Rabu, 04 Januari 2012

...... A BICYCLE RIDE OVER THE CLOUDS !!!

Sebenarnya tujuanku adalah bersepeda dari Lhasa, Tibet menuju Kathmandu, Nepal dengan kontur tanah yang rata-rata di atas 3700 meter, wow tentunyanya sangat menantang. Sebagai salah satu usaha untuk menyambung rute perjalanan sebelumnya. Pada tahun 1993, aku pernah bersepeda dari kota Xining, Qinghai Lake sampai Lhasa, Tibet. Tapi rencana itu tertunda karena masalah yang ada di Daerah Otonomi Tibet, terutama setelah terjadi kejadian demonstrasi besar-besaran sebelum diadakan Olimpiade di Beijing pada tahun yang sama. Jadi perbatasan Tibet - Nepal tertutup buat pelintas batas via darat. Akhirnya aku mengubah rute dengan melintas Nepal India, yang tentunya tidak kalah seru karena aku bersepeda masih di kawasan Himalaya. Eh tentunya kawan-kawan sudah menonton video hasil rekaman perjalanan tersebut bukan? tx



BERSEPEDA DI ATAS AWAN

Oleh: Paimo


...................... pernah dimuat dalam U MAGAZINE, Maret 2009 pada hal. 52-63 dan NATIONAL GEOGRAPHIC INDONESIA, Maret 2009 pada hal. 104 -111 (berbeda cerita)

Awal Perjalanan,
              Mulanya, aku pikir tidak akan pernah lagi melakukan petualangan di Nepal. Mengingat beberapa kendala yang harus dihadapi. Sesaat setelah kujejakkan kaki di Bandara Tribhuvan International Airport, KathmanduNepal. Maka terwujudlah mimpiku walaupun dengan tujuan berbeda. Untuk bisa berkunjung lagi di negara yang terkenal dengan sebutan Surga bagi Petualang dan Pendaki Gunung. Kali ini aku tidak sedang mendaki gunung atau trekking, tetapi bersepeda merambah dan melipir kaki Pegunungan Himalaya.

hiks hiks hiks! never mind!
Sebelum melakukan kegiatan, aku berada di Kathmandu selama empat hari. Selain untuk melakukan proses aklimatisasi, waktu yang ada kupergunakan merakit sepeda, belanja makanan. Aklimatisasi kuperlukan, mengingat selama ini aku tinggal di daerah tropis dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Supaya cepat beradaptasi dengan lingkungan, aku berusaha selalu bergerak dan saat berada di penginapan, daun jendela tetap terbuka, sehingga suhu udara di dalam ruangan kamar sama dengan suhu udara di kawasan Himalaya yang dingin.

              Kegiatan bersepeda jarak jauh yang bertajuk : TRANS HIMALAYA CHALLENGE (CYCLING TRIP) 2008 ini kuawali, pada hari Senin, 15 September 2008. Meninggalkan Lembah Kathmandu, menggenjot pedal sepeda menyusuri Tribhuvan Raj Path Highway mengarah ke bagian barat Nepal. Ternyata bukan hal yang mudah, karena sejauh 17 kilometer menanjak terus dari ketinggian sekitar 1100 meter dpl (di atas permukaan laut) sampai ketinggian 1425 meter dpl (Kathmandu –Thankot). Di samping itu, setelah Ve Dhunge lintasan menukik tajam, sempit dan berkelok-kelok di antara tebing curam sampai pada ketinggian 425 meter dpl (Malekhu). Jika menikung, dari arah berlawanan bis dan truk mengambil hampir seluruh lebar badan jalan. Harus ekstra hati-hati menghadapi arus lalu lintas antarkota yang padat.

jika cerita di Cycling - U Magz - Nat. Geographic dijadikan
satu, maka akan menjadi sebuah rangkaian cerita lengkap.
Saat itu aku tertolong karena sepeda lebih banyak meluncur. Menuruni sebuah lembah mengikuti aliran sungai Mahesh (Mahesh Khola). Di kanan kiri National Highway #02 tersebut, banyak sekali gubuk-gubuk sederhana yang berdinding rangkaian batang kayu, berlapis tanah liat.

Pada tahap awal ini adalah sebagai berikut: Kathmandu – Thankot – Ve Dhunge – Noubise – Malekhu - Mugling – Damauli - Pokhara – Galyang Bazar – Butwal – Chanauta – Satabariya, Uchanimbu – Kohalpur – Jhunga, Chisapani – Mahendranagar – Godda Chauki.

              Suatu saat aku berpapasan dengan seorang pesepeda asal Jerman. Kami lalu saling berbagi informasi. Dia bercerita panjang lebar tentang India dan merasa sangat nyaman dalam menikmati suasana alam di Nepal. Sialnya, kemarin dia baru kehilangan sebuah kamera SLR Digital.  Menurutnya, hal itu terjadi saat istirahat. Dia dikerumuni orang dan seseorang mengambil kamera tersebut dari handlebar bag. Berbekal dari pengalamannya, aku tidak mau mengambil resiko. Selama melakukan perjalanan hingga berakhir, aku selalu menolak dan melarang jika ada seseorang berusaha menjamah sepeda atau peralatannya.

Selain pesepeda dari Jerman, aku berpapasan dengan 3 orang lagi pada waktu yang berbeda. Satu orang dari Amerika, seorang dari Perth, Australia dan seorang lagi dari Prancis. Keempat pesepeda jarak jauh tersebut berencana mengunjungi Indonesia suatu hari kelak. Dan pertanyaan mereka sama, apakah di Indonesia situasi di jalanan juga semrawut seperti India dan apakah pengendara mengemudikan kendaraan secara serampangan.

smoking dragon !
              Pada hari pertama tersebut kepala terasa sangat pusing sekali (gejala Hypoxia). Setelah menempuh jarak 40 kilometer, aku berhenti di sebuah warung yang menjual nasi. Ternyata tidak ada nafsu makan. Akhirnya, aku hanya tiduran saja di warung tersebut untuk sekedar meredakan pusing kepala. Hampir dua jam lamanya aku istirahat. Waktu itu suhu udara mencapai lebih dari 33 derajat Celcius. Lalu aku lanjutkan perjalanan sampai menjumpai orang yang berjualan pisang dan jambu. Aku membelinya dan melahap habis.

Sekitar pk 15.00 waktu setempat, matahari sudah tidak nampak karena terhalang oleh dinding lembah. Dan aku sudah tidak kuat menahan pusing. Bahkan ketika kuraba, kepala terasa semakin nyut-nyutan. Dan sesudah melewati kota kecil Malekhu, aku dapat informasi ada penginapan yang sederhana dan murah. Setelah kudapatkan, tanpa banyak berdebat aku langsung menyepakati harga yang diajukan, 150 RsN. Sepeda kutuntun ke bagian belakang restoran dan kubongkar perbekalan lalu dibawa ke lantai dua. Sedangkan sepeda aku rantai di dekat tangga naik. Hal ini membuatku semakin lemas karena seharian aku sudah bersepeda sejauh 78,93 kilometer.

Aku langsung merebahkan diri di atas dipan sampai datangnya malam. Terbangun ketika udara dingin mulai menusuk tulang. Lalu turun ke restoran untuk segera makan malam yang sudah kupesan sebelumnya. Pusing kepala sudah berkurang dan kulanjutkan tidur lagi sampai pagi.

Hari kedua, Selasa 16 September 2008,
              Keesokan harinya, aku meninggalkan penginapan dalam cuaca yang kurang bersahabat, hujan rintik dan udara dingin sekali. Semakin siang cuaca berangsur cerah. Jalanan masih sepi dan jarang lalu lintas kendaraan. Hanya sesekali pengendara sepeda motor lewat dengan kecepatan tinggi.

Nepali Kukri
Suatu saat aku berhenti sejenak di pinggir sungai. Tertarik melihat beberapa orang yang sedang menyeberangi sungai Mahesh dengan cara meluncur pada kawat baja yang dibentangkan melintang sungai. Mereka bertiga menyeberang dengan bantuan kerangka besi yang dibentuk menyerupai tempat duduk lalu bergerak dengan kekuatan tangan menarik kawat baja. Di belakang mereka ada satu orang yang menggantung pada roda semacam lager, hebatnya dia hanya menggunakan tambang plastik sebagai pengikat tubuh. Caranya bergerak sama pula dengan menarik kawat baja tersebut. Di tengah sungai mulai terlihat mereka terayun-ayun dipermainkan angin, akibat derasnya aliran sungai.

Di bagian lain dari tepi sungai tersebut ada sebuah tour operator yang menangani kegiatan arung jeram (rafting). Komplek mereka dibangun secara artistik dengan beberapa bangunan rumah-rumah tradisional.
Dan di sebelah kanan jalan sebelum mencapai Mugling, tepat di tepi sungai Trisuli (Mahesh Khola) ada cable car, yang mempersingkat jalan menuju Manakamana Temple. Sebuah kuil yang cukup popular di Nepal. Kuil ini dibangun di atas sebuah punggungan bukit yang tinggi. Dan harga tiket cable car untuk orang asing cukup mahal (10 $US) dibandingkan untuk orang Nepal (250 RsN).

              Setibanya di Mugling aku membeli 6 buah pisang, 20 RsN. Mugling merupakan sebuah persimpangan yang sangat ramai karena menjadi tempat pemberhentian bis jurusan Pokhara-Kathmandu dan dari arah Narayanghat (Royal Chitwan National Park)-Kathmandu. Jarak Mugling-Pokhara 96 Km dan Mugling-Kathmandu 110 Km. Selain itu juga menjadi pertemuan dua buah sungai besar (Marsyangdi dan Mahesh Khola) yang akan akan menjadi anak sungai Gangga yang terkenal. 

Dari persimpangan Mugling, aku belok kanan menuju Pokhara, menyeberangi Mahesh Khola. Setelah melintasi jembatan yang lebar, aku istirahat dibawah keteduhan pohon Banyan. Makan buah pisang yang baru dibeli, sambil dibuai semilirnya angin sejuk. Tanpa terasa aku terlelap tidur. Dan terbangun saat mendengar suara mengobrol dari ibu-ibu yang mulai berkerumun di bawah pohon Banyan tersebut. Ada seorang pria duduk di belakang meja yang baru ditaruh. Dan secara bergantian ibu-ibu tadi menyetorkan sejumlah uang. Aku mengamati aktifitas mereka sebentar lalu melanjutkan perjalanan lagi.

              Baru bersepeda beberapa kilometer, aku tidak kuat menahan kepala yang mulai pusing lagi. Langsung menepi dan tidur di atas tanggul batu di pinggir jalan. Lebih dari satu jam lamanya aku terkapar lunglai. Yang kulakukan hanya berdoa semoga selekasnya bisa beradaptasi dengan lingkungan. Kucoba bertahan dan secara bertahap aku berusaha merayapi jalanan menanjak sampai ketinggian +705 meter dpl. Lalu menuruni lembah hingga kota Damauli, +390 meter dpl. Aku bermalam di penginapan seberang terminal bis Damauli.

              Setelah menawar, disepakatilah 100 RsN untuk sebuah kamar yang cukup bersih di lantai tiga (1 $US = 71.66 RsN/Rupees Nepal). Saat menjelang matahari terbenam, banyak sekali burung-burung yang beterbangan mendatangi pepohonan di sekitar penginapan. Mereka bertengger memenuhi dahan-dahan pohon sambil bersuara riuh. Malam harinya kebetulan cuaca cerah, terang bulan dan mati listrik. Suasananya sangat menyenangkan dan aku tiduran di teras menikmati udara segar dan pemandangan yang indah.

              Keesokan harinya, kabut tebal menyelimuti bukit-bukit yang mengitari Damauli. Suara kicauan burung bersahutan ramai sekali. Tampak pula burung-burung mulai berhamburan terbang meninggalkan pepohonan. Sementara itu, aku berkemas sambil memasak mie dicampur muesli buat sarapan. Seperti biasanya, sebelum jam 08.00 waktu setempat aku sudah bersepeda kembali. Beberapa ratus meter kemudian aku melintasi sebuah jembatan yang membentang di atas sungai Mardi (Mardi Khola). Dari Mardi Bridge tersebut, kulihat sebuah pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Jajaran gunung-gunung bersalju menjulang bagaikan raksasa sedang tidur. Annapurna Range, berlatar belakang langit yang biru bersih. Terlihat puncak Machhapuchare menjulang tinggi di antara puncak-puncak Annapurna, Lamjung, Ngadi Chuli dll

              Dalam perjalanan berikutnya, banyak sekali daerah persawahan yang subur. Areal sawah berteras dan berundak mengikuti kontur tanah. Suasana alamnya mirip sekali dengan alam pegunungan Indonesia. Sementara itu, air sumber dari pegunungan banyak dialirkan melalui pipa-pipa untuk kebutuhan sehari-hari. Dan kran air umum selalu ada di pinggir jalan, sekaligus bisa dipergunakan untuk mandi. Jika butuh air minum, aku menadah dari kran yang ada. Seperti penduduk setempat, langsung minum tanpa harus direbus. Hal ini kulakukan karena air minum dalam kemasan jauh lebih mahal daripada harga minuman ringan (soft drink).

local woman with my luggage!
Medan lintasan terus menanjak tanpa basa-basi dan begitulah seterusnya. Membuat nafasku semakin ngos-ngosan. Setelah bersepeda 15 kilometer, rehat sejenak dengan menggelar matras Eiger di bawah pohon banyan, sembari makan sisa roti dan apel. Dekat sebuah kuil dan sumber air. Rupanya, pohon banyan ditanam sepasang-sepasang di lokasi yang strategis. Dan di bawah ke dua pohon yang rindang tersebut, biasanya ditinggikan menjadi semacam alas duduk yang luas. Mengikuti tradisi, saat Budha Gautama mengajarkan agama Budha kepada para pengikutnya. Pada hari-hari selanjutnya, setiap merasa kecapaian, kepayahan atau kelengar karena kepanasan, aku selalu mencari keteduhan pohon banyan

              Sesampainya di Kotre Bazar, aku mampir di sebuah warung makan. Selesai makan aku ngampar di emperan toko dan istirahat siang secukupnya. Kemudian aku menggenjot sepeda lagi melintasi jalan yang naik turun landai menuju Pokhara (880 meter dpl). Semakin mendekati kota wisata tersebut, arus lalu lintas semakin ramai. Dan tampak pesawat terbang kecil yang mengantar wisatawan, naik turun berkali-kali dari air strip. Ada seorang pesepeda lokal yang sedang membawa telor, mendekat dan menyapa. Dia lalu memandu aku mencarikan penginapan murah (200 RsN semalam) dekat danau yang menjadi salah satu objek wisata di Pokhara. Tiga hari bersepeda 240,7 kilometer dari Kathmandu. Pada umumnya para wisatawan atau penggiat alam terbuka selalu singgah di Pokhara sebelum melakukan kegiatan di kawasan Annapurna Range, Pegunungan Himalaya.
             
              Aku menghabiskan sore hari dengan bersepeda di kawasan Baidam (Lakeside) tepi dari Phewa Tal (Danau Phewa). Kawasan Baidam ini menjadi tempat tujuan wisatawan dan segala fasilitas pendukung pariwisata bisa dijumpai di sini. Banyak sekali wisatawan hilir mudik. Mirip kawasan Thamel di Kathmandu. Untuk makan malam, aku menyantap buff-momo steam yang harganya jauh lebih mahal daripada di Kathmandu. Panganan yang dikukus mirip siomay Bandung, berisi daging cincang yang dibumbui. Kadangkala, harus menunggu lama karena umumnya mereka membuat momo bila dipesan. Satu porsi, terdapat 10 buah momo berikut bumbunya, tempat momo dicocolkan.

Dalam perjalanan kembali ke penginapan aku belanja bahan makanan di sebuah super market. Petugas penginapan melarangku membawa sepeda masuk kamar. Sepeda kusandarkan pada dinding di bawah teritis atap ruang keamanan. Dan pada tengah malam  hingga pagi turun hujan lebat disertai angin. Sebelumnya kupikir sepeda sudah terlindung dari tempias air hujan. Ternyata, keesokan harinya ketahuan kalau semua barang yang ada di dalam tas stang sepeda (handlebar bag), basah semua!

              Menjelang pagi aku terbangun dari tidur karena udara dingin serasa menusuk tulang. Untuk menghangatkan suasana, aku lalu merebus air, menyeduh kopi di dalam kamar sambil mengunyah biskuit. Pada hari keempat tersebut aku berencana naik sepeda ke Sarangkot. Sarangkot, sebuah desa di atas salah satu bukit yang mengelilingi Lembah Pokhara. Jaraknya cuma 13 kilometer tapi tanjakannya sangat terjal. Pagi yang dingin, hujan rintik-rintik dan berkabut tak mengendurkan semangat untuk menggenjot pedal sepeda. Dalam perjalanan meninggalkan Lembah Pokhara, aku melihat banyak orang (penduduk lokal) yang sedang olah raga pagi. Mereka berjalan kaki naik turun daerah perbukitan. Dari persimpangan Binde Basini, jalan mendaki sangat terjal. Lalu memasuki kawasan hutan yang sepi, semakin tinggi aku berada, udara semakin dingin. Dari bagian yang terbuka, terlihat rumah-rumah penduduk yang didirikan pada lereng-lereng bukit yang curam.

flower seller!
Aku bergegas, dengan harapan bila matahari muncul, aku bisa menikmati suguhan pemandangan alam lebih dekat dari apa yang kulihat dari Mardi Bridge kemarin, yaitu rangkaian Annapurna Himal.

Setibanya di areal parkir kendaraan Sarangkot, ada petugas yang mengharuskan aku untuk membayar karcis. Aku tidak mau karena selain cuma bersepeda, saat itu pemandangan alamnya tertutup awan tebal, jadi percuma. Petugas bersikukuh aku harus membayar karena dianggap sudah menginjak areal parkir, yang berfungsi juga sebagai areal melihat pemandangan Lembah Pokhara. Demi menghemat uang, aku memilih untuk turun kembali.

Beberapa langkah dari areal parkir tersebut, aku istirahat sejenak di depan sebuah warung tutup. Tidak lama kemudian ada seorang pemuda menghampiri dan mengajak ngobrol. Lalu aku diajak singgah di rumahnya, sekedar minum chya (milk tea) untuk mengusir rasa dingin. Tentu saja aku tidak menolak, bahkan ketika dia menawari sarapan thakari dal bhaat. Akhirnya, selesai makan kami berjalan bersama turun ke Binde Basini, kota kecil terdekat. Dia juga mengantarkan ke warung internet yang murah, agar aku bisa mengirimkan berita ke Indonesia.   

Bersepeda di atas awan!,
              Jumat, 19 September 2008, aku menuju Butwal melewati NH.10 (National Highway #10), dengan harapan bisa bertemu lagi dengan NH.01 yang membujur dari timur hingga barat Nepal. Rute Pokhara – Butwal, jarang kendaraan besar karena kondisinya yang naik turun dan berkelok-kelok melipir Pegunungan Himalaya. Dan rawan longsor pada beberapa ruas jalannya. 

Pagi hari cuacanya mendung, dingin dan berkabut. Akibat sepanjang malam hujan lebat telah mengguyur lembah Pokhara. Meninggalkan Pokhara, aku bersepeda merayapi jalan yang menanjak terus. Sejauh 18 kilometer menyisir lereng daerah perbukitan dan di kirinya jurang menganga yang curam. Lalu melintasi bukit landai dengan ketinggian 1160 meter dpl. Setelah melewati puncaknya tersebut, mulailah turun naik daerah perbukitan, yang tiada habisnya sampai Naudanda. Terkadang aku harus menembus kabut tebal di lembah atau menerjang rintik hujan kabut. Menyusuri setiap lekuk lereng pegunungan, mengikuti kontur tanah. Kadang-kadang tepat di bawahku, di lembah terdapat gumpalan-gumpalan awan. Aku sedang bersepeda di atas awan! Suasananya sangat menyenangkan, apalagi didukung alam pegunungan yang indah mempesona. Setiap sebuah punggungan perbukitan sudah dilewati, maka akan disambut lagi punggungan yang lain dari kaki Himalaya.

ya ampiunnnnnnn!
Terasa nikmat juga mengayuh sepeda di dataran tinggi yang sepi semacam ini. Tanjakan memang tidak tajam, tapi sangat panjang tak berujung. Kendati disertai rasa was-was, takut terjungkal atau terguling ke dalam jurang. Sejauh-jauhnya mata memandang, pada lembahnya yang landai tampaklah jalan berkelok-kelok, menjauh dan kemudian lenyap di kaki cakrawala. Pada kaki langit yang biru di kejauhan, antar lembahnya nampak kabut membungkus pucuk-pucuk cemara, lipatan dan punggungan bukit-bukit berjajar sampai hilang dari batas pandang. Nuansa kebebasan yang memanggil jiwa para petualang, aku rasa timbul dari panorama seperti ini.

Hujan masih turun membasahi bumi ketika aku tiba di pasar Naudanda, yang terletak pada sebuah persimpangan. Aku berteduh di sebuah warung penjual nasi. Lebih kurang satu jam aku istirahat untuk makan siang. Aku membeli sepiring nasi. Sementara lauknya, karena tidak tahu nama-nama menu makanan aku menunjuk apa yang sedang disantap orang lain. Sakuaka (gorengan daging yang diberi bumbu) yang disajikan di atas sebuah piring kecil yang terbuat dari cetakan daun kering. Sebenarnya sakuaka ini termasuk makanan camilan, karena biasanya dilahap bersama dengan rhaksi (arak lokal). Tak apalah pikirku, karena aku juga butuh protein bukan hanya karbohidrat melulu.

Walaupun hujan masih mengguyur kawasan tersebut, aku tetap melanjutkan perjalanan. Selepas Naudanda, kondisi jalan masih naik turun daerah perbukitan. Sekali waktu, pada ruas jalan sempit tersebut terjadi antrian kendaraan yang panjang.  Dan di bagian ujungnya dihadang beberapa truk yang malang melintang di tengah jalan. Ratusan meter berikutnya diblokade dengan bongkahan batu-batu besar. Dan ada lagi di tempat lainnya timbunan batu koral dan pasir. Terlihat beberapa orang penunpang bis, melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dalam hati bertanya-tanya apakah ini kerjaan Maois? Aku sudah pasrah saja dan siap menghadapi segala sesuatunya.

Setengah jam kemudian baru aku mendapatkan jawaban. Ternyata ruas jalan yang ditutup sejauh lebih dari 20 kilometer tersebut adalah karena beberapa hari sebelumnya ada seorang pengendara sepeda motor yang meninggal akibat ditabrak truk dekat kota kecil Waling. Dan di tempat kejadian, sedang dilakukan sebuah upacara adat yang menjadi tempat berkumpulan ratusan penduduk desa.

Kebetulan hari ini sedang dilakukan upacara adat di tempat terjadinya kecelakaan. Sehingga penduduk desa berbondong-bondong ikut menyaksikan upacara tersebut. Aku tetap bersepeda pelan-pelan sampai akhirnya terhenti dengan adanya pusat keramaian yang menutup badan jalan. Ada puluhan polisi menjaga  areal tersebut. Aku disarankan untuk menggunakan jalan setapak yang menyusuri tepian sungai. Kutuntun sepedaku menjauhi pusat keramaian, menuruni jalan setapak mengarah ke tepi sebuah sungai. 

wow!
Ini masih tidak seberapa. Ada juga ruas jalan yang tidak ada lalu lalang kendaraan lebih dari 40 kilometer (ada ruas jalan yang berada di kawasan hutan belantara). Jadi membuat semakin tegang saja dalam bersepeda. Karena tidak ada manusia atau kehidupan lain, selain tanjakan, sepeda dan dengusan nafasku yang terengah-engah.

              Mendekati kota Butwal, lintasan mengikuti aliran sebuah sungai lebar yang diapit dinding batu yang cukup terjal. Pada beberapa bagian longsor dan menutup badan jalan. Tubuh sudah cape sekali setelah menempuh jarak 78 kilometer dengan medan yang berat. Harapannya akan segera menemukan tempat istirahat yang nyaman dan makan sepuasnya karena seharian tidak ada asupan makanan yang memadai. Tetapi keadaan berkehendak lain, karena dua kilometer menjelang Butwal, jalan raya benar-benar terputus. Antrean kendaraan panjang sekali. Hujan yang bertubi-tubi turun semalaman, membuat tanah longsor. Lemas hati dibuatnya, tapi mau apa lagi, aku harus memutuskan secepatnya karena hari semakin gelap.

Pada saat yang bersamaan ada dua orang porter (aku baru tahu kemudian, kalau mereka ternyata tukang penarik riksaw) yang menawarkan jasa dengan bahasa Nepali yang tidak kumengerti. Komunikasi dengan bahasa sekenanya, disepakati bayaran 200 RsN seorang (1 Dolar AS = 71,66 Rupees Nepal). Sepeda secepatnya kubongkar dan seluruh peralatan dipanggul oleh mereka berdua melintasi sebuah punggungan bukit. Lintasan yang penuh lumpur sedalam betis, guna menghindari tanah yang masih labil.

              Memasuki kota Butwal, hari menjelang gelap. Sial bagiku, di tengah keramaian mendadak ban belakang kempis. Saat itu mustahil untuk mendorong sepeda yang sarat beban serta mencari tempat sepi. Maka dari itu aku langsung merebahkan sepeda di tepi jalan dan mengganti ban dalam, secepatnya. Dan dalam sekejab saja terjadi kerumunan orang di sekelilingku, sepertinya aku mirip penjual jamu. Bahkan beberapa polisi ikut melongokkan kepala di antara mereka. Setiap gerakanku diikuti sorotan mata mereka. Begitu pula saat aku mengambil cadangan ban dari dalam pannier. Semua kepala ikut condong mendekat dengan pandangan mata serba ingin tahu. Risih juga! 


Sambil menahan rasa lapar aku bekerja. Dan mata selalu mengawasi bagian lain dari sepeda, takut kalau ada yang iseng. Dalam pada itu aku merasa sedikit beruntung, karena kedua porter masih ada (yang ternyata adalah penarik riksaw). Mereka mengalihkan perhatian dengan bercerita dalam bahasa Nepali tentang pengalaman sebelumnya. Menolongku melintasi bukit, mengatasi longsoran. Selesai mengganti ban keringat dingin pun mulai membasahi tubuhku yang cape. Dan setibanya di penginapan, aku benar-benar telah ‘habis’.

Ternyata longsoran sering terjadi di kaki Pegunungan Himalaya ini, terbukti pada ruas-ruas berikutnya banyak jalan terputus sehingga aku harus dengan sabar menunggu beberapa saat untuk bisa kembali melanjutkan perjalanan.

Dari Butwal sampai Mahendranagar, aku menyusuri East West Highway. Kondisi jalannya relatif datar. Umumnya dengan ketingggian 150 – 200 meter dpl. Sudah tidak lagi melintasi daerah pegunungan dengan elevasi ketinggian yang ekstrem. Semakin ke arah barat Nepal semakin mengasyikkan karena jarang penduduk dan lintasannya banyak melalui hutan belantara. Tetapi di antara tempat itu banyak pula tangsi tentara karena ada beberapa jalan menuju perbatasan Nepal-India.

local people with his bike!
Suhu udara pada siang hari kisaran 31 sampai 33 derajat Celcius, tetapi terasa sangat menyengat dibandingkan ketika musim panas di daerah Chile, Amerika Latin yang dingin sekali pada suhu udara yang sama (maksudnya ada matahari tapi dingin).
Sumber air bersih tidak lagi semudah di daerah pegunungan. Yang setiap saat mudah didapat dari instalasi pipa air bersih. Mulai Butwal ke barat, sepanjang jalan air bersih didapat dengan cara mengunakan pompa tangan. Dan anehnya, air pompa tersebut bila disimpan satu malam langsung berubah menjadi keruh.

              Beberapa kilometer sebelum Kohalpur, selepas melewati kawasan hutan lebat aku mampir di sebuah sekolah dengan maksud berkemah di halamannya. Oleh seorang gurunya yang kebetulan belum pulang, aku diperbolehkan untuk menempati sebuah ruangan kelasnya. Sialnya, tidak ada warung yang menjual makanan di sekitar sekolah tersebut. Dan ketika guru tersebut sudah pulang, berdatangan beberapa pemuda tanggung yang tingkah lakunya membuatku kurang nyaman. Merasa posisiku lemah, aku berusaha menyiasati agar mereka keluar ruangan kelas tersebut. Begitu ada kesempatan, kurantai pintu kelas. Beberapa saat ada dari mereka yang berusaha kembali, tapi aku pura-pura tidur, di pojok kelas beralaskan meja. Sengaja aku tidak mendirikan tenda ataupun membongkar muatan sepeda. Supaya kalau terjadi sesuatu aku bisa langsung kabur.

Malam hari, nyamuk cukup banyak dan udaranya panas. Bila kunyalakan kipas angin ruangan, terdengar suara cukup bising. Semalaman tidurku tidak bisa nyenyak. Selain karena perut keroncongan, aku selalu dituntut waspada kalau tiba-tiba ada yang berusaha menerobos masuk ruangan yang gelap gulita tersebut. Hal-hal semacam inilah yang akhirnya membuatku memutuskan dalam hari-hari berikutnya, untuk selalu bermalam di penginapan daripada berkemah. Dalam sebuah penginapan, dengan beaya yang tidak terlalu mahal, aku bisa benar-benar istirahat total sepanjang malam.
 
Yang paling menegangkan ketika melintasi Royal Bardia National Park, sejauh 29 kilometer, jarang berpapasan dengan kendaraan ataupun manusia. Merupakan daerah bermukimnya Bengali Tiger yang terkenal. Kotoran gajah yang masih baru, teronggok di tengah jalan, menandakan kawanan gajah tersebut belum lama berselang menyeberang jalan. Sekumpulan rusa asyik merumput di bawah pohon yang rindang. Sesekali aku melihat rombongan kera menyeberang jalan dengan santai tapi membuat miris hati kecil ini.

Jumat, 26 September 2008,
              Dari Mahendranagar aku menuju perbatasan Nepal – India, Godda Chauki. Kathmandu – Godda Chauki sejauh 966,9 Km aku tempuh dalam 12 hari dari 17 hari masa pengembaraan. Godda Chauki merupakan titik paling barat Nepal dan akhir dari National Highway #01. Jalan beraspal benar-benar berakhir, seterusnya berupa jalanan tanah memasuki zone perbatasan. Jarang sekali pelintas batas dari mancanegara. Kebanyakan pelintas batas adalah penduduk lokal. Di perbatasan tidak ada fasilitas penukaran uang.
Seperti halnya di Pos Imigrasi Nepal, petugas Imigrasi India – Banbassa (Champawat Distric, Uttaranchal-India) menyambut ramah, sibuk membolak balik buku catatan. Rupanya, baru kali ini dia menangani paspor Indonesia. Tidak bertele-tele dan tidak minta uang sepeserpun.

              Berikutnya, adalah menapaki jalan di atas sebuah dam, yang membendung aliran air sungai lebar (Mahakali Nadi River). Lalu menyusuri jalanan tikus sejauh 21 Km. Dalam hati aku selalu berdoa, semoga tidak ada masalah dalam menempuh lintasan sepi ini. Harap-harap cemas, maklumlah ini hari pertama aku bersepeda di India. Di sebuah check point, aku ditanya dua orang petugas bersenjatakan AK 47. Begitulah seterusnya, lintasan ini mengikuti sebuah aliran anak sungai yang bercabang-cabang. Sampai kemudian tiba di sebuah simpang tiga. Empat kilometer sebelum kota Khatima, jalan bersatu dengan jalur National Highway #125. Rute yang pergunakan adalah sebagai berikut: Banbassa – Khatima – Rodrapur – Ranpur – MoradabadDelhi.

Ada perubahan suasana. Pohon-pohon besar yang rindang (sebagian pohon mangga) menaungi jalanan yang mulus. Walaupun suhu di atas 34 derajat Celcius, aku sedikit terhibur karena ada angin yang berhembus.

Aku mengayuh sepeda dengan menahan rasa lapar, makan seadanya dari bekal bahan makanan yang tersisa. Tidak bisa membeli sesuatu, karena saat itu aku belum punya mata uang India. Sekitar pukul dua siang, setelah mengayuh beberapa puluh kilometer, di sebuah kota kecil (Nanak Matta) aku melihat kantor Western Union. Aku hampiri dan menanyakan apakah sekiranya mereka mau membantu kesulitan yang kuhadapi. Syukurlah, mereka bisa membantu, meskipun dengan nilai tukar sedikit lebih rendah tak apalah. (1 $US = 44 Rupees India/RsI)

              Matahari tepat di atas ubun-ubun. Suhu udara mencapai 33 derajat Celcius. Dan sebelumnya sudah kuduga, ternyata India memang hebat. Tanpa ada waktu jeda, setiap saat aku ketemu orang. Akan memasuki kota Rodrapur (12 km), jalanan rusak berat dan berdebu. Bahkan pada kedua sisinya terdapat timbunan sampah kota yang menebarkan bau busuk. Kendatipun sudah memakai penutup mulut, partikel debu tetap menggelitik tenggorokan.

Lalu lintas kendaraan semakin padat, simpang siur dan kian tidak teratur. Situasinya semakin semrawut, karena kendaraan besar tak mau mengalah. Mengemudikan kendaraan dengan serampangan, melaju tanpa mempedulikan orang lain. Pengemudi riksaw, pengendara sepeda, sepeda motor ataupun mobil saling serobot. Terdengar bunyi klakson bertubi-tubi (klakson angin yang bunyinya bergaung panjang), memekakkan telinga. Berkali-kali aku dikejutkan, dipotong jalurku seenaknya. Atau sebuah sepeda motor tiba-tiba berhenti di depanku sekedar untuk melihatku sebagai orang asing. Traffic light pun seakan hanya sebuah hiasan atau cuma pelengkap. Sulit bagiku untuk mengemudikan sepeda dengan beban berat dalam kondisi seperti itu. Aku dituntut harus selalu konsentrasi penuh dan waspada.

Bersepeda terasa kurang nyaman! Tapi aku maju terus, pantang menyerah. Suasananya sangat berbeda bila dibandingkan sewaktu bersepeda di daerah Nepal. Pengalaman hari pertama di India yang cukup mencengangkan. Ya itulah hakekat petualangan sesungguhnya. Kalau sebelumnya aku berkelana di kawasan dengan cuaca yang sangat ekstem, maka sekarang saatnya menghadapi suasana dan perilaku manusia yang mungkin bisa dikatakan juga ekstrem

Bisa dibayangkan betapa stress-nya empat orang pesepeda jarak jauh (berbeda waktu dan berbeda bangsa) yang pernah berpapasan denganku. Mereka bercerita panjang lebar tentang pengalamannya bersepeda di India dan sekarang giliranku mengalaminya sendiri.

Sabtu, 27 September 2008,
              Jarak antara Rodrapur – Moradabad: 46 km, sedangkan Rodrapur - Delhi 253 Km. Pada ruas Rodrapur – Moradabad, banyak pohon eukaliptus peneduh jalan yang bertumbangan, hingga akarnya tercerabut dan sebagian menimpa rumah penduduk atau kuil tempat ibadah. Menandakan beberapa hari sebelumnya terjadi badai dahsyat di daerah tersebut. Banyak badan jalan dan jembatan yang tergerus air dan kemah-kemah para pengungsi yang bertebaran di sisi jalanan.

Sebenarnya lintasan datar tetapi gerak laju sepeda sangat lambat, karena banyak ruas jalan yang rusak berat. Jika malas mengayuh sepeda, sering pula aku menggandol traktor yang menarik muatan batu bata. Traktor menjadi alat transportasi utama di pedesaan. Gandengan bak terbuka traktor dijejali orang yang pergi menuju pasar. Dalam perjalanan, sering berpapasan dengan orang-orang Sikh yang menggunakan sorban berwarna oranye. Kadang-kadang mereka juga membawa beberapa ekor kerbau untuk dijual di pasar hewan Ranpur. Padatnya lalu lintas kendaraan saat memasuki kota Ranpur mengurungkan niatku untuk cari makan. Sampai akhirnya, kutemukan warung makan di pinggir jalan. Nasi dan telor goreng, cukuplah!

Berikutnya aku meluncur di atas mulusnya jalan tol, hanya saja sulit sekali untuk beristirahat atau mencari tempat teduh karena ruas jalan tol tersebut berpagar. Dan bila lewat traktor yang melaju pelan, aku raih ujung baknya; menggandol sampai traktor tersebut berbelok. Ujung jalan tol tersebut berakhirnya pada lokasi perbaikan jalan. Kalau sudah demikian, hanya ada sebuah jalur yang dipadati kendaraan. Terlihat Truk atau bis, berjalan dengan bergoyang ke kanan kiri menghindari lobang-lobang. Yang sedikit menjengkelkan, pada linatasan yang berdebu tersebut, entah disengaja atau tidak beberapa kali penumpang bis meludahkan sepahan sirih seenaknya yang hampir mengenaiku.

Sore harinya, atas budi baik seorang penjaga kebun, aku diperbolehkan berkemah di emperan rumahnya. Dan aku merasa nyaman sekali, karena kebunnya dikelilingi tembok. Hanya pada keesokan harinya, ada sedikit kegaduhan yang diperbuat oleh sekawanan monyet yang memasuki kebun tersebut. Penjaga kebun berteriak-teriak berusaha mengusir monyet-monyet dari kebun. Itulah kali pertama aku berinteraksi dengan gerombolan monyet yang dekat sekali, di depan tendaku! Ngeri sekali melihatnya menyeringai memamerkan taring-taring yang panjang, sewaktu aku intip dari balik tirai kelambu tenda. 

Memang tidak selalu dengan mudah aku mendapatkan lahan untuk berkemah, sekali waktu pernah pula aku dmarahi dan dibentak-bentak dalam bahasa yang tidak kumengerti oleh seorang penjaga lahan berseragam (mirip satpam), saat aku minta izin untuk ikut bermalam. Tapi ada juga seorang penduduk yang dengan senang hati memanggilku dan memperbolehkan aku berkemah di halaman rumahnya.  

Melihat India Gate,
              Setelah menempuh jarak sekitar 59 kilometer dari tempat berkemah sebelumnya, aku mencapai DelhiIndia (Senin, 29 September 2008).  Jarak Kathmandu – Delhi adalah 1.225,8 kilometer yang aku tempuh selama 15 hari. Lalu aku singgah di Kedutaan Besar Republik Indonesia yang terletak di kawasan Chanakyapuri – New Delhi. Diterima serta disambut langsung oleh Duta Besar RI, Bapak Letjen TNI (Purn.) Andi M. Ghalib beserta segenap jajaran Staf Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk India di New Delhi. Terima kasih!

Perlu diketahui pula bahwa jauh-jauh hari sebelum keberangkatanku menuju India ini, aku sudah menyampaikan rencana perjalananku kepada pihak Perwakilan Pemerintahan Indonesia di New Delhi. Bahkan dengan tegas kuutarakan juga bahwa aku hanya sekedar singgah dan tidak akan merepotkan untuk masalah keuangan. Hal ini adalah untuk menepis anggapan bahwa setiap petualang Indonesia yang datang ke Kedutaan hanya untuk minta uang.

kurang 25 Km, lagi masuk New Delhi
Selama tiga hari aku berada di kota New Delhi untuk melihat keindahan kotanya. Sambil ikut menyantap hidangan masakan asli Indonesia, pada saat warga Indonesia yang ada di sekitar New Delhi berkumpul di Wisma Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Malam harinya, tidak lagi terdengar suara deru kendaraan, karena merasa aman dan nyaman. Tidurku sangat nyenyak, benar-benar istirahat total. Dan keesokannya, sehari penuh aku manfaatkan untuk mencuci seluruh pakaian kotor serta mereparasi sepeda supaya tidak rewel pada perjalanan berikutnya.

              Terasa kurang lengkap bila sudah datang ke New Delhi tapi belum mengunjungi India Gate. Oleh karena itu, aku sempatkan untuk melihat India Gate, sebuah monumen peringatan bagi gugurnya 90.000 tentara pejuang India dalam Perang Dunia Pertama. Dengan tinggi 42 meter didirikan pada tahun 1931, dirancang oleh Lutyens. Dari India Gate dihubungkan sebuah jalan yang lurus dan berakhir pada pintu gerbang Rashtrapati Bhawan (the Viceroy’s House). Sekarang menjadi istana Presiden India. Sedangkan di Old Delhi ada Lal Qila (Red Fort) dan Jama Masjid, masjid terbesar di India yang dibangun pada tahun 1644 oleh Shahjahan. Qutb Minar, sebuah menara (Minaret) dengan tinggi 73 meter dengan garis tengah 15 meter bagian bawahnya dan 2,5 meter pada bagian atasnya. Menara ini dibangun oleh Qutbuddin Aibak pada tahun 1193. Humayun’s Tomb, sebuah komplek mausoleum dengan sebuah taman yang luas. Connaught Place, sebuah pusat belanja yang luas. Selain itu ada Raj Ghat, sebuah marmer hitam tanda penghormatan dan titik dimana Mahatma Gandhi dikremasikan.


Pada hari Jum’at, 3 Oktober 2008, aku melanjutkan perjalanan, sesaat setelah dilepas Ibu Roos Diana Iskandar, seorang home staff KBRI bagian protokoler dan konsuler. Kutinggalkan kawasan diplomatik tersebut kembali menuju Nepal. Dengan rute sebagai berikut; Delhi – Agra – Firozabad – Etawah – Auraiya - Kanpur – Lucknow – Faizabad – Gorakhpur – Gopalganj – Gobinganj – Sagauli – Raxaul, India – perbatasan - Birganj, Nepal – Hetauda – Simbhanjyang – Daman – Palung – Tistung – Noubise – ve Dhunga – Thankot – Kathmandu.


               Hal ini terjadi karena sebelumnya aku berkemah tapi merasa tidak nyaman di lokasi tersebut. Jadi sebelum hari terang (pukul 05.30 suasana masih gelap) buru-buru berangkat melanjutkan perjalanan.

Minggu, 5 Oktober 2008,
              Siang harinya, lalu lalang kendaraan cukup ramai, namun karena badan jalan raya dipisahkan median jalan, membuatku merasa lebih aman sewaktu menyusur bahu jalan. Banyak kendaraan yang melaju dengan kencang dan tidak jarang pula aku jumpai bekas-bekas kecelakaan yang parah. Mengerikan, seperti bekas-bekas kecelakaan beberapa truk yang hancur berkeping-keping. Bahkan suatu pagi yang masih berselimut kabut, aku pernah melihat mayat seorang anak kecil yang telungkup di atas taman median pemisah jalan. Tanpa ada yang mempedulikan.


Memasuki kota Agra disambut dengan kondisi jalanan rusak. Siang itu, aku langsung menuju pusat kota, berkeliling mencari penginapan murah di sekeliling Taj Mahal. Kudapatkan Jahangeer Lodge (+200 meter dpl) yang letaknya tidak jauh dari gerbang Taj Mahal. Semalam 125 RsI (1 $US = 45 Rupees India) dan akan menginap dua malam. Jauh lebih murah dibandingkan dengan sebuah Hotel yang sudah aku pesan melalui internet sebelum berangkat dari Indonesia. Sebuah ruangan kamar dormitory yang berisi 4 buah dipan @ 225 RsI. Tapi aku diharuskan membayar satu ruangan seharga 900 RsI. Dan sisa pembayaran untuk 3 malam adalah 2430 RsI.

              Aku bangun pagi-pagi, karena pintu masuk Kompleks Taj Mahal dibuka pukul 06.00 (matahari belum muncul). Berbekal uang secukupnya dan kamera, aku bergegas menuju loket penjualan karcis masuk. Untuk orang asing diharuskan membayar 750 RsI, (diberi tiket, air kemasan dan kantong plastik penutup alas kaki). Mahal sekali Taj Mahal ini. Perbedaannya sangat jauh dengan wisatawan lokal termasuk warga Negara anggota SAARC, cuma 20 RsI. Saat memasuki kompleks, satu persatu wisatawan lokal maupun mancanegara diperiksa secara rinci. Dilarang membawa tas, makanan, minuman, tripod dll. Mini Tripod-ku sepanjang 10 Cm, pun kena cekal.

Taj Mahal
Ada sebuah sensasi yang sulit dikatakan, saat pertama kali melihat Taj Mahal dari sebuah lorong bangunan terdepan yang berelung-relung. Matahari pagi mulai muncul dan sinarnya membuat nuansa yang indah pada dinding marmer bangunan makam Mumtaz Mahal tersebut. Sebuah bangunan yang didirikan oleh Shahjahan untuk membuktikan cinta kepada istrinya, Mumtaz Mahal yang wafat pada tahun 1631. Dalam cungkup di tengahnya terdapat dua makam, Mumtaz Mahal dan Shahjahan. 
Hampir tak percaya, bahwa yang kuhadapi ini bukan mimpi lagi. Aku bisa merasakan getaran yang ada dalam hati ini. Sebelumnya hanya berupa sebuah angan-angan, kini jadi kenyataan. Apalagi untuk melihat bangunan yang monumental ini harus didahului dengan mengayuh sepeda selama berhari-hari.  Bukan perkara yang mudah!

Setelah puas mengambil gambar aku keluar untuk mengunjungi objek wisata lain yang letaknya 2 kilometer dari Taj Mahal yaitu Agra Fort. Sebelum memasuki Agra Fort aku membayar izin membawa video Camera, 25 RsI. Di bagian pemeriksaan, aku sodorkan tiket yang aku beli di Taj Mahal. Karena memang tercantum sebagai tiket terusan untuk bisa mengunjungi 5 objek wisata secara berkesinambungan. Sejak matahari terbit hingga matahari terbenam. Mungkin aku salah mengartikan. Sebab aku diharuskan membeli tiket lagi di loket, dan yang tercantum dalam tiket tadi cuma berarti sebagai potongan 50% dari harga tiket. Ah macam-macam saja, karena kesal tanpa pikir panjang aku langsung balik ke penginapan. Sialnya, aku jumpai sepedaku sudah kotor sekali penuh bercak-bercak cat tembok. Rupanya ada tukang yang sedang mengecat tembok tanpa memindahkan dulu sepedaku.

Senin 6 Oktober 2008,
               Keesokan harinya, Senin 6 Oktober 2008 aku melanjutkan perjalanan dengan sepeda yang masih kotor. Pagi hari yang berkabut. Begitu hari merangkak siang, cuaca berangsur cerah.
Sebelum meninggalkan kota Agra, aku melintasi jembatan yang membentang di atas sebuah sungai yang sangat lebar. Pada tepian sungai banyak sekali penduduk yang sedang mencuci pakaian dengan cara mengayunkan dan memukulkan pada pinggiran tanggul sungai. Gerakan mereka hampir bersamaan sehingga memberi kesan adanya sebuah irama. Setelah jembatan, aku membeli buah pisang buat bekal.

over loaded bike!
Suhu udara kian panas memaksaku mengguyur tubuh dengan air beberapa kali, dari tempat peristirahatan sopir-sopir truk. Kaos dan celana basah pun dalam sekejab sudah kering di bawah suhu udara 36 derajat Celcius tersebut. Pantulan uap yang panas dari permukaan aspal menyebabkan mata nanar kalau memandang lama jauh ke depan. Bersepeda di jalan datar lebih banyak menguras tenaga. Karena harus terus menerus mengayuh pedal sepeda. Berbeda kalau bersepeda di lintasan yang naik turun. Kelelahan saat menggenjot pada jalan mendaki, bisa istirahat saat meluncur turun.

Kadangkala aku searah dengan penduduk lokal yang bersepeda menuju tempat mereka bekerja. Mereka menggunakan sepeda buatan lokal bukan sepeda import. Bentuknya mirip sepeda onthel. Jarang sekali sepeda model jengki atau seperti yang kugunakan. Sepeda replika dari merk-merk legendaris, seperti Humber, Hercules, Atlas dll masih diproduksi di India.  Sebab itu sepedaku yang sudah dianggap jadul, dan termasuk dalam kategori yang ditertawakan oleh kalangan pesepeda di tanah air. Di India menjadi paling cantik dan selalu jadi pusat perhatian. Bahkan banyak pula yang berminat mau membelinya.

Suasana di jalan raya diisi berbagai jenis kendaraan dari pedati sampai truk trailer, yang saling berebut lintasan. Tingkat stress-nya mirip dengan jalur Pantura Pulau Jawa. Yang menarik perhatianku, sepeda motor Royal Envield, Jeep, Willys, Mercedes, Fiat masih diproduksi di India bukan hasil rakitan. Replikanya diberi nama Mahindra, Maruti, Ambassador, Tata dll,. Mereka sangat fungsional dan bangga dengan hasil produksi negaranya. Fiat Ambassador, yang modelnya mirip mobil tahun 60-an, tapi larinya masih kencang. Dan ternyata menjadi aikon di India, dipergunakan sebagai taksi hingga kendaraan para pejabat Negara sekalipun. Mungkin bedanya, pada korden di kaca bagian belakang, warna serta nomor platnya.

              Yang membuatku kurang nyaman di jalan adalah bau tidak sedap yang menyengat dari kotoran manusia, bangkai-bangkai hewan. Atau bangkai busuk ternak besar, seperti sapi dan kerbau yang digusur ke sisi jalan. Hewan-hewan ternak ini suka menyeberang atau berjalan seenaknya di tengah jalan raya. Tidak jarang seekor dari mereka tertabrak. Jadinya pengguna jalan raya harus selalu waspada. Jengkelnya kalau aku harus membuntuti sekumpulan kerbau gemuk yang berjalan menutup seluruh badan jalan. Disamping kambing, sapi dan kerbau ada juga yang menggembalakan babi. Babi-babi ini sering berendam di kubangan kotor, mencari makan di tempat pembuangan sampah. Atau makan bangkai kering di pinggir jalan berebut dengan sekawanan anjing.

once of temple ornament
Anjing berkembang biak secara bebas dan hidup liar di jalanan. Kendatipun belum sampai tergigit tapi cukup membuat ngeri. Sejujurnya aku takut terinfeksi rabies.  
Sama halnya dengan monyet, dimana pun berada aku menjadi terbiasa melihat monyet memamerkan taringnya yang tajam. Bahkan di tengah keramaian kota sekalipun, selalu ada monyet berkeliaran bebas, hidup berdampingan dengan manusia.

              Saat aku mencapai batas kota Faizabad, matahari sudah terbenam hanya sinarnya yang tersisa. Memasuki pusat kota Faizabad, terhadang oleh ribuan massa yang berjalan kaki berlawanan arah. Karena kebetulan bubaran setelah mengikuti peringatan puncak hari ke sepuluh Puja Durga. Aku bingung harus kemana, sulit mencari celahnya. Sambil terus mengawasi barang bawaan, aku berusaha terus menyelinap sampai ada polisi yang membantuku. Tidak dengan mudah aku mendapatkan penginapan. Pukul 19.45 waktu setempat, aku baru memasuki kamar penginapan.

              Dua hari kemudian. Pada paginya, aku sempat melewati jalan alternatif sejauh 25 kilometer. Sebuah ruas jalan yang tidak lebar dengan pohon-pohon rindang menaungi jalan. Dari sela-sela dedauannya, berkas sinar matahari menerobos dan berusaha menyibak kabut yang menyelimuti daerah tersebut. Suasana pagi di pedesaan yang sangat
menyenangkan. Pada mulut gang, penduduk duduk santai di depan warung sambil menikmati chya. Udara segar dan burung-burung pun berkicau bersahutan menyambut pagi yang cerah. Sesekali aku berpapasan dengan orang desa bersepeda atau naik pedati yang ditarik kerbau. Bersamaan dengan bergabungnya jalan tersebut dengan NH 28 yang sedang dibangun. Pohon-pohon pelindung bertumbangan di sisi jalan, dibabat habis.
Istirahat sebentar di petrol station, sambil makan biskuit dan power bar. Sebelumnya pernah aku tidur berayun dengan hammock yang direntangkan di sebuah gubuk di pinggir jalan. Posisiku membelakangi jalan raya, ketika aku bangun ternyata banyak penduduk lokal yang duduk-duduk menontonku.

Memasuki kota Gorakhpur kondisi jalan rusak berat. Yang mengakibatkan boncengan patah pada bagian penyangganya. Inilah resiko menggunakan sepeda yang sudah tidak laik dipakai (tapi aku harus naik sepeda yang mana lagi?) Untuk mengatasinya, aku coba bebat lalu diikat dengan tali raffia. Berikutnya, perjalanan menjadi lambat karena beberapa kali aku harus memperbaikinya. Dan yang kutakuti, apabila kelak penyangga sebelahnya juga patah. Sangat sulit untuk mengatasinya, karena beban yang sangat berat. Untunglah sampai perjalanan berakhir, ketakutan itu tak pernah terjadi.

Sesudah Gorakhpur, 50 kilometer kemudian aku sampai di kota kecil Kushinagar +60 meter dpl. Kushinagar dikenal sebagai tempat wafatnya Sang Budha Gautama, sedangkan tempat lahirnya di kota Lumbini, Nepal (selatan Butwal). Oleh karenanya, banyak pemeluk agama Budha yang berziarah (pilgrimage) ke Kushinagar.

Akhir Perjalanan,
              Keesokan paginya, saat berada di pos Imigrasi Birganj, Nepal sedikit dibuat jengkel oleh petugasnya yang berusaha untuk minta uang lebih dari seharusnya. Berbeda sekali dengan sebelumnya sewaktu di pos Imigrasi Raxaul, India; cepat beres dan tidak ada upaya tipu muslihat. Di Birganj (+80 meter dpl), dari sebuah warung internet aku sempatkan untuk mengirim berita ke Indonesia, karena sejak meninggalkan kota Delhi belum sekalipun. Keluar Birganj, jalan raya diblokade sehingga terjadi antrian kendaraan yang panjang sekali. Hal ini cukup menguntungkan bagiku karena lebih leluasa dan aman bersepeda.

Terasa perbedaan suasana yang mencolok. Bersepeda di wilayah Nepal, perasaan terasa plong. Jumlah kendaraan jauh berkurang dan banyak ruang, maksudnya ada suatu masa dimana tidak bertemu dengan manusia lain. Seperti ketika melintasi Parsa Wildlife Reserve, bagian tenggara dari Royal Chitwan National Park. Kesejukan pertama kali aku dapatkan di daerah hutan lindung tersebut, setelah disengat matahari terus menerus selama berhari-hari.
Lambat laun terasa berat dalam mengayuh sepeda, perasaanku mengatakan jalanan sedang menanjak landai. Benar saja, ketika sudah tidak ada pemukiman penduduk jalan menanjak terus hingga ketinggian 650 meter dpl (Charia Box Cut), sesudah itu menukik curam sejauh 9 kilometer sampai Hetauda dimana aku bermalam.

              Selepas kota Hetauda, +425 meter dpl, aku menyusuri dasar sebuah lembah. Jalanan bersebelahan dengan sebuah sungai lebar. Lembah tersebut diapit dinding batu yang terjal. Pada bagian tertentu ada banyak kereta gantung yang menghubungkan antarbukit. Gondola-gondola yang ada dipergunakan untuk mengangkut bahan pembuatan semen.

Berdikit-dikit jalan tersebut mulai menanjak, menjauhi aliran sungai. Lama kelamaan berkelok-kelok menyisir perbukitan. Bahkan ada yang dinamai Kalitar 12 Loops. Yaitu lintasan dengan dua belas tikungan-tikungan tajam mendaki sebuah punggungan bukit. Aku pikir akan berakhir setelah sampai di atas. Ternyata berganti melipir bukit yang lain, begitulah terus menerus. Semakin tinggi tempat yang aku gapai, semakin dingin udaranya. Kurambah jalan berliku itu tanpa sesal. Merambat tapi pasti, saat itu yang ada hanyalah tanjakan, sepeda dan suara nafasku yang mengalahkan deru angin.

Jalanan menanjak ekstrem menuju desa Simbhanjyang dengan ketinggian +2.488 meter dpl. Ketika sampai di sebuah ketinggian, tampak jalan yang kulalui tadi berliku-liku dari punggungan yang satu pindah ke punggungan bukit lainnya. Lipatan-lipatan pegunungan saling menyambung tiada habisnya lalu hilang dari batas pandang. Gumpalan awan tipis mengambang di lembah yang lebih rendah. Menyelimuti kawasan pohon pinus.  Sebuah interaksi antara manusia dengan alam semesta tanpa batas. Inikah yang disebut surga? Aku bertanya dalam hati. Situasi ini, kalau di Indonesia seperti sedang naik gunung. Pantas jarang kendaraan. Pada umumnya kendaraan, terutama bis dan truk dari Hetauda, memilih menggunakan rute yang lain.

              Ternyata dalam 6 jam bersepeda aku hanya mampu menempuh jarak 40 Km saja, disusul hari berikutnya cuma 42 Km (dari desa Mahaveer sampai desa Tistung). Tapi rasa capai itu ada bonusnya karena di sebalik gunung, pemandangan begitu menakjubkan: Annapurna Range! Jajaran Pegunungan Himalaya, dengan puncak-puncaknya yang berselimutkan salju. Berlatar belakang langit biru. Memberikan aksen dari sebuah keharmonisan alam. Aku sungguh puas dan merasa lega! Ini Himalaya bung!, teriakku.

Dan sungguh, neraka pun belum pernah kulihat, tapi memang jauh berbeda bila dibandingkan dengan perjalananku sebelumnya di Amerika Latin. Saat merambah Andean Altiplano, Pegunungan Andes. Dan melintasi Atacama Desert, sebuah padang gurun kering kerontang, gersang dan tanpa kehidupan. Aku didera cuaca ekstrim, dingin, panas dan rasa lapar berkesinambungan. Seakan ingin meluluh-lantakan seluruh persendian kehidupanku. Tapi itulah seni dari petualangan sesungguhnya. Menghargai kehidupan. Hidup yang merdeka!

Jalan menurun dari Simbhanjyang – Daman – Palung, lalu naik lagi hingga Tistung. Di kanan kiri jalan terdapat hamparan bunga warna kuning. Tanaman kentang sedang berbunga secara bersamaan di semua lahan pertanian. Setibanya di Tistung hari sudah sore dan dingin, aku mampir di sebuah warung untuk membeli makanan. Ternyata, tidak ada masakan apapun, kecuali mie instan. Di warung itu ada tiga pemuda yang makan sakuaka dengan rhaksi. Kelihatannya mereka setengah mabuk kebanyakan minum arak lokal tersebut. Sementara aku menunggu pemilik warung merebus mie, seorang dari pemuda itu berusaha membuka pembicaraan dalam bahasa Inggris yang sama tidak karuannya denganku. Aku pun berusaha mencari info dari dia untuk mendapatkan lahan berkemah. Dia menyarankan untuk tidak melanjutkan perjalanan karena sebentar lagi hari sudah gelap. Menurut dia ada seorang temannya yang pandai bahasa Inggris dan pasti mau menerima aku di rumahnya. Walaupun dia setengah mabuk, perasaanku mengatakan dia bukan orang jahat yang sedang berusaha menjebakku. Kuikuti saja kata hatiku untuk membuktikannya.

over loaded!
Maka kami berdua jalan beriring menuju rumah yang dimaksud. Semula temannya mengira aku orang Nepal yang pura-pura bicara dalam bahasa Inggris. Setelah kutunjukan tanda identitasku, dia baru meyakini bahwa aku memang bukan orang Nepal. Sambutannya jauh lebih ramah dan aku pun dipersilahkan untuk menempati kamar di loteng rumahnya. Tidak kusia-siakan, di atas sebuah dipan aku secepatnya bergelung dalam sleeping bag. Guna mengusir dinginnya udara dan melepaskan penat. Aku pun terlelap sampai kemudian dibangunkan untuk makan malam.

Setelah Tistung +2030 meter dpl, sudah tidak ada tanjakan lagi, jalanan menurun sampai Noubise +925 meter dpl. Saat menuruni jalan tersebut, aku tidak habis-habisnya memandangi dan menikmati suguhan pemandangan alam yang begitu mempesona. Pemukiman penduduk saling berpencar-pencar. Gongpa dengan bentuk khas, menyerupai genta ada di setiap sudut pemukiman. Rumah-rumah tradisional didirikan di lereng lembah, serta areal persawahan yang berteras menambah indahnya pemandangan. Rupanya ruas jalan ini memang sering dilalui wisatawan, terbukti warga tidak canggung lagi kalau difoto. Anak-anak kecil yang hendak ke sekolah berlarian menghampiriku. Dengan wajah berseri-seri mereka menyapaku tanpa ada rasa takut.

Itulah sebabnya kenapa aku senang sekali menikmati keindahan alam jagat raya ini dengan sepeda. Selain bisa menjelajah sampai pelosok, berkelana dengan sepeda bisa berinteraksi langsung dengan apa yang dilewati maupun dikunjungi. Mencium aroma khas kayu pinus, merasakan sengatan matahari dan dinginnya udara, melihat berbagai keindahan alam, mencicipi menu makanan lokal, mendengar kicauan burung-burung setiap pagi. Di sepanjang perjalanan, pemandangan alam terasa tidak pernah membosankan. Terkadang hal-hal tersebut malah menimbulkan rasa kerinduan bahkan ketagihan.

Pada 17 Oktober 2008, aku tiba kembali di Kathmandu. Sampai saat itu aku telah bersepeda selama 29 hari dari 38 hari masa pengembaraan (tidak termasuk masa kepulangan ke Indonesia) dan telah menempuh jarak 2602,9 kilometer.
Dengan rute: Kathmandu – Thankot – Ve Dhunge – Noubise – Malekhu - Mugling – Damauli - Pokhara – Galyang Bazar – Butwal – Chanauta – Satabariya, Uchanimbu – Kohalpur – Jhunga, Chisapani – Mahendranagar – Godda Chauki, Nepal. – (perbatasan) – Banbassa, India – Khatima – Rodrapur – Moradabad - Delhi – Agra – Firozabad – Etawah – Auraiya - Kanpur – Lucknow – Faizabad – Gorakhpur – Gopalganj – Gobinganj – Sagauli – Raxaul, India – (perbatasan) – Birganj, Nepal – Hetauda – Simbhanjyang – Daman – Palung – Tistung – Nobise – ve Dhunga – Thankot – Kathmandu.

Pada hari terakhir, sebelum aku mengakhiri perjalanan ini.  Dari jendela pesawat terbang yang membawaku kembali ke Indonesia. Aku bisa melihat bentangan pegunungan bersalju, Pegunungan Himalaya menyembul dari batas gumpalan awan. Mount Everest sebagai puncak tertinggi menjulang gagah, mencuat tinggi dari yang lain. Aku bisa merasakan sebuah kesenyapan, dan kesunyian yang mencekam. Karena sudah dua kali aku pernah mendekati kaki gunung tertinggi di dunia tersebut, di antaranya membawa sepeda juga.  Bahkan sampai sekarang pun aku masih punya mimpi, suatu saat kelak bisa bersepeda melintasi Himalaya yang sesungguhnya, dari kota Lhasa–Tibet, China menuju Kathmandu–Nepal. Entah kapan hal itu akan terwujud. Paling tidak aku selalu belajar konsisten terhadap apa yang kulakukan.

Dalam penerbangan Kathmandu–Bangkok-Jakarta, tanpa kusadari aku termenung dan mencoba mengevaluasi kegiatan ini. Kusadari sepenuhnya, memang aku tidak muda lagi dan tidak setangguh dulu. Nyatanya, tidak sedikit pelajaran serta pengalaman yang kuperoleh dari sebuah perjalanan yang tidak sekedar mengandalkan kekuatan dengkul ini. Telah banyak suka duka yang kualami dalam pengembaraan selama ini dan semuanya tentu akan bermanfaat. Aku hanya berusaha merajut benang merah, merangkai jejak petualanganku dengan sepeda, menjadi sebuah garis yang mengelilingi bumi ini. Dan sudah kulakukan! Harapanku, apa yang telah kulakukan ini bisa diapresiasi dan menjadi bahan inspirasi bagi kaum muda, terutama buat anakku Aling Sekar Kinanti bila kelak tumbuh menjadi dewasa.

Bandung, Desember 2008


Disarikan dari catatan harian
TRANS HIMALAYA CHALLENGE (CYCLING TRIP 2008).
sebuah perjalanan bersepeda jarak jauh melintasi negara Nepal dan India.
yang dilakukan dari tanggal 10 September 2008 sampai dengan 28 Oktober 2008.

1 komentar:

  1. you are the man....keep on cycling euy....age just a number...

    BalasHapus