Minggu, 05 Februari 2012

TOUR du MONT BLANC 2011


LET’S  DANCE WITH THE WIND AND MAKING LOVE WITH THE SUN!!!

...... pernah dimuat dalam Harian Umum Pikiran Rakyat, Rabu 22 Pebruari 2012,
rubrik Laporan Khusus, halaman 25


Awal perjalanan,
              Pertengahan bulan Agustus 2011 yang lalu, saya berdua dengan Aristi Prajwalita terbang menuju Belanda. Lalu, dengan diantar oleh Rene de Callone (warga Belanda) kami menuju Prancis untuk memulai kegiatan. Berbeda dengan kegiatan saya tahun lalu. Walaupun masih juga bersepeda, tapi kali ini prioritas saya adalah kegiatan pendakian. Yaitu pendakian gunung  Gran Paradiso +4061 meter dpl, di Italy dan Mont Blanc +4810 meter dpl, di Prancis. Sedangkan kegiatan bersepeda akan melintasi beberapa Negara (the NetherlandsBelgiumFranceItalySwitzerland).

Pada hari Jum’at, 26 Agustus 2011 kami tiba di kota Annecy, Prancis dari Den Haag, Belanda. Setelah menempuh jarak sekitar 1300 kilometer dengan mobil Rene de Callone. Langsung kami menuju sebuah camping ground, ‘Le Taillefer’ dan mendirikan tenda. Setelah itu, sementara  Rene dan istrinya beristirahat, sepeda-sepeda mulai kami rakit kembali. Karena kami berdua, berencana mulai mengayuh sepeda besok pagi, menuju Chamonix.   

Kota Annecy, terletak di tepi Danau Annecy pada ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan air laut. Kota yang berhawa sejuk mirip kota Bandung dan menjadi kota tujuan wisata. Karenanya, pada musim panas ini hampir semua tempat perkemahan dipenuhi para wisatawan.

Menjelang sore hari, setelah Rene dan istrinya kembali ke Belanda. Kami mencoba sepeda di seputar perkemahan tersebut sambil menikmati pemandangan alam yang menawan. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena awan hitam datang bergulung-gulung. Seperti prakiraan atau ramalan cuaca hari itu, hujan lebat akan datang setelah tengah hari. Kami berdua lalu mengemasi peralatan yang masih ada di luar tenda. Dan membuat pelindung tambahan pada kedua tenda kami untuk sekedar menghalangi angin. Benar saja, hujan lebat turun dalam sekejab disertai angin kencang.   

Sampai tengah malam hujan pun belum reda, membuat saya gelisah karena masih merasa lapar dalam dinginnya udara pegunungan Alpen tersebut. Di tenda sebelah, terdengar suara Aristi mendengkur. Suhu udara malam hari turun hingga 12 derajat Celcius. Setelah makan beberapa biskuit, akhirnya saya  tertidur bergelung di dalam sleeping bag.

Keesokan paginya, selesai kami menggulung kedua tenda. Turun hujan lagi. Rintik hujan ini tidak membuat kami menunda perjalanan. Kami telah siap. Dalam cuaca yang kurang bersahabat dan suhu udara yang rendah kami meninggalkan areal perkemahan tersebut (suhu 9 derajat Celcius). Jalanan masih lengang walaupun sudah jam 9 lebih. Kami sempat mampir di sebuah supermarket untuk menambah bekal dan juga mengirimkan surat-surat ke beberapa relasi dari kantor pos setempat.

Keluar kota Annecy, kami bersepeda menyusuri jalur khusus sepeda. Jalan selebar tiga meter tersebut beraspal mulus dibangun parallel dengan jalan kendaraan bermotor (highway) sampai kota Ugine. Kami kayuh terus sepeda kami, menerobos hujan yang kian deras. Setelah menempuh jarak lebih dari 20 kilometer, jari jemari terasa mulai kesemutan. Kami putuskan untuk berhenti di sebuah shelter. Istirahat sejenak, melahap biskuit sekedar pengganjal perut yang mulai kelaparan. Udara terasa dingin menusuk tulang. Dan tubuh kedinginan karena kaus di dalam jas hujan pun basah karena keringat bercampur air hujan.

              Dari sebuah persimpangan jalan di kota Ugine, kami sudah tidak lagi bersepeda pada jalur sepeda. Menyusuri jalan mendaki di lereng lembah pegunungan Alpen. Hujan pun mulai reda, namun suhu udara masih rendah. Terasa berat bersepeda pada kondisi alam demikian. Perlahan saja kami mengayuh tapi tetap konstan. Nyatanya, tetap saja hal ini memaksa sering berhenti untuk mengatur nafas yang tersengal-sengal. Suatu saat, ketika berhenti di sebuah rest area, ada sepasang wisatawan dengan ‘campervan’nya menyapa dan memberi kami buah pisang.

Sekitar pukul 14.00 barulah matahari menampakkan diri. Sinarnya mampu menambah kehangatan dan mengusir dinginnya udara. Celana dan jaket pun kami lepas untuk membuat nyaman dalam bersepeda. 

Jalan terus menanjak, semakin tinggi semakin indah pemandangan alam yang tersaji. Setibanya di kota kecil Margeve, kami mencari informasi  camping ground. Letak tourist information terletak di pusat kota yang ramai sekali di akhir minggu. Dan satu-satunya camping ground yang ada, ternyata berada 4.5 kilometer di luar kota tersebut.

Dengan menahan rasa lapar kami mengayuh sepeda kembali dan tidak lupa sebelumnya membeli makanan cepat saji buat makan malam. Bornand Camp, terletak di sebuah perbukitan yang menghadap sebuah lembah. Berada tepat di bawah sebuah stasiun cable car yang hanya berfungsi jika musim dingin tiba.

Kami sudahi perjalanan hari pertama tersebut setelah mengayuh sepeda sejauh 62.5 kilometer dari Annecy, selama lima jam lebih bersepeda. Cukuplah buat saya. Matahari terbenam setelah pukul 21.30. Malam hari, thermometer pada angka 9 derajat tapi terus turun hingga 6 derajat Celcius. Sebelum terlelap tidur, saya mempelajari rute perjalanan buat besok. Melihat garis kontur ketinggian pada peta, saya hanya bisa mengelus dada. Ini Pegunungan Alpen bung!

Chamonix, kami datang!
              Besoknya, Minggu 28 Agustus 2011 cuaca sangat cerah! Nampak sebuah hamparan pemandangan alam yang indah. Sesekali terdengar suara lonceng sapi dari sebuah peternakan di seberang lembah. Sekitar jam sepuluh, setelah sarapan kami meninggalkan tempat kami berkemah. Dan dari sebuah persimpangan jalan, sepeda melaju kencang menuruni jalan yang menukik sejauh 9 kilometer hingga kota Les Bairnes/La Fayet.

Karena di jalan bebas hambatan dilarang bersepeda, terpaksa kami harus mencari jalan alternatif. Lintasan highway berada di dasar lembah, dan medan jalan alternatif tersebut adalah naik turun pada lereng di kanan kiri lembah. Cukup menguras tenaga. Menyusuri, mengikuti lika-liku jalan tersebut. Kelelahan  rasanya hilang, sesaat setelah mendapati cantiknya pemandangan alam. Tampak parasit warna-warni dari beberapa penggiat parapente (paralayang), yang melayang-layang. Dengan latar belakang langit biru dan puncak-puncak gunung yang berselimutkan salju.

              Ada kejadian yang cukup mengagetkan. Sewaktu bersepeda perlahan pada tanjakan, di tengah hutan pinus. Saya bersepeda di belakang Aristi. Tiba-tiba terasa ada yang menyundul-nyundul dari belakang. Kaget juga saat menoleh ke belakang. Ada seekor anjing boxer yang besar sedang berlari mengikuti dari belakang sambil menyundul dan sesekali menggigit ujung pannier. Anjing ini tadi terlihat di perumahan, tapi tiba-tiba sudah menyusul kami. Melihat raut mukanya saja sudah takut, apalagi kalau tiba-tiba menggigit betis, wah! Saya berusaha melempar makanan. Setelah itu, anjing tersebut lari mendekat lagi. Saya hanya bisa pasrah saja. Cukup jauh dia mengikuti, sampai di Vadagne anjing tersebut minum dari sebuah bak air. Dan tidak lagi mengikuti kami lagi. Lega rasanya!

              Selepas Vadagne, setelah menanjak beberapa kilometer barulah jalan menukik turun hingga La Hauche. Tanpa terasa adrenalin mulai menjalari seluruh tubuh. Menggugah semangat! Sepeda melaju kian kencang. Terasa nikmatnya bersepeda pada lintasan jalan mulus yang lengang. Membuat diri serasa raja jalanan. Aroma bau pepohonan pinus menambah indahnya momen tersebut.

La Hauche – Chamonix, datar dan jaraknya sekitar 7 kilometer. Kala masuk pusat kota Chamonix di hadapkan ramainya wisatawan. Apalagi bertepatan dengan masuknya ke garis finish, para pelari yang mengikuti Ultra Trail. Sebuah perlombaan lari cross country yang mengitari wilayah Chamonix melewati daerah pegunungan. Dari pengeras suara, terdengar lagu Vangelis : 'Conquest of Paradise' sebagai pengiring lagu penyambutan para pelari melintas garis finish. Irama lagu tersebut membuat kami pun merasa tersanjung saat memasuki kota Chamonix.

Seharusnya tujuan kami stasiun kereta api untuk menemui rekan kami, Tantyo Bangun. Namun karena jalan ke arah stasiun terhalang kegiatan. Akhirnya, berpindah titik temunya ke depan Kantor Pos Chamonix. Tantyo Bangun selama ini tinggal di kota Brussels, Belgium. Dan akan bergabung dengan kami berdua. Kami berniat mendaki Gran Paradiso, Italy sebagai sasaran antara sebelum mendaki Mont Blanc, France - gunung tertinggi di Eropa Barat.


Pendakian Gran Paradiso,
              Kedua sepeda serta peralatan lain yang tidak terpakai buat pendakian, kami titipkan di penginapan tempat kami bermalam. Lalu, kami bertiga menumpang bis menuju Aosta, Italy. Dalam perjalanan Chamonix (France) – Cormayour (Italy) – Aosta, bis yang kami tumpangi melewati Mont Blanc Tunnel. Terowongan ini sepanjang 11,66 kilometer, dibangun menembus bawahnya gunung Mont Blanc.

Setibanya di Aosta, kami putuskan mencari penginapan di sekitar terminal. Karena hari sudah petang. Baru besoknya, kami lanjutkan menuju kaki Gran Paradiso. Bis terisi enam orang penumpang. Menyusuri jalan berkelok-kelok di lembah Valsavarenche. Dan sampai di depan gerbang Gran Paradiso Camping Ground, kami diturunkan.

Mengetahui kedatangan kami, Franco Caviglia, pengelola bumi perkemahan Gran Paradiso menyambut dengan senang hati. Pasalnya, sebelum meninggalkan Indonesia kami sudah berkomunikasi via internet.

              Jum’at, 31 Agustus 2011; saya berdua dengan Tantyo Bangun berangkat menuju Refugio Frederico Chabod yang terletak pada ketinggian 2750 meter dpl. Sedangkan Aristi tetap berkemah di camping ground, menunggu kami berdua mendaki gunung Gran Paradiso tersebut. Dan menurut Franco Caviglia, prakiraan cuaca esok hari akan buruk. Peluangnya 50-50, dia menambahkan!

Kedua tenda pun ditinggal, kami hanya membawa perlengkapan seperlunya dan peralatan pendakian es. Peralatan pendakian seperti: boots, crampons, ice axe dan sit harness kami sewa dari Franco Caviglia. Mendaki di gunung es memang berbeda dari pendakian gunung api di tanah air. Ada teknik moving together yang mengharuskan sesama pendaki saling terikat pada seutas tali. Dengan niat saling mengamankan apabila salah satu ada yang jatuh atau terpeleset masuk crevasse (rekahan es/salju). Persiapan sudah cukup, namun halangan lain datang di luar kekuasaan manusia.

              Dibutuhkan waktu sekitar 4 jam lebih, jalan kaki untuk sampai refugio, hut yang didirikan oleh Frederico Chabod pada tahun 1985 tersebut. Jalan setapak menyusuri hutan pinus. Bagusnya, pada bagian yang curam dibuat tangga batu. Guna mencegah terjadinya erosi serta longsor. Batu-batu yang berbentuk lempengan tebal tersebut disusun berdiri bukan rebah. Dan selalu dibuatkan lobang-lobang saluran air pada bagian tertentu.

              Pada akhir batas pepohonan pinus, di atas ketinggian 2000 meter berganti dengan padang rumput. Banyak dijumpai ibex (kambing gunung), yang tampak merumput dengan tenangnya. Mereka sudah terbiasa dengan para pendaki yang lalu lalang. Para pendaki pun sudah memiliki etika yang tinggi untuk tidak mengganggu flora fauna kawasan itu.

Saat kami berjalan naik menuju hut, kami sering berpapasan dengan para pendaki yang baru turun dari puncak. Jarang sekali yang naik setujuan dengan kami, ada beberapa rombongan yang tujuan akhirnya hanya sampai hut dan akan kembali keesokan harinya. Atau yang sekedar trekking dengan jalur melingkar melewati beberapa hut (trekking hut to hut). Antara lain melintasi Refugio Frederico Chabod  +2750 meter dpl dan Refugio Vittorio Emanuele II +2732 meter. 

Dalam ruang bangsal (dormitory) Refugio F. Chabod tempat kami menginap, hanya ada lima orang. Kami berdua dan tiga orang pendaki dari Belanda yang baru datang setelah malam tiba. Kelompok lain berada dalam ruang yang terpisah. Kami senang tidak begitu ramai pendaki yang naik. Tapi rasa senang itu pun masih diselimuti rasa was-was akan cuaca besoknya. Betul juga, sepanjang malam hujan turun disertai angin. Menjelang subuh agak reda, namun awan hitam masih melingkupi kawasan tersebut.

              Pagi itu, saat matahari belum terbit kami sudah mulai mendaki menuju puncak. Hanya dua kelompok pendaki yang berjalan tanpa pemandu. Kami, saya dan Tantyo dari Indonesia. Serta dua pendaki muda dari Belanda. Sisanya  kelompok pendaki yang dipimpin oleh pemandu.

Walaupun sebelumnya sudah mempelajari peta, karena belum terlalu kenal medan, kami berdua agak kesulitan juga ketika memasuki perbatasan batuan dengan es (morraine rock).  Situasi diperburuk karena hujan es semalam menghilangkan jejak-jejak di permukaan es dan salju.

Setelah lebih dari setengah jam mencoba memotong jalan ke punggungan dengan permukaan es bercampur batu yang licin, kecelakaan kecil terjadi. Sepatu yang terpasang crampons terantuk berkali-kali. Saya dan Tantyo  masing-masing jatuh terguling sekali. Saya lebih beruntung jatuhnya tidak berdampak. Sementara Tantyo jatuh dengan crampons mengarah ke betis, membuat celana saljunya robek sepanjang 20 Cm.

Sambil melakukan orientasi ulang, kami mengedarkan pandangan ke arah lembah. Dalam keremangan pagi, crevasse (rekahan es) membentang di pertemuan gletser (Chiacciaio Glacier dan Laveciau Galcier). Di ujung pertemuan dua gletser tersebut terlihat lidah gletser yang paling bersih dari jebakan crevasse hingga menepi ke arah barat. Terlihat beberapa pemandu membawa kelompoknya ke sana. Ada juga beberapa pendaki yang naik dari Rifugio Vitturio Emanuele II. Tampaknya jalur itu lebih aman, kami pun memotong ke arah yang sama.

Setelah itu rute menanjak terus ke selatan ke arah punggungan puncak. Cuaca makin buruk dan kami menemui beberapa orang pendaki yang kembali turun karena tidak mampu. Terlebih harus pintar menyiasati crevasse yang menghadang Karena rekahan es di padang salju tersebut menganga dan siap menerkam mangsanya. Kami pun berjalan dengan penuh konsentrasi, fokus dan selalu waspada. Setelah sampai di punggungan terakhir, angin makin kencang dan pandangan sangat terbatas terhalang kabut tebal.

Kami berjalan sesuai ritme dan kemampuan, perlahan tapi tetap konstan. Jarang sekali berhenti. Berjalan dengan crampons di atas salju bukan perkara mudah! Mungkin kecepatan langkah kami sangat lambat dibandingkan mereka yang sudah terbiasa. Apalagi saya sudah tidak muda dan tidak setangguh dulu lagi. Telah lama sekali saya tidak mendaki gunung bersalju, terakhir pada tahun 2000 di kawasan Khumbu Himal, Nepal. Dua pendaki Belanda sudah turun dari puncak dan memberi semangat kepada kami. Dorongan dari pendaki lain pun penambah semangat.

Kami berdua menjadi kelompok terakhir yang menuju puncak. Turun hujan es, berangin dan kabut tebal menghalangi orientasi. Benar-benar menguji mental dan semangat kami. Saya yang berjalan di depan hanya mengandalkan panduan alami. Jejak-jejak yang ditinggalkan pendaki sebelumnya hanya terlihat samar, terselimuti salju yang turun.


Gran Paradiso Peak
Kami tidak menyadarinya hingga saat-saat terakhir sebelum mendekati puncak, karena pandangan terbatas. Sekali angin berhembus kencang menyibak kabut tebal. Sekejab tapi cukup lumayan, bisa menegaskan posisi kami. Dan punggunan puncak terlihat jelas. Wow! Tegak menjulang!  Patung Maria yang menjadi pertanda terlihat di puncak Madonna.

Dengan bantuan tali pengaman, kami menapak-memanjat tangga batuan curam. Lalu bergeser melipir di gigir tipis puncak ke arah patung tersebut. Puncak Gran Paradiso setinggi 4061 metr dpl itupun bisa kami sambangi. Secara pribadi kami senang dengan keberhasilan pendakian gunung tertinggi di Italy ini. Namun saat menapak turun ke arah timur setelah mengibarkan sang Saka Merah Putih, kami tahu bahwa ada gunung yang lebih tinggi untuk didaki. Mont Blanc, gunung tertinggi di Eropa Barat dan kami akan mencobanya beberapa hari lagi.

Pendakian Mont Blanc,

              Beberapa hari kemudian kami bertiga telah bergabung dengan tim Vanaprastha, yang datang menyusul dari Jakarta. Dan tim berkumpul di sebuah rumah di kawasan Argentierre, 8  kilometer dari Chamonix, France. Tim pendaki terdiri sepuluh orang termasuk dua orang crew tv swasta. Yaitu: Echol, Iin, Obet, Aristi, Kharis, Eko, Paimo, Tantyo, Tejo dan Zaenal. Dalam pendakian nanti, kami akan dipandu oleh lima orang pemandu internasional berlisensi. Mereka adalah Wolfgang (Austria), Robert (Irlandia), Paolo (Spain), Wrost (Austria), Nicole (Greece). Setelah mendapatkan peralatan pendakian dari tempat penyewaan (seperti sit harness, ice axe, crampons, helm, boots), kami memulai kegiatan.

Proses pendakian melalui beberapa tahapan. Tahap pertama, pada hari Sabtu, 10 September 2011 kami semua berlatih mendaki/memanjat Petite Aiguille Verte +3512 meter dpl. Di atasnya Aiguille des Grands Montets, masih di kawasan Argentierre. Tim dibagi menjadi lima kelompok sesuai jumlah pemandu. Setiap pemandu dua pendaki. Dan saya bersama Tantyo Bangun dipandu oleh Nicole dari Yunani.

Petite Aiguille Verte
Tidak seperti yang lain, kami berdua dianggap sudah bisa oleh Nicole. Kami tidak lagi diajari bagaimana teknik dasar berjalan dan self rescue di atas salju jika terjadi kecelakaan. Masalahnya, sewaktu selesai mengenakan perangkat pendakian dia bertanya kepada kami. Apakah kami berdua punya pengalaman mendaki gunung es/salju sebelumnya?

Kami kelompok terakhir yang bergerak, menyusul teman-teman lain yang terlebih dulu berjalan. Kami bertiga saling terikat dengan tali, masing-masing berjarak tak lebih dari 2.5 meter. Posisi saya di tengah, antara Nicole di depan dan Tantyo di belakang. Beberapa kali Nicole memberi pengarahan, dan tali harus selalu tegang. Setengah jam kemudian kami bertiga istirahat sejenak di gigir punggungan bukit berbatu, bibir dari Argeniterre Glacier. Lalu berjalan lagi menyilang. Dari situ mulai merayapi dan memanjat dinding batu tanpa melepas crampons.

Akhirnya, kami sampai juga di puncak batuan granit, Petite Aiguille de Verte disusul teman-teman lain beberapa menit kemudian. Tapi ada juga yang tidak sampai dan memutuskan kembali turun saat mulai mendekati bukit berbatu tersebut. Di antaranya ada pula yang mengalami kecelakaan, jatuh dan menarik tubuh rekannya. Bahkan seorang rekan kami, ketika turun dari puncak mengalami cidera pada pergelangan kaki kanannya. Oleh Wolfgang, pemandunya, disuruh meluncur di atas salju bertumpu pada pantatnya. Lalu digendong sampai Aiguille des Grands Montets oleh Wolfgang dan Nicole. Saya selalu mengamati cara kerja mereka yang porfesional dan menjadi sebuah pembelajaran yang sangat berharga.

Tahap kedua, hari yang berbeda! Hari Minggu, 11 September 2011, kami semua dievakuasi dengan mobil menuju stasiun telepheratic (cable car) Chamonix +1030 meter dpl. Lalu dengan cable car kami diangkut ke Aiguille du Midi +3842 meter dpl. Perjalanan yang menegangkan, diayun-ayun dalam cable car dengan sarat penumpang. Terutama saat mulai merambat, mendekati dinding-dinding batunya.

Menara Aiguille du Midi tegak menjulang tinggi, menuding langit biru. Dari balkonnya bisa melihat pemandangan indah lembah Chamonix maupun bentang alam dari pegunungan Alpen. Aiguille du Midi memang tempat tujuan wisata. Tapi bukan buat kami dan para pendaki umumnya. Ada hal lain lebih menarik yang bisa memacu adrenalin. Karena setelah itu, melalui sebuah lorong kecil yang ujungnya penuh lapisan es, dihadapkan langsung medan yang sangat ekstrem.

Aiguille du Midi
Tidak mungkin orang yang tanpa peralatan dan pengalaman berani keluar dari lorong tersebut. Sebuah pintu pagar kecil menjadi pembatas lorong dengan lintasan bersalju. Di mulut lorong, kami semua diharuskan memasang crampons dan tali pengman. terlihat para pendaki lain berjalan perlahan, beriringan meniti sebuah jalan setapak di gigir tipis punggungan bersalju.

Sambil menunggu giliran, saya manfaatkan waktu untuk mengambil foto. Tidak semudah dugaan semula. Nyatanya, saat keluar pintu, hati tiba-tiba berkecamuk tak menentu! Berdoa sejenak dan pasrah! Bagaimana tidak, lintasannya curam dan terjal sekali. Lebarnya, cuma 20 sampai 30 centimeter, diapit jurang menganga di kanan kiri. Rasanya lutut bergetar dan tremor tak terkendali. Tapi saya berusaha untuk bisa tenang dan konsentrasi. Langkah saya kecil-kecil sambil mengawasi langkah kaki Nicole agar tidak terantuk.

Sesudah itu, menuruni tangga salju. Menjadi lebih repot saat harus berpapasan dengan iringan pendaki yang naik. Kami merapat, menunduk dan beringsut di tepi jurang dengan ice axe dihunjamkan dalam-dalam. Ketegangan berakhir dan tawa kami langsung berderai, saat sudah mencapai tempat landai (Col du Midi).

Aiguille du Midi
Setiap pemandu mempunyai cara dan teknik buat menyampaikan pesannya. Tapi kesamaannya adalah penyampaian teori langsung praktek di lapangan. Seperti halnya saat memanjat dinding, menggapai Pointe Lachenal +3613 meter dpl). Bertiga berjalan membelah padang salju (Col du Midi), saat itu Nicole mencoba mengatur kebersamaan ritme berjalan, kecepatan dan lain sebagainya. Sebenarnya untuk mencapai Pointe Lachenal, bisa menggunakan jalur landai di sisi baratnya. Tapi kami memanfaatkan dinding es yang hampir tegak lurus di sebelah utaranya.

Tanpa banyak bicara, dia membuka jalur dengan memasang beberapa ice screw sebagai penambat tali lintasan. Pergerakannya sangat cepat, memanjat dengan menggunakan ice axe serta bertumpu pada ujung-ujung crampons. Saya berusaha mengikuti saja kemauan bahkan ritmenya. Dan saya kebagian yang membuka penambat ice screw tersebut. Jujur saja, berdiri sejajar dengan dinding es dan hanya bertumpu empat ujung crampons yang menancap es bukan hal mudah.

Konsentrasi penuh, karena harus mengatur jarak dan ketegangan tali dengan Tantyo di bawah dan Nicole di atas. Tanpa jeda dilanjutkan merayapi dinding batu untuk bisa menggapai puncak Pointe Lachenal. Alhasil setibanya di puncak Pointe Lachenal, saya megap-megap kehabisan nafas. Berat memang tapi terjawab sudah keraguan saya semalam. Walaupun hanya seorang pesepeda, terbukti saya bisa melakukan mix climbing (rock-ice-snow). Benar-benar saya tidak menyangka bahwa pendakian Mont Blanc benar-benar technical climbing. Terima kasih Tuhan! 

Dari Pointe Lachenal, semua mencoba memanjat dinding dan bukit batu yang mengarah ke Le Cosmique +3613 meter dpl tempat kami menginap sebelum keesokan harinya turun kagi ke Chamonix. Ini merupakan bagian dari tahapan aklimatisasi yang ingin dicapai sebelum melakukan pendakian sesungguhnya. Dan malam itupun para pemandu duduk bersama mengevaluasi kemampuan dari masing-masing tim pendaki Vanaprastha.

Senin, 12 Septermber 2011; tengah hari setelah hujan reda kami semua meningalkan penginapan di Argentierre. Seperti kemarin, kami menuju Aiguille du Midi dengan cable car. Lalu langsung berjalan mengulang kesengsaraan, menuju Refugio Le Cosmique. Menjelang sore, Hut tersebut makin lama makin penuh oleh kedatangan para pendaki. Pendaki yang datang berharap cuaca esok hari akan cerah seperti dalam prakiraan. Kami menghabiskan sore dan malam harinya dengan berbagi pengalaman serta berdiskusi dengan para pemandu kami.

Dalam pada itu, dari luar terdengar deru suara helikopter yang sedang hovering (terbang di tempat) tidak jauh dari hut, tepatnya dekat dinding Aiguille du Midi. Terjadi sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa seorang pemanjat dari Italy! Saat pemanjatan telah usai, dia sedang membereskan peralatan di bawah dinding. Dan jatuh terperosok ke dalam crevasse.

Nicole pun bercerita bahwa beberapa minggu yang lalu, 32 orang pendaki tewas tersapu avalanche (longsoran salju), ketika pendakian baru mulai menuju Mont Blanc du Tacul. Padahal dalam perhitungan, salju dan es masif pada pagi hari. Sebab itu, demi keselamatan bersama, Nicole minta kami berdua menjaga irama berjalan, kecepatan serta kekompakan guna menghasilkan hasil yang optimal.

Ada beberapa rute untuk mencapai puncak Mont Blanc. Dan rute kami tidaklah mudah karena menggunakan jalur traversing. Dari Rufugio Le Cosmique kami melintasi Col du Midi lalu mendaki lereng dan punggungan Mont Blanc du Tacul +4248 meter dpl. Turun ke lembah lagi dan memanjat dinding es guna mencapai punggungan Mont Moudit. Kemudian turun sekali lagi dan menanjak landai dua bukit. Barulah puncak Mont Blanc. Sulitnya tak semudah dituliskan.

Dibutuhkan waktu maksimum 14 jam berjalan kaki dari hut ke puncak dan kembali lagi. Rata-rata pendaki membutuhkan waktu 12 sampai 13 jam. Diperhitungkan akan sampai puncak sekitar pukul 09.00. Lebih dari itu sangat berbahaya sewaktu menuruni dinding es/salju Mont Moudit. Selain fisik, ketabahan dan mental prima juga diperlukan.

Setelah evaluasi, anggota tim lain banyak yang diganti pasangannya sesuai kemampuan. Bahkan beberapa di antara kami sudah diarahkan ke puncak ke-tiga, Mont Blanc du Tacul +4248 meter dpl. Seorang anggota tim pun harus tinggal di hut, karena serangan AMS (altitude mountain sicknes).

Malam itu, saya hanya bisa berdoa dan pasrah. Batuk kering yang selalu mengganggu beberapa hari ini mereda, awal yang baik pikirku dalam hati. Saya berusaha sesantai mungkin, walaupun tidak dipungkiri ada rasa was-was juga dalam hati. Sebagai salah satu summiter yang diharapkan mencapai puncak (walaupun saya hanya seorang pesepeda dan sudah tidak muda lagi dalam usia). Bagaimana pun ada beban tanggung jawab yang diberikan ketua Vanaprastha, bapak Adyaksa Dault.

             Selain itu ada hal lain yang memacu semangat saya. Usia bukan halangan! Bersepeda dan mendaki gunung adalah dua kegiatan yang berbeda. Otot kaki pun yang dipergunakan sangat berbeda. Cukup lama proses persiapan yang saya lakukan untuk kegiatan pendakian ini.

Sepulang melakukan kegiatan Bersepeda Antar Negara dan Antar Benua serta pendakian gunung Jbel Toubkal +4167 meter dpl, di Morocco pada tahun 2010 yang lalu. Saya mengubah pola latihan dan harus memulai semua dari nol lagi. Karena ada masalah ligament pada lutut kanan yang pernah cidera sewaktu berkelana di New Zealand tahun 2007.

Sejak awal tahun 2011, porsi latihan bersepeda dikurangi. Awalnya, selama sebulan lebih saya hanya berjalan kaki secara teratur. Lalu berjalan cepat dan bulan ketiga mulai berani lari dan makin lama makin cepat dalam waktu yang lama (endurance) secara progresif. Bahkan kemudian lari naik turun di tangga seribu PLTD Bengkok – Dago, Bandung. Diselingi dengan latihan beban berat. Bagi yang tidak tahu mungkin dikira sebagai orang tidak waras. Sebabnya, untuk simulasi dan proses aklimatisasi saya harus bangun jam 03.30 pagi berjalan kaki ke arah Bandung Utara yang dingin. Tapi primsipnya, saya harus lebih baik daripada kwalitas latihan rekan-rekan di Jakarta yang didampingi pelatih dengan program yang tertata rapi. Itu saja!

               Menjelang pukul 02.30 waktu setempat, kami semua sudah bangun untuk melakukan persiapan summit attack. Selesai sarapan kami semua bergabung dengan pendaki lain untuk memasang sepatu dan peralatan lain di ruang khusus. Tepat pukul 03.30 kami mulai pergerakan. Suhu udara di luar, minus sepuluh derajat Celcius, angin hanya berhembus pelan. Bulan purnama pun masih bundar, pantulan sinarnya membuat pendar-pendar indah dari butiran salju yang terhampar luas.

Ayunan langkah pertama di atas permukaan salju terasa ringan. Ah, awal yang indah, bathinku mengatakan! Kilatan cahaya senter kepala dari iring-iringan pendaki nampak indah di kegelapan. Banyak pula pendaki dari tim lain sudah berada di lereng curam Mont Blanc du Tacul.

Saat menanjak, terasa berat sekali. Kesunyian pagi itu, terpecahkan oleh suara crampons dan ice axe yang menancap pada permukaan salju. Tali pengaman dari Nicole lebih pendek dari kemarin. Sehingga mau tidak mau saya harus mengikuti setiap langkahnya. Satu langkah satu tarikan nafas!. Akhirnya ritme itu terbentuk dengan sendirinya. Dan mendahului dari anggota tim Vanaprastha lainnya.

Di ufuk timur, langit gelap mulai sirna berganti dengan kemerahan lalu jingga dan sinar keemasan matahari mulai menyeruak. Bersamaan dengan itu, langkah kami terhenti sejenak saat berhadapan dengan dinding tegak Mont Moudit. Tepat di bawah dinding ada crevasse yang menganga lebar. Nicole sebelum mulai memanjat memberi arahan kemana saya harus mengikutinya. Supaya tidak berselisih jalur dengan tim pendaki lain. Para alpinist terlihat sangat cepat dan cekatan. Tidak lagi satu persatu tim naik, dan yang lain menunggu sampai jalur lintasan kosong dan aman. Tidak seperti teori-teori pada buku panduan.

Sewaktu saya memanjat, ada dua orang lain juga naik bersamaan dengan pemandu dan tali pengaman yang berbeda. Namun semuanya bermuara pada satu penambat yang sama, gila! Labih gila lagi saat sudah berada di punggungan Mont Moudit, terlihat pengaman yang digunakan adalah dua buah walking stick yang ditancapkan ke dalam permukaan salju.

Sekarang yang tersisa adalah Nicole, saya dan Tantyo. Disusul kemudian Wrost dan Kharis (22 tahun, anggota tim termuda). Dari punggungan ini sudah terlihat puncak Mont Blanc di kejauhan, ada sebuah bukit lagi di depannya yang harus kami lewati. Pada lembah maupun lereng bukit tersebut, terlihat beberapa pendaki berupa titik-titik yang bergerak pelan. Melihat kenyataan masih jauh, cukup membuat lemas. Tidak! Hati saya berontak! Saya sudah melangkah sejauh ini. Kobarkan semangat! Tanpa terasa adrenalin menjalari seluruh tubuh, menggeliat. Rasa itulah yang sulit dikatakan. Sebuah interaksi langsung antara manusia dengan alam semesta tanpa batas. Saya bilang kepada Kharis, apapun yang terjadi kita harus mencapai puncak. Dia sepakat!

Bersama Kharis K. di Puncak  Mont Blanc
Oleh karena itu, saya sangat marah dan jengkel; saat Nicole dan Wrost memberi ultimatum. Bahwa jika sampai pukul 09.30 belum sampai puncak, maka semua harus turun! Guna menyiasati kaki kiri yang mulai terserang gejala kejang, karena kecepatan yang dikembangkan Nicole. Saya tidak mau jadi beban dan minta bergabung dengan Wrost dan Kharis. Dengan begitu Nicole dan Tantyo bisa leluasa mencapai puncak lebih dulu.
Perhitungan yang tepat. Karena langkah yang melambat, gejala kejang pun hilang. Kami bertiga berjalan perlahan, konstan dan nonstop. Alhasil sampailah kami dipuncak Mont Blanc +4810 meter dpl, pada pukul 09.48; beberapa menit setelah Nicole dan Tantyo mendahuluinya. Lega rasanya berdiri pada titik paling tinggi di Eropa Barat ini sambil mengibarkan Merah Putih. Hanya sepuluh menit kami berada di puncak. Lalu turun lagi.

Selamat ulang tahun anakku, .......Tiamo!

Bersepeda menuju Belanda,
              Saya berpisah dengan seluruh tim Vanaprastha di kota Anemasse dekat perbatasan Prancis – Swiss. Mereka akan kembali ke tanah air lebih dulu, yang sebelumnya ada acara presentasi di KBRI Paris, Prancis dan KBRI Den Haag, Belanda. Sedangkan Tantyo Bangun kembali lagi ke Brussles, Belgia. Sendirian saya akan bersepeda menuju Amsterdam, melintas France - Switzerland  - Belgium - the Netherlands.

              Pagi  itu cuaca sangat cerah! Penuh suka cita aku bersepeda memasuki kota Geneve, Switzerland. Merasakan sebuah kenyamanan bersepeda yang luar biasa karena jalur sepeda sudah ada. Lintasan datar mengitari danau dengan pemandangan yang indah mempesona. Sinar matahari pagi menghangatkan suasana hati.

Sewaktu akan memasuki perbatasan Switzerland - France, saya harus menyusuri jalan mendaki bukit yang berkelok-kelok pada lerengnya. Maklumlah masih di kawasan Pegunungan Alpen. Menggenjot di tanjakan dengan sepeda sarat beban, menjadi ujian tersendiri. Otot tangan meregang karena harus selalu bertumpu pada stang sepeda. Pundak pegal dan hal inilah yang juga membuat nyeri otot punggung. Tidak mudah bersepeda lagi setelah mendaki dua buah gunung, dengan tingkat kesulitan di atas rata-rata. Terlebih setelah sebelumnya menggendong ransel di punggung, sekarang beban berada di boncengan sepeda.

Malamnya, saya berkemah di sebuah camping site ‘Les Cheseaux’ - St. Cergue, Switzerland. Lahannya tidak begitu luas tapi sangat bersih dan rapi. Ongkos nya semalam sekitar 20 euro dan menjadi tempat berkemah yang termahal selama perjalanan kali ini. 

              Semalaman hujan turun hingga paginya. Besokmya, Sabtu, 17 September 2011 saya melanjutkan perjalanan di bawah hujan gerimis dengan suhu udara tidak lebih dari 9 derajat Celcius. Begitu pula empat hari  sesudahnya, setiap pagi saya selalu bersepeda di bawah suhu udara rendah. Dengan cuaca yang kurang bersahabat dan berangin. Matahari lebih sering tertutup awan, sehingga cukup menguras tenaga. Beberapa camping site sudah banyak yang tutup pada akhir musim panas ini. Bahkan sepertinya sudah memasuki musim gugur. Dan makin ke utara cuaca kurang pas buat bersepeda jarak jauh.

Rute perjalanan saya adalah: Anemasse – Geneve – Champagnole – Dole – Dijon – Chatillon s/ Seine – Troyes – Brussels – Machelen - Rotterdam – Den Haag.

Meninggalkan Alpen, banyak jalan mendatar. Terutama antara Brussels, Belgium – Den Haag, the Netherlands. Sangat dimanjakan, semua fasilitas bersepeda ada. Jalur sepeda berada sejajar dengan jalan nasional (National Highway #1). Tidak sekali pun kendaraan bermotor berani melintas atau menggunakan sebagian atau sekedar parkir pada lintasan sepeda. Rambu-rambu (sign system) untuk pesepeda sangat jelas, dengan bahasa gambar (pictogram) yang mudah dipahami. Para pesepeda pun saat patuh pada peraturan lalu lilntas yang ada. Mereka selalu berhenti saat lampu merah khusus sepeda menyala. Walaupun kondisi jalan sepi mereka tidak asal nyelonong. Sebuah pembelajaran yang patut ditiru dan dikembangkan di tanah airku!

menuju Den Haag
Terasa sekali rasa kebersamaan sesama pesepeda. Mereka saling tolong menolong. Seperti ketika saya ragu-ragu untuk melewati sebuah lintasan di kota Rotterdam, Belanda. Tidak segan-segan seseorang menghampiri dan membantu. Memberitahu jalur sepeda yang benar. Bahkan mengantarkan sampai tujuan yang ingin saya capai, kendatipun berjarak lebih dari 10 kilometer.

Memasuki kota Den Haag, Belanda tanpa terasa. Karena banyak sekali pesepeda lalu lalang melintas di jalur sepeda. Sebelum mengakhiri perjalanan ini saya mampir di sebuah warung untuk menikmati poffertjes dan secangkir kopi. Sambil kontemplasi terhadap apa yang telah saya lakukan. Sebuah kegiatan yang tidak sekedar mengandalkan kekuatan dengkul. Akan menjadi kenangan indah dalam mengisi serta merayakan kehidupan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa! (celebrate to my life!). Dan semoga bisa menjadi bahan inspirasi bagi kaum muda. Terima kasih Tuhan!..........

Salam, PAIMO
Bandung, Desember 2011
Disarikan dari catatan perjalanan bertajuk: TOUR du MONT BLANC 2011
Petualangan yang dilakukan dari tanggal:
23 Agustus 2011 sampai dengan 8 Oktober 2011. Dilakukan bersama 
dengan tim dari Vanaprastha, Jakarta


1 komentar:

  1. Perjalanan yg menginspirasi tapi pendakian gunungnya mendebarkan dan terkesan lebih risky dibanding bersepeda sepanjang Amerika Latin yah!

    BalasHapus