BERSEPEDA MEMBELAH BENUA LALAT
OLEH : PAIMO
(dimuat dalam Majalah MATRA, Agustus 1995)
Udara dingin malam hari di kota Perth, menerpa wajah saya saat keluar
dari airport. Setelah mengikuti penerbangan dengan pesawat Garuda Indonesia selama 3 jam 40 menit dari Jakarta .
Pada malam itu, saya dijemput oleh Munandar Saleh dan Munari Saleh yang
selanjutnya memberikan tumpangan menginap selama beberapa hari sebelum saya
memulai perjalanan yang bertajuk: ‘TRANS CONTINENTAL, PERTH – SYDNEY ON MY BIKE 1995’.
Dalam perencanaan,
perjalanan pannjang serta melelahkan ini saya bagi menjadi empat tahapan. Tahap
pertama, sampai 700 kilomater tahap konsolidasi tubuh, guna menyelaraskan
keseimbangan bersepeda dalam membawa beban berat, menyesuaikan tubuh dengan
suhu udara dan mengatur kebutuhan air. Tahap kedua, usaha untuk melintasi
Nullabor Plain, bagian selatan Great Victoria Desert yang terkenal. Tahap ketiga, harus mencapai Adelaide dan tahap
keempat, Adelaide – Sydney . Dengan demikian, saya tidak terpengaruh
dengan jarak Perth – Sydney yang begitu jauh (4360 Km). Saya berusaha
menyelesaikan tahapan demi tahapan sesuai kemampuan. Rute yang saya lalui:
Perth – Coolgardie – Norseman – Balladonia – Ceduna – Kimba – Port Agusta –
Adelaide – Murray Bridge – Tailem Bend – Ouyen – Balranald – Gundagai – Yass -
Goulburn – Mittagong – Waterfall – Sydney. Mengalami empat kali perubahan
waktu.
Perjalanan
bersepeda ini dimulai pada hari Senin, tanggal 13 Maret 1995. Mengalami sedikit
kesulitan sewaktu akan meninggalkan kota Perth, beberapa kali terjebak jalur
sepeda yang menuju atau berkeliling taman kota . Dan harus berkonsentrasi penuh saat
bersepeda pada bahu jalur Highway yang padat lalu lintas kendaraan.
Lalu, menyusuri lintasan naik turun perbukitan di daerah Mundaring.
Mata dan kulit terasa perih tersengat teriknya matahari. Lambat-lambat saya
mengayuh, mengatur keseimbangan sepedas yang diberi beban perlengkapan seberat
50 kilogram. Hari pertama terasa sangat berat, hanya mampu mengayuh sejauh
95,64 Km. Pada saat hari sudah gelap dan kaki terserang gejala kejang. Tenda
didirikan di bawah pepohonan, agak jauh di luar jalan. Namun sepanjang malam
mata tidak bisa dipejamkakn karena bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang.
Keesokan harinya, saat matahari
terbit saya mulai mengemasi perlengkapan. Sesudah sarapan muesli dan corn flake,
sepeda saya genjot lagi sambil menahan rasa kantuk. Sengaja saya berangkat pagi
untuk mengukur ketahanan fisik terhadap perubahan suhu udara dan kebutuhan air
yang dikonsumsi tubuh.
Setelah tiga jam bersepeda, berhenti di Caravan Park di luar kota
Northam, untuk minta air minum dan mengguyur tubuh di pancuran. Ternyata tak
sampai seperempat jam, kaos dan badan yang basah sudah kering kembali.
Berikutnya, dalam sehari tubuh saya guyur air di pancuran lebih dari tiga kali
dan menghabiskan air minum sebanyak lebioh dari lima bidon (botol air minum) @1.5 liter, pada
suhu udara yang mencapai 37 deajat Celcius.
Sesudah istirahat pada kilometer 42, ban belakang sepeda kempis kaena
tertancap duri., Secepatnya saya menepi untuk mengganti ban baru, tapi beberapa
menit kemudian kempis lagi. Sangat menjengkelkan. (Nantinya, sampai akhir
perjalanan, saya mengalami bocor ban 11 kali, yang paling sering pada lintasan
Adelaide – Sydney, 9 kali).
Saya pikir tak mungkin bisa mencapai kota Cunderdin yang berjarak 45 kilometer lagi.
Lalu saya rencanakan bermalam di sekitar kota Mackering yang berjarak 16 kilometer.
Ternyata meleset juga dugaan saya. Karena mackering yang dikenal dengan
julukan ‘ kota gempa’, hanya terdiri
dari beberapa bangunan rumah, sepi dan gersang. Yang ramai malah di Petrol
Station, banyak truk-truk besar parker, sopirnya istirahat dan makan di
restoran.
Sebelum menyantap nasi goreng yang saya beli, mandi dulu di ‘shower’ dengan membayar $A 2 (1$A=Rp.
1675,-). Kaget juga mencicipi nasi goreng buatan Australia yang bercampur daging biri-biri. Sisa
makanan saya simpan buat makan malam di tenda, yang saya dirikan dekat pagar
peternakan. Seperti malam sebelumnya, gelisah terus sepanjang malam karena
kulit yang terbakar dan mata perih. Untuk menghilangkan rasa sembab, saya tidur
sambil mengkompres wajah. Hari kedua, lima jam bersepeda sejauh 69,76
kilometer.
Hari berikutnya,
saya genjot sepeda di atas jalan yang sedang diperbaiki sepanjang 18 Km. Resiko
celaka lebih besar sebab hanya ada satu jalur sempit berupa cekungan tanah
mirip selokan yang pas untuk dilalui truk besar. Cukup riskan bila lewat sebuah
road train, takut tersenggol
gandengannya.
Debu-debu beterbangan menempel tubuh yang sebelumnya dibalur salep
pelindung sengatan matahari (sun block cream). Dan penutup mulut yang selalu
saya basahi air telah berubah warna pula. Lepas dari jalanan tanah bersambung
dengan jalanan rough surface,
berlapis kerikil sejauh beberapa puluh kilometer. Sepeda tak bisa melaju
kencang dan harus hati-hati mengatur keseimbangan. Hal ini sangat berbahaya
karena kerikil semburat tak tentu arah jika lewat kendaraan berkecapatan
tinggi.
Malam harinya, tenda saya dirikan di
halaman peternakan yang kosong. Sambil mendengarkan radio saya menulis catatan
harian di bawah sinar bulan purnama. Saat bulan akan muncul, langit berwarna
merah. Sungguh suatu keindahan alam yang sulit dikatakan. Bulan tampak besar
dan bundar, sinarnya menerangi seluruh kawasan.
Tengah malam, dikejutkan angin ribut yang tiba-tiba berhembus kencang
mengguncang-guncangkan tenda. Pelapis atap tenda lepas, tercerabut dari
pasak-pasaknya. Ya ampun, suhu udara di luar tenda begitu dingin dan membuat
saya menggigil. Melihat gejala tidak menyenangkan, tenda saya pindahkan ke
samping semak-semak supaya terlindung dari hembusan angin.
ROAD TRAIN,
Tujuan berikutnya
Kantor Pos kota Merredin, untuk membeli perangko dan beberapa kartu pos. Jarak
antara dua kantor pos sering sampai ratusan kilometer. Dan di kios fast food, saya membeli seliter susu dan
burger yang akhirnya merupakan menu makan siang sehari-hari selama perjalanan.
Di Burracopin (sesudah Merredin), saya melepaskan lelah di Cantanary Park , taman kota . Sementara itu, di ujung taman saya
melihat orang-orang mengangkut sebuah rumah dengan sebuah truk trailer yang
panjang. Tentu saja lebarnya hampir memenuhi lebar jalan.
Pada mulanya saya tercengang melihatnya, tetapi pada hari-hari
berikutnya menjadi pemandangan yang biasa, ada yang mengangkut perahu layer,
pipa-pia besar,, gulungan kabel besar, container dan puluhan mobil. Sehingga
setiap kendaraan besar menempelkan label seperti road train, train truck, over weight, over size, over load dan long vehicle yang kadang kala terdiri
dari tiga gerbong container.
Kalau bertemu atau berpapasan dengan kendaraan seperti di atas, hati
menjadi miris. Bisa dibayangkan angin buritan yang ditimbulkan. Jika lewat sebuah
road train yang panjangnya sampai 30 meter. Lebih sering mereka bergerak
beriringan rapat. Terutama di daerah yang rawan. Untungnya para sopir selalu
berkomunikasi dengan radio. Walaupun melaju kencang, mereka bisa mengetahui ada
pengendara sepeda di depannya.
Susahnya bagi saya,
adalah bersepeda lurus diluar garis marka jalan. Tepatnya pada bahu jalan
dengan lebar 10 sampai 50 Cm. Hembusan
angin turbulensi dari truk pertama selalu membuat oleng. Kalau kurang
konsentrasi hembusan dari truk kedua menambah percepatan laju sepeda serta hilangnya keseimbangan. Truk ketiga,
anginnya mendorong sepeda keluar bahu jalan yang berkerikil. Nah, jika tidak
bisa mengendalikan arah sepeda pasti terpuruk di sisi jalan. Saya alami hal ini
sampai empat kali. Kalau sudah demikian, truk pertama dari arah depan akan
memperlambat kecepatan dan memberikan tanda apakah saya baik-baik saja.
Pada dasarnya, para sopir truk tersebut sangat menghargai pengendara
lain terutama pesepeda (asala tidaknyelonong masuk jalurnya). Jarang sekali
mereka membunyikan klakson yang memekakkan telinga atau mengagetkan. Walaupun
seeding sepi, mereka melaju pada lintasannya dan menjaga jarak aman dengan
pengendara sepeda.
Di saat bersepeda, saya tidak berani sekalipun mendengarkan musik dari
walkman. Apalagi kalau angin bertiup dari arah depan, karena suara deru
kendaraan dari arah belakang tidak terdengar. Terutama sedan yang berkecapatan
tinggi. Seringkali tanpa diduga sedan sudah berada di samping saya.
Hari ke-lima,
Jum’at, 17 Maret 1995, saya dibangunkan suara angina yang menerpa atap tenda.
Pagi itu cuaca cerah, sambil menyiapkan sarapan, saya seorang diri
berteriak-teriak gembira menyambut hari ulang tahun ke – 37.
Menyadari perjalanan bersepeda yang saya lakukan dalam dua bulan ini
sangat berat dan membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Maka saya selalu
berusaha membuat suasana hati tetap senang dan gembira untuk menciptakan
semangat dan rasa optimisme. Memperhatikan gizi serta kalori dari makanan yang
dikonsumsi setiap hari untuk menjaga kesehatan dan stamina tubuh.
Jadwal kehidupan
dalam perjalanan mulai terbentuk, setiap hari saya bangun pagi. Buang air
besar, memasak air dan makanan untuk sarapan lalu berkemas-kemas dan berangkat
antara pukul 07.30 – pukul 08.00. Siang hari istirahat datu jam lalu
melanjutkan perjalanan sampai pukul 16.30. Dengan jarak tempuh sekitar 100
kilometer perhari.
Lama kelamaan tubuh bisa
menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang panas dan gersang. Kecepatan
sepeda sudah stabil, sehingga mampu meramalkan tempat bermalam yang akan
dicapai. Justru yang sangat mengganggu adalah banyaknya lalat yang mengikuti
selama perjalanan dan selalu berlindung dari arah angin berhembus. Anehnya,
tubuh lalat tersebut berisi darah. Bahkan pada suatu daerah sering dihinggapi horse fly, lalat besar. Bekas gigitannya
gatal-gatal dan membengkak. Sampai-sampai saya menyebut kegiatan ini sebagai
Melintasi Benua Lalat dengan Sepeda.
Sampah Botol
Beserakan,
Jauh sebelum memasuki kota kecil
Southern Cross, saya diberhentikan oelh seorang Polisi yang sedang berpatroli di Great Eastern Highway tersebut. Polisi memberi peringatan agar
selalu memakai helm, bila melanggar akan didenda sebesar $A.40. Beralasan
sebagai orang asing, Polisi tersebut bisa memakluminya. Bahkan dia banyak
memberikan informasi mengenai jadwal lewatnya truk-truk container dari maupun
yang menuju South
Australia ,
tentang keamanan, cuaca dan tempat pengambilan air.
Setibanya di Southern
Cross, saya istirahat, mandi dan membeli makan siang di sebuah Petrol Station.
Sebelumnya mampir di Kantor Polisi untuk melaporkan diri, demi menjaga
keselamatan dalam melakukan kegiatan. Hal ini saya lakukan setiap melewati kota
yang ada Kantor Polisi, atas saran Douglas J. Barber (Wakil Kapolda-nya West Australia ), sebelum meninggalkan Perth tempo hari. Beliau juga telah menghubungi
seluruh Pos Polisi yang terdapat pada jalur yang akan saya lalui, sehingga
hampir semua Polisi di West Australia mengetahui akan adanya seorang pengendara
sepeda dari Indonesia melintasi daerahnya.
Selepas Southern
Cross, lalu lintas kendaraan mulai jarang. Lintasan mulai melambung naik turun
perbukitan dan pada puncak-puncak bukit terdapat antena telekomunikasi. Setiap
bukit dari titik terendah, menanjak dan turun hingga titik terendah lagi,
kurang lebih 25 kilometer. Sejak dari Perth, jalan raya selalu sejajar dengan
rel kereta api dan pipa saluran air minum, yang akan berakhir di kota Norseman. Pada beberapa tempat dari pipa
tersebut, dibuatkan pipa pancuran untuk mobil-mobil tangki air dari pedalaman.
Dari pancuran ini pula saya guyur tubuh setiap merasakan kegerahan yang
memuncak.
Peternakan sudah
tidak ada lagi, sebagai gantinya di kanan kiri sepanjang jalan terdapat semak
belukar. Sampah botol-botol minuman dari segala merk berserakan sampai kota Adelaide . Agaknya, merupakan pemandangan yang
kurang sedap!
Keesokan harinya, langit yang
biasanya biru bersih, tiba-tiba berawan tebal dan suhu udara pada pagi
hari sangat rendah, saya takut kalau
akan datang badai. Oleh karena itu seluruh perbekalan saya kemas dalam
kantong-kantong plastik sebelum dimasukkan ke dalam panniers (tas sepeda).
Suasana lingkungan
juga sudah berubah, semak belukar berganti dengan hutan gumtree. Di tepi jalan
banyak bangkai kanguru dan emu, menebarkan bau yang memualkan. Ada juga satu dua yang baru tertabrak
kendaaran semalam. Emu binatang yang mirip burung kasuari tapi berwarna
kecoklatan).
Siang hari istirahat
di rest area untuk masak makanan
siang. Namun tak menjumpai kran air dari tempat penampungan air, padahal
cadangan air tinggal sebotol lagi. Bila saya dapatkan air dari tangki tadah air
hujan, terlebih dulu saya larutkan beberapa tablet pembersih kuman. Sebaliknya
jika menadah dari saluran air ledeng, air sudah bisa langsung diminum tanpa
perlu direbus lagi.
Biasanya ada tendon
air tadah hujan di setiap rest area.
Sedangkan jarak antara rest area
tergantung dengan jarak antara dua Petrol Station. Sudah dua hari saya tidak
menjumpai Petrol Station, berarti sudah dua hari pula saya tidak bicara dengan
orang lain. Biasanya yang menjadi hiburan di jalan, adalah sapaan, senyman,
maupun acungan jempol dari pengendara mobil yang lewat.
Masuk Billaboling, senang sekali
karena berharap dapat makanan yang layak. Namun alangkah kecewanya ketika
memasuki satu-satunuya bangunan yang ada. Ternyata sebuah bar dengan
botol-botol minuman keras serta meja-meja biliar. Di dalam ruangan ada beberaoa
orang gemuk-gemuk tinggi besar dan yan guta-tua memakai anting, bertato seperti
di film-film western. Saya celingukan dan bingung sekali, mau apa? Akhirnya
hanya beli hot dog, lalu keluar lagi. Jikalau makan di dalam ruangan petrol
station, umumnya akan dikenakan beaya tambahan.
Malam harinya,
terdengar suara binatang bersahut-sahutan. Bintang bertaburan di langit dan
suhu udara mencapai 12 derajat Celcius. Bagian selangkangan terasa risih dan
kapalan setelah mengayuh sepeda sejauh 678,4 kilometer. Permukaan kulit
menghitam dan kasar menampakkan gejala akan mengelupas. Tidur malam ini sangat
nyenyak, walaupun hanya berselimutkan fly
sheet.
Danau air asin,
Coolgardie sepi sekali, dulunya kota pertambangan emas yang ramai. Oleh karena
itu, banyak situs bersejarah yang diberi papan bertuliskan keterangan dan foto
masa lalu. Untuk keperluan pariwisata. Beberapa bangunan dengan arsitektur masa
lalu masih dipertahankan. Sehingga bisa memberi gambaran suasana masa kayanya
tempo dulu.
Setelah mengisi air
dan membeli bekal makanan di Petrol Station, saya melanjutkan perjalanan menuju
arah Norseman, tidak ke kota
Kalgoorlie yang lebih ramai. Great Eastern Highway telah berakhir dan selannjutnya saya
menyusuri Coolgardie – Esparance Highway . Lintasan melewati hutan homogin dan sepi sekali, kendaraan hanya
lewat satu dua dengan interval waktu yang sangat lama. Kicauan burung
bersahutan cukup menghibur rasa kesendirian. Jalanan mulai naik turun bukit
curam, sehingga terasa cukup melelahkan. Kalau sedang menanjak badan basah
kuyup berkeringat, sebaliknya mennjadi kedinginan bila sedang menuruni bukit.
Rasa lelah terobati begitu
melihat adanya danau, dari celah pepohonan. Saya lalu berkeinginan melepaskan
penat di tepi danau tersebut. Setelah seharian bersepeda selama 6 jam 9 menit
dengan menempuh jarak 107,50 Km. Seperti tertera pada peta perjalanan yang saya
gunakan, jalan raya makin lama makin mendekati Danau Lefroy.
Saya bangun tenda di
balik bebatuan agar terlindung dari hembusan angin. Untuk mengambil air danau,
saya harus berjalan melintasi pasir pantai yang luas. Airnya asin, harapan
untuk mendapatkan tambahan air tawar sirna. Padahal sisa air tinggal sebotol lagi. Begitulah
salah satu masalah yang harus saya hadapi. Saat membutuhkan air, setetespun tak
dijumpai dan ironisnya ketika ada air melimpah juga tidak dapat dimanfaatkan !
Sore hari hingga
menjelang malam, dari dalam tenda saya menikmati pemandangan yang indah.
Beberapa ekor burung belibis, bemain-main di danau sambil bernyanyi-nyanyi
gembira. Langit memerah lama-kelamaan
bulan muncul, walaupun sudah tidak bulat, sinarnya mampu menerangi
sebagian danau air asin tersebut. Pantulan sinarnya kuning kemilauan. Angin
menderu-deru memecah keheningan malam. Sendirian di belantara Australia tak
terasa, suasana hati telah menyatu dengan indahnya alam.
Oleh karena semalaman
kekurangan air, ketika menemukan sebuah kran air di Widgimooltha, saya reguk
air sepuas-puasnya. Membeli burger di
Petrol Station,lalu mengayuh sekencang-kencangnya menuju Norseman yang berjarak
98 Km. Hal ini saya lakukan untuk mengejar jam kerja Kantor Pos, General Store
dan Kantor Polisi.
Sebab selepas
Norseman, saya mulai menelusuri bagian selatan Great Victoria Desert dengan jarak kurang lebih 1300 Km.
melewati daerah tandus dan gersang; terutama dari Balladonia – Caiguna –
Cocklebiddy – Madura – Mundrabilla – Eucla – Nullarbor – Yalata – Nindroo –
Penong. Dan baru menjumpai kota
besar di Ceduna.
Norseman, sebuah kota di
persimpangan jalan ke arah Adelaide dan menuju Esparance, arah pantai selatan. Sehingga
di kota tersebut, mobil-mobil caravan dan bisa jarak jauh berhenti,
penumpangnya turun untuk istirahat dan makan. Sebelum dan sesudah Norseman
banyak dijumpai danau-danau air asin ataupun rawa-rawa. Jalan raya dibangun di
atas pematang. Cukup sulit bagi saya untuk berteduh maupun menyelamatkan diri
jika terjadi papasan antara dua buah road
train. Apalagi banyak rangkaian truk-truk tambang dehngan tiga gerbong,
hilir mudik. Karena sejak dari Coogardie sampai Balladonia mereupakan daerah
pertambangan mineral.
Dari Norseman, West
Australia sampai Adelaide, South Australia saya bersepeda pada lintasan Eyre Highway . Hanya sesekali lewat iring-iringan
kendaraan. Di kejauhan tampak pagar kawat memanjang, mengapit jalan raya.
Supaya binatang liar tidak menyeberang jalan seenaknya. Kenyataannya, masih
banyak binatang yang tertabrak kendaraan. Buktinya bangkai-bangkai emu,
kanguru, dingo, kelilnci ataupun binantang lainnya tergeletak di sisi jalan.
Semakin kearah timur pepohonan semakin jarang, sampai akhirnya
benar-benar tidak ada pohon lagi. Tinggal perdu, semak belukar dan rerumputan.
Bagaikan sedang berdiri di atas beja bundar, Eyre Highway adalah garis tengahnya. Dan sejauh-jauhnya
mata memandang hanya rerumputan hijau yang terlihat berbatas dengan kaki
cakrawala langit biru.
Selepas Balladonia,
ada jalan lurus terpanjang di Australia sejauh 90 mil atau 146,6 kilometer.
Rata dan tanpa belak-belok dan tanpa naik-turun. Angin berhembus kencang dari
arah depan menahan laju sepeda. Kecepatan hanya 5 – 15 Km/jam.
Suasana alamnya mengingatkan saya dengan suasana Gurun Gobi, sewaktu
melintasinya dengan sepeda dua tahun yang lalu. Perbedaan suhu udara antara
siang dan malam hari sangat ekstrem. Padahal di Gurun Gobi, China saya bersepeda pada ketinggian di atas
3000 meter di atas permukaan air laut. Sedangkan di Gurun Great Victoria, Australia tak lebih dari 350 meter dpl.
Sepanjang hari sinar matahari membakar kulit wajah, tangan dan kaki.
Mata perih dan nanar bila terlampau sering memandang jauh ke depan. Air menjadi
masalah utama, tapi tidak jarang pengendara mobil caravan berbaik hati membagi
persedaan airnya sewaktu sama-sama berhenti di rest area.
Memang, ada rasa bosan, capai, jenuh; terutama bila kondisi tubuh pada
titik terendah dalam bioritmik. Kalau sudah demikian, saya berusaha semaksimal
mungkin untuk melawannya. Saya tekankan, bersikukuh dan berkeras hati untuk
mampu menembus Bagian Selatan Great Victoria ini. Membuat suasana hati tetap senang,
membangkitkan semangat. Menjaga keseimbangan kondisi tubuh, jiwa dan mental.
Pokoknya, saya tidak mau gagal dalam perjalanan ini hanya karena masalah
sepele.
Mengingat kegiatan ini telah saya persiapkan sejak pulang dari
bersepeda di Tibetan Plateau, China (Dataran Tinggi Tibet ) pada tahun 1993 yang lalu.
Perencanaan saya buat serinci mungkin, mengolah data dari yang
terkumpul. Latihan fisik, lari dan bersepeda. Saya lakukan seminggu tiga kali
secara progresif. Dengan berbagai pertimbangan dan berdasarkan pengalaman-pengalaman
sebelumnya. Akhirnya saya putuskan untuk bersepeda sendirian. Tentu resiko dan
tantangan menjadi lebih besar. Dan pasrah, semuanya saya serahkan pada-Nya.
Bertemu sesama pesepeda,
Madura saya capai
pada hari Minggu, 26 Maret 1995; setelah dua minggu lamanya mengayuh sepeda
sejauh 1331,9 Km. Sebelumnya harus melalui Madura Pass, yaitu lintasan naik
turun curam memotong bukit. Bukit ini memanjang sejajar dengan garis pantai
selatan serta jalan raya sampai Eucla, kurang lebih 220 Km. Dalam jarak sejauh
itu pula, pondasi jalan raya terdiri atas batuan fosil kerang laut.
Sewaktu akan memasuki Eucla, Border Village perbatasan antara West
Australia dengan South Australia . Jalan kembali menanjak melintasi punggungan bukit tadi. Dan
pada lintasan ini, secara berturut-turut saya berpapasan dengan enam orang
pengendara sepeda jarak jauh asal Jepang. Lucunya, walaupun berbeda kelompok,
tujuannya sama, Perth . Mereka ada yang berangkat dari kota
Melbourne, Canberra, Adelaide .
Dari Jepang langsung datang ke Sydney, membeli sepeda serta
perlengkapannya di kota
itu. Selanjutnya dengan menumpang bis menuju kota tertentu sebagai titik awal
pemberangkatan. Mereka sengaja menghindari Sydney sebagai titik awal bersepeda. Karena
lintasan yang berbukit-bukit di sekelilingnya.
Berbeda jauh kwalitas perlengkapan sepeda saya dengan milik mereka.
Mulai helm sampai sepatunya dari merk terkenal. Sedangkan saya sebelum
berangkat harus membuat boncengan untuk menggantungkan penniers (tas sepeda) di bengkel las. Saya tidak berkecil hati
karenanya, justru ada perasaan bangga. Terbukti dengan peralatan sederhana saya
mampu melintasi Benua Australia .
Pada ruas jalan Yalata – Nundroo, sudahbanyak pepohonan. Banyak
terlihat kincir air di tengah areal peternakan yang sangat luas. Daerahnya
berbukit-bukit, angin bertiup kencang dan suhu udara berubah-ubah secara
drastis. Kalau biasanya pada siang hari suhu udara kisaran 28-37 derajat
Celcius dan malam hari antara 9-16 derajat Celcius. Memasuki kawasan South
Australia, siang hari 12-19 derajat Celcius dan malam hari 5-11 derajat
Celcius.
Sehingga hampir setiap hari, mulai pukul 04.00 dinihari saya tidak bisa
tidur karena kedinginan. Untuk menangkal rasa dingin, sewaktu tidur ujung kaki
dibungkus kantong plastic. Pakaian berangkap jaket dan jas hujan lalu
berselimutkan fly sheet. Hal ini
berlangsung sampai kota Adelaide, yang berjarak 986 Km lagi dari Nundroo.
Setelah Adelaide, bisa tidur sampai pagi karena sudah membeli sleeping bag.
Selama perjalanan,
setiap malam untuk tidur saya selalu membangun tenda di sebarang tempat. Yang
sekiranya aman, nyaman dan sering disebut sebagai bush camp. Saya sengaja menghindari Caracan Park atau Camping Site. Karena harus membayar lebih kurang $A.12. Fasilitas
yang didapat selain izin mendirikan tenda, hanya shower untuk mandi. Karena penggunaan mesin cuci pun harus bayar.
Saya pikir lebih baik uang tersebut untuk membeli makanan dan
buah-buahan buat menjaga kondisi tubuh. Pernah juga saya mendirikan tenda di
dalam ruangan sebuah rumah kosong, pos telekomunikasi yang sudah rusak, ataupun
di dalam garasi rumah penduduk; sekedar menghindar dari udara dingin.
Cuaca yang tidak menentu dan jarangnya tempat untuk mandi, membuat
badan meriang setiap habis mandi. Oleh sebab itu dalam lintasan Perth-Adelaide
saya hanya mandi empat kali dan sekali pada lintasan Adelaide-Sydney. Tetapi
kebersihan tubuh tetap terjaga, yakni dengan lap basah atau bedak.
Hujan angin,
Setelah menempuh
jarak 2562,9 Km dari kota
Perth , saya tiba di Port Augusta pada hari ke 26, Jum’at, tanggal 7 April 1995 . Kota Adelaide kurang 308 Km lagi dari Port Augusta dan diperkirakan bisa ditempuh dalam 2-3
hari. Pada kenyataannya lebih, sebab saya bersepeda melawan hujan lebat serta
angin kencang dari arah Teluk St. Vincent dan
Teluk Spencer.
Dalam satu hari, terjadi hujan angin lebih dari dua puluh kali,
sehingga dalam empat hari bersepeda dari Port Augusta, tidak bisa lagi menjemur
kaos-kaos yang basah. Persediaan kaos habis, sehingga ketika memasuki Adelaide
yang kebetulan cuacanya cerah, saya masih memakai pakaian basah. Bisa di
bayangkan, saat itu saya tersasar ke pusat pertokoan yang ramai pengunjung.
Salah alamat ini disebabkan, setiap pusat kota selalu dikelilingi Suburb,
kota-kota kecil dan banyak pengulangan nama jalan.
Hujan memang
menjadi masalah bagi saya. Karena terkadang sebelum hujan, cuaca cerah dan
terik sekali. Namun dalam sekejab datang awan bergulung-gulung dan langit
menghitam disertai angina topan. Hujan turun dengan lebatnya. Selang beberapa
saat setelah hujan reda, cuaca kembali cerah dan panas lagi. Begitulah
berulang-ulang sampai saya memohon pada-Nya, supaya kondisi fisik tidak
terpengaruh oleh tingkah laku hujan angin tersebut.
Pengalaman menarik yang lain, pernah sekali saya diterjang badai sampai
menghantui perasaan saya selama tiga malam berikutnya. Ceritanya, bertepatan
dengan malam bulan purnama, saya mendirikan tenda tidak terlindung pepohonan
supaya bisa menikmati suasananya.
Tengah malam, cuaca masih bagus, bintang-bintang bertaburan di langit
kelam. Dan suhu udara stabil pada 10 derajat Celcius. Akan tetapi ketika akan
buang air kecil pada kisaran pukul 03.00 dinihari. Saya curiga karena suhu
udara turun menjadi 5 derajat Celcius dan di luar langit gelap sekali. Angin
datang, makin lama makin kencang. Menderu-deru lalu menerbangkan pelapis atap
tenda. Disertai hujan lebat. Suhu udara menjadi 2-3 derajat Celcius! Tenda
sudah meliuk-liuk diterpa angin dan dalam keadaan basah kuyup saya berusaha menahannya
agar tidak roboh.
Saya tidak tahan. Daripada batang-batang tenda patah, akhirnya saya
lepas semua pasaknya. Lalu mengaitkan ujung-ujung tenda pada batang kayu yang
roboh . Tenda sudah rata dengan tanah, dalam keadaan menggigil saya menyelusup
ke dalamnya. Melepas pakaian basah lalu bergelung dalam sleeping bag. Untuk ruang bernafas saya raih sebuah kaleng minuman
dan meletakkan di atas jidat.
Badai ini berlangsung sampai keesokan harinya, karena arah tujuan
searah angina bertiup. Terpaksa saya nekad bersepeda menembus badai tersebut,
sehingga terdorong sejauh 65 Km. Tentu saja pakaian dan sebagian perlengkapan
basah. Setibanya di kota terdekat, saya mencari public toilet. Berjam-jam saya menghangatkan diri dan mengeringkan
pakaian dengan mesin otomatis pengering tangan.
Akhir perjalanan,
Rute berikutnya
adalah Adelaide – Sydney, sejauh 1378 Km. Dari Adelaide melalui jalan
alternative yang melintasi kawasan berbukit Mount Lofty, yang mirip daerah
lembang, Bandung – Jabar. Untuk pertama kalinya saya melihat daerah perkebunan
sayur-mayur dan buah-buahan yang subur.
Ruas jalan Adelaide – Murray bridge, 91 Km; saya bersepeda berdua
dengan Margaret Rohan Kelly (Miss Australia 1967). Istri dari Kieran Kelly, Honouris
Council Indonesia untuk Adelaide yang berkebangsaan Australia . Saya sangat kagum pada beliau, mau
mengantarkan. Masihmampu bersepeda jauh dan tetap sehat walaupun telah
berputra-putri delapan orang.
Dari Adelaide sampai Balranald, saya melalui Ouyen Highway . Jalur tersebut relative sepi dari
truk-truk container dan banyak pepohonan. Dari Balranald hingga Wagga-Wagga,
bertemu lagi dengan Sturt Highway, Jalan Raya Nasional No:20 (National Highway #20). Lalu menyusuri Hume Highway dari
Wagga-Wagga sampai Croos Road, setelah itu Illawara Highway dan terakhir Pronce Highway sampai Sydney . Jadi, kecuali Tolway dari Perth sampai Sydeney. Saya telah menjelajahi
delapan Highway dan Freeway. Melintasi West Australia, South Australia, Victoria dan New South Wales .
Dua lembar peta perjalanan yang saya bawa terasa telah kadaluarsa,
sudah banyak sekali perubahan terjadi. Ruas demi ruas jalan dibuat dua jalur
maupun freeway yang kwalitasnya lebih baik. Membuat jarak tempuh semakin
pendek. Bahu jalan pada Freeway selebar jalur kendaraan, sehingga saya tetap
merasa aman bersepeda di Freeway tersebut. Laju sepeda pada lintasan tersebut
antara 30 – 55 Km/jam.
Suatu saat, pada ruas jalan Balranald – Hay – Narrandera, 345 Km, saya
harus melintasi daerah treeless
(tanpa pepohonan) seperti di West Australia .
Sesudah itu, jalan raya berada sejajar dengan sungai Murrumbidgee . Pada kedua tepi sungai tersebut tumbuh
pepohonan yang rimbun, suatu hal yang sangat menghibur hati. Hampir setiap ada
kesempatan saya berkemah di tepi sungai. Airnya jernih dan mengalir tenang.
Lucunya, aliran sungai Murrumbidgee bukannya menuju arah laut lepas malah
mengarah ke tengah benua tersebut, lalu hilang, meresap ke rawa-rawa (swamp).
Sore sampai malam, terdengar kicauan burung Kokaburra dan burung-burung
lainnya. Tengah malam, kucing liar, possum, wokka (kanguru kecil) berkeliaran
dekat tenda. Menjelang pagi kicauan burung kembali bersahut-sahutan menyambut
munculnya sang surya.
Cukup rumit memang, tetapi berkat kesabaran dan kecermatan dalam membaca
peta. Akhirnya saya berhasil emnemukan alamat Keluarga Nina-Agus Resmonohadi,
Konsul Muda pada Konsulat Jendral RI di Sydney. Dan teman semasa kuliah di Seni
Rupa ITB; yang bersedia menampung saya sebelum pualng ke Jakarta, Indonesia .
Entahlah, beberapa hari menjelang berakhirnya perjalanan ini, saya
justru menemukan kenikmatan dan penghayatan yang mendalam terhadap apa yang
saya lakukan. Ada rasa gembira petualangan ini akan selesai, sebaliknya saya
juga merasa sedih perjalanan tinggal beberapa hari lagi. Di balik itu semua,
lega perasaan saya, karena salah satu obsesi telah terlaksana. Saya akui,
memang tidak mudah merealisasikan sebuah mimpi menjadi suatu kenyataan.
Berkat bimbingan serta lindungan Tuhan Yang Maha Esa, saya mampu
mengayuh sepeda sejauh 4371,9 kilometer dalam 45 hari. Tidak pernah sakit dan
tidak mengalami gangguan yang berarti, selam dua bulan berkelana di bawah
perubahan iklim dan cuaca yang ekstrem.
Mbang,
Disarikan dari catatan harian perjalanan bersepeda jarak jauh:
“TRANS CONTINENTAL, PERTH-SYDNEY ON MY BIKE 1995”
Yang dilakukan dari tanggal 8 Maret 1995 sampai dengan tanggal 8 Mei
1995
catatan: jika cerita yang ada di Intisari, Matra dan Bola dijadikan satu maka menjadi cerita lengkap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar