagi dengan tuan rumah. Malam hari di tengah belantara di pelosok Negara orang lain sungguh tak terasa. Suasananya sangat damai, terdengar alunan nada-nada merdu dari suara binatang malam yang bernyanyi sahut-menyahut tanpa henti. Terkadang kunang-kunang melintas di depanku yang sedang duduk santai di tangga rumah gubuk tersebut.

Jum’at, 16 Oktober 2009,
              Paginya, kabut tebal menyelimuti kawasan tersebut. Kata tuan rumah Vietnam hujan deras semalam sehingga membawa dampak ke arah Laos. Sambil menunjuk arah di balik pegunungan yang berawan gelap. Saya pamit untuk melanjutkan perjalanan. Pada kayuhan pertama, langsung dihadapkan tanjakan demi tanjakan melipir pegunungan sampai akhirnya tiba di puncaknya. Baru kemudian turun menukik, mengarah ke perbatasan sejauh 60 kilometer.

              Senang sekali saya mendapati sebuah warung yang menjual nasi di desa terakhir Laos (Xecan). Dari desa terakhir tersebut sampai pos Imigrasi Laos, Pheu Kau masih 12 km. Saya harus bersusah payah lagi menapaki jalan yang menanjak sampai Pos Imigrasi yang berada di puncak bukit.

              Keluar Laos lancar dan tidak ada masalah. Berbeda saat di pos Vietnam petugasnya lama sekali membolak-balik paspor. Sampai akhirnya, saya diperbolehkan menuju Kantor Imigrasi yang berjarak 800 meter dari pos tersebut. Sepeda dan kakiku yang penuh lumpur kucuci dengan air kran, sebelum masuk kantor Imigrasi Vietnam. Ternyata lebih dari satu jam waktu terbuang percuma menunggu penyelesaian paspor dicap. Sepeda juga dipermasalahkan, dengan sedikit berdebat akhirnya beres juga. Mengingat sudah kehilangan banyak waktu (saat itu sudah sore, hampir pk 16.45) saya langsung bergegas.

              Tujuanku adalah Plei Can atau N Hoi yang berjarak 20 Km dari perbatasan. Terasa perbedaan saat bersepeda di Vietnam. Jalanan mulus sekali dan lebar, yang memungkinkan saya melaju dengan cepat. Alamnya sudah tidak lagi hutan belantara yang lebat seperti di Laos. Daerah perbukitan sudah gundul semua, hutan sudah tidak ada dan sejauh-jauhnya mata memandang yang nampak  hanyalah perkebunan teh. Banyak sekali pos-pos dan tangsi tentara.

              Beruntunglah saya, dengan mudah mendapatkan penginapan saat mencapai kota Plei Can sekitar pk 18.00. Pada kesempatan itu, saya menukarkan uang dengan mata uang setempat buat bekal (1$ US = 18.000 VnD/ Vietnam Dong). Malam harinya turun hujan lebat hingga pagi harinya.

Sabtu,17 Oktober 2009,
              Tidak ada pilihan lain lagi, saya harus berani menembus hujan untuk menghemat waktu. Dalam keadaan hujan, perjalanan dari Plei Can hingga Plei Ku sejauh 114,38Km. Saya tempuh dalam waktu 8jam 19menit 43detik. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi saat itu. Berhenti hanya untuk makan atau sekedar mampir di warung kopi, selebihnya secara terus menerus berada di atas sadel sepeda. Karena kalau berhenti, tubuh menjadi dingin dan menggigil. Jas hujan yang kupakai sudah jenuh air dan tembus pula. Dengan kata lain tubuhku sudah basah kuyub selama 8 jam tersebut.

              Begitu pula keesokan harinya aku kembali bersepeda dalam hujan selama 7 jam 34 menit 08 detik menempuh jarak 113,51Km. Tubuh dalam keadaan basah kuyub. Barulah pada hari keempat di Vietnam, saya mendapatkan sinar matahari beberapa saat, tapi itu cukup membuatku kelengar. Cuma mampu menempuh jarak 65 Km. Berikutnya, hujan dan panas menjadi hal biasa. Hanyalah keteguhan hati dan determinasi yang tinggi, bisa membuatku tetap bertahan.

              Saat berhujan-hujan tersebut, saya menghitung ada 6 titik area berbeda yang tersapu banjir bandang. Banjir akibat Badai Ketsana membawa berbagai endapan lumpur dan bongkahan kayu besar. Menghancurkan pemukiman, menggerus ruas jalan dan sebagian lagi airnya masih menggenangi jalan yang kulewati. Malah ada ruas jalan yang sedang dalam proses pembersihan lumpurnya. Jalanan yang dibangun lebih tinggi dan menyerupai pematang pun masih terendam air dan lumpur. Genangan airnya seperti danau yang luas. Ngeri sekali, membayangkan kalau saya lebih cepat beberapa hari, mungkin sudah lenyap terbawa arus sungai lebar tersebut.

very very uenak tenan !
              Dalam pada itu, tidak dengan mudah mendapatkan penginapan. Karena di Vietnam tidak semua panginapan diperbolehkan menerima tamu warga negara asing. Banyak penginapan hanya untuk orang Vietnam, sehingga saya mengalami beberapa kali penolakan sebelum mendapatkan tempat istirahat. Jengkel sekali rasanya, padahal saya sudah capai sekali, lemas, lapar dan basah kuyub. Saya hanya bisa mengambil hikmahnya. Dan itulah salah satu pelatihan yang diberikan dalam perjalanan berat ini.

              Selama berada di Vietnam, belum pernah sekalipun berkemah. Sebenarnya sudah beberapa kali saya mencoba minta izin untuk menumpang berkemah di lahan orang, tapi ditolak. Selain lahan yang basah karena setiap hari hujan, bentuk rumah di Vietnam bukan lagi rumah panggung. Melainkan rumah biasa berupa rumah petak kecil-kecil yang dibangun langsung di atas tanah dan tidak memiliki kolong rumah.
           
Rabu, 21 Oktoebr 2009,
               Pada ruas jalan Dak Mil – Kien Duc, rantai sepeda  putus untuk kedua kalinya. Lemas rasanya, karena susah sekali mencari bengkel atau toko sepeda. Sampai suatu saat menemukan bengkel motor yang merangkap bengkel sepeda. Tidak ada rantai baru. Sebagai pengganti rantai sepedaku, dua buah rantai bekas disambung menjadi satu. Walaupun bukan rantai baru, namun saya yakin rantai tersebut jauh lebih baik daripada rantai sepedaku yang telah dipakai lebih dari 10 000 Km. Hal ini cukup membangkitkan rasa percaya diri lagi. Saya berani mengayuh dengan sekuat tenaga. Tetap bersepeda kala mendaki dan meluncur kencang saat menuruni bukit.

              Selain itu ban luar bagian belakang terpaksa harus diganti karena sudah aus. Lebih dari 2000 kilometer baru sekali ganti ban luar dan sampai akhir perjalanan tidak sekalipun ban dalam bocor. Ini merupakan catatan tersendiri.

              Sejauh pengamatan saya, zaman sudah berubah. 12 tahun lalu kalau saya bersepeda akan masuk sebuah kota pada sore hari, maka akan berpapasan dengan ratusan pesepeda lokal yang baru pulang kerja. Dan sebaliknya bila saya meninggalkan sebuah kota pada pagi hari, maka akan berpapasan dengan ratusan pesepeda yang hendak berangkat kerja. Sekarang semua sudah beralih naik sepeda motor dan sepeda hanya dipergunakan olah anak-anak sekolah atau ibu-ibu setengah baya ke pasar.
              
              Dalam perjalanan, saya banyak melewati daerah perkebunan karet dan kopi. Alam pegunungan yang sejuk di antara pepohonan pinus membuatku betah mengendarai sepeda berlama-lama. Dari Kien Duc – Dong Xuoi, kondisi jalan lebih banyak menurun. Don Xuoi - Saigon, sejauh 93 kilometer menyusuri Highway #14, yang sudah dipisah median jalan. Jika memasuki kota besar, musuh utama saya adalah sepeda motor. Dimanapun berada saya selalu dikepung sepeda motor. Kendatipun demikian jarang sekali pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan. Mereka sangat tertib dan tidak ngebut di jalan raya. Dan di persimpangan, sepeda motor berhenti tepat di belakang zebra cross. Di Vietnam sudah tidak ada lagi, sepeda motor yang ditumpangi 6 orang seperti kutemui 12 tahun lalu. Atau yang dimodifikasi menjadi alat angkutan desa seperti di Cambodia.

Minggu, 25 Oktober 2009,
               Akhirnya, saya tiba dengan selamat di Saigon (Ho Chi Minh City), Vietnam pada hari Minggu, 25 Oktober 2009. Setelah bersepeda selama 31 hari dari Bangkok, Thailand (dalam 38 masa pengembaraan, tidak termasuk masa kepulangan ke Indonesia) menempuh jarak 2565,9 kilometer.

vietnam riksaw
              Siang harinya, bersepeda bersama Staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia, di Saigon dan Para Pesepeda lokal keliling kota sejauh 15 kilometer. Dan berakhir dengan perjamuan sop kambing yang nikmat di Kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia di kawasan Phang Puc Khoan. Terima kasih kepada semuanya. Berkat dukungan dan doa restunya, Paimo bisa menyelesaikan perjalanan bersepeda jarak jauh ini sesuai yang direncanakan. Tuntas sudah perjalanan yang merupakan pemanasan buat petualangan berikutnya yang lebih seru.

Bandung, Nopember 2009,
Paimo

Disarikan dari catatan harian TRANS ASIAN CYCLING TRIP 2008.
CONQUERING ROADS UNDER THE HEAT OF THE SAME SUN
sebuah perjalanan bersepeda jarak jauh melintasi negara ThailandCambodiaLaos dan Vietnam yang dilakukan dari tanggal 14 September 2009 sampai dengan 28 Oktober 2009.
.  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar