BERSEPEDA DI ATAS AWAN
Oleh: Paimo
Awal Perjalanan,
Mulanya, aku pikir
tidak akan pernah lagi melakukan petualangan di Nepal. Mengingat beberapa
kendala yang harus dihadapi. Sesaat setelah kujejakkan kaki di Bandara
Tribhuvan International Airport, Kathmandu – Nepal . Maka terwujudlah mimpiku walaupun dengan
tujuan berbeda. Untuk bisa berkunjung lagi di negara yang terkenal dengan
sebutan Surga bagi Petualang dan Pendaki
Gunung. Kali ini aku tidak sedang mendaki gunung atau trekking, tetapi bersepeda merambah dan melipir kaki Pegunungan
Himalaya.
| hiks hiks hiks! never mind! |
Kegiatan bersepeda
jarak jauh yang bertajuk : TRANS HIMALAYA CHALLENGE (CYCLING TRIP) 2008 ini kuawali, pada hari Senin, 15 September 2008 . Meninggalkan Lembah Kathmandu, menggenjot
pedal sepeda menyusuri Tribhuvan Raj Path Highway mengarah ke bagian barat Nepal . Ternyata bukan hal yang mudah, karena
sejauh 17 kilometer menanjak terus dari ketinggian sekitar 1100 meter dpl (di
atas permukaan laut) sampai ketinggian 1425 meter dpl (Kathmandu –Thankot). Di samping itu, setelah Ve
Dhunge lintasan menukik tajam, sempit dan berkelok-kelok di antara tebing curam
sampai pada ketinggian 425 meter dpl (Malekhu). Jika menikung, dari arah
berlawanan bis dan truk mengambil hampir seluruh lebar badan jalan. Harus
ekstra hati-hati menghadapi arus lalu lintas antarkota yang padat.
| jika cerita di Cycling - U Magz - Nat. Geographic dijadikan satu, maka akan menjadi sebuah rangkaian cerita lengkap. |
Pada tahap awal ini adalah sebagai berikut: Kathmandu – Thankot – Ve
Dhunge – Noubise – Malekhu - Mugling – Damauli - Pokhara – Galyang Bazar –
Butwal – Chanauta – Satabariya, Uchanimbu – Kohalpur – Jhunga, Chisapani –
Mahendranagar – Godda Chauki.
Suatu saat aku
berpapasan dengan seorang pesepeda asal Jerman. Kami lalu saling berbagi
informasi. Dia bercerita panjang lebar tentang India dan merasa sangat nyaman dalam menikmati
suasana alam di Nepal . Sialnya, kemarin dia baru kehilangan sebuah kamera SLR Digital. Menurutnya, hal itu terjadi saat istirahat.
Dia dikerumuni orang dan seseorang mengambil kamera tersebut dari handlebar bag. Berbekal dari
pengalamannya, aku tidak mau mengambil resiko. Selama melakukan perjalanan
hingga berakhir, aku selalu menolak dan melarang jika ada seseorang berusaha
menjamah sepeda atau peralatannya.
Selain pesepeda dari Jerman, aku berpapasan dengan 3 orang lagi pada
waktu yang berbeda. Satu orang dari Amerika, seorang dari Perth, Australia dan seorang lagi dari Prancis. Keempat
pesepeda jarak jauh tersebut berencana mengunjungi Indonesia suatu hari kelak. Dan pertanyaan mereka
sama, apakah di Indonesia situasi di jalanan juga semrawut seperti India dan apakah pengendara mengemudikan
kendaraan secara serampangan.
| smoking dragon ! |
Sekitar pk 15.00 waktu setempat, matahari sudah tidak nampak karena
terhalang oleh dinding lembah. Dan aku sudah tidak kuat menahan pusing. Bahkan
ketika kuraba, kepala terasa semakin nyut-nyutan. Dan sesudah melewati kota
kecil Malekhu, aku dapat informasi ada penginapan yang sederhana dan murah.
Setelah kudapatkan, tanpa banyak berdebat aku langsung menyepakati harga yang
diajukan, 150 RsN. Sepeda kutuntun ke bagian belakang restoran dan kubongkar
perbekalan lalu dibawa ke lantai dua. Sedangkan sepeda aku rantai di dekat
tangga naik. Hal ini membuatku semakin lemas karena seharian aku sudah
bersepeda sejauh 78,93 kilometer.
Aku langsung merebahkan diri di atas dipan sampai datangnya malam.
Terbangun ketika udara dingin mulai menusuk tulang. Lalu turun ke restoran
untuk segera makan malam yang sudah kupesan sebelumnya. Pusing kepala sudah
berkurang dan kulanjutkan tidur lagi sampai pagi.
Hari kedua, Selasa 16 September 2008,
Keesokan harinya,
aku meninggalkan penginapan dalam cuaca yang kurang bersahabat, hujan rintik
dan udara dingin sekali. Semakin siang cuaca berangsur cerah. Jalanan masih
sepi dan jarang lalu lintas kendaraan. Hanya sesekali pengendara sepeda motor
lewat dengan kecepatan tinggi.
| Nepali Kukri |
Di bagian lain dari tepi sungai tersebut ada sebuah tour operator yang menangani kegiatan
arung jeram (rafting). Komplek mereka
dibangun secara artistik dengan beberapa bangunan rumah-rumah tradisional.
Dan di sebelah kanan jalan sebelum mencapai Mugling, tepat di tepi
sungai Trisuli (Mahesh Khola) ada cable
car, yang mempersingkat jalan menuju Manakamana Temple . Sebuah kuil yang cukup popular di Nepal. Kuil ini dibangun di atas
sebuah punggungan bukit yang tinggi. Dan harga tiket cable car untuk orang asing cukup mahal (10 $US) dibandingkan untuk
orang Nepal (250 RsN).
Setibanya di
Mugling aku membeli 6 buah pisang, 20 RsN. Mugling merupakan sebuah
persimpangan yang sangat ramai karena menjadi tempat pemberhentian bis jurusan
Pokhara-Kathmandu dan dari arah Narayanghat (Royal Chitwan National Park )-Kathmandu .
Jarak Mugling-Pokhara 96 Km dan Mugling-Kathmandu 110 Km. Selain itu juga
menjadi pertemuan dua buah sungai besar (Marsyangdi dan Mahesh Khola) yang akan
akan menjadi anak sungai Gangga yang terkenal.
Dari persimpangan Mugling, aku belok kanan menuju Pokhara, menyeberangi
Mahesh Khola. Setelah melintasi jembatan yang lebar, aku istirahat dibawah
keteduhan pohon Banyan. Makan buah pisang yang baru dibeli, sambil dibuai
semilirnya angin sejuk. Tanpa terasa aku terlelap tidur. Dan terbangun saat
mendengar suara mengobrol dari ibu-ibu yang mulai berkerumun di bawah pohon
Banyan tersebut. Ada seorang pria duduk di belakang meja yang
baru ditaruh. Dan secara bergantian ibu-ibu tadi menyetorkan sejumlah uang. Aku
mengamati aktifitas mereka sebentar lalu melanjutkan perjalanan lagi.
Baru bersepeda
beberapa kilometer, aku tidak kuat menahan kepala yang mulai pusing lagi.
Langsung menepi dan tidur di atas tanggul batu di pinggir jalan. Lebih dari
satu jam lamanya aku terkapar lunglai. Yang kulakukan hanya berdoa semoga
selekasnya bisa beradaptasi dengan lingkungan. Kucoba bertahan dan secara
bertahap aku berusaha merayapi jalanan menanjak sampai ketinggian +705 meter
dpl. Lalu menuruni lembah hingga kota Damauli, +390 meter dpl. Aku bermalam di
penginapan seberang terminal bis Damauli.
Setelah menawar,
disepakatilah 100 RsN untuk sebuah kamar yang cukup bersih di lantai tiga (1
$US = 71.66 RsN/Rupees Nepal ). Saat menjelang matahari terbenam, banyak sekali burung-burung yang
beterbangan mendatangi pepohonan di sekitar penginapan. Mereka bertengger
memenuhi dahan-dahan pohon sambil bersuara riuh. Malam harinya kebetulan cuaca
cerah, terang bulan dan mati listrik. Suasananya sangat menyenangkan dan aku
tiduran di teras menikmati udara segar dan pemandangan yang indah.
Keesokan harinya,
kabut tebal menyelimuti bukit-bukit yang mengitari Damauli. Suara kicauan
burung bersahutan ramai sekali. Tampak pula burung-burung mulai berhamburan
terbang meninggalkan pepohonan. Sementara itu, aku berkemas sambil memasak mie
dicampur muesli buat sarapan. Seperti
biasanya, sebelum jam 08.00 waktu setempat aku sudah bersepeda kembali.
Beberapa ratus meter kemudian aku melintasi sebuah jembatan yang membentang di
atas sungai Mardi (Mardi Khola). Dari Mardi Bridge tersebut, kulihat sebuah
pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Jajaran gunung-gunung bersalju
menjulang bagaikan raksasa sedang tidur. Annapurna Range , berlatar belakang langit yang biru bersih. Terlihat puncak
Machhapuchare menjulang tinggi di antara puncak-puncak Annapurna , Lamjung, Ngadi Chuli dll
Dalam perjalanan
berikutnya, banyak sekali daerah persawahan yang subur. Areal sawah berteras
dan berundak mengikuti kontur tanah. Suasana alamnya mirip sekali dengan alam
pegunungan Indonesia . Sementara itu, air sumber dari pegunungan banyak dialirkan melalui
pipa-pipa untuk kebutuhan sehari-hari. Dan kran air umum selalu ada di pinggir
jalan, sekaligus bisa dipergunakan untuk mandi. Jika butuh air minum, aku
menadah dari kran yang ada. Seperti penduduk setempat, langsung minum tanpa
harus direbus. Hal ini kulakukan karena air minum dalam kemasan jauh lebih
mahal daripada harga minuman ringan (soft
drink).
![]() |
| local woman with my luggage! |
Sesampainya di
Kotre Bazar, aku mampir di sebuah warung makan. Selesai makan aku ngampar di
emperan toko dan istirahat siang secukupnya. Kemudian aku menggenjot sepeda
lagi melintasi jalan yang naik turun landai menuju Pokhara (880 meter dpl).
Semakin mendekati kota wisata tersebut, arus lalu lintas semakin ramai. Dan
tampak pesawat terbang kecil yang mengantar wisatawan, naik turun berkali-kali
dari air strip. Ada seorang pesepeda
lokal yang sedang membawa telor, mendekat dan menyapa. Dia lalu memandu aku
mencarikan penginapan murah (200 RsN semalam) dekat danau yang menjadi salah
satu objek wisata di Pokhara. Tiga hari bersepeda 240,7 kilometer dari Kathmandu . Pada
umumnya para wisatawan atau penggiat alam terbuka selalu singgah di Pokhara
sebelum melakukan kegiatan di kawasan Annapurna Range, Pegunungan Himalaya.
Aku menghabiskan sore hari
dengan bersepeda di kawasan Baidam (Lakeside ) tepi
dari Phewa Tal (Danau Phewa). Kawasan
Baidam ini menjadi tempat tujuan wisatawan dan segala fasilitas pendukung
pariwisata bisa dijumpai di sini. Banyak sekali wisatawan hilir mudik. Mirip
kawasan Thamel di Kathmandu. Untuk makan malam, aku menyantap buff-momo steam yang harganya jauh lebih
mahal daripada di Kathmandu . Panganan yang dikukus mirip siomay
Bandung, berisi daging cincang yang dibumbui. Kadangkala, harus menunggu lama
karena umumnya mereka membuat momo bila dipesan. Satu porsi, terdapat 10 buah
momo berikut bumbunya, tempat momo dicocolkan.
Dalam perjalanan kembali ke penginapan aku belanja bahan makanan di
sebuah super market. Petugas penginapan melarangku membawa sepeda masuk kamar.
Sepeda kusandarkan pada dinding di bawah teritis atap ruang keamanan. Dan pada
tengah malam hingga pagi turun hujan
lebat disertai angin. Sebelumnya kupikir sepeda sudah terlindung dari tempias air
hujan. Ternyata, keesokan harinya ketahuan kalau semua barang yang ada di dalam
tas stang sepeda (handlebar bag),
basah semua!
Menjelang pagi aku terbangun
dari tidur karena udara dingin serasa menusuk tulang. Untuk menghangatkan suasana, aku lalu merebus air, menyeduh kopi
di dalam kamar sambil mengunyah biskuit. Pada hari keempat tersebut aku
berencana naik sepeda ke Sarangkot. Sarangkot, sebuah desa di atas salah satu
bukit yang mengelilingi Lembah Pokhara. Jaraknya cuma 13 kilometer tapi
tanjakannya sangat terjal. Pagi yang dingin, hujan rintik-rintik dan berkabut
tak mengendurkan semangat untuk menggenjot pedal sepeda. Dalam perjalanan
meninggalkan Lembah Pokhara, aku melihat banyak orang (penduduk lokal) yang
sedang olah raga pagi. Mereka berjalan kaki naik turun daerah perbukitan. Dari
persimpangan Binde Basini, jalan mendaki sangat terjal. Lalu memasuki kawasan
hutan yang sepi, semakin tinggi aku berada, udara semakin dingin. Dari bagian
yang terbuka, terlihat rumah-rumah penduduk yang didirikan pada lereng-lereng
bukit yang curam.
| flower seller! |
Setibanya di areal parkir kendaraan Sarangkot, ada petugas yang
mengharuskan aku untuk membayar karcis. Aku tidak mau karena selain cuma
bersepeda, saat itu pemandangan alamnya tertutup awan tebal, jadi percuma.
Petugas bersikukuh aku harus membayar karena dianggap sudah menginjak areal
parkir, yang berfungsi juga sebagai areal melihat pemandangan Lembah Pokhara.
Demi menghemat uang, aku memilih untuk turun kembali.
Beberapa langkah dari areal parkir tersebut, aku istirahat sejenak di
depan sebuah warung tutup. Tidak lama kemudian ada seorang pemuda menghampiri
dan mengajak ngobrol. Lalu aku diajak
singgah di rumahnya, sekedar minum chya
(milk tea) untuk mengusir rasa dingin. Tentu saja aku tidak menolak, bahkan
ketika dia menawari sarapan thakari dal bhaat. Akhirnya, selesai makan kami
berjalan bersama turun ke Binde Basini, kota kecil terdekat. Dia juga mengantarkan ke
warung internet yang murah, agar aku bisa mengirimkan berita ke Indonesia .
Bersepeda di atas awan!,
Jumat, 19 September
2008, aku menuju Butwal melewati NH.10 (National Highway #10), dengan harapan bisa bertemu lagi
dengan NH.01 yang membujur dari timur hingga barat Nepal . Rute Pokhara – Butwal, jarang kendaraan
besar karena kondisinya yang naik turun dan berkelok-kelok melipir Pegunungan
Himalaya. Dan rawan longsor pada beberapa ruas jalannya.
Pagi hari cuacanya mendung, dingin dan berkabut. Akibat sepanjang malam
hujan lebat telah mengguyur lembah Pokhara. Meninggalkan Pokhara, aku bersepeda
merayapi jalan yang menanjak terus. Sejauh 18 kilometer menyisir lereng daerah
perbukitan dan di kirinya jurang menganga yang curam. Lalu melintasi bukit
landai dengan ketinggian 1160 meter dpl. Setelah melewati puncaknya tersebut,
mulailah turun naik daerah perbukitan, yang tiada habisnya sampai Naudanda.
Terkadang aku harus menembus kabut tebal di lembah atau menerjang rintik hujan
kabut. Menyusuri setiap lekuk lereng pegunungan, mengikuti kontur tanah.
Kadang-kadang tepat di bawahku, di lembah terdapat gumpalan-gumpalan awan. Aku
sedang bersepeda di atas awan! Suasananya sangat menyenangkan, apalagi didukung
alam pegunungan yang indah mempesona. Setiap sebuah punggungan perbukitan sudah
dilewati, maka akan disambut lagi punggungan yang lain dari kaki Himalaya .
| ya ampiunnnnnnn! |
Hujan masih turun membasahi bumi ketika aku tiba di pasar Naudanda,
yang terletak pada sebuah persimpangan. Aku berteduh di sebuah warung penjual
nasi. Lebih kurang satu jam aku istirahat untuk makan siang. Aku membeli
sepiring nasi. Sementara lauknya, karena tidak tahu nama-nama menu makanan aku
menunjuk apa yang sedang disantap orang lain. Sakuaka (gorengan daging yang diberi bumbu) yang disajikan di atas
sebuah piring kecil yang terbuat dari cetakan daun kering. Sebenarnya sakuaka ini termasuk makanan camilan,
karena biasanya dilahap bersama dengan rhaksi
(arak lokal). Tak apalah pikirku, karena aku juga butuh protein bukan hanya
karbohidrat melulu.
Walaupun hujan masih mengguyur kawasan tersebut, aku tetap melanjutkan
perjalanan. Selepas Naudanda, kondisi jalan masih naik turun daerah perbukitan.
Sekali waktu, pada ruas jalan sempit tersebut terjadi antrian kendaraan yang
panjang. Dan di bagian ujungnya dihadang
beberapa truk yang malang
melintang di tengah jalan. Ratusan meter berikutnya diblokade dengan bongkahan
batu-batu besar. Dan ada lagi di tempat lainnya timbunan batu koral dan pasir.
Terlihat beberapa orang penunpang bis, melanjutkan perjalanan dengan berjalan
kaki. Dalam hati bertanya-tanya apakah ini kerjaan Maois? Aku sudah pasrah saja
dan siap menghadapi segala sesuatunya.
Setengah jam kemudian baru aku mendapatkan jawaban. Ternyata ruas jalan
yang ditutup sejauh lebih dari 20 kilometer tersebut adalah karena beberapa
hari sebelumnya ada seorang pengendara sepeda motor yang meninggal akibat
ditabrak truk dekat kota
kecil Waling. Dan di tempat kejadian, sedang dilakukan sebuah upacara adat yang
menjadi tempat berkumpulan ratusan penduduk desa.
Kebetulan hari ini sedang dilakukan upacara adat di tempat terjadinya
kecelakaan. Sehingga penduduk desa berbondong-bondong ikut menyaksikan upacara
tersebut. Aku tetap bersepeda pelan-pelan sampai akhirnya terhenti dengan
adanya pusat keramaian yang menutup badan jalan. Ada puluhan polisi menjaga areal tersebut. Aku disarankan untuk
menggunakan jalan setapak yang menyusuri tepian sungai. Kutuntun sepedaku
menjauhi pusat keramaian, menuruni jalan setapak mengarah ke tepi sebuah
sungai.
| wow! |
Mendekati kota
Butwal, lintasan mengikuti aliran sebuah sungai lebar yang diapit dinding batu
yang cukup terjal. Pada beberapa bagian longsor dan menutup badan jalan. Tubuh
sudah cape sekali setelah menempuh jarak 78 kilometer dengan medan yang berat. Harapannya akan segera
menemukan tempat istirahat yang nyaman dan makan sepuasnya karena seharian
tidak ada asupan makanan yang memadai. Tetapi keadaan berkehendak lain, karena
dua kilometer menjelang Butwal, jalan raya benar-benar terputus. Antrean
kendaraan panjang sekali. Hujan yang bertubi-tubi turun semalaman, membuat
tanah longsor. Lemas hati dibuatnya, tapi mau apa lagi, aku harus memutuskan
secepatnya karena hari semakin gelap.
Pada saat yang bersamaan ada dua orang porter (aku baru tahu kemudian,
kalau mereka ternyata tukang penarik riksaw) yang menawarkan jasa dengan bahasa
Nepali yang tidak kumengerti. Komunikasi dengan bahasa sekenanya, disepakati
bayaran 200 RsN seorang (1 Dolar AS = 71,66 Rupees Nepal ). Sepeda secepatnya kubongkar dan seluruh
peralatan dipanggul oleh mereka berdua melintasi sebuah punggungan bukit.
Lintasan yang penuh lumpur sedalam betis, guna menghindari tanah yang masih
labil.
Memasuki kota
Butwal, hari menjelang gelap. Sial bagiku, di tengah keramaian mendadak ban
belakang kempis. Saat itu mustahil untuk mendorong sepeda yang sarat beban
serta mencari tempat sepi. Maka dari itu aku langsung merebahkan sepeda di tepi
jalan dan mengganti ban dalam, secepatnya. Dan dalam sekejab saja terjadi
kerumunan orang di sekelilingku, sepertinya aku mirip penjual jamu. Bahkan
beberapa polisi ikut melongokkan kepala di antara mereka. Setiap gerakanku
diikuti sorotan mata mereka. Begitu pula saat aku mengambil cadangan ban dari
dalam pannier. Semua kepala ikut
condong mendekat dengan pandangan mata serba ingin tahu. Risih juga!
Sambil menahan rasa lapar aku bekerja. Dan mata selalu mengawasi bagian lain dari sepeda, takut kalau ada yang iseng. Dalam pada itu aku merasa sedikit beruntung, karena kedua porter masih ada (yang ternyata adalah penarik riksaw). Mereka mengalihkan perhatian dengan bercerita dalam bahasa Nepali tentang pengalaman sebelumnya. Menolongku melintasi bukit, mengatasi longsoran. Selesai mengganti ban keringat dingin pun mulai membasahi tubuhku yang cape. Dan setibanya di penginapan, aku benar-benar telah ‘habis’.
Sambil menahan rasa lapar aku bekerja. Dan mata selalu mengawasi bagian lain dari sepeda, takut kalau ada yang iseng. Dalam pada itu aku merasa sedikit beruntung, karena kedua porter masih ada (yang ternyata adalah penarik riksaw). Mereka mengalihkan perhatian dengan bercerita dalam bahasa Nepali tentang pengalaman sebelumnya. Menolongku melintasi bukit, mengatasi longsoran. Selesai mengganti ban keringat dingin pun mulai membasahi tubuhku yang cape. Dan setibanya di penginapan, aku benar-benar telah ‘habis’.
Ternyata longsoran sering terjadi di kaki Pegunungan Himalaya ini,
terbukti pada ruas-ruas berikutnya banyak jalan terputus sehingga aku harus dengan
sabar menunggu beberapa saat untuk bisa kembali melanjutkan perjalanan.
Dari Butwal sampai Mahendranagar, aku menyusuri East West Highway . Kondisi jalannya relatif datar. Umumnya
dengan ketingggian 150 – 200 meter dpl. Sudah tidak lagi melintasi daerah
pegunungan dengan elevasi ketinggian yang ekstrem. Semakin ke arah barat Nepal semakin mengasyikkan karena jarang
penduduk dan lintasannya banyak melalui hutan belantara. Tetapi di antara
tempat itu banyak pula tangsi tentara karena ada beberapa jalan menuju
perbatasan Nepal-India.
| local people with his bike! |
Sumber air bersih tidak lagi semudah di daerah pegunungan. Yang setiap
saat mudah didapat dari instalasi pipa air bersih. Mulai Butwal ke barat,
sepanjang jalan air bersih didapat dengan cara mengunakan pompa tangan. Dan
anehnya, air pompa tersebut bila disimpan satu malam langsung berubah menjadi
keruh.
Beberapa kilometer
sebelum Kohalpur, selepas melewati kawasan hutan lebat aku mampir di sebuah
sekolah dengan maksud berkemah di halamannya. Oleh seorang gurunya yang kebetulan
belum pulang, aku diperbolehkan untuk menempati sebuah ruangan kelasnya.
Sialnya, tidak ada warung yang menjual makanan di sekitar sekolah tersebut. Dan
ketika guru tersebut sudah pulang, berdatangan beberapa pemuda tanggung yang
tingkah lakunya membuatku kurang nyaman. Merasa posisiku lemah, aku berusaha
menyiasati agar mereka keluar ruangan kelas tersebut. Begitu ada kesempatan,
kurantai pintu kelas. Beberapa saat ada dari mereka yang berusaha kembali, tapi
aku pura-pura tidur, di pojok kelas beralaskan meja. Sengaja aku tidak
mendirikan tenda ataupun membongkar muatan sepeda. Supaya kalau terjadi sesuatu
aku bisa langsung kabur.
Malam hari, nyamuk cukup banyak dan udaranya panas. Bila kunyalakan
kipas angin ruangan, terdengar suara cukup bising. Semalaman tidurku tidak bisa
nyenyak. Selain karena perut keroncongan, aku selalu dituntut waspada kalau
tiba-tiba ada yang berusaha menerobos masuk ruangan yang gelap gulita tersebut.
Hal-hal semacam inilah yang akhirnya membuatku memutuskan dalam hari-hari
berikutnya, untuk selalu bermalam di penginapan daripada berkemah. Dalam sebuah
penginapan, dengan beaya yang tidak terlalu mahal, aku bisa benar-benar
istirahat total sepanjang malam.
Yang paling
menegangkan ketika melintasi Royal Bardia National Park, sejauh 29 kilometer,
jarang berpapasan dengan kendaraan ataupun manusia. Merupakan daerah
bermukimnya Bengali Tiger yang terkenal. Kotoran gajah yang masih baru,
teronggok di tengah jalan, menandakan kawanan gajah tersebut belum lama berselang
menyeberang jalan. Sekumpulan rusa asyik merumput di bawah pohon yang rindang.
Sesekali aku melihat rombongan kera menyeberang jalan dengan santai tapi
membuat miris hati kecil ini.
Jumat, 26 September 2008 ,
Dari Mahendranagar aku menuju
perbatasan Nepal – India, Godda Chauki. Kathmandu – Godda Chauki sejauh 966,9
Km aku tempuh dalam 12 hari dari 17 hari masa pengembaraan. Godda Chauki
merupakan titik paling barat Nepal dan akhir dari National Highway #01. Jalan beraspal benar-benar berakhir,
seterusnya berupa jalanan tanah memasuki zone perbatasan. Jarang sekali
pelintas batas dari mancanegara. Kebanyakan pelintas batas adalah penduduk
lokal. Di perbatasan tidak ada fasilitas penukaran uang.
Seperti halnya di Pos Imigrasi Nepal, petugas Imigrasi India – Banbassa (Champawat Distric,
Uttaranchal-India) menyambut ramah, sibuk membolak balik buku catatan. Rupanya,
baru kali ini dia menangani paspor Indonesia . Tidak bertele-tele dan tidak minta uang
sepeserpun.
Berikutnya, adalah
menapaki jalan di atas sebuah dam, yang membendung aliran air sungai lebar (Mahakali Nadi River ). Lalu menyusuri jalanan tikus sejauh 21 Km. Dalam
hati aku selalu berdoa, semoga tidak ada masalah dalam menempuh lintasan sepi
ini. Harap-harap cemas, maklumlah ini hari pertama aku bersepeda di India . Di sebuah check point, aku ditanya dua
orang petugas bersenjatakan AK 47. Begitulah seterusnya, lintasan ini mengikuti
sebuah aliran anak sungai yang bercabang-cabang. Sampai kemudian tiba di sebuah
simpang tiga. Empat kilometer sebelum kota Khatima, jalan bersatu dengan jalur National Highway #125. Rute yang pergunakan adalah sebagai
berikut: Banbassa – Khatima – Rodrapur – Ranpur – Moradabad – Delhi .
Aku mengayuh sepeda dengan menahan rasa lapar, makan seadanya dari
bekal bahan makanan yang tersisa. Tidak bisa membeli sesuatu, karena saat itu
aku belum punya mata uang India . Sekitar pukul dua siang, setelah mengayuh
beberapa puluh kilometer, di sebuah kota kecil (Nanak Matta) aku melihat kantor Western Union . Aku hampiri dan menanyakan apakah
sekiranya mereka mau membantu kesulitan yang kuhadapi. Syukurlah, mereka bisa
membantu, meskipun dengan nilai tukar sedikit lebih rendah tak apalah. (1 $US =
44 Rupees India/RsI)
Matahari tepat di
atas ubun-ubun. Suhu udara mencapai 33 derajat Celcius. Dan sebelumnya sudah
kuduga, ternyata India memang hebat. Tanpa ada waktu jeda, setiap saat aku ketemu orang. Akan
memasuki kota Rodrapur (12 km), jalanan rusak berat dan
berdebu. Bahkan pada kedua sisinya terdapat timbunan sampah kota yang menebarkan bau busuk. Kendatipun
sudah memakai penutup mulut, partikel debu tetap menggelitik tenggorokan.
Lalu lintas kendaraan semakin padat, simpang siur dan kian tidak
teratur. Situasinya semakin semrawut, karena kendaraan besar tak mau mengalah.
Mengemudikan kendaraan dengan serampangan, melaju tanpa mempedulikan orang
lain. Pengemudi riksaw, pengendara
sepeda, sepeda motor ataupun mobil saling serobot. Terdengar bunyi klakson
bertubi-tubi (klakson angin yang bunyinya bergaung panjang), memekakkan
telinga. Berkali-kali aku dikejutkan, dipotong jalurku seenaknya. Atau sebuah
sepeda motor tiba-tiba berhenti di depanku sekedar untuk melihatku sebagai
orang asing. Traffic light pun seakan
hanya sebuah hiasan atau cuma pelengkap. Sulit bagiku untuk mengemudikan sepeda
dengan beban berat dalam kondisi seperti itu. Aku dituntut harus selalu
konsentrasi penuh dan waspada.
Bersepeda terasa kurang nyaman! Tapi aku maju terus, pantang menyerah.
Suasananya sangat berbeda bila dibandingkan sewaktu bersepeda di daerah Nepal . Pengalaman hari pertama di India yang cukup mencengangkan. Ya itulah
hakekat petualangan sesungguhnya. Kalau sebelumnya aku berkelana di kawasan
dengan cuaca yang sangat ekstem, maka sekarang saatnya menghadapi suasana dan
perilaku manusia yang mungkin bisa dikatakan juga ekstrem
Bisa dibayangkan betapa stress-nya
empat orang pesepeda jarak jauh (berbeda waktu dan berbeda bangsa) yang pernah
berpapasan denganku. Mereka bercerita panjang lebar tentang pengalamannya
bersepeda di India dan sekarang giliranku mengalaminya sendiri.
Sabtu, 27 September 2008 ,
Jarak antara
Rodrapur – Moradabad: 46 km, sedangkan Rodrapur - Delhi 253 Km. Pada ruas
Rodrapur – Moradabad, banyak pohon eukaliptus peneduh jalan yang bertumbangan,
hingga akarnya tercerabut dan sebagian menimpa rumah penduduk atau kuil tempat
ibadah. Menandakan beberapa hari sebelumnya terjadi badai dahsyat di daerah
tersebut. Banyak badan jalan dan jembatan yang tergerus air dan kemah-kemah
para pengungsi yang bertebaran di sisi jalanan.
Sebenarnya lintasan datar tetapi gerak laju sepeda sangat lambat,
karena banyak ruas jalan yang rusak berat. Jika malas mengayuh sepeda, sering
pula aku menggandol traktor yang menarik muatan batu bata. Traktor menjadi alat
transportasi utama di pedesaan. Gandengan bak terbuka traktor dijejali orang
yang pergi menuju pasar. Dalam perjalanan, sering berpapasan dengan orang-orang
Sikh yang menggunakan sorban berwarna oranye. Kadang-kadang mereka juga membawa
beberapa ekor kerbau untuk dijual di pasar hewan Ranpur. Padatnya lalu lintas
kendaraan saat memasuki kota
Ranpur mengurungkan niatku untuk cari makan. Sampai akhirnya, kutemukan warung
makan di pinggir jalan. Nasi dan telor goreng, cukuplah!
Berikutnya aku meluncur di atas mulusnya jalan tol, hanya saja sulit sekali
untuk beristirahat atau mencari tempat teduh karena ruas jalan tol tersebut
berpagar. Dan bila lewat traktor yang melaju pelan, aku raih ujung baknya;
menggandol sampai traktor tersebut berbelok. Ujung jalan tol tersebut
berakhirnya pada lokasi perbaikan jalan. Kalau sudah demikian, hanya ada sebuah
jalur yang dipadati kendaraan. Terlihat Truk atau bis, berjalan dengan
bergoyang ke kanan kiri menghindari lobang-lobang. Yang sedikit menjengkelkan,
pada linatasan yang berdebu tersebut, entah disengaja atau tidak beberapa kali
penumpang bis meludahkan sepahan sirih seenaknya yang hampir mengenaiku.
Sore harinya, atas budi baik seorang penjaga kebun, aku diperbolehkan
berkemah di emperan rumahnya. Dan aku merasa nyaman sekali, karena kebunnya
dikelilingi tembok. Hanya pada keesokan harinya, ada sedikit kegaduhan yang
diperbuat oleh sekawanan monyet yang memasuki kebun tersebut. Penjaga kebun
berteriak-teriak berusaha mengusir monyet-monyet dari kebun. Itulah kali
pertama aku berinteraksi dengan gerombolan monyet yang dekat sekali, di depan
tendaku! Ngeri sekali melihatnya menyeringai memamerkan taring-taring yang
panjang, sewaktu aku intip dari balik tirai kelambu tenda.
Memang tidak selalu dengan mudah aku mendapatkan lahan untuk berkemah,
sekali waktu pernah pula aku dmarahi dan dibentak-bentak dalam bahasa yang
tidak kumengerti oleh seorang penjaga lahan berseragam (mirip satpam), saat aku
minta izin untuk ikut bermalam. Tapi ada juga seorang penduduk yang dengan
senang hati memanggilku dan memperbolehkan aku berkemah di halaman
rumahnya.
Melihat India Gate,
Setelah menempuh
jarak sekitar 59 kilometer dari tempat berkemah sebelumnya, aku mencapai Delhi – India (Senin, 29 September 2008 ).
Jarak Kathmandu – Delhi
adalah 1.225,8 kilometer yang aku tempuh selama 15 hari. Lalu aku singgah di
Kedutaan Besar Republik Indonesia yang terletak di kawasan Chanakyapuri – New Delhi . Diterima serta disambut langsung oleh
Duta Besar RI, Bapak Letjen TNI (Purn.) Andi M. Ghalib beserta segenap jajaran Staf
Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk India di New Delhi . Terima kasih!
Perlu diketahui pula bahwa jauh-jauh hari sebelum keberangkatanku
menuju India ini, aku sudah menyampaikan rencana
perjalananku kepada pihak Perwakilan Pemerintahan Indonesia di New Delhi . Bahkan dengan tegas kuutarakan juga bahwa
aku hanya sekedar singgah dan tidak akan merepotkan untuk masalah keuangan. Hal
ini adalah untuk menepis anggapan bahwa setiap petualang Indonesia yang datang ke Kedutaan hanya untuk minta
uang.
![]() |
| kurang 25 Km, lagi masuk New Delhi |
Terasa kurang lengkap bila
sudah datang ke New
Delhi tapi
belum mengunjungi India Gate. Oleh karena itu, aku sempatkan untuk melihat India Gate, sebuah
monumen peringatan bagi gugurnya 90.000 tentara pejuang India dalam Perang Dunia Pertama. Dengan tinggi
42 meter didirikan pada tahun 1931, dirancang oleh Lutyens. Dari India Gate dihubungkan sebuah jalan yang lurus
dan berakhir pada pintu gerbang Rashtrapati Bhawan (the Viceroy’s House).
Sekarang menjadi istana Presiden India . Sedangkan di Old Delhi ada Lal Qila (Red Fort) dan Jama Masjid,
masjid terbesar di India yang dibangun pada tahun 1644 oleh Shahjahan. Qutb Minar, sebuah
menara (Minaret) dengan tinggi 73 meter dengan garis tengah 15 meter bagian
bawahnya dan 2,5 meter pada bagian atasnya. Menara ini dibangun oleh Qutbuddin
Aibak pada tahun 1193. Humayun’s Tomb, sebuah komplek mausoleum dengan sebuah
taman yang luas. Connaught Place , sebuah pusat belanja yang luas. Selain itu ada Raj Ghat, sebuah
marmer hitam tanda penghormatan dan titik dimana Mahatma Gandhi dikremasikan.
Pada hari Jum’at, 3 Oktober 2008, aku melanjutkan perjalanan, sesaat
setelah dilepas Ibu Roos Diana Iskandar, seorang home staff KBRI bagian protokoler dan konsuler. Kutinggalkan
kawasan diplomatik tersebut kembali menuju Nepal . Dengan rute sebagai berikut; Delhi – Agra
– Firozabad – Etawah – Auraiya - Kanpur – Lucknow – Faizabad – Gorakhpur –
Gopalganj – Gobinganj – Sagauli – Raxaul, India – perbatasan - Birganj, Nepal – Hetauda – Simbhanjyang – Daman –
Palung – Tistung – Noubise – ve Dhunga – Thankot – Kathmandu.
Cuaca cerah dan cukup segar. Matahari hanya berupa bulatan merah, masih malu-malu menampakkan diri. Sinarnya belum juga mampu menyibak kabut yang menghalanginya. Dengan bersemangat kukayuh sepedaku menyusuri jalanan sepi bernaungkan pepohonan rindang. Menyusuri ruas jalan Ntional Highway #2, menuju Kota Agra. Dari Delhi ke Agra membutuhkan waktu dua hari.
Sebelumnya aku tidak percaya pada cerita orang, tapi setelah melihat sendiri baru bisa memakluminya. Bahwa di tengah kota New Delhi sekalipun, di atas trotoar jalan yang biasa dipakai untuk berjalan kaki dimanfaatkan penduduk untuk areal buang hajat. Mungkin hal itu kita anggap sesuatu yang jorok, tetapi begitulah keseharian mereka. Kalau bau sebongkah kotoran saja sudah membuat kita ingin muntah. Maka bisa dibayangkan kalau hal ini aku temui di sepanjang sisi jalan raya arah ke timur, terutama dekat pemukiman penduduk. Malah sekali waktu pernah aku hampir menabrak orang-orang yang sedang berjongkok di tepi jalan ketika harus bersepeda saat matahari belum muncul.
Hal ini terjadi karena sebelumnya aku berkemah tapi merasa tidak nyaman di lokasi
tersebut. Jadi sebelum hari terang (pukul 05.30 suasana masih gelap) buru-buru
berangkat melanjutkan perjalanan.
Minggu, 5 Oktober 2008,
Siang harinya, lalu
lalang kendaraan cukup ramai, namun karena badan jalan raya dipisahkan median
jalan, membuatku merasa lebih aman sewaktu menyusur bahu jalan. Banyak
kendaraan yang melaju dengan kencang dan tidak jarang pula aku jumpai
bekas-bekas kecelakaan yang parah. Mengerikan, seperti bekas-bekas kecelakaan
beberapa truk yang hancur berkeping-keping. Bahkan suatu pagi yang masih berselimut
kabut, aku pernah melihat mayat seorang anak kecil yang telungkup di atas taman
median pemisah jalan. Tanpa ada yang mempedulikan.
Memasuki kota Agra disambut dengan kondisi jalanan rusak.
Siang itu, aku langsung menuju pusat kota, berkeliling mencari penginapan murah
di sekeliling Taj Mahal. Kudapatkan Jahangeer Lodge (+200 meter dpl) yang
letaknya tidak jauh dari gerbang Taj Mahal. Semalam 125 RsI (1 $US = 45 Rupees India ) dan akan menginap dua malam. Jauh lebih
murah dibandingkan dengan sebuah Hotel yang sudah aku pesan melalui internet
sebelum berangkat dari Indonesia . Sebuah ruangan kamar dormitory
yang berisi 4 buah dipan @ 225 RsI. Tapi aku diharuskan membayar satu ruangan
seharga 900 RsI. Dan sisa pembayaran untuk 3 malam adalah 2430 RsI.
Aku bangun pagi-pagi, karena
pintu masuk Kompleks Taj Mahal dibuka pukul 06.00 (matahari belum muncul).
Berbekal uang secukupnya dan kamera, aku bergegas menuju loket penjualan karcis
masuk. Untuk orang asing diharuskan membayar 750 RsI, (diberi tiket, air
kemasan dan kantong plastik penutup alas kaki). Mahal sekali Taj Mahal ini.
Perbedaannya sangat jauh dengan wisatawan lokal termasuk warga Negara anggota
SAARC, cuma 20 RsI. Saat memasuki kompleks, satu persatu wisatawan lokal maupun
mancanegara diperiksa secara rinci. Dilarang membawa tas, makanan, minuman,
tripod dll. Mini Tripod-ku sepanjang 10 Cm, pun kena cekal.
| Taj Mahal |
Hampir tak percaya, bahwa yang kuhadapi ini bukan mimpi lagi. Aku bisa
merasakan getaran yang ada dalam hati ini. Sebelumnya hanya berupa sebuah
angan-angan, kini jadi kenyataan. Apalagi untuk melihat bangunan yang
monumental ini harus didahului dengan mengayuh sepeda selama berhari-hari. Bukan perkara yang mudah!
Setelah puas mengambil gambar aku keluar untuk mengunjungi objek wisata
lain yang letaknya 2 kilometer dari Taj Mahal yaitu Agra Fort. Sebelum memasuki Agra Fort aku
membayar izin membawa video Camera, 25 RsI. Di bagian pemeriksaan, aku sodorkan
tiket yang aku beli di Taj Mahal. Karena memang tercantum sebagai tiket terusan
untuk bisa mengunjungi 5 objek wisata secara berkesinambungan. Sejak matahari
terbit hingga matahari terbenam. Mungkin aku salah mengartikan. Sebab aku
diharuskan membeli tiket lagi di loket, dan yang tercantum dalam tiket tadi
cuma berarti sebagai potongan 50% dari harga tiket. Ah macam-macam saja, karena
kesal tanpa pikir panjang aku langsung balik ke penginapan. Sialnya, aku jumpai
sepedaku sudah kotor sekali penuh bercak-bercak cat tembok. Rupanya ada tukang
yang sedang mengecat tembok tanpa memindahkan dulu sepedaku.
Senin 6 Oktober 2008,
Keesokan harinya, Senin 6
Oktober 2008 aku melanjutkan perjalanan dengan sepeda yang masih kotor. Pagi
hari yang berkabut. Begitu hari merangkak siang, cuaca berangsur cerah.
Sebelum meninggalkan kota Agra, aku melintasi jembatan yang membentang
di atas sebuah sungai yang sangat lebar. Pada tepian sungai banyak sekali
penduduk yang sedang mencuci pakaian dengan cara mengayunkan dan memukulkan
pada pinggiran tanggul sungai. Gerakan mereka hampir bersamaan sehingga memberi
kesan adanya sebuah irama. Setelah jembatan, aku membeli buah pisang buat
bekal.
| over loaded bike! |
Kadangkala aku searah dengan penduduk lokal yang bersepeda menuju
tempat mereka bekerja. Mereka menggunakan sepeda buatan lokal bukan sepeda
import. Bentuknya mirip sepeda onthel.
Jarang sekali sepeda model jengki atau
seperti yang kugunakan. Sepeda replika dari merk-merk legendaris, seperti Humber , Hercules, Atlas dll masih diproduksi di India .
Sebab itu sepedaku yang sudah dianggap jadul, dan termasuk dalam kategori yang ditertawakan oleh kalangan
pesepeda di tanah air. Di India menjadi paling cantik dan selalu jadi pusat
perhatian. Bahkan banyak pula yang berminat mau membelinya.
Suasana di jalan raya diisi berbagai jenis kendaraan dari pedati sampai
truk trailer, yang saling berebut lintasan. Tingkat stress-nya mirip dengan jalur Pantura Pulau Jawa. Yang menarik
perhatianku, sepeda motor Royal Envield, Jeep, Willys, Mercedes, Fiat masih
diproduksi di India bukan hasil rakitan. Replikanya diberi nama Mahindra, Maruti,
Ambassador, Tata dll,. Mereka sangat fungsional dan bangga dengan hasil
produksi negaranya. Fiat Ambassador, yang modelnya mirip mobil tahun 60-an,
tapi larinya masih kencang. Dan ternyata menjadi aikon di India, dipergunakan sebagai taksi hingga kendaraan para
pejabat Negara sekalipun. Mungkin bedanya, pada korden di kaca bagian belakang,
warna serta nomor platnya.
Yang membuatku kurang nyaman
di jalan adalah bau tidak sedap yang menyengat dari kotoran manusia,
bangkai-bangkai hewan. Atau bangkai busuk ternak besar, seperti sapi dan kerbau
yang digusur ke sisi jalan. Hewan-hewan ternak ini suka menyeberang atau
berjalan seenaknya di tengah jalan raya. Tidak jarang seekor dari mereka tertabrak.
Jadinya pengguna jalan raya harus selalu waspada. Jengkelnya kalau aku harus
membuntuti sekumpulan kerbau gemuk yang berjalan menutup seluruh badan jalan.
Disamping kambing, sapi dan kerbau ada juga yang menggembalakan babi. Babi-babi
ini sering berendam di kubangan kotor, mencari makan di tempat pembuangan
sampah. Atau makan bangkai kering di pinggir jalan berebut dengan sekawanan
anjing.
| once of temple ornament |
Sama halnya dengan monyet, dimana pun berada aku menjadi terbiasa
melihat monyet memamerkan taringnya yang tajam. Bahkan di tengah keramaian kota
sekalipun, selalu ada monyet berkeliaran bebas, hidup berdampingan dengan
manusia.
Saat aku mencapai
batas kota Faizabad, matahari sudah terbenam hanya sinarnya yang tersisa.
Memasuki pusat kota Faizabad, terhadang oleh ribuan massa yang berjalan kaki berlawanan arah. Karena
kebetulan bubaran setelah mengikuti peringatan puncak hari ke sepuluh Puja
Durga. Aku bingung harus kemana, sulit mencari celahnya. Sambil terus mengawasi
barang bawaan, aku berusaha terus menyelinap sampai ada polisi yang membantuku.
Tidak dengan mudah aku mendapatkan penginapan. Pukul 19.45 waktu setempat, aku
baru memasuki kamar penginapan.
Dua hari kemudian.
Pada paginya, aku sempat melewati jalan alternatif sejauh 25 kilometer. Sebuah
ruas jalan yang tidak lebar dengan pohon-pohon rindang menaungi jalan. Dari
sela-sela dedauannya, berkas sinar matahari menerobos dan berusaha menyibak
kabut yang menyelimuti daerah tersebut. Suasana pagi di pedesaan yang sangat
menyenangkan. Pada mulut gang, penduduk duduk santai di depan warung
sambil menikmati chya. Udara segar
dan burung-burung pun berkicau bersahutan menyambut pagi yang cerah. Sesekali
aku berpapasan dengan orang desa bersepeda atau naik pedati yang ditarik
kerbau. Bersamaan dengan bergabungnya jalan tersebut dengan NH 28 yang sedang
dibangun. Pohon-pohon pelindung bertumbangan di sisi jalan, dibabat habis.
Istirahat sebentar di petrol
station, sambil makan biskuit dan power
bar. Sebelumnya pernah aku tidur berayun dengan hammock yang direntangkan di sebuah gubuk di pinggir jalan.
Posisiku membelakangi jalan raya, ketika aku bangun ternyata banyak penduduk
lokal yang duduk-duduk menontonku.
Memasuki kota Gorakhpur kondisi jalan rusak berat. Yang
mengakibatkan boncengan patah pada bagian penyangganya. Inilah resiko
menggunakan sepeda yang sudah tidak laik dipakai (tapi aku harus naik sepeda
yang mana lagi?) Untuk mengatasinya, aku coba bebat lalu diikat dengan tali raffia. Berikutnya, perjalanan menjadi
lambat karena beberapa kali aku harus memperbaikinya. Dan yang kutakuti,
apabila kelak penyangga sebelahnya juga patah. Sangat sulit untuk mengatasinya,
karena beban yang sangat berat. Untunglah sampai perjalanan berakhir, ketakutan
itu tak pernah terjadi.
Sesudah Gorakhpur, 50 kilometer kemudian aku sampai di kota kecil Kushinagar +60 meter dpl. Kushinagar
dikenal sebagai tempat wafatnya Sang Budha Gautama, sedangkan tempat lahirnya
di kota Lumbini, Nepal (selatan Butwal). Oleh karenanya, banyak pemeluk agama Budha yang
berziarah (pilgrimage) ke Kushinagar.
Akhir Perjalanan,
Keesokan paginya,
saat berada di pos Imigrasi Birganj, Nepal sedikit dibuat jengkel oleh petugasnya
yang berusaha untuk minta uang lebih dari seharusnya. Berbeda sekali dengan
sebelumnya sewaktu di pos Imigrasi Raxaul, India ; cepat beres dan tidak ada upaya tipu
muslihat. Di Birganj (+80 meter dpl), dari sebuah warung internet aku sempatkan
untuk mengirim berita ke Indonesia , karena sejak meninggalkan kota Delhi belum sekalipun. Keluar Birganj, jalan
raya diblokade sehingga terjadi antrian kendaraan yang panjang sekali. Hal ini
cukup menguntungkan bagiku karena lebih leluasa dan aman bersepeda.
Terasa perbedaan suasana yang mencolok. Bersepeda di wilayah Nepal,
perasaan terasa plong. Jumlah kendaraan jauh berkurang dan banyak ruang,
maksudnya ada suatu masa dimana tidak bertemu dengan manusia lain. Seperti
ketika melintasi Parsa Wildlife Reserve, bagian tenggara dari Royal Chitwan National Park . Kesejukan pertama kali aku dapatkan di
daerah hutan lindung tersebut, setelah disengat matahari terus menerus selama berhari-hari.
Lambat laun terasa berat dalam mengayuh sepeda, perasaanku mengatakan
jalanan sedang menanjak landai. Benar saja, ketika sudah tidak ada pemukiman
penduduk jalan menanjak terus hingga ketinggian 650 meter dpl (Charia Box Cut),
sesudah itu menukik curam sejauh 9 kilometer sampai Hetauda dimana aku
bermalam.
Selepas kota
Hetauda, +425 meter dpl, aku menyusuri dasar sebuah lembah. Jalanan
bersebelahan dengan sebuah sungai lebar. Lembah tersebut diapit dinding batu
yang terjal. Pada bagian tertentu ada banyak kereta gantung yang menghubungkan
antarbukit. Gondola-gondola yang ada dipergunakan untuk mengangkut bahan
pembuatan semen.
Berdikit-dikit jalan tersebut mulai menanjak, menjauhi aliran sungai.
Lama kelamaan berkelok-kelok menyisir perbukitan. Bahkan ada yang dinamai
Kalitar 12 Loops. Yaitu lintasan dengan dua belas tikungan-tikungan tajam
mendaki sebuah punggungan bukit. Aku pikir akan berakhir setelah sampai di
atas. Ternyata berganti melipir bukit yang lain, begitulah terus menerus.
Semakin tinggi tempat yang aku gapai, semakin dingin udaranya. Kurambah jalan
berliku itu tanpa sesal. Merambat tapi pasti, saat itu yang ada hanyalah
tanjakan, sepeda dan suara nafasku yang mengalahkan deru angin.
Jalanan menanjak ekstrem menuju desa Simbhanjyang dengan ketinggian
+2.488 meter dpl. Ketika sampai di sebuah ketinggian, tampak jalan yang kulalui
tadi berliku-liku dari punggungan yang satu pindah ke punggungan bukit lainnya.
Lipatan-lipatan pegunungan saling menyambung tiada habisnya lalu hilang dari
batas pandang. Gumpalan awan tipis mengambang di lembah yang lebih rendah.
Menyelimuti kawasan pohon pinus. Sebuah interaksi antara manusia dengan alam
semesta tanpa batas. Inikah yang disebut surga? Aku bertanya dalam hati. Situasi
ini, kalau di Indonesia seperti sedang naik gunung. Pantas jarang kendaraan. Pada umumnya
kendaraan, terutama bis dan truk dari Hetauda, memilih menggunakan rute yang
lain.
Ternyata dalam 6
jam bersepeda aku hanya mampu menempuh jarak 40 Km saja, disusul hari
berikutnya cuma 42 Km (dari desa Mahaveer sampai desa Tistung). Tapi rasa capai
itu ada bonusnya karena di sebalik gunung, pemandangan begitu menakjubkan: Annapurna Range ! Jajaran Pegunungan Himalaya, dengan puncak-puncaknya yang berselimutkan
salju. Berlatar belakang langit biru. Memberikan aksen dari sebuah keharmonisan
alam. Aku sungguh puas dan merasa
lega! Ini Himalaya bung!, teriakku.
Dan sungguh, neraka pun belum
pernah kulihat, tapi memang jauh berbeda bila dibandingkan dengan perjalananku
sebelumnya di Amerika Latin. Saat merambah Andean Altiplano, Pegunungan Andes . Dan
melintasi Atacama Desert, sebuah padang gurun kering kerontang, gersang dan
tanpa kehidupan. Aku didera cuaca ekstrim, dingin, panas dan rasa lapar
berkesinambungan. Seakan ingin meluluh-lantakan seluruh persendian kehidupanku.
Tapi itulah seni dari petualangan sesungguhnya. Menghargai kehidupan. Hidup
yang merdeka!
Jalan menurun dari Simbhanjyang – Daman – Palung, lalu naik lagi hingga
Tistung. Di kanan kiri jalan terdapat hamparan bunga warna kuning. Tanaman
kentang sedang berbunga secara bersamaan di semua lahan pertanian. Setibanya di
Tistung hari sudah sore dan dingin, aku mampir di sebuah warung untuk membeli
makanan. Ternyata, tidak ada masakan apapun, kecuali mie instan. Di warung itu
ada tiga pemuda yang makan sakuaka
dengan rhaksi. Kelihatannya mereka
setengah mabuk kebanyakan minum arak lokal tersebut. Sementara aku menunggu
pemilik warung merebus mie, seorang dari pemuda itu berusaha membuka
pembicaraan dalam bahasa Inggris yang sama tidak karuannya denganku. Aku pun
berusaha mencari info dari dia untuk mendapatkan lahan berkemah. Dia
menyarankan untuk tidak melanjutkan perjalanan karena sebentar lagi hari sudah
gelap. Menurut dia ada seorang temannya yang pandai bahasa Inggris dan pasti
mau menerima aku di rumahnya. Walaupun dia setengah mabuk, perasaanku
mengatakan dia bukan orang jahat yang sedang berusaha menjebakku. Kuikuti saja
kata hatiku untuk membuktikannya.
| over loaded! |
Setelah Tistung +2030 meter dpl, sudah tidak ada tanjakan lagi, jalanan
menurun sampai Noubise +925 meter dpl. Saat menuruni jalan tersebut, aku tidak
habis-habisnya memandangi dan menikmati suguhan pemandangan alam yang begitu
mempesona. Pemukiman penduduk saling berpencar-pencar. Gongpa dengan bentuk khas, menyerupai genta ada di setiap sudut
pemukiman. Rumah-rumah tradisional didirikan di lereng lembah, serta areal
persawahan yang berteras menambah indahnya pemandangan. Rupanya ruas jalan ini
memang sering dilalui wisatawan, terbukti warga tidak canggung lagi kalau
difoto. Anak-anak kecil yang hendak ke sekolah berlarian menghampiriku. Dengan
wajah berseri-seri mereka menyapaku tanpa ada rasa takut.
Itulah sebabnya kenapa aku senang sekali menikmati keindahan alam jagat
raya ini dengan sepeda. Selain bisa menjelajah sampai pelosok, berkelana dengan
sepeda bisa berinteraksi langsung dengan apa yang dilewati maupun dikunjungi.
Mencium aroma khas kayu pinus, merasakan sengatan matahari dan dinginnya udara,
melihat berbagai keindahan alam, mencicipi menu makanan lokal, mendengar
kicauan burung-burung setiap pagi. Di sepanjang perjalanan, pemandangan alam
terasa tidak pernah membosankan. Terkadang hal-hal tersebut malah menimbulkan
rasa kerinduan bahkan ketagihan.
Pada 17 Oktober 2008, aku tiba kembali di Kathmandu . Sampai saat itu aku telah bersepeda
selama 29 hari dari 38 hari masa pengembaraan (tidak termasuk masa kepulangan
ke Indonesia) dan telah menempuh jarak 2602,9 kilometer.
Dengan rute: Kathmandu – Thankot – Ve Dhunge – Noubise – Malekhu -
Mugling – Damauli - Pokhara – Galyang Bazar – Butwal – Chanauta – Satabariya,
Uchanimbu – Kohalpur – Jhunga, Chisapani – Mahendranagar – Godda Chauki, Nepal . – (perbatasan) – Banbassa, India –
Khatima – Rodrapur – Moradabad - Delhi – Agra – Firozabad – Etawah – Auraiya -
Kanpur – Lucknow – Faizabad – Gorakhpur – Gopalganj – Gobinganj – Sagauli –
Raxaul, India – (perbatasan) – Birganj, Nepal – Hetauda – Simbhanjyang – Daman
– Palung – Tistung – Nobise – ve Dhunga – Thankot – Kathmandu.
Pada hari terakhir, sebelum aku mengakhiri perjalanan ini. Dari jendela pesawat terbang yang membawaku
kembali ke Indonesia . Aku bisa melihat bentangan pegunungan bersalju, Pegunungan Himalaya menyembul dari batas gumpalan awan. Mount
Everest sebagai puncak tertinggi menjulang gagah, mencuat tinggi dari yang
lain. Aku bisa merasakan sebuah kesenyapan, dan kesunyian yang mencekam. Karena
sudah dua kali aku pernah mendekati kaki gunung tertinggi di dunia tersebut, di
antaranya membawa sepeda juga. Bahkan
sampai sekarang pun aku masih punya mimpi, suatu saat kelak bisa bersepeda
melintasi Himalaya yang sesungguhnya, dari kota Lhasa–Tibet, China menuju Kathmandu–Nepal. Entah kapan hal
itu akan terwujud. Paling tidak aku selalu belajar konsisten terhadap apa yang
kulakukan.
Dalam penerbangan Kathmandu–Bangkok-Jakarta, tanpa kusadari aku
termenung dan mencoba mengevaluasi kegiatan ini. Kusadari sepenuhnya, memang
aku tidak muda lagi dan tidak setangguh dulu. Nyatanya, tidak sedikit pelajaran
serta pengalaman yang kuperoleh dari sebuah perjalanan yang tidak sekedar
mengandalkan kekuatan dengkul ini. Telah banyak suka duka yang kualami dalam
pengembaraan selama ini dan semuanya tentu akan bermanfaat. Aku hanya berusaha
merajut benang merah, merangkai jejak petualanganku dengan sepeda, menjadi
sebuah garis yang mengelilingi bumi ini. Dan sudah kulakukan! Harapanku, apa
yang telah kulakukan ini bisa diapresiasi dan menjadi bahan inspirasi bagi kaum
muda, terutama buat anakku Aling Sekar Kinanti bila kelak tumbuh menjadi
dewasa.
Disarikan dari catatan harian
TRANS HIMALAYA CHALLENGE (CYCLING TRIP 2008).
sebuah perjalanan bersepeda jarak jauh melintasi negara Nepal dan India .
yang dilakukan dari tanggal 10 September 2008 sampai dengan 28 Oktober
2008.


you are the man....keep on cycling euy....age just a number...
BalasHapus